Latest Posts

Bismillah.


Pada tahun 2019 ini, Musyawarah Nasional tahunan FoSSEI (Forum Silaturrahim Studi Ekonomi Islam) dilaksanakan di Universitas Yarsi, Jakarta tepatnya sejak hari Rabu, 18 September 2019 hingga Sabtu, 21 September 2019.

Ada begitu banyak pembelajaran, pengalaman dan hikmah yang kami dapatkan selama empat hari di Jakarta. Dengan tagline Berbenah Bersama, FoSSEI yang merupakan payung sekaligus wadah seluruh KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) di Indonesia telah melakukan berbagai pencapaian dalam menyongsong masa depan Perekonomian Islam Indonesia yang lebih baik.

Masya Allah diantara pencapaian FoSSEI yang memiliki 14 regional dan lebih dari 90 KSEI di ratusan perguruan tinggi adalah berhasil menjalin kerjasama dengan banyak media seperti Sharia News dan lembaga seperti IDX, BI, Dompet Dhuafa, MAI, CIMB Niaga, Igrow dan lain sebagai nya. FoSSEI merupakan komunitas millenial Pertama di Indonesia bahkan dunia yang bergerak di bidang Ekonomi Syariah dan dinilai memiliki banyak kontribusi bagi perkembangan Ekonomi Islam Indonesia oleh Menteri Bappenas RI, Prof. Bambang Brodjonegoro hingga mendapatkan penghargaan . Sejauh ini, FoSSEI telah menginvestasikan 110 juta ke beberapa intsrumen keuangan syariah. Salah satunya dalam bentuk sukuk tabungan ST-003 senilai 30 juta rupiah. FoSSEI juga bekerjasama dengan Dompet Dhuafa dalam meluncurkan gerakan Wakaf Millenial untuk pembangunan rumah sakit syariah.

Masya Allah Tabarakallah, Selamat kepada kakak-kakak Presidium Nasional FoSSEI 2018-2019, Bapernas dan seluruh pihak yang telah berkontribusi untuk FoSSEI.

Tapi bukan itu inti cerita kali ini, Munas adalah salah satu ajang silaturrahim yang sangat berkesan karena pada empat hari tersebut, dari ribuan anggota FoSSEI, sejumlah mahasiswa dari seluruh daerah di Indonesia mengirimkan delegasinya untuk terlibat dalam Musyawarah yang akan menentukan langkah perjuangan FoSSEI setahun ke depan.


Kami bertemu satu sama lain, ditempatkan sekamar dengan teman-teman hebat yang rela datang jauh-jauh dari berbagai pulau untuk memperjuangkan ekonomi Islam secara inklusif di Indonesia.

Aku ditempatkan di kamar 336 bersama dengan Nidilia dari KSEI Fokes Bengkulu dan kak Nur Hasanah dari KSEI Fest Universitas Trilogi. Nidilia dan kak Nur ini baik sekali masya Allah. Mereka lebih dahulu sampai di penginapan dibanding aku.

Oke, Pelajaran Pertama, aku harus belajar lebih disiplin, datang lebih awal, mereka memotivasi aku untuk lebih semangat dalam membulatkan tekad dalam dakwah, kebaikan itu tidak boleh ditunda, lebih cepet lebih baik, insya Allah. Yang jauh datang lebih awal karena tahu butuh waktu lebih lama, jadi tidak ingin terlambat, yang dekat datang lebih cepat karena ingin hadir tepat waktu.

Malam Pertama kami menginap, aku dan dua delegasi lainnya dari Tazkia, jalan-jalan keluar penginapan mencari makan malam bersama salah satu kakak alumni Progres sekaligus Bapernas FoSSEI yang menjabat tiga tahun berturut-turut, kak Astrid Aulia namanya. Kak Astrid yang notabene lulusan terbaik Tazkia 2018 menyambut kami dengan baik, masya Allah.

