Latest Posts
Bismillah.


Kita sebagai seorang Muslim yang beriman kepada para Nabi dan Rasul mengakui dan mempercayai kerasulan Nabi Ibrahim Alayhissalam. Sebetulnya ummat Muslim bukan satu-satunya yang mengakui beliau sebagai nabi, ada ummat lain yang mengaku bagian dari agama Nabi Ibrahim Alayhissalam, namun beberapa dari pengakuan tersebut tidak diiringi dengan aksi dan bukti nyata.

Pada saat itu, ketika Al-Quran diturunkan, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang dikenal Al-Amin (terpercaya) menyampaikan kepada mereka, mereka menjawab:

tidak, terima kasih. Kami sudah memiliki apa yang harus kami ikuti, kami tidak perlu memikirkan wahyu baru ini, kami sudah memiliki wahyu kami sendiri

Dan Allah telah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Qur'an yang diturunkan Allah", mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
[QS. Al-Baqarah: 91]

Namun poin pentingnya di sini adalah, sebagian dari ummat terdahulu yang menolak Al-Quran, tidak mempercayai para Nabi, mereka mengatakan bahwa mereka hanya akan mengikuti nenek moyang mereka.

Kita mengikut bagaimana leluhur kita, sehingga kita tidak perlu memikirkan apapun, seluruh pemikiran itu sudah dilakukan oleh leluhur kita sejak dahulu, jadi apa pun yang leluhur kita lakukan kita lakukan saja, mengapa harus dipertanyakan lagi? Jika kita mempertanyakan apa yang orang tua kita lakukan, apa yang kakek-nenek kita lakukan, apa yang kakek buyut lakukan, itu tidak sopan. Kita tidak boleh mempertanyakan apa yang mereka sudah budayakan, kita harus mengikutinya apapun itu.’

Namun, begini, jika kita percaya dan beriman pada nabi Ibrahim Alayhissalam, maka kita tidak boleh seperti itu, karena sebegaimana Nabi Ibrahim Alayhissalam yang sepanjang hidupnya begitu kritis mengajukan berbagai pertanyaan, ia tidak pernah berhenti bertanya, baik kepada ayahnya, kepada raja yang berkuasa pada masa itu, hingga kepada masyarakatnya.

Dan Nabi Ibrahim Alayhissalam belum akan menerima jawaban kecuali ada bukti yang jelas dan alasan yang masuk akal, hal ini membuktikan bahwa nabi Ibrahim Alayhissalam adalah pemikir sejati, beliau seorang pemikir, beliau tidak akan pernah menerima nilai, budaya atau apapun itu jika hanya sekedar warisan leluhur tanpa mengetahui esensinya.

Maka, bila kita mengaku mengikuti Nabi Ibrahim Alayhissalam, maka kita seharusnya kita membiasakan diri untuk berpikir, mengajukan pertanyaan, tidak menerima secara instan, terus berekspolasi, tidak mengatakan ‘kami melakukan ini karena orang tua kami melakukannya.’


Segala sesuatu yang kita lakukan, definisi tentang benar dan salah, definisi tentang apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan, apa yang kami terima dan apa yang kita tolak berdasarkan pada firman Allah:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

‘Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan mata terbuka (hujah yang nyata)’
[QS. Yusuf: 108]

Itulah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim Alayhissalam, jangan pernah menerima apa pun dengan mata tertutup, berpikirlah! bertanyalah!

Jika kita belum paham tentang suatu perkara dalam agama, tanyakan pada orang yang lebih tahu, ketika mereka memberi jawaban dan kita belum puas dengan jawaban itu, katakanlah ‘Saya tidak puas dengan jawaban tersebut. Saya butuh penjelasan lebih lanjut.’

Kita bukan hanya punya hak untuk bertanya, kita bahkan punya tanggung jawab untuk bertanya. Inilah yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Dan sebetulnya, inilah inti tulisan kali ini, bukan tentang Nabi Ibrahim Alayhissalam, ini adalah pembelajaran dari kisah nabi Ibrahim Alayhissalam tadi.

Ketika ketika ummat kita berhenti berpikir, ketika ummat kita meninggalkan kebiasaan berpikir, maka dapat memicu hal yang kita khawatirkan pada ummat. Generasi berikutnya kelak akan menjadi Muslim hanya karena orang tua mereka Muslim. Kemudian satu-satunya alasan seorang anak berpegang pada Islam hanya karena orang tuanya mengharapkan demikian.

