Latest Posts
Bismillah.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Good night my friends and sisters.
How is your day? I hope that Allah will always bless us.

All the praises belong to Allah, the only God of the world who gives us a chance to meet in this blessed hall insya Allah. And peace be upon our beloved prophet, Rasulullah Muhammad pbuh, his family, his companions and his followers until the last day.

I'm standing here tonight to deliver a speech under topic 'positive thinking'.
Actually this is one of my weakness, I am a very pessimist person, so this is a bit challenging for me.
But let me tell you a motivational quote that I get from my new TLC lecturer, mr yusuf. He said, 
The only failure is the failure to try.

If you courage enough to try, at least you will have 2 options consiquences: success or fail, there you have a chance to success. But if you don't have any courage to try, your one and only consiquence is fail 100%.

And I am here now, pushing all my effort to be confident to do a public speaking in front of you, which in other hand, I most prefer to write than speak.

So, back to the topic.
Positive thinking is a mental and emotional attitude that focuses on the bright side of life and expects positive results.
When we talk about positive thinking, it has a relation with husnudzon, right?

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي
Allah the Almighty said: I am as My servant thinks I am. I am with him when he makes mention of Me.

We often complaining and think negatively, and as long as our mindset is negative, we won't get whatever we want !! But if we always say "It's Easy & I Can insya Allah" then our body and soul will move to run it and support us with positive vibes..

My friends and sisters.. do not be a complainer, because that's just wasting our time .. There must be a belief in our heart that we SURE, I CAN DO IT !! Never care about other people, I mean do not think about evil talk or negative talk of others .. Reach your dream .. Run .. There's nothing that can stop you without your permission, the control of your life is all in your hand..

Remember the story of Thomas Alfa Edison the inventor of the bulb a.k.a lamp? The most famous quote of him is one percent inspiration and ninety nine percent perspiration. Agree? Yup, true that genius is achieved with only 1%  of talent and the rest 99% of hard work. Uniquely, when he asked about the failure of his invention, Thomas A. Edison replied he never failed. He even managed to find 10,000 ways to create a bulb that is not incandescent.

So, my friends and sisters..
Remember one thing, You can reach everything you wanted not because you're strong, but because Allah is your strength.
"لا حول ولاقوة إلا بالله"
There is no might nor power except in Allah.
So, ask to him, request him and Allah will make it easier..

That's all my kultum.
Thank you jazakumullah khairan for your attention.
I apologize if there's some mistakes, all the rightness are from Allah and all the mistakes are from me and syaythan.

Finally, Let's end this occasion with kafaratul majlis prayer.
Bismillah.



Narasumber: Pak Arifin.
Manajer auditor di bank BJB Syariah.

Pusat studi fintech syariah. Tataran riba, gharar, dll bukan hanya nyata lagi. Di tengah tingkat kepemilikan kredit masyarakat Indonesia yang masih jauh dari angka ideal, di lain sisi kepemilikan smartphone sampai ke pelosok desa.

Kita yang di sini mempelajari ekonomi Islam tenang-tenang saja ketika riba sampai ke pelosok desa melalui smartphone dan internet dengan peminjaman dana.

Pusat studi ini selain mencegah riba, dzalim dan gharar melalui digital, kami juga ingin memastikan bahwa fintech syariah betul-betul dilaksanakan sesuai dengan kaidah syariah, memiliki dewan pengawas syariah.

Siap untuk perang melawan riba, gharar dan dzalim?

Silahkan datang dan temui kami di pusat studi fintech syariah di sekretariat pascasarjana STEI TAZKIA.
Bismillah.

Ketika ekonomi menggunakan uang, maka masih ada unsur ketidakpastian. Karena nilai nominal nya lebih besar dari nilai intrinsik.

Kini uang di-digital kan, menjadi e-money. Maka ketidakpastian menjadi bertambah. Apakah teknologi ini tidak akan lumpuh suatu saat?
Lalu bagaimana kita akan menjalankan ekonomi?

Maka ada sekelompok orang yang tidak menggunakan keduanya dan memilih alat tukar yang lebih adil, yaitu emas.

Pegadaian syariah memiliki financial technology yang berbasis emas dengan produk tabungan emas. Transaksi awalnya dengan membeli emas, lalu pulang dengan membawa catatan saldo emas.
Hebatnya, dengan sistem digitalisasi, bisa beli emas dengan sangat kecil dan tipis dari mulai 0,01 gram atau sama dengan 6.000 rupiah. Dan fitur yang ada juga sudah mirip seperti transaksi uang, kapan saja bisa beli dan transfer.

Apa untungnya?
Uang ada bunga karena ada inflasinya.
Namun emas hanya dititip. Untungnya suatu saat ketika mau dicairkan, dijual lagi ke Pegadaian dengan harga terakhir. Artinya ada keuntungan secara finansial dengan kenaikan harga emas. Memang bisa jadi turun, namun seringkali fakta membuktikan bahwa harga emas selalu naik di masa depan.

Kita membicarakan tentang emas yang bisa diaplikasikan seperti e-money.
Biaya titip emas 30.000 / tahun.
Ketika butuh bisa juga diambil dalam bentuk emas.
Insya Allah sesuai syariah karena menggunakan metode murabahah dan wadi'ah.



Belum bisa punya dinar?
Yuk menabung emas!

Bismillah.

Kitabisa.com150 m rupiah dana.400 ribu donatur.
Proyek mendanai pesawat pak Habibie.


Narasumber : Muhammad Al-Fatih

Kita sebagai generasi millenial sudah gampang servis segala sesuatunya. Dari mulai pembayaran (gopay), pinjaman, perencanaan, portal investasi (bareksa), pendanaan (kitabisa.com).

Kitabisa.com adalah :
Inovasi dalam layanan keuangan.
Platform untuk menggalang dana, berdonasi dan zakat.