Pelajaran kedua, orang-orang hebat adalah orang yang tetap tawadhu dan rendah hati di balik seluruh prestasi dan kesuksesannya. Dari beliau, aku belajar untuk menjadi kakak tingkat yang baik, ramah, membantu dan membimbing kami untuk melanjutkan estafet dakwah serta berbagi pengalaman agar kami menjadi lebih baik lagi, menuntun ke jejak yang baik, dan menghindari jejak yang buruk, seolah kami tinggal terima jadi bagaimana panduan langkah-langkah yang harus kami lalui tanpa harus mengalami trial and error nya.

Hari Pertama kegiatan, seminar dilaksanakan di auditorium lantai 12 Universitas Yarsi bersama para narasumber yang ahli di bidang nya. Aku duduk di area dan depan dan bersebelahan dengan Miya Yasinta dari IAIN Jember, ia baru duduk semester tiga, tapi antusiasme menuntut ilmunya tinggi dan masya Allah dia salah satu sahabat yang selalu menyertaiku sepanjang munas perjalanan ini, Kemana-mana bareng, dan selama di Yarsi, aku lebih sering bersama Miya daripada teman-teman dari Progres ataupun teman-teman sekamar.

Selain Miya, aku bertemu dengan kak Siti Rahma Hanifa atau biasa dipanggil kak Hani dari KSEI Fies Gici Business School Bogor yang super duper hebat masya Allah, penulis dan influencer yang jago Public speaking di bidang edukasi dan Youth & Female empowerment, berkali-kali berpengalaman pertukaran pelajar ke berbagai negara dan pengetahuan nya luas sekali.. Masya Allah Tabarakallah.. Kak Hani juga teman seperjalanan yang seru, selama bersama, kami banyak sharing, eh lebih tepat nya, aku banyak di nasihati dan di motivasi.. Sejak jalan kaki malam-malam dari Yarsi ke penginapan, sampai perjalanan bus ke balai kota, semuanya berkesan dan penuh cerita.

Pelajaran ketiga, setiap orang berbeda, hebat dengan cara nya masing-masing, selama masih punya keinginan untuk belajar. Ada orang-orang seperti Miya yang masih junior, ada orang-orang seperti kak Hani yang sudah Senior, ada orang-orang seperti aku yang hanya remah-remah Tango kalau istilah kak Halwani, tapi selagi mau belajar, kita akan mampu mencapai banyak hal, insya Allah.

Selesai seminar, dilanjutkan ke persidangan, dari mulai laporan pertanggung jawaban oleh kelima Presidium Nasional, sidang komisi, peresmian blueprint, pendemisioneran dan pelantikan Presidium Nasional dan Koordinator Regional, penetapan tuan rumah agenda nasional, hingga peresmian KSEI baru dan penghapusan KSEI non aktif. Teman-teman anggota FoSSEI dari seluruh Indonesia sangat antusias dan pro aktif menyampaikan pendapat dan gagasan mereka, dan aku suka melihat nya..

Pelajaran keempat, semangat dalam menuntun ilmu, belajar dan belajar, ladang ilmu dan dakwah bukan tempat nya untuk khajal (malu yang tidak pada tempatnya). Kalau terus-terusan malu, kapan mau maju? Indonesia butuh kita, gagasan, ide, inovasi dan karya para generasi millenial yang kelak akan menjadi pemimpin negeri. Kebiasaan memang belum tentu baik, tapi kebaikan perlu dibiasakan.

Pelajaran kelima, Musyawarah ini sangat penting sekali dalam berbagai penyelesaian perkara. Selesaikan segala sesuatu dengan musyawarah, sebagaimana perintah Allah dalam surat Ali Imran: 159
وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِ
dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu.

Banyak permasalahan organisasi yang sejatinya nya dapat diselesaikan hanya dengan koordinasi, duduk bareng, musyawarah. Dan yang terpenting, masing-masing pihak beritikad baik, sama-sama mementingkan kepentingan Ummat bersama, dan mengesampingkan segala bentuk mageran, baperan, moody-an serta turunannya.