Saat ini kita hidup di zaman di mana banyak keluarga yang tinggal terpisah dengan anak-anaknya, anak-anak pergi merantau, menjalani kehidupan mandiri, terutama ketika mereka kuliah ke perguruan tinggi atau mendapatkan pekerjaan, mereka mulai memiliki kehidupan sendiri, dan muncullah fenomena dimana orang tua beragama dengan relijius namun anak-anak mereka tidak demikian.

Mereka mengatakan, ‘ketika dulu saya tinggal bersama orang tua, biasanya saya diajak ke tempat ibadah, ayah saya membawa saya untuk Shalat Jum’at setiap pekan, tetapi sekarang saya tidak tinggal bersama ayah, saya sudah kuliah, saya bebas, maka saya tidak punya alasan lagi untuk pergi lagi, dulu kan alasannya adalah ayah saya.’

Adapun ketika mereka kembali untuk berlibur ke rumah orang tua mereka, barulah mereka kembali ke masjid lagi, dan ketika mereka kembali ke perguruan tinggi, mereka merasa bebas lagi. Begitu siklus ini terus berlanjut.

Hal ini terjadi karena kita tidak mengajari anak-anak kita bagaimana mereka berpikir dan memahami tentang Islam untuk diri mereka sendiri, kenapa mereka menjadi seorang Muslim? Kenapa mereka harus beriman pada Allah? Kenapa mereka harus membaca Al-Quran? Kenapa mereka harus bertanya?

Agama kita bukan agama yang hanya meminta kita untuk menerima segala sesuatu dengan mata tertutup, atau hanya mengikuti apa adanya. Lihatlah bagaimana nabi Ibrahim Alayhissalam tidak hanya bertanya kepada orang-orang, ia bahkan bertanya langsung kepada Allah:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى

‘Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati".’
[QS. Al-Baqarah: 260]

Nabi Ibrahim Alayhissalam bertanya kepada Allah secara langsung, bagaimana Allah menghidupkan yang mati, dan Allah bertanya kepadanya,

قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ

Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?"
[QS. Al-Baqarah: 260]
Kata Allah, ‘bukankah kamu sudah memiliki Iman? Sudah percaya?’

Nabi Ibrahim Alayhissalam pun menjawab,

قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)"
[QS. Al-Baqarah: 260]


Allah mengajarkan kita melalui contoh Nabi Ibrahim Alayhissalam bahwa kita harus berani bertanya sampai kita yakin seyakin-yakinnya, sampai hati kita tenang dan damai. Kita harus bereksplorasi! Kita harus berpikir! Kita harus menanamkan bagaimana cara berpikir kepada anak-anak kita nantinya!

Sayangnya, pendidikan agama sekarang, bahkan lembaga yang memiliki pendidikan Islam jarang sekali mengajarkan murid-muridnya tentang berpikir, mereka fokus menghafal surat, belajar bagaimana berwudhu, nama-nama bulan hijriyah, dan lain sebagainya. Hasilnya.. sebagian berpikir bila sudah menghafal Quran maka itu saja sudah cukup.

Anak-anak kita hafal Quran, mereka melantunkan Quran tapi tidak diajak berpikir tentang kandungan ayat-ayatnya, jadi bagaimana mungkin mereka membaca ayat:

أَفَلا تَعْقِلُونَ

Maka apakah kamu tidak memahaminya?
[QS. Al-Qasash: 60]

 Anak-anak kita membaca ‘maka tidakkah kamu berpikir’ dan dia tidak diajak berpikir. Ada ironi dalam fenomena ini.

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً

Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja.
[QS. Al-Baqarah: 171]

Anak-anak kita melantunkan ayat ini, kita bahagia melihat mereka mengimami shalat dan dia membaca ayat yang mengisahkan contoh dari orang-orang yang ketika mereka mendengar panggilan dari Allah bagaikan mendengar panggilan hewan, dalam artian tidak memberikan dampak apapun.