Benefit pendanaan melalui kitabisa.com :
Lengkap, Online dan bisa diakses kapan saja.
Support 5 bank nasional dan kartu kredit
Notifikasi real time via sms & email.
Tersedia fitur update yang otomatis terkirim ke email semua donatur.
Manajemen penggalangan dana melalui sistem.
Transparansi: jelas siapa donatur, nilai donasi dan total donasi.

IDE
Seringkali ada postingan mengenai keadaan miris yang terjadi di masyarakat, biasanya ada banyak yang like, komentar atau membagikan. Artinya sebenarnya di Indonesia ini banyak orang baik yang bersedia membantu, hanya saja mereka bingung bagaimana cara menyalurkannya. Nah kitabisa.com menjadi sarana untuk menghubungkan orang-orang baik dengan orang yang memerlukan bantuan.

DARIMANA BIAYA OPERASIONAL?
Charge 5% dari setiap donasi untuk yayasan pengumpul donasi untuk operasional.

APA YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MULAI MEMBANTU?
* look around. Peka. Saat menemukan keburukan jangan hanya mencela, tapi berpikir positif untuk menciptakan kesempatan berbuat baik.
* start from circle. Lihat lingkungan sekitar barangkali ada yang membutuhkan bantuan.
* be confident. Pede aja untuk membantu oranglain. Contohnya birthday fundraising. Jadi minta hadiah melalui temen-temen untuk menggalang dana membantu orang yang membutuhkan.

KENAPA ORANG MAU BERDONASI?
Network effect ---> melalui koneksi temen-temen kalian.
Story effect ---> sangat menyentuh hati orang.

MINIMUM REQUIREMENT
1. Cerita yang lengkap. Hubungan antara diri kalian dan calon penerima donasi, kronologi cerita, motivasi dan rencana penggunaan dana.
2. Donasi awal bermula dari diri kalian sendiri, kirim duluan. Baru ajak temen-temen dengan bantuan media sosial.

Bergeraklah untuk mereka yang membutuhkan pertolongan. Sehingga saat suatu saat kita yang membutuhkan, akan ada yang peduli insya Allah.


BE THE CHANGE!
Awali perubahan yang kalian inginkan dari diri kalian sendiri.
Bismillah.



Oleh : Aulia Azka

Jilbab besar, gamis yang melebar, beserta niqob yang menutupi. Terbayang sudah bagaimana gambaran diri ini. Tepat pada tanggal 10 Zulhijah. malam dimana aku mulai membayangkan betapa berharganya diriku, jika nanti aku memberanikan diri untuk  berhijrah. Ya, menggunakan niqob. Terlindungi, nyaman dan tentunya merasa dihargai, begitu yang terlintas dipikiran ini.

Namaku Azka. Aku berusia 4 tahun lebih muda dari kakakku. Kami bersaudara 4. Siapa sangka aku adalah anak bungsu, yang selalu dianggap kecil walaupun usiaku sudah beranjak dewasa. Umurku 18. Usia yang seharusnya sudah paham betul akan agama. Namun tidak bagi keluargaku. Lahir ditengah keluarga yang minim akan pengetahuan agama. Solat, mengaji, bagaimana bersikap sopan terhadap orang lain. Hanya sebatas pengetahuan dasar.

Ketidaktenangan yang terus-menerus menghantui. Kemana aku selama ini? Dimana ilmu yang selama ini kugali? Semua terasa sia-sia disaat aku buta akan agama. Sedih, gelisah, itulah yang ku rasakan hingga saat ini. Perasaan malu akan diri. Bagaimana bisa aku tak tahu menahu tentang agama? Kisah para Rasul pun tak banyak yang ku ketahui. Menangis dalam kesendirian. Berharap terlahir kembali layaknya balita yang tumbuh menjadi anak shalihah dikalangan keluarga islami.

Akankah terus seperti ini? Tidak. Kuputuskan untuk melanjutkan perkuliahan dimana Universitas yang memfokuskan untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama. Sederhana, yang kuinginkan adalah bagaimana hidup tenang menjadi seorang muslimah yang menuntut ilmu tidak hanya ilmu dunia melainkan ilmu akhirat. Seiring berjalannya waktu, kutemukan jawabannya. Allah pilihkan STEI TAZKIA sebagai jodohku.

 Ya, Dia Maha Mengetahui apa yang dirasakan hamba-Nya. Allah tahu aku gelisah, Allah tahu apa yang kurasakan selama ini. Hingga kini Ia pertemukan kami. Teman-teman yang tak pernah kusangka keberadaannya. Orang-orang berilmu yang shalih dan shalihah. Masya Allah. Ia dekatkan aku dengan mereka yang nyatanya membantuku dalam menggali ilmu agama. Kuasa Allah. Semua terjadi dalam sekejap.

Sejak saat itu, aku mulai dibiasakan dengan aktifitas yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dimana dahulu, semua waktu terasa terbuang sia. Hingga kini, melewatkan satu detikpun aku tak mau. Ku pergunakan waktu dengan sebaik mungkin. Ku perdalam ilmu agamaku disamping menuntut ilmu dunia. Walau tak banyak yang ku ketahui, namun kuyakin dengan adanya doa dan usaha yang  kujalani tak akan menutupiku untuk kemudian dapat menguasai ilmu agama. Insya Allah. Aamiin.

Keinginanku menggunakan niqobpun semakin kuat. “Sanggupkah diri ini?” hati kecilku berbisik “mengapa tidak? Ini yang kau mau!”. Dengan penuh keyakinan, kuluruskan kembali niatku. Siapa sebenarnya diriku? Apa tujuanku dilahirkan ke dunia ini? Lantas apa yang harus kuperbuat untuk diriku sendiri? Kalau bukan dan tidak lain hanyalah semata-mata mencari ridho Allah swt. Beribadah kepada-Nya dan taat akan perintah-perintah-Nya.