Setelah seluruh rangkaian sidang selesai, agenda selanjutnya adalah gala dinner di Balai Kota Jakarta, dan pada penghujung malam itu, ada sesuatu yang berkesan, seluruh kakak-kakak LO memberikan penampilan puisi untuk kami, tentang persahabatan dan ukhuwah, dilanjut dengan penampilan dari Presidium Nasional FoSSEI 2018-2019 yang menceritakan tentang kisah-kisah di belakang layar yang lucu dan menarik.. Oh ya, satu lagi, ada pemberian penghargaan bagi 3 KSEI paling berdaya se Indonesia.. Saat mendengarnya, masya Allah aku kagum, KSEI seperti apa yaa yang paling berdaya diantara sekian banyak KSEI hebat di Indonesia? Dimulai dari urutan ketiga, kemudian urutan kedua, aku tidak begitu menyimak, tapi saat urutan pertama disebut,
"KSEI Progres Tazkia!"
Masya Allah Tabarakallah, aku terkejut, teman-teman yang duduk di sekitarku menyalami dan menyelamatiku..

Pelajaran keenam, Puji syukur atas karunia Allah Ta'ala, semoga penghargaan ini dapat menjadi apresiasi bagi kiprah para pengurus dan anggota KSEI Progres serta motivasi agar kami lebih semangat berkontribusi dalam membumikan ekonomi Syariah.

Terakhir, kami pulang lebih awal di hari Sabtu pagi, tidak ikut field trip karena Qadarullah ada agenda KSEI yang tidak bisa ditinggalkan dalam rangkaian Open Recruitment anggota baru kami.

Dan, inilah Pelajaran ketujuh, sekaligus pelajaran terakhir, tetap berjuang, berproses, berprogres, sebagaimana disampaikan oleh ketua KSEI Progres periode 2019-2020, Lalu Rizky, karena kontribusi, tak melulu tentang posisi. Kalau kata kak Hani, sebelum berpulang, mari berjuang! Salah satu Presidium Nasional FoSSEI 2019-2020 juga kemarin bilang, Ekonomi Islam itu syariat langit, maka kita, Ekonom Robbani yang akan membumikannya, insya Allah.

Tak dapat dipungkiri, dalam setiap pertemuan ada perpisahan, itu sunnatullah. Tapi yang terpikirkan sekarang adalah, bagaimana memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama orang-orang hebat di sekitar kita, karena boleh jadi, esok hari, kita tak mendapatkan kesempatan menimba ilmu dan hikmah dari mereka lagi.


Teruntuk:
Para Mujahid Progres: Lalu Rizky Adriansyah, Herdy Almadhipta Rahman, kak Thufeil M. Tyansah, kak Astrid Aulia, kak Aisyu (Aisyah Ireta)
Para Support System: Baiq Damayanti Azhar Putri, Hani Khairo Amalia, Hasna Lutfi Khairunnisa, Zahida Rahma, Aulia Azka, Amalia Hanifah Latief, Nur Kintan Maharani, Riyadatul Mustami’ah dan teman-teman se-Tazkia
Para Penghuni kamar 336: kak Nidilia dari IAIN Bengkulu, kak Nur Hasanah dari Universitas Trilogi
Sahabat-sahabat terbaik: Mia Yasinta dari Jember, kak Hani dari Bogor, kak Afifah dari Gorontalo, kak Putri dari Jakarta, kak Masruroh dari Bogor, kak Yunia dari Bogor, kak Fafa dari Bogor, kak Hurroti dari Madura, Kak Ai dari Bandung, kak Naqiya dari Bandung, kak Mega dari Tasikmalaya, Kak Saadah dari Samarinda, Kak Arini dari Gresik, Kak Ayum dari Salatiga, Kak Putri dari Bandung, kak Susi dari Bandung, kak Khotim dari Jember, kak Dwi dari Bandung, kak Putri dari Padang, kak April dari Salatiga, Kak Asra dari Sumatera Utara, kak Dewi dari Madura, Kak Wawa dari Sumatera Utara, kak Firdausa dari Jogja, kak Aini dari Bogor, kak Hafielda dari Bogor, kak Lestari dari Jogja, kak Nofita dari Bengkulu, kak Tara dari Salatiga, Kak Lili dari Bandung, kak Dyas dari Jogja
Serta seluruh teman-teman dari seluruh wilayah di Indonesia yang tak dapat kusebutkan satu per satu
Kakak-kakak Presidium Nasional 2018-2019: kak Irsyad dari IPB, kak Halwani dari STEI SEBI, kak Haqqi dari Universitas Brawijaya, kak Prayudi dari Universitas Riau, kak Gilang dari UGM
Kakak-kakak Presidium Nasional 2019-2020: kak Agus dari STEI SEBI, kak Ahmad Fauzan dari Brawijaya, kak Abdul Muhyil dari UI, kak Boma dari Undip, kak Adam dari UGM.
Kakak LO kami, Kak A'immatun Nadrifah, kakak-kakak panitia: kak Hanifa, kak Lisa, dan seluruh panitia yang telah meluangkan waktunya untuk membantu dan menerima kami dengan baik.

