Latest Posts

Meraih Mimpi di Jalan Illahi

By 14.38 ,

Bismillahirrahmanirrahim..

Sumber : dokumen abi
(santri MTs Pesantren Ibnu Taimiyah)


Deburan ombak di laut Alor menyisakan riak-riak kecil di sepanjang pantainya, beberapa anak dengan kulit gelap berlarian di antara pasir putih yang meliuk hingga ke ujung pandangan. Burung-burung camar tampak beterbangan kian kemari di antara deburan ombak yang tak lelah menghempas pantai yang menerima dengan penuh keikhlasan. Angin semilir berhembus membawa aroma laut yang khas, beberapa nelayan masih terapung-apung di tengah lautan. Tampak kecil seperti titik-titik hitam yang terombang-ambing ombak di laut Alor. Tampak seorang anak masih sibuk dengan pekerjaannya, membersihkan perahu dan merapihkan alat-alat menangkap ikan. Cuaca tadi malam kurang bersahabat sehingga hasil tangkapan ikannya hanya sedikit. Pamannya yang telah bertahun-tahun menjadi penangkap ikan pun hanya mendapatkan ikan tidak lebih dari 3 kg. apalagi ia yang baru belajar tidak lebih dari enam bulan.

Namanya Abdullah, ia memutuskan untuk mengikuti jejak almarhum ayah menjadi nelayan penangkap ikan. Setelah lulus SD tahun lalu, ia tidak melanjutkan sekolah. Tiga bulan sebelum kelulusan kelas, ayah hilang tanpa jejak, hanya perahu dan peralatan menangkap ikan yang ditemukan terdampar di tepi pantai pada pagi hari ketika malamnya ayah berangkat menangkap ikan. Seperti hari-hari biasanya ayah menangkap ikan dengan beberapa tetangga. Cuaca buruk malam itu memunculkan badai lautan yang sangat dahsyat hingga menenggelamkan para nelayan yang sedang menangkan ikan termasuk ayah. Beberapa tetangga yang bersama-sama menangkap ikan berhasil selamat setelah berenang melawan ombak laut yang menggulung perahu dan peralatan mereka. sementara ayah tidak ada kabar beritanya. “Ayahmu waktu itu berada paling depan ketika kami menangkap ikan” begitu kata Pak Arifin, tetangga belakang rumah.

Kepergian ayah meninggalkan luka yang begitu mendalam pada keluarga, sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga, ayah adalah kepala keluarga yang sangat bertanggungjawab hingga semua kebutuhan kaluarga dipenuhinya dengan baik. Hasil tangkapan ikan yang kian hari kian menurun memaksa ayah dan para nelayan di desa kami untuk lebih bersemangat dalam menangkap ikan hingga mereka memaksakan diri menangkap ikan di perairan yang berbahaya. Kepergian ayah juga telah memupuskan harapannya untuk meraih hidup yang lebih baik. Harapan untuk bisa melanjutkan sekolah sirna sudah hilang bersama jasad ayah yang entah di mana. Setelah berjalan kurang lebih enam bulan tak ada lagi dalam pikiran untuk bisa melanjutkan sekolah lagi. Biarlah hanya mereka yang masih punya ayah dan memiliki uang yang bisa melanjutkan sekolah, biarlah ia di sini belajar dengan laut dengan ombaknya.

“Hai kawan sedang apa melamun” Hasan teman satu kelasnya yang kini melanjutkan sekolah di kota menepuk pundaknya. “Siapa yang melamun, orang sedang merapihkan alat menangkap ikan” Abdullah mengalihkan pandangannya. Hasan, anak kepala desa yang dulu menjadi teman sebangkunya di sekolah dasar negeri. Ia beruntung karena orang tuanya berada hingga bisa melanjutkan sekolah di tingkat yang lebih tinggi. Pada hari terakhir kelulusan ia sempat bilang kepada Abdullah bahwa ia akan melanjutkan SMP di kota, “Kamu harus lanjutkan sekolah karena nilai kamu selalu lebih bagus dariku” begitu kata Hasan. Kata-kata nasehat yang membuatnya tertegun.

“Hai, kok melamunnya dilanjutkan” kembali Hasan memecahkan lamunannya. “Kamu tidak melanjutkan sekolah kan” katanya serius. “Seperti kamu tahu, sekarang aku jadi nelayan menggantikan ayah” jawab Abdullah. “Aku ada informasi kalau kamu mau melanjutkan sekolah gratis dan dikasih uang, mau?” Hasan memandangnya serius. Sekolah, sebuah kata yang telah hilang dari ingatannya. Kata-kata yang begitu indah namun terasa menyakitkan bila diucapkan. Kata-kata itu memang telah hilang dari memorinya. Ikan, ikan dan ikan itulah yang kini ada dalam pikiran Abdullah, bagaimana cara agar bisa mendapatkan ikan yang banyak agar bisa membeli beberapa kilo beras dan sisanya membayar sekolah adik-adik. Namun kini Hasan mengucapkan kata-kata itu lagi, “Benar kau Hasan, di mana?” ia mulai tertarik dengan pembicaraan. “Di Bogor, Jawa barat Ma’had Ibnu Taimiyah, kalau mau nanti saya antarkan ke ust. Raihan yang membawa anak-anak untuk sekolah di sana. Si Dzul dan Ramli juga sudah pergi ke sana, kemarin mereka kirim surat katanya di sana enak sekolah gratis, dikasih uang, makannya ayam dan tidurnya di kasur yang tebal sekali” Hasan menjelaskan secara detail tentang keadaan di Bogor, nun jauh di ujung barat pulau Jawa.