“Tidakkah terpikirkan olehmu tentang amal yang telah kau tabung selama ini? Dosa yang telah kau perbuat? Apa kau pernah menyakiti orang lain? Menyakiti hati orang tuamu? Bahkan pernah membuat kedua orang tuamu mengangis? Tidakkah kau rasakan tumpukkan dosa yang membukit?  Bahkan perbuatan yang tak sengaja kau lakukan pun bisa saja berbuah dosa!“ Astagfirullah.. Bergetar hati ini kembali mengingat Allah swt.

 Wahai diriku. Kembalilah muhasabah diri. Dirimu hanyalah pendosa dengan ilmu sebiji beras. Malulah kamu wahai diriku. Setidaknya perbaikilah akhlakmu! Tidakkah muslimah yang baik adalah dia yang  mempunyai akhlak mulia? Wahai diriku, jadikanlah dirimu sebagai contoh, teruntuk keluargamu. Tunjukan yang terbaik. Dan berikan segala yang mampu kau berikan untuk mereka.

Tanpa keraguan dan penuh keyakinan. Rabu, 27 September 2017 , ku bulatkan tekad dan beranikan diri meminta izin kepada mereka. Ya, kedua orang tua dan keluargaku. Perasaan gelisah yang terus tiada henti. Bagaimana jika mereka tidak merestuiku? Bagaimana jika aku merasa tersisihkan nantinya? Bagaimana jika orang-orang mulai menjauhiku? Akankah aku mendapat dukungan dari kerabatku? Semua seketika terbayangkan olehku.

Tanpa pikir panjang, kukirimkan sepenggal pesan untuk Ibu yang berisi permohonan. Akankah aku mendapat restunya? Wallahualam. Tak lama, Ibu kemudian menelfonku. Dengan penuh kekhawatiran, kuberanikan diri mengangkatnya. Dan ya, benar saja. Ibu terkejut membaca pesanku. Layaknya seorang wartawan, Ia mengajukan beberapa pertanyaan yang sejatinya menjatuhkanku. Tak ingin menjadikan niat baik ini menjadi kesalahpahaman, dengan penuh ketenangan kuperjelas semua maksud dan tujuanku.

Atas izin Allah. Dengan mudahnya aku mendaptakan izin dari kedua orangtuaku. Kurasakan hati Ibu yang tersentuh mendengar penjelasanku. Bapak yang antusias mendengar hijrahku membuatku semakin bersemangat. Tanpa perlu mengumpulkan baju beserta khimar dan niqob terlebih dahulu, kugunakan pakaian seadanya. Kuasa Allah, hijrahku mendatangkan banyak perhatian dari sekelilingku. Banyak dari mereka yang sudah memakai niqob yang meminjamkan milik mereka padaku. Masya Allah. Betapa tersentuhnya hati ini. Hari demi hari ku lewati dengan niqob diwajahku, perlahan tapi pasti dan kini kian terbiasa. Alhamdulillah..

        Tidak mudah menjalankan semuanya, tentu ada ujian yang Allah berikan padaku. Entah berupa cemoohan orang ataupun rasa gerah dan panas saat memakai niqob. Salah satu ujian terberat yang Allah berikan adalah ketika Ibu kembali menelfonku. “Nak, jangan dulu bercadar yaa, mantapkan hati terlebih dahulu”. Bagaimana bisa? Banjiran air mata langsung saja membasahi tempat tidurku. Sedih yang mendalam ketika mendengar perkataan Ibu. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. “Kumohon, izinkan aku Ibu”. Kujelaskan kembali maksud dan tujuanku hanyalah semata-semata ingin taat kepada Allah swt. Karna sungguh, engkau pasti tahu Ibu, bahwasanya wanita ialah fitnah terbesar didunia teramat untuk para lelaki. Astagfirullah..

        Butuh waktu lama untuk kembali mendapat perhatian Ibu. Berbagai cara kulakukan hanya demi kembali mendapat restunya. Maha Besar Allah, Ia kembali membukakan pintu hati Ibu untukku. Pesan terakhir yang Ibu kirimkan padaku “Nak, jangan nangis lagi ya. Ibu sudah bilang pakai saja kalau hatinya sudah mantap. Pelan-pelan saja takutnya kalau gak kuat nanti lepas nak. Jangan nangis lagi yaa. Ibu sedih”. Tak dapat berkata, kurasakan bahagia yang mendalam.

Alhamdulillah. Allah kembali mendengar doaku. Walaupun aku merasa bersalah karna telah membuat Ibu bersedih. Segera ku kirimkan pesan maaf dan terimakasih sebagai balasan pesan Ibu. Hati pun kembali tenang setelah mendapatkan pesan balasan yang teramat menyentuh hati. Insya Allah Ibu akan senantiasa mendukungku dalam keadaan dan situasi apapun demi kebaikan dan masa depanku. Aamiin.

Seminggu sudah kujalani. “Muslimah dengan niqob diwajah-Nya” tidak menjadikanku berbeda dari yang lain. Alhamdulillah. Semua terasa  berjalan lurus begitu saja. Semoga Engkau senantiasa menguatkanku dalam situasi dan keadaan apapun. Melindungi dan menjauhkan segala macam ketidakbaikan untuk diri ini. Aamiin.
Tuhan, sungguh indah skenario-Mu.


    Muslimah dengan pribadi yang lebih baik dan senantiasa istiqomah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Bismillah.



Kenapa mempelajari ini penting? Karena we usually spend most of our time for work. Jika tiap shalat waktunya 5 menit, maka sehari kita hanya menggunakan 25 menit untuk Allah. Adapun kalau bekerja, umumnya orang Bogor berangkat jam 6 pulang jam 8, jadilah angkatan 68.
Jadi sangat penting sekali untuk mempelajari ketentuan syariat yang berkaitan dengan aktivitas ini.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, jika suatu negeri dilanda oleh riba dan zina dalam segala bentuk aplikasinya, maka negeri tersebut sudah menghalalkan adzab Allah, naudzubillah.