Anak kita membaca ayat ini dan dia tidak mengerti, ini adalah tragedi yang terjadi pada ummat. Generasi ini harus menghentikan keberlanjutannya, karena Wallahil Adzim, kita tahu apa yang menarik orang-orang kepada ateisme, menjauh dari agama, semisal ucapan,

saya benar-benar percaya pada sains, saya tidak percaya pada Tuhan
Dalam sains, kita bisa berpikir rasional. Dalam ilmu pengetahuan, kita bisa berpikir masuk akal

Mungkin memang ada beberapa agama lain yang tidak menghendaki perngikutnya untuk berpikir, tapi agama kita, Islam berdasar dan berakar pada pemikiran. Pemikiran itu, pertanyaan kritis itu, eksplorasi itu, sejatinya adalah pembelajaran dari Nabi Ibrahim Alayhissalam. Kita sering berbicara tentang perjuangan dakwah Nabi Ibrahim Alayhissalam, tetapi kita jarang berbicara tentang bagaimana proses berpikirnya Nabi Ibrahim Alayhissalam.

Kita butuh orang-orang seperti beliau di masyarakat kita, orang-orang yang berani bertanya, tidak menerima begitu saja apa yang ada di sekitar mereka. Nabi Ibrahim Alayhissalam adalah teladan yang mengajukan pertanyaan. Beliau bahkan tidak mendapatkan dukungan keluarga, tidak ada dukungan dari masyarakat. Beliau adalah pemuda yang berani dan cerdas, Masya Allah. Dan tugas kitalah yang harus kita menghidupkan kebiasaan baik berpikir kritis ini kembali.


فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

[QS. An-Nahl: 43]



~ Tulisan ini terinspirasi dan ditulis berdasarkan dari salah satu tausiyah Ustadz Nouman Ali Khan, dengan beberapa perubahan.


Bismillah.


Pada tahun 2019 ini, Musyawarah Nasional tahunan FoSSEI (Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam) dilaksanakan di Universitas Yarsi, Jakarta tepatnya sejak hari Rabu, 18 September 2019 hingga Sabtu, 21 September 2019.

Ada begitu banyak pembelajaran, pengalaman dan hikmah yang kami dapatkan selama empat hari di Jakarta. Dengan tagline Berbenah Bersama, FoSSEI yang merupakan payung sekaligus wadah seluruh KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) di Indonesia telah melakukan berbagai pencapaian dalam menyongsong masa depan Perekonomian Islam Indonesia yang lebih baik.

Masya Allah diantara pencapaian FoSSEI yang memiliki 14 regional dan lebih dari 90 KSEI di ratusan perguruan tinggi adalah berhasil menjalin kerjasama dengan banyak media seperti Sharia News dan lembaga seperti IDX, BI, Dompet Dhuafa, MAI, CIMB Niaga, Igrow dan lain sebagai nya. FoSSEI merupakan komunitas millenial Pertama di Indonesia bahkan dunia yang bergerak di bidang Ekonomi Syariah dan dinilai memiliki banyak kontribusi bagi perkembangan Ekonomi Islam Indonesia oleh Menteri Bappenas RI, Prof. Bambang Brodjonegoro hingga mendapatkan penghargaan . Sejauh ini, FoSSEI telah menginvestasikan 110 juta ke beberapa intsrumen keuangan syariah. Salah satunya dalam bentuk sukuk tabungan ST-003 senilai 30 juta rupiah. FoSSEI juga bekerjasama dengan Dompet Dhuafa dalam meluncurkan gerakan Wakaf Millenial untuk pembangunan rumah sakit syariah.

Masya Allah Tabarakallah, Selamat kepada kakak-kakak Presidium Nasional FoSSEI 2018-2019, Bapernas dan seluruh pihak yang telah berkontribusi untuk FoSSEI.

Tapi bukan itu inti cerita kali ini, Munas adalah salah satu ajang silaturrahim yang sangat berkesan karena pada empat hari tersebut, dari ribuan anggota FoSSEI, sejumlah mahasiswa dari seluruh daerah di Indonesia mengirimkan delegasinya untuk terlibat dalam Musyawarah yang akan menentukan langkah perjuangan FoSSEI setahun ke depan.


Kami bertemu satu sama lain, ditempatkan sekamar dengan teman-teman hebat yang rela datang jauh-jauh dari berbagai pulau untuk memperjuangkan ekonomi Islam secara inklusif di Indonesia.