Syukran jazakumullahu khairan untuk semua peran dan kontribusinya di Musyawarah Nasional FoSSEI XVII kemarin, kalian hebat masya Allah..
Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk berjumpa kembali di lain kesempatan.

 
 



Mendung.
Itulah yang bisa ku sebut dengan cuaca tadi pagi.
Mungkin, memang aku tak perlu menyuarakan apa isi hatiku.
Pada hakikatnya, cuaca pun sudah bisa ‘mewakilkan’ apa isi hati aku pagi tadi, 
ketika hari keberangkatanmu pun tiba.
Semua bercampur menjadi satu.
Sedih, senang, grogi.

Iya, keberangkatanmu memang membuatku cukup sedih.
Karena pertemuan selanjutnya tidak ada yang bisa memastikan.
1 tahun, 2 tahun, entahlah aku pun tak sanggup untuk menebak kapan kamu bisa ‘pulang’ kembali.
Senang?
Tak mampu kuungkapkan lagi betapa senangnya aku untuk bertemu denganmu yang ketiga kalinya, setelah 2 tahun ini.
Grogi?
Sudah sangat lama aku tak merasakan ‘hal’ seperti ini semenjak 2 tahun lalu.

Terima kasih untuk 20 menit yang singkat namun berkesan.
Kau berhasil membuatku menjadi seorang yang sangat periang untuk hari ini.
- Aff Sora




Ditulis oleh sahabat yang kusayangi fillah,
Annisa Afifah.
Barakallahu fiiha <3 i="">

Bismillah.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🍃
Apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya..


Dua bulan kedepan ini kita punya banyak waktu luang insya Allah, jadi mari kita memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, karena boleh jadi, kita tak dapat mengambil hikmah yang sama di kemudian hari.

"Liburan Semester Genap"
Bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu?
Pertama, buat sesi dialog dengan diri sendiri dan tanyakan kepada diri kita masing-masing apa yang kita sukai, bidang apa yang ingin kita kuasai saat ini atau kebiasaan apa yang ingin kita latih, pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu kita mengatur prioritas kita dan membantu mengidentifikasi tujuan yang dapat kita gunakan untuk mengisi waktu liburan.

Kedua, manfaatkan waktu dengan hal-hal bermanfaat seperti:
1 / Menghafal Alquran
Yaitu dengan menentukan waktu tertentu untuk menghafal dan membaca tafsir atau memahami ayat-ayat yang telah kita hafalkan.. Kita juga perlu membuat jadwal agar terus kontinyu selama liburan ini.

2 / Membaca buku
Masing-masing kita memiliki selera buku yang berbeda-beda, karenanya kita bisa merencanakan sejak awal buku yang kita sukai untuk dibaca, pastikan juga buku yang kita pilih bermanfaat.