Kita harus mengaplikasikan Islam secara menyeluruh, kaaffah.
Islam mengatur  3 hal pokok : aqidah, syariah dan akhlak.
Yang paling panjang penjelasannya adalah mengenai yang tengah, yaitu Syariah.



Dalam syariah ada beberapa hukum yang beberapa hukum yang sangat penting, diantaranya Halal dan Haram.
Kita seringkali terkecoh antara kedua hukum ini, misalnya ada ibu-ibu yang membawa sup babi, maka halal apa haram? Ya, haram secara dzatnya.
Bagaimana kalau ada ibu-ibu yang melakukan korupsi kemudian membuat sup ayam, halal apa tidak kita memakannya? Jawabannya, halal secara dzat namun haram secara hukum.

Maka haram terbagi menjadi 2 :
1. Haram secara dzat, contohnya bangkai, darah dan babi.
2. Haram selain dzat (hukum), bisa dikarenakan cara perolehannya yang tidak saling ridha atau adanya kedzaliman di dalamnya, nantinya hal ini terbagi menjadi 48 macam: tadlis (asymmetric information), ihtikar (rekayasa pasar / supply), bai' najasy (rekayasa pasar / demand), gharar (uncomplite information, uncertainty to both party), riba (terdiri dari riba fadl, nasiah dan jahiliyah), maysir, risywah (undertable money / menyuap) dan talaqqi rukban.

Selain itu transaksi haram bisa terjadi jika rukun tidak terpenuhi, ta'alluq dan two in one karena tidak sah.

RIBA


Riba diambil dari kata ziyadah, artinya penambahan. Yang dimaksud adalah penambahan secara batil karena tidak ada usaha dan resiko. Artinya dia (pelaku riba) tidak terlibat dalam proses nilai tambah. Kecuali jika ia ikut usaha atau ikut menanggung resiko. Kenapa diharamkan? Karena ini tidak adil.

Riba terbagi menjadi 2 :
1. Riba Ad-Duyun (riba in debts) :
~ Riba Al-Qardh / riba in loans yang suku bunganya sudah ditentukan sejak awal, contohnya bunga bank.
~ Riba Al-Jahiliyah / riba in credit card, contohnya bunga kartu kredit.
2. Riba Al-Buyu' (riba in sales) :
~ Riba An-Nasiah / riba due to delay, contohnya barang ribawi satu illat dijual tempo.
~ Riba Fadhl / riba from spot exchange, contohnya barang ribawi satu jenis dijual beda harga.

Saking pentingnya materi ini, Umar bin Khattab pernah berkata,
لا يبع في سوقنا إلا من تفقه
Tidak boleh berdagang di pasar ini kecuali orang yang memahami (fiqh muamalah).

Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata,
Siapa yang berbisnis tanpa mengetahui fiqh (Muamalah) maka ia pasti terjerumus dalam riba, kemudian lebih terjerumus lagi dan terus terjerumus makin dalam pada praktek riba.



Banyak orang Muslim yang masih mengaku beragama Islam, masih mau shalat, masih mau shadaqah, tapi tidak mau mengaplikasikan Syariah dan Muamalah dalam bussiness, karenanya ekonomi Islam di Indonesia belum bisa meningkat lebih dari 5%. Kenyataannya kebanyakan nasabah bank konvensional masih dari kalangan Muslim.

Framework kita harus Al-Quran dan Sunnah yang paling atas (source of law & values), kemudian nanti ada ushul fiqh (metodologi merumuskan hukum dari sumbernya / metodologi istinbath) yang outputnya adalah fiqh atau hukum Islam.

Dalam Syariah (Islamic Law) ada Ibadah dan Muamalah.
Muamalah ada yang finansial dan non finansial.
Yang seringkali dibutuhkan penjelasannya oleh masyarakat adalah mengenai dealings related with wealth (muamalah yang berkaitan dengan harta).


Penjelasannya bisa sangat panjang sekali, bahkan memakan banyak sks dalam mata kuliah muamalah sendiri, namun tetaplah semangat dalam mempelajarinya, karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda bahwa,
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.

 Untuk para Islamic Economics warriors, tetap semangat ya dalam mengkaji dan memperjuangkan ekonomi Islam di Indonesia!

Nb. Notulensi dari kajian ustadz M. Syafii Antonio di masjid Andalusia, Sentul City.
Belum terselesaikan karena waktu sudah menunjukkan waktu shalat Dzuhur.
Bismillah.


Sore ini seseorang yang kukagumi bercerita tentang kisah hidupnya yang penuh pelajaran dan ibrah. Aku tidak pernah menyangka bahwa dibalik sosoknya yang senantiasa tersenyum dan tampak ceria, ia memiliki jiwa yang teramat tegar menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Ia begitu cerdas dalam mengatur dan menempatkan emosi di tempatnya. Tak ada yang tahu bahwa mungkin ia menumpahkan begitu banyak air mata di sujud malamnya.

Kisah pertamanya bermula ketika aku mengadukan tentang beratnya kuliah yang baru saja aku mulai jalani, banyak tugas dan sebagainya, ia bercerita bahwa dahulu ia juga mengalami apa yang aku alami bahkan dengan kuantitas kegiatan yang jauh lebih padat, ia sudah sibuk berbisnis untuk mencari penghasilan sendiri, belajar mandiri dari segi finansial dengan tidak dikirimi uang dari orangtua, justru ia yang mengirim pada mereka, ia juga aktif dalam banyak organisasi dakwah baik di lingkungan kampus ataupun berkiprah di lingkungan sekitar, bagiku perumpamaannya seperti ibunda Khadijah yang memiliki peran besar dalam dunia dakwah dan bisnis, jadilah ia taudaladan dan motivatorku untuk yakin memilih prodi Muamalah karena ia telah membuktikan keberhasilannya menyatukan antara usaha dakwah dan usaha nafkah dengan seimbang.