Sekolah, kata-kata itu muncul lagi dalam benak Abdullah. Mungkin terlalu indah jika terus dipikirkan dan bisa menjadi kenyataan, ia bisa belajar lagi memiliki teman-teman yang bersemangat untuk menuntutut ilmu, mendapatkan motivasi dari para guru dan yang paling penting adalah bisa meraih cita-cita. Benar, cita-cita yang telah lama hilang dalam hidupnya menjadi guru yang bermanfaat bagi agama, bangsa dan negara. Namun, apakah ia harus menerima tawaran Hasan, bersekolah di Bogor, sementara ibu dan adik-adiknya di sini? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan hidup mereka. penghasilan Ibu yang menjadi buruh di pasar ikan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan semua keluarganya, untuk makan, membayar sekolah adik-adik dan membayar hutang yang hingga kini belum lunas. Haruskah ia mengorbankan mereka hanya untuk meraih cita-cita? Ah… sepertinya terlalu berat untuk meninggalkan mereka. “Kamu berangkat saja nak, biarkan ibu di sini dengan adik-adikmu. Ibu akan bekerja lebih keras lagi agar bisa memenuhi kebutuhan adik-adikmu. Kamu harus sekolah dan bisa meraih cita-citamu” begitu kata ibu. “Tapi bu, bagaimana dengan hutang kita” katanya keberatan. “Nanti ibu yang urus, mudah-mudahan tanah peninggalan ayahmu segera ada yang beli sehingga bisa membayar hutang kita, pokoknya kamu haru sekolah ingat pesan ayahmu”

Kembali Abdullah teringat dengan pesan ayah yang telah lama hilang dalam benaknya, “Kamu harus melanjutkan sekolah, agar tidak seperti ayah yang bodoh ini” itulah pesan terakhir ayah. Ia tahu, ayah bukanlah orang yang bodoh, walaupun ia tidak bisa membaca dan menulis namun otaknya cukup cerdas hingga dipercaya oleh teman-temannya ketika menangkap ikan menjadi ketua rombongan. Ayah tahu persis bagaimana keadaan laut dan waktu-waktu menangkap ikan yang baik. Tekhnik-tekhnik dalam menangkap ikan ayah pelajari sendiri dari alam, hingga hasil tangkapan ikan ayah selalu lebih banyak dibandingkan teman-temannya. Peristiwa badai lautan sejatinya telah diprediksi oleh ayah, namun karena kebutuhan keluarga khususnya ia yang akan melanjutkan sekolah memaksan ayah untuk tetap melaut agar bisa mendapatkan uang untuknya.

Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya akhirnya Abdullah memutuskan untuk berangkat ke Bogor, melanjutkan sekolahku yang beberapa bulan terputus. Dengan diantar oleh ibu, adik-adik dan beberapa tetangga ia berangkat menuju rumah Ust. Raihan untuk berkumpul dengan beberapa teman yang akan berangkat bersama-sama. Setelah semuanya berkumpul mereka segera naik mobil ke pelabuhan. Rupanya kapal yang akan menuju ke Jakarta datang lebih cepat sehingga kami segera naik ke atas kapal. Sebelum kaki ini melangkah ke tangga kapal ia mencium tangan ibu dan memeluknya erat-erat, tak ingin ia melepaskannya. “Lanjutkan sekolahmu, ingat pesan ayah” bisik ibu. Tak terasa air matanya mengalir, dan pelukannya semakin erat. Ibu adalah wanita luar biasa baginya, sama seperti ayah, ia adalah wanita yang luar biasa. Walaupun ia hanya wanita desa namun ia sangat menyadari bahwa pendidikan itu sangat penting. Beliau selalu mengajari kami membaca Al-Quran setelah maghrib. Lebih dari itu, beliau adalah pekerja keras yang tidak pernah mengeluh. Walaupun pendapatan keluarga kurang namun beliau tidak pernah sedikitpun mempermasalahkannya. Sebaliknya beliau membantu ayak dengan bekerja di pasar ikan.