3 / Mengembangkan keterampilan
Misalnya, kita menyukai keterampilan menulis / handlettering, gunakan liburan kita untuk berlatih, contoh lain jika kita suka mempelajari bahasa atau ingin meningkatkan keahlian berbahasa, manfaatkan liburan untuk banyak praktik atau mendengarkan percakapan agar lebih fasih, contoh lain misalnya belajar menjahit, memasak, berkebun dan keterampilan lain yang positif.

4 / Membiasakan Ibadah Sunnah
Tetap menjaga kewajiban beribadah tepat waktu, kemudian dilanjutkan dengan membiasakan ibadah Sunnah, shalat Witir, puasa Senin Kamis, Dhuha, dan lain sebagai nya..
Serta terus mendawamkan membaca Alquran, karena meski telah selesai bulan Ramadhan, Jangan sampai kita terputus dari Alquran. Mari semangat lagi di liburan ini memperbanyak membaca Quran 🌱 ..

Dan ada banyak lagi aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan selama liburan ini, teman-teman bisa merencanakannya sejak sekarang juga..

Yang terpenting, Jangan sampai kita menyelesaikan liburan ini tanpa faidah, mari kita melakukan hal-hal baik dan mendapatkan banyak manfaat pada liburan ini! Karena ini adalah kesempatan kita! 🌿💕
Dua bulan itu waktu yang cukup lama.


Karena dalam satu menit saja, menurut Dr. Aidh Abdullah Al Qarni, kita bisa membaca 100 kali istighfar, membaca beberapa ayat Al-Quran, membaca empat halaman buku, menulis sebanyak empat baris, mengahafalkan satu bait syair, membaca lima kali shalawat, sujud, berdoa dan banyak lagi.


Bismillah.


Tahun 1999 merupakan hari yang bersejarah bagi K.H. Mustofa Mughni, M.A (Pimpinan Pesantren Daarul Mughni Al Maaliki) karena pada hari itulah beliau pertama kali membeli tanah seluas 300  dari hasil menjual 1 buah mobil untuk dibangun sebuah pesantren yang kini memiliki santri lebih dari 1.000 orang. Pada awalnya, pesantren yang diberi nama Daarul Mughni ini disediakan untuk orang-orang fakir dan yatim yang tinggal di lingkungan sekitar dengan jumlah santri sebanyak 43 orang, saat itu, K.H. Mustofa yang berperan mengajar dan istri beliau memasak untuk para santri.

K.H. Mustofa adalah salah seorang pengusaha sukses sebelum beliau mendirikan pesantren, beliau pernah berkecimpung dalam usaha impor komputer bersama Ustadz Yusuf Mansur.

“Dulu saya kaya, saya merasa kerja keras saya berhasil, tapi hancur semua, tidak berkah. Tapi sekarang, saya sadar bahwa kekayaan saya bukan sepenuhnya milik saya, ada hak orang lain di sana” ujar beliau kepada kami saat kami berkesempatan berkunjung pada Jumat, 7 Desember 2018 lalu.

من أراد الدنيا فعليه بالعلم, و من أراد الأخرة فعليه بالعلم, و من أراد كلاهما فعليه بالعلم
‘Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka ia bisa didapat dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia bisa didapat dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka ia bisa didapat dengan ilmu’

Sebelum membangun pesantren, K.H. Mustofa memutuskan untuk menabung dan berpikir bagaimana caranya memiliki cukup uang. Beliau juga berharap kedepannya akan ada ustadz-ustadz yang bergelar sarjana ekonomi, pagi ke bank dan sore dakwah, sehingga ekonomi Islam di Indonesia bisa bangkit dimulai dari pesantren. Menurut beliau, Indonesia hancur bukan karena orang bodoh, justru di Indonesia ini Alhamdulillah ada banyak orang yang pintar, tapi sayangnya masih kurang iman. Sedangkan yang dibutuhkan adalah orang-orang pintar yang ahli ekonomi dan di sisi lain agamanya kuat.