Aku ditempatkan di kamar 336 bersama dengan Nidilia dari KSEI Fokes Bengkulu dan kak Nur Hasanah dari KSEI Fest Universitas Trilogi. Nidilia dan kak Nur ini baik sekali masya Allah. Mereka lebih dahulu sampai di penginapan dibanding aku.

Oke, Pelajaran Pertama, aku harus belajar lebih disiplin, datang lebih awal, mereka memotivasi aku untuk lebih semangat dalam membulatkan tekad dalam dakwah, kebaikan itu tidak boleh ditunda, lebih cepet lebih baik, insya Allah. Yang jauh datang lebih awal karena tahu butuh waktu lebih lama, jadi tidak ingin terlambat, yang dekat datang lebih cepat karena ingin hadir tepat waktu.

Malam Pertama kami menginap, aku dan dua delegasi lainnya dari Tazkia, jalan-jalan keluar penginapan mencari makan malam bersama salah satu kakak alumni Progres sekaligus Bapernas FoSSEI yang menjabat tiga tahun berturut-turut, kak Astrid Aulia namanya. Kak Astrid yang notabene lulusan terbaik Tazkia 2018 menyambut kami dengan baik, masya Allah.

Pelajaran kedua, orang-orang hebat adalah orang yang tetap tawadhu dan rendah hati di balik seluruh prestasi dan kesuksesannya. Dari beliau, aku belajar untuk menjadi kakak tingkat yang baik, ramah, membantu dan membimbing kami untuk melanjutkan estafet dakwah serta berbagi pengalaman agar kami menjadi lebih baik lagi, menuntun ke jejak yang baik, dan menghindari jejak yang buruk, seolah kami tinggal terima jadi bagaimana panduan langkah-langkah yang harus kami lalui tanpa harus mengalami trial and error nya.

Hari Pertama kegiatan, seminar dilaksanakan di auditorium lantai 12 Universitas Yarsi bersama para narasumber yang ahli di bidang nya. Aku duduk di area dan depan dan bersebelahan dengan Miya Yasinta dari IAIN Jember, ia baru duduk semester tiga, tapi antusiasme menuntut ilmunya tinggi dan masya Allah dia salah satu sahabat yang selalu menyertaiku sepanjang munas perjalanan ini, Kemana-mana bareng, dan selama di Yarsi, aku lebih sering bersama Miya daripada teman-teman dari Progres ataupun teman-teman sekamar.

Selain Miya, aku bertemu dengan kak Siti Rahma Hanifa atau biasa dipanggil kak Hani dari KSEI Fies Gici Business School Bogor yang super duper hebat masya Allah, penulis dan influencer yang jago Public speaking di bidang edukasi dan Youth & Female empowerment, berkali-kali berpengalaman pertukaran pelajar ke berbagai negara dan pengetahuan nya luas sekali.. Masya Allah Tabarakallah.. Kak Hani juga teman seperjalanan yang seru, selama bersama, kami banyak sharing, eh lebih tepat nya, aku banyak di nasihati dan di motivasi.. Sejak jalan kaki malam-malam dari Yarsi ke penginapan, sampai perjalanan bus ke balai kota, semuanya berkesan dan penuh cerita.

Pelajaran ketiga, setiap orang berbeda, hebat dengan cara nya masing-masing, selama masih punya keinginan untuk belajar. Ada orang-orang seperti Miya yang masih junior, ada orang-orang seperti kak Hani yang sudah Senior, ada orang-orang seperti aku yang hanya remah-remah Tango kalau istilah kak Halwani, tapi selagi mau belajar, kita akan mampu mencapai banyak hal, insya Allah.

Selesai seminar, dilanjutkan ke persidangan, dari mulai laporan pertanggung jawaban oleh kelima Presidium Nasional, sidang komisi, peresmian blueprint, pendemisioneran dan pelantikan Presidium Nasional dan Koordinator Regional, penetapan tuan rumah agenda nasional, hingga peresmian KSEI baru dan penghapusan KSEI non aktif. Teman-teman anggota FoSSEI dari seluruh Indonesia sangat antusias dan pro aktif menyampaikan pendapat dan gagasan mereka, dan aku suka melihat nya..

