Latest Posts

Backstreet Part 2 : That Moment Allah Shows Me

By 08.18 , , , ,


Based on true story.
Bismillahirrahmanirrahim.

Raisa yang tahu bahwa sang puteri tinggal di Jakarta berniat ingin berkunjung ke rumahnya karena katanya ia hanya sendirian di sini, sang puteri menyambut dengan senang hati dan berjanji akan izin pada sang pangeran terlebih dahulu sebelum ia berkunjung, meski ada ragu yang mendera, ia berharap memiliki saat yang tepat untuk mengingatkannya, berdialog dari hati ke hati nantinya, bagaimanapun juga ia teman kecilnya, ia akan tetap menyayanginya karena Allah.

Sayang, teman kecilku akan berkunjung kemari.. bolehkah?, ujar sang puteri di suatu pagi sembari menyiapkan sarapan,

Oh ya? Siapa ia?, sang pangeran mendongak menatapnya,

Namanya Raisa, kami sudah lama tidak bertemu, kini ia tinggal di Jakarta sendirian.. dan ia seorang janda..,

Tiba-tiba raut wajah sang pangeran berubah, Jangan, aku tidak mengizinkan, itu berbahaya, kau tahu?, jawab sang pangeran

Eh?, sang puteri bingung, aku tidak mengerti..

Rumah tangga kita baik-baik saja saat ini, aku khawatir bila kawanmu yang janda itu datang, ia akan merusak pikiranmu dan mempengaruhimu dengan sugesti-sugesti buruk tentang pernikahan..

Sang puteri tak begitu memahami alasan tersebut, ia tentu tak ingin berburuk sangka kepada kawannya, namun bagaimanapun juga ia tetap mematuhi perintah kekasihnya, ia yakin Insya Allah ada hikmah dibalik semua ini. Akhirnya sang puteri menyampaikan hal tersebut pada Raisa sebaik-baiknya agar ia tak tersinggung.. dan Alhamdulillah Raisa dapat memahami keputusannya meski dengan berat hati.

Sore itu langit Jakarta tampak begitu gelap, hujan turun dengan derasnya, angin bertiup cukup kencang, Subhanallah.. suasanya dingin menyeruak memasuki tiap ruang, membuat siapapun malas beranjak kemana-mana, satu-satunya hal menyenangkan yang bisa dilakukan adalah menghangatkan tubuh dengan berselimut di dalam rumah dengan ditemani segelas cokelat panas. Rintikan hujan telah membasahi setiap jengkal tanah halaman rumahnya, ada beberapa tangkai pohon bunga di sana, ada yang masih menguncup, ada yang telah merekah sempurna dan adapula yang mulai layu, Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan begitu sempurna.

Sang puteri keluar kamar, ia berdiri mematung di depan jendela, menatap tiap bulir tetesan hujan yang jatuh ke bumi, ia termenung.. suasana hatinya semendung langit Jakarta saat ini, hey, ada sesuatu yang mengganjal di sana. Ia memejamkan mata sesaat sebelum menarik nafas dalam-dalam, ada yang harus ia lakukan (atau lebih tepatnya, ia tanyakan) untuk menghapus kegundahan yang telah menderanya sejak beberapa hari lalu. Maka dengan keyakinan yang masih bercampur keraguan, ia meraih HP nya, membuka whatsapp dan mengirim pesan untuk seseorang, Raisa..

Ukhti Raisa, afwan.. kalau boleh tahu nama lengkapmu siapa?

Cling! Sebuah pesan masuk,

Raisa Ummu Fathi.. kenapa?

Deg! Suatu perasaan menikam hatinya tiba-tiba, prasangka demi prasangka mengalir memasuki pikirannya, ah, tidak, tidak.. aku harus tetap berprasangka baik, pada kawanku, apalagi pada kekasihku, nama yang sama bukan berarti orang yang sama juga.. boleh jadi ada jutaan orang yang memiliki nama tersebut. Ia menepis semua prasangka buruk itu. Masya Allah, inilah potret sang puteri yang selalu memancarkan cahaya kebaikan di setiap waktu.

Tidak, aku hanya bertanya, aku terlupa nama lengkapmu.., demikian ia tulis balasan whatsappnya, kemudian ia menutup aplikasi tersebut.