Meski telah menjadi pimpinan pesantren, jiwa pengusaha beliau masih sangat kuat, hal ini terbukti dengan tingginya tingkat kemandirian ekonomi pesantren yang dipimpinnya, banyak sektor yang dimanfaatkan oleh ustadz melihat peluang pasar dengan memenuhi kebutuhan masyarakat dan para santri di sekitarnya. Dimulai dari minimarket yang menjadi tangan kedua dari perusahaan sehingga harga yang dijual bisa lebih murah, percetakan, konveksi (termasuk juga sablon dan bordir), menawarkan waralaba ayam goreng, klinik dan apotik hingga penyewaan bus. Dan dengan banyaknya usaha yang kini dikelola oleh pesantren, biaya pendidikan menjadi lebih terjangkau karena tersubsidi dari keuntungan dari usahanya.


Dalam berbisnis, modal bukan menjadi penentu utama, modal juga penting, tapi ada 4 hal yang lebih penting: kemauan, modal, intuisi dan trik. Karena banyak orang yang ketika dikasih modal, mereka juga bingung akan berbisnis apa. Penting juga untuk masuk ke dalam sistem, dengan mengerti ilmu dan proses kerjanya, kita bisa mendapatkan keuntungan.

Dalam bisnis minimarket misalnya, memang kita tidak bisa mandiri 100%, kita membutuhkan pihak-pihak lain yang membantu. Awalnya minimarket di pesantren beliau merupakan waralaba dari salah satu ritel waralaba terkenal di Indonesia, dan sejak pertama kali didirikan, minimarket tersebut laku keras dengan pasar 1.000 santri dan masyarakat sekitar yang hendak memenuhi kebutuhannya. K.H. Mustofa pun mempelajari bagaimana sistem bisnis ini agar minimarket nya tidak menjadi tangan ketiga, tapi menjadi konsumen tangan kedua.

Beliau menelusuri bagaimana caranya dapat berhubungan dengan para pemain tangan pertama yang merupakan perusahaan penyuplai tanpa melalui distributor. Ketika menemui perusahaan-perusahaan tersebut, rupanya ada minimal pembelian jika dilakukan langsung dari mereka sejumlah 1-2 truk per pembelian. Beliau yang telah mempertimbangkan segmentasi pasar memutuskan untuk menerima persyaratan tersebut dan rupanya keputusan beliau berdampak positif, harga yang harus dibayar jauh lebih murah sehingga orang-orang bisa membeli di minimarketnya dengan harga yang juga lebih terjangkau. Pada akhirnya, minimarket nya lepas dari ritel waralaba dan menjadi minimarket yang mandiri.

K.H. Mustofa berprinsip bahwa tanpa uang, kita tetap bisa membuat usaha. Daripada kerja pada orang lain, beliau lebih memilih untuk menjadi tukang bebek, yang awalnya beli sepasang, dengan ketekunan dan ketelatenan, bisa jadi ratusan. Beliau mencontohkan salah satu teman beliau yang merupakan penjuang melon, ketika usaha mandirinya disertai dengan ilmu tentang sistem, Alhamdulillah kini bisa punya mobil mewah, bagaimana caranya? Teman beliau menjual melon bukan di pasar, tapi menyuplai langsung ke supermarket, hotel dan restoran.

Pesantren harus punya mutu agar menarik dan bermanfaat. Jika ada sekolah gubuk yang bisa mendidik anak-anak untuk pintar berbahasa Inggris, kemudian ketika ada acara ditampilkan kemampuan anak-anak yang kualitasnya bagus, harga masuknya fantastis. Oleh karenanya, dimanapun bidang kita, perbaiki kualitas, jangan dulu membicarakan harga, bicarakan mutu. Nanti ketika orang-orang sudah percaya, Insya Allah akan mudah menariknya, karena sudah punya ciri khas.