Pelajaran keempat, semangat dalam menuntun ilmu, belajar dan belajar, ladang ilmu dan dakwah bukan tempat nya untuk khajal (malu yang tidak pada tempatnya). Kalau terus-terusan malu, kapan mau maju? Indonesia butuh kita, gagasan, ide, inovasi dan karya para generasi millenial yang kelak akan menjadi pemimpin negeri. Kebiasaan memang belum tentu baik, tapi kebaikan perlu dibiasakan.

Pelajaran kelima, Musyawarah ini sangat penting sekali dalam berbagai penyelesaian perkara. Selesaikan segala sesuatu dengan musyawarah, sebagaimana perintah Allah dalam surat Ali Imran: 159
وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِ
dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu.

Banyak permasalahan organisasi yang sejatinya nya dapat diselesaikan hanya dengan koordinasi, duduk bareng, musyawarah. Dan yang terpenting, masing-masing pihak beritikad baik, sama-sama mementingkan kepentingan Ummat bersama, dan mengesampingkan segala bentuk mageran, baperan, moody-an serta turunannya.

Setelah seluruh rangkaian sidang selesai, agenda selanjutnya adalah gala dinner di Balai Kota Jakarta, dan pada penghujung malam itu, ada sesuatu yang berkesan, seluruh kakak-kakak LO memberikan penampilan puisi untuk kami, tentang persahabatan dan ukhuwah, dilanjut dengan penampilan dari Presidium Nasional FoSSEI 2018-2019 yang menceritakan tentang kisah-kisah di belakang layar yang lucu dan menarik.. Oh ya, satu lagi, ada pemberian penghargaan bagi 3 KSEI paling berdaya se Indonesia.. Saat mendengarnya, masya Allah aku kagum, KSEI seperti apa yaa yang paling berdaya diantara sekian banyak KSEI hebat di Indonesia? Dimulai dari urutan ketiga, kemudian urutan kedua, aku tidak begitu menyimak, tapi saat urutan pertama disebut,
"KSEI Progres Tazkia!"
Masya Allah Tabarakallah, aku terkejut, teman-teman yang duduk di sekitarku menyalami dan menyelamatiku..

Pelajaran keenam, Puji syukur atas karunia Allah Ta'ala, semoga penghargaan ini dapat menjadi apresiasi bagi kiprah para pengurus dan anggota KSEI Progres serta motivasi agar kami lebih semangat berkontribusi dalam membumikan ekonomi Syariah.

Terakhir, kami pulang lebih awal di hari Sabtu pagi, tidak ikut field trip karena Qadarullah ada agenda KSEI yang tidak bisa ditinggalkan dalam rangkaian Open Recruitment anggota baru kami.

Dan, inilah Pelajaran ketujuh, sekaligus pelajaran terakhir, tetap berjuang, berproses, berprogres, sebagaimana disampaikan oleh ketua KSEI Progres periode 2019-2020, Lalu Rizky, karena kontribusi, tak melulu tentang posisi. Kalau kata kak Hani, sebelum berpulang, mari berjuang! Salah satu Presidium Nasional FoSSEI 2019-2020 juga kemarin bilang, Ekonomi Islam itu syariat langit, maka kita, Ekonom Robbani yang akan membumikannya, insya Allah.

Tak dapat dipungkiri, dalam setiap pertemuan ada perpisahan, itu sunnatullah. Tapi yang terpikirkan sekarang adalah, bagaimana memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama orang-orang hebat di sekitar kita, karena boleh jadi, esok hari, kita tak mendapatkan kesempatan menimba ilmu dan hikmah dari mereka lagi.


