Latest Posts

Ummu Fauzan : Guruku adalah Ibuku

By 10.00 , ,

Bismillahirrahmanirrahim..

Namanya ummu Fauzan, beliau biasa dipanggil ummi (Bahasa Arab : Ibuku) dan beliau masih berdiri disana, di depan kelas-kelas MI (Madrasah Ibtidaiyah atau SD). menyambut setiap anak muridnya yang datang dan langsung menciumi atau paling tidak mengelus kepala mereka, dan begitu juga setiap muridnya, dengan sopan menyalami tangannya dan tertib memasuki kelasnya masing-masing dengan wajah yang ceria.

Hampir tak ada seorang pun santriwati disini yang tidak mengenalnya, namun bukan sosoknyalah yang membuatnya dikenal, kau tau apa, kawan? Akhlaknya. Yang dengan akhlak mulianya ia bukan sekedar mengajar di kelas, tapi juga menyayangi dan merawat setiap muridnya bagai anaknya sendiri.

Jika engkau bertemu dengannya, engkau akan melihat betapa kasih sayang dan ketulusannya dalam setiap perbuatannya. Wajahnya teduh dan menyenangkan setiap orang yang melihatnya, setiap bertemu dengan siapapun ia selalu menyapa mereka dengan salam dan menjabat tangan mereka dengan hangat, beliau menyayangi siapapun, tidak hanya murid-muridnya saja, tapi semua orang yang dikenalnya. Bahkan jika engkau bertemu dengannya saat ini, engkau akan merasakan bahwa ia menyayangimu, karena Allah.

Sejak aku duduk di sekolah dasar, aku sungguh sangat menyayanginya, beliau bagaikan ibu keduaku, di keluarga yang berbeda, keluarga besar sekolah. Beliau mampu menciptakan suasana keluarga yang demikian sakinah, setiap dari kami menghormati kakak kelas seperti kakak sendiri, dan adik kelas seperti adik kami sendiri. Kepada beliau pula-lah aku mengadukan keluh kesahku seputar permasalahan kelas dan sekolah, dan beliau selalu mampu menyelesaikannya dengan bijak.

Aku teringat sesuatu, kawan. Dulu, aku masih di kelas 6 MI. Saat itu menjelang bulan Ramadhan, kami sekelas ditantang oleh beliau untuk dapat mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan penuh. Awalnya, kami bermalas-malasan, bagi kami liburan adalah waktunya bersenang-senang tanpa beban. Tapi demi melihat wajah guru kami yang tampak sedih saat kami ingin menolak, kami pun menyetujuinya.

Tapi justru beliau yang menolak saat kami setuju. Beliau mengatakan bahwa ia tidak ingin kami berbuat baik hanya karenanya, beliau ingin kami melalukan sesuatu ikhlas karena Allah dan mengharap ridho-Nya. Sungguh saat itu, rasanya aku ingin menangis saja, tapi kami hanya menunduk dan mengangguk, beliau pun tersenyum, dan senyum itulah yang entah kenapa membuatku bahagia.

Maka selama bulan Ramadhan itu aku bersungguh-sungguh bertilawah setiap hari satu juz supaya mencapai target 30 hari 30 juz, begitu pula teman-temanku. Namun saat masuk sekolah kembali, ternyata hanya ada 4 temanku yang khatam (dan 5 termasuk aku). Alasan mereka macam-macam, ada yang sakit, ada yang pulang kampung, ada yang sibuk membuat kue, dll. Tapi beliau tidak marah, ia masih tetap tersenyum seperti biasa. Dan saat itulah, ia memberi hadiah kepada kami yang khatam sebuat buku catatan kecil dan sebuah pulpen yang telah dibungkus kado.

Buku itu masih ada kawan, bahkan di lembar pertamanya masih ada tulisan tanganku tentang perasaan saat menerima buku tersebut. 


Berikut tulisannya kusalin.

3 Syawwal 1431.   Buku ini pemberian dari guruku yang kusayangi. Namanya ummu Fauzan. Dia guru yang paling baik dan bijaksana. Buku ini adalah hadiah darinya saat aku dan 4 orang yang selesai membaca 30 juz Al-Quran dalam satu bulan. Dia memberikan ini dangan dibungkus kertas kado berwarna pink dan sebuah pita mungil.Terimakasih, guruku.. semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. Aamiin.   Muridmu, Aisyah.

Lihat bagaimana polosnya aku dahulu. Aku yakin bukan hanya diriku yang begitu polos mengekpresikan rasa sayang kami padanya, tapi juga teman-temanku walau tidak kulihat, tapi aku tahu, karena bagi kami semua, meski tak pernah kami ucapkan, beliau adalah guru sekaligus ibu yang –paling- kami sayangi.

Beliau tak henti-hentinya menceritakan kisah-kisah teladan para shahabiyah, para bidadari syurga dan menasihati kami untuk menjadi muslimah shalihah dan anak yang berbakti, tutur katanya yang lembut dan tulus membuat kami, tanpa kami sadari berubah menjadi pribadi muslimah yang lebih baik, berkat (pertama) rahmat Allah dan (kedua) didikannya. Ibu (kandung) ku sendiri mengatakan, bahwa dahulu sering aku pulang dari sekolah dan tiba-tiba sikap dan akhlakku berubah, tiba-tiba menjadi lebih lembut dan shalihah, tiba-tiba membantu pekerjaan ibu dan ayahku, dan ibuku tahu sebabnya, siapa lagi kalau bukan beliau.

Sungguh beliau adalah guru dan ibuku saat aku masih duduk di sekolah dasar. Dan kini aku telah mencapai MA (Madrasah Aliyah), dan harus kuakui, beliau akan tetap menjadi guru dan ibuku. Kemarin, saat ini, besok, dan selamanya, Insya Allah.


Aku mencintaimu karena Allah, Ummu Fauzan, guru sekaligus ibuku..


You Might Also Like

2 comments

  1. Selamat Hari ibu ya mbak e :) sukses untuk kita semua :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih kak..
    Allahumma Aamiin.. ^__^

    BalasHapus

Thank you so much if you're going to comment my post, give advice or criticism. I'm so happy ^_^ But please don't advertising and comment with bad words here. Thanks !

♥ Aisyah