Adapun dunia pendidikan, pesantren khususnya, yang paling penting adalah bagaimana sistem pendidikannya bisa membentuk karakter anak-anak santri, mengubah mereka menjadi lebih baik dengan manhaj dan kurikulum yang bagus. Insya Allah dengan begitu, kita akan membangun generasi yang memiliki kemandirian dalam keterampilan hidup, insya Allah.

Bismillah.



Dalam setiap lafadz yang terucap, dalam setiap kata yang tertulis, selalu ada makna atau pesan yang hendak tersampaikan. Karena manusia tidak mampu membaca isi hati orang lain, Allah Maha Kuasa menganugerahkan lisan untuk bertutur, mengungkapkan segala rasa yang ada.

Dalam ilmu Ushul Fiqh, sebuah kata diletakkan untuk suatu makna.
Sebuah kata berarti kata tertentu yang jumlahnya jelas, yaitu satu digunakan untuk suatu makna, artinya mengandung lebih dari satu makna. Karena 'suatu' tidaklah menunjukkan jumlah tertentu.

Bagaikan piring yang berfungsi untuk menyajikan makanan, kata pun memiliki tujuan. Ia berfungsi sebagai wadah untuk menyampaikan makna dan pesan.
Hikmah dari penciptaan lisan kita salah satunya adalah untuk berkata yang baik. Jika ada kebenaran yang perlu disampaikan, maka sampaikanlah. Makna yang muncul di hati kita hanya dapat mencapai hati oranglain melalui kata yang terucap.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Al-Qur'an adalah kalam Allah. Perkataan Dzat yang Maha Benar lagi Maha Adil. Karenanya, Al-Qur'an menjadi mukjizat terbesar nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Al-Qur'an juga berisi untaian kata-kata indah nan penuh makna.
Ia adalah kitab dengan 0% kekeliruan. Memang ada beberapa hal yang belum jelas maknanya atau belum kita pahami secara akal. Tapi itulah keindahannya, ada rumusan rahasia yang hanya dapat dipahami oleh-Nya. Selain menunjukkan keterbatasan kemampuan manusia sebagai makhluk, juga menunjukkan kemaha kuasaan Sang Khalik.

Secara logika, ketika 25% isi suatu kitab telah dapat dipastikan kebenarannya secara ilmiah, sedangkan sisanya belum dapat dibuktikan karena kemampuan manusia yang masih rendah, maka dapat diyakini bahwa seiring berkembangnya zaman, 75% lainnya mengandung kebenaran insya Allah. Demikianlah fakta yang kita saksikan di lapangan. Sedikit demi sedikit, terbukti janji-janji Allah yang tercantum dalam Al-Qur'an.
Lagipula, siapa yang lebih benar perkataan nya dari Allah?

Al-Qur'an adalah kitab induk dari seluruh cabang ilmu pengetahuan. Ia berbicara tentang sains, matematika, sejarah, biologi, kedokteran, hukum bahkan psikologi.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 58 :
 اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ
 Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.

Allah adalah sebaik-baik pemberi nasihat. Kembalilah ke Allah. Betapa banyak kesedihan menjadi keceriaan karena sebait doa dan masalah menjadi mudah karena setetes air mata taubat.
Allah tidak menginginkan sesuatupun untuk manusia kecuali kebaikan.

PESAN EKONOMI DALAM AL-QUR'AN
Dalam Al-Qur'an, ada banyak ayat yang membahas tentang ekonomi, diantaranya :
Al-Qur'an berbicara tentang perilaku konsumen
1) Konsumsi yang halal lagi baik
Al-Baqarah : 168
Artinya : "Wahai manusi makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.."
Beberapa Ayat pendukung
- Al Baqarah : 172
- Al Maidah : 4-5, 87-88
- Al Mu'minun : 51
- An Nahl : 114
2) Tidak berlebihan
Al-A'raf : 31
 Artinya: "dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
3) Hidup Sederhana
Al furqon : 67
Artinya: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."
4) Tidak memakan harta anak yatim
Al An'am : 152
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa....."
5) Prinsip Moralitas
Al Baqarah : 219
Tujuan akhir dari makanan dan minuman adalah untuk meningkatkan kemajuan nilai-nilai moral & spiritual

Al-Qur'an berbicara tentang perilaku produsen
1) Q.S. Al-Muthafifin : 2-3
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.
2) Q.S.Hud : 85
Artinya: "Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan'”.
3) Q.S.An-Nisa : 135
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.
4) Q.S. Al-Maidah : 8
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.