Teruntuk:
Para Mujahid Progres: Lalu Rizky Adriansyah, Herdy Almadhipta Rahman, kak Thufeil M. Tyansah, kak Astrid Aulia, kak Aisyu (Aisyah Ireta)
Para Support System: Baiq Damayanti Azhar Putri, Hani Khairo Amalia, Hasna Lutfi Khairunnisa, Zahida Rahma, Aulia Azka, Amalia Hanifah Latief, Nur Kintan Maharani, Riyadatul Mustami’ah dan teman-teman se-Tazkia
Para Penghuni kamar 336: kak Nidilia dari IAIN Bengkulu, kak Nur Hasanah dari Universitas Trilogi
Sahabat-sahabat terbaik: Mia Yasinta dari Jember, kak Hani dari Bogor, kak Afifah dari Gorontalo, kak Putri dari Jakarta, kak Masruroh dari Bogor, kak Yunia dari Bogor, kak Fafa dari Bogor, kak Hurroti dari Madura, Kak Ai dari Bandung, kak Naqiya dari Bandung, kak Mega dari Tasikmalaya, Kak Saadah dari Samarinda, Kak Arini dari Gresik, Kak Ayum dari Salatiga, Kak Putri dari Bandung, kak Susi dari Bandung, kak Khotim dari Jember, kak Dwi dari Bandung, kak Putri dari Padang, kak April dari Salatiga, Kak Asra dari Sumatera Utara, kak Dewi dari Madura, Kak Wawa dari Sumatera Utara, kak Firdausa dari Jogja, kak Aini dari Bogor, kak Hafielda dari Bogor, kak Lestari dari Jogja, kak Nofita dari Bengkulu, kak Tara dari Salatiga, Kak Lili dari Bandung, kak Dyas dari Jogja
Serta seluruh teman-teman dari seluruh wilayah di Indonesia yang tak dapat kusebutkan satu per satu
Kakak-kakak Presidium Nasional 2018-2019: kak Irsyad dari IPB, kak Halwani dari STEI SEBI, kak Haqqi dari Universitas Brawijaya, kak Prayudi dari Universitas Riau, kak Gilang dari UGM
Kakak-kakak Presidium Nasional 2019-2020: kak Agus dari STEI SEBI, kak Ahmad Fauzan dari Brawijaya, kak Abdul Muhyil dari UI, kak Boma dari Undip, kak Adam dari UGM.
Kakak LO kami, Kak A'immatun Nadrifah, kakak-kakak panitia: kak Hanifa, kak Lisa, dan seluruh panitia yang telah meluangkan waktunya untuk membantu dan menerima kami dengan baik.

Syukran jazakumullahu khairan untuk semua peran dan kontribusinya di Musyawarah Nasional FoSSEI XVII kemarin, kalian hebat masya Allah..
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk berjumpa kembali di lain kesempatan.

 
 



Mendung.
Itulah yang bisa ku sebut dengan cuaca tadi pagi.
Mungkin, memang aku tak perlu menyuarakan apa isi hatiku.
Pada hakikatnya, cuaca pun sudah bisa ‘mewakilkan’ apa isi hati aku pagi tadi, 
ketika hari keberangkatanmu pun tiba.
Semua bercampur menjadi satu.
Sedih, senang, grogi.

Iya, keberangkatanmu memang membuatku cukup sedih.
Karena pertemuan selanjutnya tidak ada yang bisa memastikan.
1 tahun, 2 tahun, entahlah aku pun tak sanggup untuk menebak kapan kamu bisa ‘pulang’ kembali.
Senang?
Tak mampu kuungkapkan lagi betapa senangnya aku untuk bertemu denganmu yang ketiga kalinya, setelah 2 tahun ini.
Grogi?
Sudah sangat lama aku tak merasakan ‘hal’ seperti ini semenjak 2 tahun lalu.

Terima kasih untuk 20 menit yang singkat namun berkesan.
Kau berhasil membuatku menjadi seorang yang sangat periang untuk hari ini.
- Aff Sora




Ditulis oleh sahabat yang kusayangi fillah,
Annisa Afifah.
Barakallahu fiiha <3 i="">

Bismillah.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🍃
Apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya..


Dua bulan kedepan ini kita punya banyak waktu luang insya Allah, jadi mari kita memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, karena boleh jadi, kita tak dapat mengambil hikmah yang sama di kemudian hari.

"Liburan Semester Genap"
Bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu?
Pertama, buat sesi dialog dengan diri sendiri dan tanyakan kepada diri kita masing-masing apa yang kita sukai, bidang apa yang ingin kita kuasai saat ini atau kebiasaan apa yang ingin kita latih, pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu kita mengatur prioritas kita dan membantu mengidentifikasi tujuan yang dapat kita gunakan untuk mengisi waktu liburan.

Kedua, manfaatkan waktu dengan hal-hal bermanfaat seperti:
1 / Menghafal Alquran
Yaitu dengan menentukan waktu tertentu untuk menghafal dan membaca tafsir atau memahami ayat-ayat yang telah kita hafalkan.. Kita juga perlu membuat jadwal agar terus kontinyu selama liburan ini.