Waktu semakin beranjak malam, langit gelap karena hujan semakin bertambah gelap, pertanda matahari akan segera tenggelam sebentar lagi, sang puteri berwudhu, menyucikan diri untuk menghadap Ilahi, ia memakai mukenanya, menunggu waktu maghrib, menunggu momen tepat untuk mengadukan setiap beban yang terpikul begitu berat dalam jiwanya, demikianlah ia, menahan tangis hingga tiba sepertiga malam terakhir untuk kemudian ditumpahkannya semua pada yang Maha Menggenggam tiap-tiap jiwa, ia selalu berusaha membuat semua orang di sekitarnya percaya bahwa ia baik-baik saja.

Cling! Sebuah pesan masuk, ia menatap layar Hpnya sekilas, bukan saat yang baik untuk berkomunikasi, pikirnya. Pesan itu tak menarik perhatiannya jika yang mengirim bukan Raisa, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sekali di waktu seperti ini? Dengan bergetar, ia mengambil HP nya, membacanya dengan seksama,

Hei, kenapa tidak langsung menanyakan yang sebenarnya saja?

Eh? Apa maksudnya?, sang puteri tidak paham,

Aku tahu siapa suamimu, namanya Fulan bin Fulan kan?

Sang puteri tersentak kaget, bagaimana Raisa tahu? Ia tak pernah menceritakan apapun tentang kekasihnya, sedikitpun, pada siapapun, termasuk namanya..

Bukankah ini fotonya?, Raisa mengirimkan sebuah foto,

Setelah foto ter-download, mata sang puteri sempurna membulat demi melihat foto kekasihnya ada pada teman kecilnya itu, hatinya luruh seketika,

Kau ini benar-benar wanita polos yah? Kau tidak tahu media sosial facebook, sampai-sampai engkau tidak tahu kalau kekasihmu telah berselingkuh di belakangmu dengan wanita lain, kasihan sekali kamu.., kata-kata Raisa sukses mencabik-cabik hatinya yang indah, air mata mulai mengalir perlahan, membasahi mukena dan sajadahnya yang suci.

Ah, tiba-tiba sang puteri teringat sesuatu, beberapa waktu yang lalu sang pangeran meminta izinnya untuk menikah lagi, awalnya ia keberatan, namun karena sang pangeran terus menerus mendesaknya, bahkan hari demi hari hal itu terus yang selalu menjadi topik pembicaraan antar keduanya, akhirnya ia menyerah, ia membolehkan.. sungguh ia telah ridha dan menerima apabila kekasihnya membagi cintanya untuk wanita lain di jalan yang halal, poligami.. bukan perselingkuhan. Ya Allah, pangeran, apa yang telah engkau lakukan pada sang puteri yang senantiasa patuh padamu ini?

Raisa masih melanjutkan pesannya, aku telah mengenal suamimu lebih dalam dibanding engkau mengenalnya, ia selingkuhanku, kau tau? Kami mulai berhubungan saat engkau sedang hamil anakmu itu.. Namun ia mengkhianatiku, mengkhianati janjinya sendiri, ia meninggalkanku sendirian sekarang, meski ia masih menanggung kebutuhan hidupku, meski ia masih menafkahiku tiap bulannya sekian juta..  tapi ia pikir semuanya akan kembali seperti semula dengan ia melakukan itu? Ia pikir luka hatiku akan segera sembuh dengan ia memberiku uang sekian dan sekian? Ia pikir aku tidak bisa balas dendam? Suamimu telah merusakku, suamimu telah merobohkan rumah tanggaku, suamimu telah menghempaskan kebahagiaanku.. ia menelantarkanku, ia menghancurkan dongengku untuk membangun dongengnya sendiri.. sejujurnya aku kasihan padamu, kau wanita yang menyedihkan, benar-benar menyedihkan..

Sudah cukup, kumohon.., bisik sang puteri dalam hati, air mata terus menerus membasahi pipinya, ia sudah tidak kuat lagi, air mata telah tertumpah seluruhnya. Ya Rabb, tak pernah sekejap-pun sang puteri membayangkan hal seperti ini akan terjadi, tak pernah barang sedetik saja, ia teramat percaya pada kekasihnya, ia teramat yakin bahwa istananya telah cukup membentengi keluarga kecilnya dari setiap gangguan dari luar,  ia telah berusaha semaksimal mungkin melayani sang pangeran, ia telah memberikan hatinya seutuhnya.

Sang puteri menutup HP nya, masih ada sepotong hati yang tetap mempercayai sang pangeran, dan ia akan tetap lebih mempercayainya jauh daripada ia mempercayai kawan yang telah lama tidak bertemu kemudian tiba-tiba datang dan merusak pernikahannya, ia tak ingin sepotong hati itu ikut tergores juga. Maka dengan gemetar, ia mematikan HP nya dan menyimpannya.