---
Namun hal Penting yang perlu diperhatikan adalah pemahaman makna dari setiap lafadz yang Allah cantumkan dalam Al-Qur'an. Jangan sampai kita salah dalam memahaminya. Karena bahasa Arab sangat luas*, baik kosakata nya maupun tata bahasa nya. Begitu terperincinya, hingga tak ada makna yang ambigu jika kita paham betul seluk beluk bahasa Al-Qur'an ini.

Sayangnya, terjemahan Al-Qur'an di Indonesia sendiri terkadang belum mampu menyeluruh dalam mencakup makna yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an, hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Dapat diambil contoh, surat Al-Baqarah ayat 275 yang merupakan salah satu dalil ekonomi yang berkaitan dengan penghalalan jual beli dan pengharaman riba. Dalam ayat tersebut, ada kalimat berikut:

قَالُوْۤا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا
Dalam Al-Qur'an terjemahan, dapat kita temukan,
"Mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba."

Namun benarkah demikian?
Apakah lafadz إنما dan إن memiliki arti yang sama? Bila iya, kenapa digunakan lafadz yang berbeda?
Faktanya, perbedaan sekecil apapun dalam bahasa Arab dapat mengubah makna.
Misalnya lafadz بر dibaca dengan 3 harokat berbeda :
Burrun (بُر) dengan harokat huruf ba' dhommah memiliki arti: gandum
Barrun (بَر) dengan harokat huruf ba' fathah memiliki arti: daratan
Birrun (بِر) dengan harokat huruf ba' kasroh memiliki arti: bakti

Hal ini menunjukkan perlunya perhatian khusus dalam membaca dan memahami lafadz berbahasa Arab.

Adapun mengenai ayat 275 Al-Baqarah tadi, lafadz إنما dapat dipisah menjadi 2 kata: إن dan ما.
Kata pertama إن memiliki arti: sesungguhnya atau bahwasanya
Kata kedua ما memiliki makna: kata tanya (apa) atau makna peniadaan.
Maka dapat disimpulkan, kata إنما secara kontekstual bermakna "Sesungguhnya tidak lain".
Terjemahan lengkapnya menjadi "Mereka berkata bahwa sesungguhnya jual beli tidak lain sama dengan riba."

Nampakkah perbedaan nya?
Ayat ini mengandung sifat penegasan, sehingga perlu lebih diperhatikan. Ia di highlight-kan untuk menunjukkan betapa kerasnya orang-orang yang memakan riba itu beralasan, karena mereka berat untuk meninggalkan riba, lalu Allah membantah mereka dengan tegas pula: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba".
Sungguh inilah yang banyak terjadi di zaman sekarang, ketika perbankan konvensional menggunakan sistem bunga (riba) yang bukan harum, tapi haram, adapun bank syariah menggunakan sistem bagi hasil yang mungkin bagi beberapa pihak tidak menyenangkan, namun sejatinya menenangkan.

Maka marilah kita menjadi muslim yang taat, ini merupakan perintah mutlak dari Rabb yang menggenggam penuh jiwa kita.
Ketahuilah, kuantitas harta dapat dicari melalui 2 cara: jalan halal dan jalan haram.
Sedangkan kualitas keberkahan harta hanya dapat dicari melalui 1 jalan: yaitu jalan halal.
Dengan melalui jalan halal, kualitas dan kuantitas harta kita dapat terus ditingkatkan secara bersamaan insya Allah.

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk memahami dan mengamalkan sepenuhnya pesan yang Ia sampaikan dalam Al-Qur'an.
Aamiin Allahumma Aamiin.