2 / Membaca buku
Masing-masing kita memiliki selera buku yang berbeda-beda, karenanya kita bisa merencanakan sejak awal buku yang kita sukai untuk dibaca, pastikan juga buku yang kita pilih bermanfaat.

3 / Mengembangkan keterampilan
Misalnya, kita menyukai keterampilan menulis / handlettering, gunakan liburan kita untuk berlatih, contoh lain jika kita suka mempelajari bahasa atau ingin meningkatkan keahlian berbahasa, manfaatkan liburan untuk banyak praktik atau mendengarkan percakapan agar lebih fasih, contoh lain misalnya belajar menjahit, memasak, berkebun dan keterampilan lain yang positif.

4 / Membiasakan Ibadah Sunnah
Tetap menjaga kewajiban beribadah tepat waktu, kemudian dilanjutkan dengan membiasakan ibadah Sunnah, shalat Witir, puasa Senin Kamis, Dhuha, dan lain sebagai nya..
Serta terus mendawamkan membaca Alquran, karena meski telah selesai bulan Ramadhan, Jangan sampai kita terputus dari Alquran. Mari semangat lagi di liburan ini memperbanyak membaca Quran 🌱 ..

Dan ada banyak lagi aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan selama liburan ini, teman-teman bisa merencanakannya sejak sekarang juga..

Yang terpenting, Jangan sampai kita menyelesaikan liburan ini tanpa faidah, mari kita melakukan hal-hal baik dan mendapatkan banyak manfaat pada liburan ini! Karena ini adalah kesempatan kita! 🌿💕
Dua bulan itu waktu yang cukup lama.


Karena dalam satu menit saja, menurut Dr. Aidh Abdullah Al Qarni, kita bisa membaca 100 kali istighfar, membaca beberapa ayat Al-Quran, membaca empat halaman buku, menulis sebanyak empat baris, mengahafalkan satu bait syair, membaca lima kali shalawat, sujud, berdoa dan banyak lagi.


Bismillah.


Tahun 1999 merupakan hari yang bersejarah bagi K.H. Mustofa Mughni, M.A (Pimpinan Pesantren Daarul Mughni Al Maaliki) karena pada hari itulah beliau pertama kali membeli tanah seluas 300  dari hasil menjual 1 buah mobil untuk dibangun sebuah pesantren yang kini memiliki santri lebih dari 1.000 orang. Pada awalnya, pesantren yang diberi nama Daarul Mughni ini disediakan untuk orang-orang fakir dan yatim yang tinggal di lingkungan sekitar dengan jumlah santri sebanyak 43 orang, saat itu, K.H. Mustofa yang berperan mengajar dan istri beliau memasak untuk para santri.

K.H. Mustofa adalah salah seorang pengusaha sukses sebelum beliau mendirikan pesantren, beliau pernah berkecimpung dalam usaha impor komputer bersama Ustadz Yusuf Mansur.

“Dulu saya kaya, saya merasa kerja keras saya berhasil, tapi hancur semua, tidak berkah. Tapi sekarang, saya sadar bahwa kekayaan saya bukan sepenuhnya milik saya, ada hak orang lain di sana” ujar beliau kepada kami saat kami berkesempatan berkunjung pada Jumat, 7 Desember 2018 lalu.

من أراد الدنيا فعليه بالعلم, و من أراد الأخرة فعليه بالعلم, و من أراد كلاهما فعليه بالعلم
‘Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka ia bisa didapat dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia bisa didapat dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka ia bisa didapat dengan ilmu’

Sebelum membangun pesantren, K.H. Mustofa memutuskan untuk menabung dan berpikir bagaimana caranya memiliki cukup uang. Beliau juga berharap kedepannya akan ada ustadz-ustadz yang bergelar sarjana ekonomi, pagi ke bank dan sore dakwah, sehingga ekonomi Islam di Indonesia bisa bangkit dimulai dari pesantren. Menurut beliau, Indonesia hancur bukan karena orang bodoh, justru di Indonesia ini Alhamdulillah ada banyak orang yang pintar, tapi sayangnya masih kurang iman. Sedangkan yang dibutuhkan adalah orang-orang pintar yang ahli ekonomi dan di sisi lain agamanya kuat.