Ya Allah, help me..


Seketika itu adzan Maghrib berkumandang, dengan mukena yang penuh tumpahan air mata, ia tulus, benar-benar tulus menyerahkan semua perkaranya pada Rabb yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar, ia mengucapkan setiap doa yang ia hafal, untuk saat ini, hanya satu hal yang ia pinta, agar bahtera rumah tangganya tidak kandas terhempas badai, satu itu saja. Maka saat itu, doanya, doa sang puteri yang terdzalimi sempurna menembus langit tanpa penghalang apapun.

Malam menjelang, sang puteri tidak nafsu melakukan apapun, tubuhnya lemah, ia masih saja menangis sembari memeluk sang mujahid kecilnya.. sampai tiba waktu sang pangeran pulang. Biasanya ia selalu setia menunggunya di depan pintu, membukakan pintu dan menyambutnya dengan memasang wajah ceria dengan senyum terindahnya, membawakan tasnya kemudian menemaninya makan malam dan mendengarkan ceritanya atau terkadang ia yang bercerita, apapun itu.. mulai dari eksperimen resep baru yang gagal sampai tingkah lucu sang mujahid kecil.

Namun malam itu berbeda, tentu saja, tabir kedustaan telah tersingkap persis di depan matanya. Maka saat sang pangeran salam kemudian membuka pintu, ia mendapati sang puteri tengah berbaring termenung di kasur menghadap tembok, sang pangeran tahu pasti ada sesuatu yang salah.

Ada apa, cinta?, ujar sang pangeran membuka pembicaraan, ia duduk di salah satu sisi ranjang,

Sang puteri mengambil nafas panjang, mengusap sisa air mata yang masih membekas di pipinya, ia beranjak duduk, memandangi punggung kekasihnya untuk kemudian ia usap dengan lembut,

Sayang, kau tahu, kita sudah bertahun-tahun menikah.. maka tak perlu ada lagi yang disembunyikan satu sama lain. Aku ingin bertanya sesuatu, tapi aku mohon, engkau menjawab dengan jujur.. Demi Rabb yang telah menyempurnakan mozaik cinta dalam hatiku untukmu, aku lebih menyukai kebenaran walaupun itu pahit, daripada kedustaan meskipun itu manis..

Ya, aku mengerti, apa pertayaanmu?

Sayang, apakah engkau mengenal Raisa Ummu Fathi?, sang puteri berusaha sepenuhnya untuk tidak terbata-bata, namun air mata tiba-tiba mulai menggenang lagi. Sang pangeran tertunduk demi mendengar nama itu.

Ya, aku mengenalnya..

Ya Allah, runtuh sudah benteng pertahanan air mata sang puteri mendengar ucapan kekasihnya, Ya Rabb, jadi apa yang dikatakan Raisa itu benar, sepenuhnya benar..

Sang pangeran mendongak, menyentuh bahu sang puteri, menatapnya lamat-lamat,

Engkau sudah tahu semuanya?

Sang puteri mengangguk tergugu, lidahnya kelu, tubuhnya bergetar hebat, kaki dan tangannya mendingin..

Lalu maukah engkau mendengar penjelasanku? Aku akan menjelaskannya dengan jujur padamu..

Ini bukan saat yang tepat, aku butuh waktu untuk menenangkan diri, pikir sang puteri dalam hati, maka akhirnya iapun menggeleng lemah. Sang pangeran mengerti, ia paham bagaimana perasaan kekasihnya, ia tahu bahwa hati lembut itu butuh waktu untuk diperbaiki kembali.


Semenjak malam itu, waktu terasa lama sekali berputarnya, sang putri masih berduka, air matanya masih juga belum berhenti mengalir, adapun sang pangeran masih tetap berusaha menghiburnya, meminta maaf berkali-kali. Disadari atau tidak, setiap ucapan maaf dan hiburannya itu sedikit demi sedikit mulai memperbaiki kembali kepingan hati yang telah hancur merapuh itu, bagaikan puzzle yang satu per satu saling melengkapi hingga lengkap seutuhnya, tak sesempurna sebelumnya memang, tapi paling tidak, ada sepotong hati yang baru di sana.

Bersambung Insya Allah...

You Might Also Like

0 comments

Thank you so much if you're going to comment my post, give advice or criticism. I'm so happy ^_^ But please don't advertising and comment with bad words here. Thanks !

♥ Aisyah