Aku mulai berintrospeksi diri, aku bukan orang tersibuk di dunia yang harus mendapat perhatian. Aku belajar untuk menujukan perhatianku bukan hanya pada diri sendiri lagi, tapi juga pada oranglain, sehingga keberadaan kita bukan menjadi beban, justru anugerah.
Sosok gadis di hadapanku tersenyum melihat raut wajahku yang -entahlah, mungkin- sendu saat itu.
"aku paham. Dulu juga aku paling tidak bisa pelajaran akuntansi, bahkan hingga sehari sebelum ujian akhir, aku tetap belum paham. Akhirnya aku serahkan pada Allah, aku bangun di sepertiga malam dengan buku akuntansi di sisi Sajadah ku, tidak ada yang bisa kulakukan selain minta sama Allah, karena hanya Ia lah yang maha Memudahkan. Aku berdoa agar pelajaran ini -sampai aku tepuk-tepuk bukunya- dapat aku kuasai dengan mudah. Maka setelah tahajjud malam itu, aku berinisiatif mengerjakan 3 soal dari sekian banyak soal yang ada di buku paket, dan Masya Allah, Allah mudahkan aku dalam memahaminya seketika. Karunia Allah belum berhenti sampai di sana, keesokan harinya saat ujian, Tabarakallah, ketiga soal yang diujikan sama persis dengan soal yang aku kerjakan semalam! Kalau bukan karena Maha Pemurah nya Allah, aku tentu tidak akan bisa mendapat nilai yang baik.. "

Saat itu aku terhenyak, seolah baru menyadari bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Jika Allah berkehendak memudahkan maka semuanya akan mudah, namun jika Allah berkehendak mempersulit maka sebaik apapun persiapan, semuanya akan terasa sulit. Karenanya, mintalah pada Allah, pada Rabb yang Maha Pemberi lagi Maha Pengasih. Bergantunglah pada Nya dan engkau tidak akan pernah menyesal.

Ia melanjutkan ceritanya, katanya, apapun yang kita inginkan, sekecil apapun atau sebesar apapun, minta dulu sama Allah, jika menghendaki, Allah akan mengirimkan rezeki itu dari arah yang tidak disangka-sangka. Karena sejatinya, disaat kita sibuk mencari rezeki, rezeki yang menjadi bagian kita sedang on the way, dan jelas tidak akan pernah tertukar.

Lanjutnya, ia pernah berkunjung ke masjid Az-Zikra, Sentul yang kebetulan dekat dengan kampus. Ia suka dengan lingkungan dan pemandangan perumahannya yang begitu teduh dan syahdu, ia ingin sekali bisa memiliki tempat tinggal di daerah tersebut, dan ya, Alhamdulillah Allah mengabulkan doanya dan diwujudkan melalui perantara seorang ibu pengajian dimana ia mengajar, ibu tersebut memberikan satu unit rumah 2 lantai dengan lokasi dekat sekali dengan masjid. Maka beruntunglah ia dan ibu itu karena akhirnya rumah tersebut sering digunakan sebagai tempat pengajian, belajar sampai rapat aktivis dakwah.

Beberapa bulan setelah itu, ia memiliki sebuah pencapaian baru, dengan hasil bisnis yang lumayan, ia menargetkan diri untuk membeli motor di bulan Januari 2016, kredit tidak masalah, yang penting bisa memenuhi kebutuhan transportasi tanpa memberatkan orangtua.

Pada bulan Oktober 2015 ada salah seorang teman yang hendak memberinya hadiah, namun Qadarullah saat itu ia sedang sakit typus saking sibuknya hingga kadang kelelahan. Maka hadiah yang dijanjikan itupun ditunda sampai tahun baru. Setelah sembuh dari penyakitnya, ia diajak oleh sang teman jalan-jalan. Kemana? Ya, seperti yang sudah ketebak, ke dealer motor.
Temannya tiba-tiba berujar, "kamu pilih aja motor mana yang kamu mau, nanti saya yang bayar.."

Subhanallah, hari itu juga dengan uang kurang lebih 15 juta, motor baru resmi menjadi miliknya, lengkap dengan urusan perpajakannya. Pokoknya ia tinggal pakai saja. Tepat sekali waktunya bukan? Sesuai dengan apa yang ia minta, awal tahun baru. Allah maha kuasa menunda hadiah itu hingga terasa begitu indah pada waktunya.

Ia amat mensyukuri segala hal yang telah ia miliki sekarang, dan aku juga bersyukur dapat berkesempatan untuk mengenal dan menimba ilmu darinya, Alhamdulillahi Rabbil Alamin..


Ada banyak hal yang mungkin tidak kita pahami kenapa bisa terjadi demikian di dunia ini, tapi itulah takdir, tidak ada yang tahu, namun kegaiban itulah yang membuat segalanya tampak seperti kejutan. Asalkan selalu berbaik sangka pada Allah, insya Allah semuanya akan baik-baik saja, karena skenario Allah selalu indah.
Bismillah


At Monday, September 25th 2017 I had my first English lesson for Tazkia Language Center (TLC) at Abu Hanifah building.

I got A class after TOEFL test in PORTAL (pekan orientasi dan ta'aruf almamater) days ago. Well, actually I can't believe I would be placed in A class which is full of many smart students, in the other hand, I didn't get enough English lesson in my boarding school because we learnt Arabic more, compared to English. The comparison is 1:9.. But Alhamdulillah, I'm happy to be a part of them so I can learn more Insya Allah.