Meski telah menjadi pimpinan pesantren, jiwa pengusaha beliau masih sangat kuat, hal ini terbukti dengan tingginya tingkat kemandirian ekonomi pesantren yang dipimpinnya, banyak sektor yang dimanfaatkan oleh ustadz melihat peluang pasar dengan memenuhi kebutuhan masyarakat dan para santri di sekitarnya. Dimulai dari minimarket yang menjadi tangan kedua dari perusahaan sehingga harga yang dijual bisa lebih murah, percetakan, konveksi (termasuk juga sablon dan bordir), menawarkan waralaba ayam goreng, klinik dan apotik hingga penyewaan bus. Dan dengan banyaknya usaha yang kini dikelola oleh pesantren, biaya pendidikan menjadi lebih terjangkau karena tersubsidi dari keuntungan dari usahanya.


Dalam berbisnis, modal bukan menjadi penentu utama, modal juga penting, tapi ada 4 hal yang lebih penting: kemauan, modal, intuisi dan trik. Karena banyak orang yang ketika dikasih modal, mereka juga bingung akan berbisnis apa. Penting juga untuk masuk ke dalam sistem, dengan mengerti ilmu dan proses kerjanya, kita bisa mendapatkan keuntungan.

Dalam bisnis minimarket misalnya, memang kita tidak bisa mandiri 100%, kita membutuhkan pihak-pihak lain yang membantu. Awalnya minimarket di pesantren beliau merupakan waralaba dari salah satu ritel waralaba terkenal di Indonesia, dan sejak pertama kali didirikan, minimarket tersebut laku keras dengan pasar 1.000 santri dan masyarakat sekitar yang hendak memenuhi kebutuhannya. K.H. Mustofa pun mempelajari bagaimana sistem bisnis ini agar minimarket nya tidak menjadi tangan ketiga, tapi menjadi konsumen tangan kedua.

Beliau menelusuri bagaimana caranya dapat berhubungan dengan para pemain tangan pertama yang merupakan perusahaan penyuplai tanpa melalui distributor. Ketika menemui perusahaan-perusahaan tersebut, rupanya ada minimal pembelian jika dilakukan langsung dari mereka sejumlah 1-2 truk per pembelian. Beliau yang telah mempertimbangkan segmentasi pasar memutuskan untuk menerima persyaratan tersebut dan rupanya keputusan beliau berdampak positif, harga yang harus dibayar jauh lebih murah sehingga orang-orang bisa membeli di minimarketnya dengan harga yang juga lebih terjangkau. Pada akhirnya, minimarket nya lepas dari ritel waralaba dan menjadi minimarket yang mandiri.

K.H. Mustofa berprinsip bahwa tanpa uang, kita tetap bisa membuat usaha. Daripada kerja pada orang lain, beliau lebih memilih untuk menjadi tukang bebek, yang awalnya beli sepasang, dengan ketekunan dan ketelatenan, bisa jadi ratusan. Beliau mencontohkan salah satu teman beliau yang merupakan penjuang melon, ketika usaha mandirinya disertai dengan ilmu tentang sistem, Alhamdulillah kini bisa punya mobil mewah, bagaimana caranya? Teman beliau menjual melon bukan di pasar, tapi menyuplai langsung ke supermarket, hotel dan restoran.

Pesantren harus punya mutu agar menarik dan bermanfaat. Jika ada sekolah gubuk yang bisa mendidik anak-anak untuk pintar berbahasa Inggris, kemudian ketika ada acara ditampilkan kemampuan anak-anak yang kualitasnya bagus, harga masuknya fantastis. Oleh karenanya, dimanapun bidang kita, perbaiki kualitas, jangan dulu membicarakan harga, bicarakan mutu. Nanti ketika orang-orang sudah percaya, Insya Allah akan mudah menariknya, karena sudah punya ciri khas.

Adapun dunia pendidikan, pesantren khususnya, yang paling penting adalah bagaimana sistem pendidikannya bisa membentuk karakter anak-anak santri, mengubah mereka menjadi lebih baik dengan manhaj dan kurikulum yang bagus. Insya Allah dengan begitu, kita akan membangun generasi yang memiliki kemandirian dalam keterampilan hidup, insya Allah.