Latest Posts

Buku KAS = Buku Catatan Utang

By 16.38 , , , , ,

Bismillahirrahmanirrahim..

Kas kelas itu kaya' gini : kalau gak rutin bayar, bisa berkembang terus dan jadi utang


Sekolah pasca liburan semesteran dimulai, Haidar dan Kimiko, temanku belum datang, mereka berdua mendapat izin karena sedang sakit. Memulai kelas tanpa sempurna anggotanya jadi terasa berbeda, sebagian anak berkumpul dengan teman dekatnya dan saling bertukar cerita, seperti biasa. Sampai salah seorang temanku maju ke depan kelas dan berkata, “akhwat, kapan lagi sih kita liburan? Kita protes yuk, belum puas liburnya..” sontak semua anggota kelas ramai, ada yang tertawa, ada yang setuju dan ada juga yang menolak, “di rumah juga bete ah, mending di pesantren, lebih seru..” ujarnya.


Beberapa hari setelah itu, suasana kelas mulai agak sepi, cerita liburannya sudah habis barangkali. Hari itulah Haidar dan Kimiko datang, kami semua gembira, genaplah kini anggota kelas XI C Geni-us2 (itu nama alumni kami) berjumlah 25 santriwati. Namun tak berapa lama, setelah Haidar mengeluarkan sebuah buku big boss dari tasnya, anak-anak mulai ribut bertanya, “itu buku apa, Dar?” tanya mereka,

“buku KAS kelas..” jawabnya santai,

“haaah?..” kami langsung kaget, bagi kami yang dikeluarkan Haidar bukan sekedar buku KAS, tapi juga buku catatan utang, saking malasnya bayar kas, ingin langsung dirapel di akhir, jadilah menumpuk seperti utang, dan benar-benar suprise juga karena baru datang, Haidar langsung menagih.


Haidar, dengan dibantu Nayla-pun mencatat tunggakan-tunggakan utang kami sampai bulan Desember 2014, lalu dibacakan di depan kelas, aih malunya.. bahkan ada yang pesan pada Nayla agar namanya tidak usah dibacakan saja, dan nanti akan dibayar secepatnya.

“Fazran sekian, Nayra sekian, Hana sekian..” Nayla mulai membaca dengan keras, kami semua memperhatikan, jumlah utangnya rata-rata tidak jauh berbeda, antara Rp. 25.000 sampai Rp. 30.000, utangku sendiri Rp. 27.000, lumayanlah. Sampai saat giliran nama Thalitha dipanggil, anak-anak tertawa terbahak-bahak, “eh, kenapa?” tanyaku pada Rania,

“itu Thalita, utangnya masa’ lebih dari Rp. 50.000” jawabnya,
“udah berapa bulan nunggak, Tha?” tanya salah seorang temanku,
“apa belum pernah bayar sama sekali? Haha..” tambah yang lain,
“hehehe.. bukan gitu ih, orang mau bayarnya dirapel sekalian” balas Talitha terkekeh.


Beberapa anak mulai membuka dompetnya atau merogoh kantongnya, lalu menyerahkannya pada Haidar yang segera mencatat satu per satu,
“kak Haidar, ini aku sama Syalla berdua” ujar Zirli menyerahkan uang 50 ribuan pada Haidar,
“Haidar, itu bertiga sama aku juga lho..” sambar kak Mehrunnisa cepat,
“eh, jadi dibagi berapa nih?” tanya Haidar,
“apaan sih kak Mehrunnisa ngaku-ngaku, istighfar coba..” sahut Zirli, kak Mehrunnisa-pun hanya tertawa mendengarnya.

Hana yang duduk di depanku tiba-tiba bangkit dari duduknya dan meraih sebuah mushaf pink yang diletakkan di meja depan,

Mushafnya pesis kayak gini warna dan bentuknya, tapi ini mah dompet


“asik Hana yang mau tilawahan..” goda Hilwa,
“eh, bukan.. orang mau ngambil uang kok..” jawabnya,
“hah? Ngambil uang darimana?” tanya yang lain, iapun membuka resleting mushaf pinknya, dan benar saja, di dalamnya terdapat beberapa lembar uang,
“ih Hana kok nyimpen uang di dalem mushaf?” tanyaku heran,
“tau tuh.. biar ga diambil tuyul kali?” jawab Rachel bercanda.

“eh mau nanya deh, emang uangnya mau buat apa sih? Udah banyak gitu?” lanjutnya,
“banyak apaan, kita aja yang kayaknya bayar banyak, udah kaya’ bayar listrik.. padahal jumlahnya juga belum sejuta, lagian sehari Rp. 500, numpuk banyak baru bayar, gimana mau cepet terkumpul?” jawab Nayla,


“iih.. perasaan aku bayar terus deh, tapi kok gak abis-abis sih? Capek weh sekolah bayar uang kas mulu, SPP udah naik juga.. aku mau pensiun aja dah..” ujar Quinxa tiba-tiba.

Kami sekelas-pun langsung tertawa mendengarnya, dan akhirnya kami terpaksa harus menghemat uang jajan untuk membayar uang KAS yang sudah menumpuk tersebut,

“makanya kalau gak mau terbebani, bayarnya tiap hari, Cuma 500 doang, gak bakal kerasa kok..” Rania, ketua kelas kami mengakhirinya dengan bijak, sementara kami semua terdiam, dan mulai berpikir, "iya juga sih..".



NB : semua nama yang tercantum adalah nama samaran.

You Might Also Like

2 comments

  1. Kalo dulu pernah juga utang kas waktu di sekolah, pas kelulusan baru ditagih. Dan ternyata udah numpuk ... Bhahaha

    BalasHapus
  2. enak ya ada yg begituan kalo 500 nggak kerasa banget tuh, keren deh kalian...

    BalasHapus

Thank you so much if you're going to comment my post, give advice or criticism. I'm so happy ^_^ But please don't advertising and comment with bad words here. Thanks !

♥ Aisyah