My first lecturer was Miss. Khairunisa Maslichul and the second one is Mr. Wisnu. I like the way they teach, they used 2 direction learning, we discuss together by making groups, play games, make presentations and practice using English in the class. So we enjoy the class.

But that's not my point, I mean what I want to share here is about the writing exercise that makes me like to try writing in English..
Miss Nisa asked me and the whole class to make an article with the topic: why we choose Tazkia and what will we do to improve the Islamic Economics in Indonesia. Well, that's a bit challenging for me, since I rarely write in English.

However, even if it's bad (the grammar and my hand-writing), I'd love to share it here, I hope one day it can inspire others to join us in Tazkia University too..

Well, I choose Tazkia because the suggestion from my father, he really hope me to enroll to Tazkia and take Muamalah major. Actually I want to be a psycholog or writer and lecturer like my father, also a stay-at-home housewife crafter like my mother. So at first, I extremely want to choose Psychology major, but my mother hopes me to enroll to LIPIA since there is a Syaikh who gives us a chance to get into LIPIA for sure.. However now I'm here and about me and my mother's hope, I have a plan to continue my study at Ta'lim 'An Bu'd (KJJ) LIPIA and Islamic Online University in psychology major.

It's just the beginning. After PORTAL days ago, everything has changed, everything in my mind. I was inspired by some lecturers and mentors. They opened my mind and let me think that what world especially Indonesia needs is an Islamic Economist who will return the golden age of Islamic Economics era. Islamic Economics based on the most truthful guide book. It's Al-Quran and Sunnah. There is no hesitation in both of them. And the most important is, Al-Quran and Sunnah is the most fair and equitable concept of Economics to make the world prosperous and become a better place.

For example, zakat, waris and shadaqah.. Western concept said that happiness is having everything, "the more we get the more we waste", but Islamic concept said that if we make people happy (by giving them what they need from what we have), so we will feel happier "the more we give the more we get".

So our focus is for Akhirat (hereafter), it's a place we will return. Nobody knows when will we die, but death is a certainty.. If what we look for is just money, how if we die before achieving it? Everything of our effort will be useless. But if we do good deeds, that going to be an everlasting savings for hereafter insya Allah.

Back to my story, I love writing FYI. So for the second question about what will I do to improve Islamic Economics in Indonesia? My certain answer is, by writing, make articles, jurnals or books about economy. I can't be an entrepreneur, I have a very low self esteem, I don't like marketing or banking stuff. But I like to share something that inspire others. I want to change people's mindset about Islamic Economics concept, because Islam, our most perfect religion already teach us how to manage wealth and how should we attitude with it, such as, we should use the wealth just as we need, no more, so how about the rest of it? Use it for good deeds and shadaqah, be a philantrophic, have a role for the raising of the era of equality between rich and poor, which the rich and the poor both grateful.

Through English, I want my writings to spread not only in Indonesia, but worldwide as well Insya Allah. Because if they know how fair the way  Islam managed Muslim's wealth, they'll be astonished, because there is no other that can be compared with Allah's sayings.

One of my convert-to-Islam Lithuanian friend was inspired by Al-Quran, especially the verses of mawaris (legacy), and now she study at Glasgow University's economic major.
If she, who is a converted Muslimah have a very big enthusiast and spirit to learn more about Islamic Economics and she is one of it's warrior, how about us?

What did we do to improve Islamic Economics in this most-biggest-Muslim-population country?
Let's be smart together.


Be a Muslim economist and have a role in strunggle for our beloved Islam and Indonesia.
Bismillahirrahmanirrahim.


Aku begitu mencintai mawar dalam warna apapun, karena bagiku, setiap tangkai mawar memiliki makna tersendiri.
Dengannya pula, pemuda yang aku cintai menyampaikan cintanya diam-diam, dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh hati.

Pagi ini aku menerima kiriman mawar lagi dari pemuda itu. Ini adalah mawar keempatnya. Kali ini mawar ungu. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi beberapa hari lalu, oh ya kami berjanji untuk bertemu, namun tiba-tiba ia membatalkannya karena ada operasi mendadak, jadi pertemuannya ditunda minggu depan. Lalu apa artinya ya? Umm, kerinduan mungkin? Karena kami tidak bisa bertemu? Aku tersenyum manis, membayangkan pemuda dingin itu gundah karena kesepian. Mungkinkah? Hha.

Tiga bulan lalu, ia mengirimkan mawar kuning, itu maknanya ia sedang cemburu, saat itu ia mendengar kabar dari salah seorang suster bahwa aku berjalan bersama seorang laki-laki, akupun segera menghubunginya dan menjelaskan bahwa laki-laki itu adalah pamanku yang tinggal di luar negeri, makanya ia belum pernah mengenalnya, dan ibuku menyuruhku untuk menemaninya berkeliling. Begitu kesalahpahaman ini terselesaikan, ia hanya tertawa kecil, kemudian meminta maaf.

Lima bulan lalu, sekuntum mawar biru sampai ke rumah, seolah menyampaikan pesan bahwa sebenarnya ia tidak ingin meninggalkanku, namun kewajibannya sebagai dokter mengharuskannya untuk bekerja di daerah itu selama setahun. Aku tahu ia sedih, namun yang membuatku sebal, ia tak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung padaku, ia selalu mengungkapkannya melalui tindakan, tapi itu yang membuatnya berbeda, karenanya akupun teramat sedih harus berpisah dengannya walau hanya sementara.

Sepuluh bulan lalu, aku menerima mawar pertamaku. Bukan sekuntum, tapi sebuket! Ia sendiri yang datang ke rumahku dengan membawanya bersama kedua orangtuanya, ia melamarku dengan buket mawar itu. Aku tersentak, aku belum begitu mengenalnya, bagaimana ia mau menikah denganku? Aku ragu menatap buket di tanganku, tapi tiba-tiba mama berbisik, “mawar putih bermakna kemurnian hati, kesucian niat dan ketulusan cinta”, aku menatap mama, mama tersenyum dan mengangguk, maka akupun memutuskan untuk menerima cintanya.

