Latest Posts

Sekolah Daruratku

By 17.17



"Sekolah di kampung kakek? aku tidak mau!" ucapku saat sedang dibujuk oleh tante Lisa.
"Kenapa sih, aku harus pindah sekolah cuma karena papa dan mama terserang penyakit demam berdarah??? Huh!"
Alasanku tidak diterima oleh tante Lisa, maka siang itu juga tante membawaku ke kampung kakek di Cilacap, Jawa Tengah.
"Untuk sementara waktu saja. Ini kan keadaan darurat, Keisya" ujar kakek.
"Jaga-jaga, biar kamu nggak tertular. Kan lebih baik mencegah dari pada mengobati" nenek ikutan membujukku.
Semula aku ragu, bagaimana keadaan sekolah daruratku nanti? apakah ruang kelasnya ber-AC seperti sekolahku di Jakarta? bagaimana fasilitasnya? aku yakin sekolah darurat ini membosankan.
Benar saja! hari pertama aku melihat sekolah daruratku ini, aku benar-benar terbelalak kaget.
Sekolah ini dekil banget! bangunannya sudah reyot, halamannya saja masih tanah, dan letaknya bersebelahan dengan sawah. Orang di sini bilang sekolah mewah, alias mepet sawah.
Bandingkan dengan sekolahku di Jakarta, selain letaknya di perumahan mewah, juga dekat dengan pusat perbelanjaan.
Akhirnya aku masuk ke kelas itu dengan perasaan tidak enak.
"Ya, soal nomor tiga. Coba Keisya maju ke depan, kerjakan soal nomor tiga" tiba-tiba bu Santi menunjukku untuk mengerjakan soal matematika.
Uh! lagi-lagi aku mengeluh. Bukan karena soalnya yang sulit. Tapi masak di zaman modern seperti ini masih ada sekolah yang memakai kapur tulis?
Ya sudahlah, aku harus konsentrasi mengerjakan soal matematika ini. Masak, cuma karena kapur tulis aku harus menyerah?
Belum selesai kukerjakan soal itu, tiba-tiba... kreeek... debummm!!!
Spontan teman-teman dan bu guru berhamburan ke luar kelas, mereka berlarian menuju arah suara itu.
"kelas 4 roboh... kelas 4 roboh! Ayo anak-anak semua keluar, ke tempat aman, ya" pak Anto, yang tengah mengajar di kelas itu memberi peringatan dengan nada panik.
Hah! Sekolah apaan ini? Aku membatin, kesal.
Baru hujan gerimis saja sudah roboh, apalagi kalau badai??
Jlegggeeeerr!!! Tiba-tiba kilat dan petir saling bersusulan dengan curah hujan yang semakin deras, aku masih tetap bertahan di dalam kelas.
"Banjiiir... Ayo anak-anak, buka sepatu kalian. Airnya sudah mencapai ruang pak Kepala Sekolah" seru bu guru.
Buka sepatu? kaus kaki juga??
"Dibuka aja, Keisya. Daripada sepatu dan kaus kakimu basah, nanti kakimu kedinginan" kata Mia yang duduk di sampingku.
Mia bercerita kalau mereka sudah biasa bersekolah dalam keadaan seperti ini, dan dia juga bilang, sebaiknya besok aku memakai sandal jepit saja ke sekolah.
Iiiiih... ke sekolah pakai sandal jepit? memangnya mau ke kamar mandi? Huh! gerutuku dalam hati.
"Nih, kamu pakai sandal jepitku saja, biar aku yang tidak pakai sandal" Mia menyodorkan sandal jepitnya untuk kupakai.
"ka... kamu?"
"kakiku yang kampungan ini sudah biasa kok kemana-mana tidak pakai sandal. Kaki kamu mungkin belum terbiasa, nanti kenapa-kenapa. Ayo, dipakai" jawabnya merendah.
Kini, hujan sudah tidak selebat tadi, kelas 4 sudah mulai sepi, murid-muridnya sudah ditampung di kelas lain.
Bu Santi masuk ke kelas kami dengan wajah lelah, untuk memberi pengumuman.
Beliau bilang, kami sudah boleh pulang, padahal baru jam sembilan pagi. Bu Santi juga bilang, seandainya besok sekolah kami masih banjir, maka kami akan belajar di rumah beliau.
Tanpa terasa, sudah satu bulan aku sekolah di sini, di sekolah darurat yang keadaannya benar-benar darurat. Selama itu pula aku merasakan ke sekolah dengan memakai sandal jepit, membungkus buku pelajaranku dengan kantong plastik, dan memakai jas hujan di dalam kelas.
Semua itu kami lakukan agar tetap bisa sekolah di musim hujan.
Dan hari ini, hari terakhirku di sekolah darurat, perasaanku campur aduk, antara sedih dan gembira.
Sedih karena harus berpisah dengan teman-teman di sini yang begitu baik padaku.
Gembira karena mama dan papa sudah sembuh dan kami sekeluarga bisa berkumpul kembali.
Selamat tinggal sekolah darurat, meski tak semegah sekolahku di Jakarta, kamu memberi banyak pengalaman berharga untukku.

You Might Also Like

0 comments

Thank you so much if you're going to comment my post, give advice or criticism. I'm so happy ^_^ But please don't advertising and comment with bad words here. Thanks !

♥ Aisyah