“Anak-anak ayo siap-siap, kapal sudah mau berangkat” ucapan Ust. Raihan menyadarkannya, segera ia melepas ibu dan mencium adik-adik. Terbersit dalam hati bahwa ia harus bisa membahagiakan mereka. Abdullah melangkah ke tangga kapal, dengan tas di punggung dan kardus di tangan ia melangkah pasti. Langkah yang akan merubah kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Kembali ia menengok ke belakang, ibu dan adik-adik melambaikan tangannya, seolah memberikan semangat  bahwa hidup adalah pilihan, dan Abdullah memilih untuk merubah nasib. Perlahan kapal bergerak menjauhi pelabuhan, pandangannya masih tertuju ke pantai yang terasa kian menjauh ibu dan adik-adik seolah mengecil hingga menjadi sebuah titik di tepi pantai. Bismillah, itulah ucapan awal untuk meraih mimpi ini.

Bogor, sebuah kota kecil di sebelah selatan Jakarta kota ini pernah ia baca dari pelajaran IPS yang diajarkan oleh Pak Arsyad. Kota ini terkenal karena dahulunya adalah bekas ibukota kerajaan Pajajaran, salah satu buktinya adalah adanya Batu Tulis yang hingga kini masih berdiri tegak di kota ini. Menurut penjelasan Ust. Raihan, lokasi yang akan mereka tuju adalah Pesantren Yatim Ibnu Taimiyah yang berada di bagian selatan kota Bogor. Setelah sampai di pelabuhan Tanjung Priuk mereka dijemput dengan mobil milik pesantren, sehingga tanpa menunggu lebih lama mereka segera meluncur meninggalkan pelabuhan membelah kota Jakarta. Teman-teman yang baru pertama kali ke Jakarta dapat menikmati indahnya kota ini dari dalam mobil yang melewati jalan layang Tanjung Priuk-Bogor. Abdullah juga terkagum-kagum dengan gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta, sungguh sangat luar bisa, suara klakson mobil yang seolah tidak henti bercampur dengan kegembiraan kami bisa menikmati kota Jakarta.

Perjalanan dari Tanjung Priuk ke Bogor ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam, mereka segera turun dan masing-masing membawa barangnya. Udara di Bogor sangat dingin sekali, berbeda jauh dengan di kampungnya. Mereka diarahkan oleh salah seorang satpam menuju ruang tamu. Sebelum masuk pesantren tadi ia melihat dengan jelas sebuah tulisan tergantung besar di pintu gerbang “Selamat Datang Para Penuntut Ilmu”, seperti cambuk yang memberikan semangat padanya untuk bisa belajar dengan sungguh-sungguh di pesantren ini.

Sampai di ruang tamu mereka disuguhi makan dengan lauk ayam, “Sungguh makanan yang sangat lezat” pikirnya dalam hati. Mereka di kampung makan dengan ayam paling satu tahun sekali kalau lebaran, selain itu paling makan ikan atau nasi dengan sayuran. Setelah selesai makan mereka di ajak berkeliling pesantren. Sungguh besar pesantren ini, “Di sini kalian bisa belajar pelajaran umum dan juga pelajaran agama, semuanya gratis bahkan kalian akan dikasih uang jajan setiap bulan” kata ust. Raihan kepada mereka yang terkagum-kagum dengan bangunan pesantren dan segala fasilitasnya. Semoga saja kami bisa memanfaatkan pesantren ini dengan baik sehingga ia menjadi jalan untuk meraih cita-cita, ya cita-cita Abdullah adalah menjadi guru.

Nun jauh di bagian selatan pesantren berdiri kokoh Gunung Salak yang terlihat jelas dengan peohonan yang rindang. Seolah-olah memberikan semangat kepadanya, “Ayo, inilah tempat untuk belajar, buktikan bahwa kamu cerdas dan reguklah semua ilmu yang ada di pesantren ini” Ya… Abdullah berjanji dalam hati akan bersungguh-sungguh untuk belajar, bayang-bayang ayah, ibu dan adik-adik menjadi penyemangat untuknya. Semoga ini adalah jalan terbaik meraih cita-citanya.


Dua puluh tahun kemudian…. “Hari ini mata kuliah kita adalah Metodologi penelitian, silahkan buka Note book, I Pad dan Smartphone-nya, kita akan berdiskusi tentang Penelitian Kualitatif” Abdullah berdiri di depan kelas M program Studi Ekonomi Islam Jurusan Hukum Islam Universitas Tazkia Jakarta. Setelah meraih gelar Doktor ia diterima mengajar di universitas ini.  Mimpi itu telah menjadi kenyataan, seperti kejadian tadi sore yang belum lama terjadi… Siapa bersungguh-sungguh akan Berhasil. 

You Might Also Like

4 comments

  1. kereeen betul skalii .. kita bersungguh sungguh maka akan ada balasannya

    BalasHapus
  2. jika kita berusaha dan bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu pasti akan berbuah manis :)

    BalasHapus
  3. subhanalloh,salut sama abdulloh.memang rencana tuhan itu akan lebih indah,,
    artikelnya inspiratif sekali. sukses ya mbak

    BalasHapus

Thank you so much if you're going to comment my post, give advice or criticism. I'm so happy ^_^ But please don't advertising and comment with bad words here. Thanks !

♥ Aisyah