Setahun lalu, awal pertemuanku dengannya. Saat itu aku pergi ke rumah sakit hendak menjenguk sahabatku yang kecelakaan. Aku datang dengan membawakan sebuket mawar, namun di persimpangan jalan muncul sesosok pemuda berjas putih lengkap dengan stetoskop melingkari lehernya tiba-tiba menabrakku, buketku terjatuh, kemudian ia mengambilkannya untukku, ia meminta maaf, lalu menatapku, “cantik..” ujarnya, akupun tersipu, pipiku memerah, sebelumnya aku tidak pernah dibilang cantik oleh seorang lelaki,
“tapi sayangnya jadi rusak karena tertabrak tadi ya..” lanjutnya.
Aku jadi salah tingkah, ‘eh, kukira yang cantik itu aku..’ gumamku pelan,
Ia tersenyum, “tentu, anda juga cantik..” ternyata ia mendengarku, aku jadi bertambah malu,
“maaf tapi saya sedang terburu-buru, boleh saya meminta kartu nama anda? Saya akan menghubungi anda untuk menggantikan mawar ini” akupun memberikan kartu namaku, sungguh tak pernah terpikirkan bahwa dokter muda ini yang kelak akan menjadi pasangan hidupku.
Bismillah.


Setahun yang lalu, ketika medali kelulusan Ibnu Taimiyah resmi dikalungkan oleh penanggung-jawab khidmah padaku, berbagai pertanyaan mulai bermunculan. Salah satu yang paling familiar adalah, kuliah dimana? jurusan apa? dan kapan nikah? eh.. ^_^

Soal kuliah dimana dan jurusan apa ini sebenarnya sudah ditentukan oleh abi, karenanya, keinginan umi agar aku ke LIPIA atau keinginanku sendiri ke psikologi tertunda, lebih tepatnya sih dialihkan ke kuliah online, insya Allah. Maka, diputuskanlah aku masuk STEI TAZKIA jurusan Muamalah. Memang, di kelas saat mata pelajaran fiqh jual beli atau faraidh (hukum waris) nilaiku Alhamdulillah selalu bagus padahal aku tidak terlalu suka, husnudzanku karena gurunya yaitu ustadz Humaidi memang ahli dan sangat kompeten dalam bidang ini.

Awalnya aku tidak begitu tahu banyak tentang sekolah tinggi ataupun jurusan ini. Yang pernah aku dengar dari abi, muamalah adalah salah satu jalan menjadi konsultan. Aku suka pelajaran dan materi yang membutuhkan banyak analisa dan pemikiran, rumit dan berbeda, ada hitung-menghitung, tapi lebih ke pelajaran hidup yang kompleks dan tidak ada tuntutan atau sumpah untuk bekerja, namun tetap dibutuhkan oleh semua orang kapan saja dan dimana saja, maksudnya sih psikologi. Tapi mendengar pernyataanku, abi menyela ‘wah muamalah banget tuh..’.

Perlu waktu lama bagiku untuk mengatakan iya, pun saat membaca brosur tazkia, melihat sekilas, aku prefer ke jurusan BMI (Bisnis Manajemen Islam) karena tampaknya keren. Tapi konsentrasinya yaitu pemasaran / kewirausahaan dan perbankan / keuangan, dua-duanya tidak sesuai denganku yang notabene low self esteem dan lebih suka belajar sesuatu yang berkonsep big picture. Jadi yah memang dibanding jurusan lain, aku lebih cocok ke muamalah.

STEI TAZKIA memiliki peraturan bagi mahasiswa tahun pertama untuk berasrama di kampus matrikulasi. Sampai di sini ternyata suasananya berbeda dari di pesantren dahulu, di sini cenderung lebih bebas dengan pembelajaran agama yang kurang padat dibanding pesantren, namun tentu banyak pula pengetahuan baru yang aku dapat, terutama praktek. Di pesantren kami belajar teori, dan di sini kami belajar memperdalam bagaimana aplikasi dan modifikasinya dalam kehidupan nyata.

Aku mulai suka TAZKIA. Aku suka guru-gurunya yang cerdas namun tetap tawadhu, para pembimbing yang disiplin dan bijak, teman-teman yang seru dan menyenangkan serta lingkungan yang asri dan islami di tengah hiruk-pikuknya metropolitan. Entah sejak kapan, aku mulai merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga besar ini, keluarga pejuang ekonomi Islam Insya Allah.

Di awal masuk, TAZKIA mengadakan sejumlah placement test, diantaranya Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan tes narkoba. Tes bahasa lumayan sulit menurutku walau Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya. Tes Bahasa Inggris adalah TOEFL, Bahasa Arab disusun oleh TAZKIA, terdiri dari tiga bagian : bagian pertama mudah, huruf hijaiyah dan beberapa kata-kata umum, bagian kedua sedang, lebih ke kalimat dan konsep atau kaidah bahasa, bagian ketiga sulit, ada mengharokati sesuai kaidah nahwu, menerjemahkan artikel ilmiah, meng-i’rab kalimat dan membuat paragraf dengan tema tertentu, sudah seperti test I’dad Lughawi nya LIPIA saja, bahkan lebih sulit.

Setelah itu ada PORTAL (pekan orientasi dan ta’aruf almamater), banyak seminar dan kajian ilmiah dari para narasumber hebat, diantaranya para praktisi ekonomi Islam, peneliti di Bank Indonesia, ustadz ahli fikih, entrepreneur, pengamat ekonomi bahkan ekonom komandan KOPASSUS. Semua tokoh tersebut sangat menginspirasi masya Allah. Masing-masing materinya akan aku tuliskan juga nanti Insya Allah.

Tapi intinya, satu konsep sama yang aku simpulkan dari keseluruhan adalah, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur dengan rinci dan bijak semua aspek kehidupan manusia, termasuk masalah ekonomi, jadi, ekonomi adalah sebagian kecil ilmu yang telah diajarkan dalam Al-Quran dan Sunnah dengan adil. Tugas kita sekarang adalah bagaimana mengembalikan kembali masa keemasan perekonomian Islam dengan menggunakan aturan dan prinsip Al-Quran dan Sunnah yang secara tidak langsung merupakan rumusan Allah Ta’ala. Jadi apa yang menjadi fokus kita sekarang bukanlah harta, tapi konsep pengelolaan harta. Kelesuan perekonomian di beberapa negara Islam salah satunya disebabkan karena mereka mulai meningalkan prinsip-prinsip Islami (syariah) dan memegang teguh prinsip konvensional buatan manusia. Jadi belajar ekonomi carilah akhirat dulu, dunia akan mengikuti, pelajari dasar dan landasan utama dulu, pembaharuan akan dapat ditelaah, kerja dakwah dulu baru kerja nafkah. Karena kita tidak tahu hidup di dunia sampai kapan, kalau tujuan kita hanya uang, pekerjaan ataupun jabatan, saat maut mendahului, sia-sia semuanya. Saat PORTAL itulah Allah mulai membukakan pintu hati dan wawasanku untuk menambatkan pilihan pada jurusan muamalah dengan yakin, Insya Allah.


Perbedaan jurusan awalnya bukan menjadi topik utama antar teman, namun saat di PORTAL ada pengelompokan sesuai prodi / jurusan, aku kaget sekaligus bingung karena jumlah anggota jurusan lain mencapai puluhan namun sayangnya muamalah sangat sedikit, perasaan miris tiba-tiba merasuk, sedemikian sedikitkah remaja yang akan menjadi teman seperjuanganku nanti, jumlahnya bahkan dapat dihitung dengan jari, Ya Allah..

Memang, jumlah tidak menjamin keberhasilan suatu program. Tapi jujur, muamalah membutuhkan kalian, membutuhkan para pejuang yang dapat menjadi pondasi dan dasar dari semua ilmu ekonomi. Karena apa yang akan kita pelajari adalah Al-Quran dan Sunnah serta Bahasa Arab yang jelas tidak akan pernah ada perubahan pada keduanya, adapun ilmu lainnya sekalipun itu praktek, pasti akan mengalami perubahan dan pembaruan suatu hari nanti, dan apa yang kita pelajari saat ini menjadi ketinggalan zaman kedepannya.

Sebagai seorang muslim, kita harus tahu hukum dan kehalalan / keharaman semua aplikasi ekonomi yang kita terlibat di dalamnya. Dari mana kita tahu? Tentu dari dasar hukumnya yaitu Al-Quran dan Sunnah. Ketahuilah bahwa apa yang aku cita-citakan dari sebuah pelajaran penting yang akan selalu dibutuhkan oleh siapapun secara umum salah satunya adalah muamalah. Perkembangan ekonomi yang begitu pesat dengan inovasi-inovasi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Contohnya saja penggunaan e-money (uang non tunai) yang sedang booming akhir-akhir ini, dari mulai go-pay, T-cash, Google Wallet dll. Yang menjadi perbincangan masyarakat umumnya bukan, ‘bagaimana sistem dan konsepnya?’ tapi lebih ke ‘apa hukumnya?’, oleh karena itu mempelajari apa yang lebih banyak manfaatnya bagi oranglain Insya Allah lebih baik.

Salah seorang teman pernah berkata, ‘aku pengen masuk muamalah tapi aku takut tidak bisa bahasa Arab, tapi aku pengen bisa juga..’.
Karena tidak bisa makanya kita belajar, kalau sudah bisa ya jadi pengajar. Bagaimana mau bisa kalau tantangan bukannya dihadapi malah dihindari? Ujian tidak akan pernah semakin mudah, tapi kita yang harus semakin kuat. Ingin bisa bahasa Al-Quran dan bahasa ahli Surga ya paksakan diri untuk usaha, mau bagaimana lagi? Tidak ada keberhasilan dengan santai-santai.

Teman-teman, kalau bukan kita yang mempelajari Al-Quran dan Sunnah sebagai dasar dan pijakan sistem ekonomi Syariah maka siapa lagi? Jangan sampai apa yang menjadi hak intelektual kita, kaum muslimin, lalu dipelajari, diaplikasikan, diambil alih bahkan di-atasnamakan oleh orang lain seperti yang terjadi pada hasil inovasi para ilmuwan Muslim zaman dahulu, dilupakan sejarah, terkubur kemudian dibangkitkan kembali dengan hak cipta di tangan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.

Pejuang muamalah mungkin memang sedikit, karenanya kita mengajak teman-teman semua untuk ikut bergabung, apa yang akan dipelajari nantinya bukan hal yang main-main : hukum dan syariah, namun usaha dalam tingkat kesulitan yang lebih tinggi akan dibalas juga dengan pahala yang setara Insya Allah. Maka aku harap diluar sana masih ada para pejuang cerdas yang siap bermanfaat bagi orang banyak. Lupakan dulu pekerjaan yang mentereng, jabatan tinggi atau perusahaan bonafide. Jangan hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja, jadilah orang yang berbeda, ambil resiko sebesar mungkin, hadapi semua tantangan, coba level tersulit dan jadilah pemenang.

Demikian, Wallahu A’lam.



STEI Tazkia atau Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia adalah sebuah perguruan tinggi swasta di Bogor, Indonesia. Wikipedia

Alamat: Jl. Ir. H. Djuanda No. 78, Sentul City, Citaringgul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat 16810
Telepon: (021) 87962291
Provinsi: Jawa Barat
Jenis: Swasta
Didirikan: 11 Maret 1999
Ketua: Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec