Latest Posts
Bismillah.


Ini kisah tentang sesosok Muslimah yang tetap tegar untuk istiqomah di tengah lingkungan yang tidak mendukungnya. Ia tetap menjadi pribadi yang baik, menjadi bagian dari teman-temannya namun tetap menjaga batasan, menjadi diri sendiri selama itu sesuai dengan akhlak Al-Quran dan Sunnah.

Pesantren memang tempat yang baik untuk menuntut ilmu, namun bukan berarti semua unsur pendukung (penghuni)nya sama baiknya, meski sejatinya yah, sedang dalam proses memperbaiki diri, mungkin.

Prinsip hidupnya selama di pesantren adalah, datang untuk belajar, menuntut ilmu, jadi tidak punya teman atau bahkan dikucilkan karena dianggap terlalu penurut tidak jadi masalah, karena itu sama sekali tidak merugikannya. Aku suka itu, karena menurutku orang cerdas itu berpendirian, ia bisa memilah mana kritik yang membangun, mana yang menjatuhkan.

Nggak ikut trend, kuper, kudet? None of my business. Masih banyak hal penting yang harus dikerjakan. Belajar, murajaah, membaca buku, menghafal matan, dll.

Lalu apa tidak merasa sepi dan nggak pengen punya pengalaman seru kaya temen-temen? Gimana kalau nanti malah terlupakan?
Well, pertama, nostalgia itu nggak bermanfaat, yang lalu biarlah berlalu, hanya menghabiskan waktu saja. Tidak apa-apa tidak diingat kok, untuk apa? Walaupun aku yakin, setiap individu teman-temannya Insya Allah selalu mengingatnya, sebagai pribadi yang terlalu sempurna untuk dilupakan, pribadi yang meski tidak menyenangkan tapi menenangkan, dan selalu dibutuhkan, selalu berprestasi. Kenangan baik disini baginya adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin, membuat sejarah dengan tinta emas.


Kalau mereka bilang hidup ini Cuma sekali, di pesantren juga sebentar, harus dihabiskan dengan seru-seruan karena kapan lagi bisa bersenang-senang bersama teman-teman? Ia bilang, senang-senang ada waktunya, hidup memang Cuma sekali, karena itu harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang produktif, bukan wasting time dengan chit chat unfaedah yang tidak memberi atsar apapun nantinya setelah lulus dari pesantren. 

Bukankah kita tahu,
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
Ilmu tanpa amal (praktek) bagaikan pohon tanpa buah.
Lalu bolehkah kita bertanya, kemana ilmu akhlaknya? ilmu ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain’? ilmu tentang urgensi waktu? ilmu tentang masa depan akhirat? Mana realisasi dari apa yang sudah dipelajari? Karena itu, yuk bersama berusaha mengamalkan ilmu yang kita dapatkan dengan memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif.

Tidakkah terbesit sedikit saja keinginan untuk mencoba seperti mereka? Nonton ini-itu, ke bioskop, ke restoran terbaru, mencoba kuliner viral, mendengar musik?
‘Tidak’ ujarnya tegas.
Alhamdullah ia tidak suka dengan semua itu dan memang tidak tertarik sama-sekali untuk mencoba. Kalaupun diajak, ia akan ingat orang tua, ia sadar membawa nama baik orang tua, ia ingin membuat keduanya bangga, ia merasa belum bisa memberi apapun.
Jadi ketika liburanpun, ia prefer bantu dan nemenin umi di rumah.


Hidupmu milikmu, keputusanmu juga tanggung jawabmu. Lakukan apa yang perlu dilakukan, lihat apa yang perlu dilihat, dengar apa yang perlu didengar dan ucapkan apa yang memang perlu diucapkan.

Terinspirasi dari saudari jauhku, adiknya istri paman sepupuku, yang tidak ingin disebut namanya.
Uhibbuki Fillah, Barakallahufiik..

Bismillah.


Heyho! Entah sudah berapa lama aku tidak menulis, duniaku mulai disibukkan oleh perkuliahan, tugas dan gadget.. Rasanya tuh, seperti tidak bisa lepas dari hp, padahal buku diary sudah lama tidak disentuh. Aku tidak lagi terbiasa menulis hal-hal kecil di sekitarku. Kini aku hanya menulis untuk hal-hal luarbiasa yang mampu membuat hatiku tergerak untuk menulis karena kespesialan topik yang kutulis, karenanya ingin kuabadikan. Ups, tapi bukan itu inti cerita kali ini, aku ingin menceritakan sesuatu yang lain, sesuatu yang entahlah, apa aku bisa menuangkannya dalam buku sebaik aku merasakannya dalam kalbu.

Ketika itu aku baru menyelesaikan tugas khidmahku, berbagai pertanyaanpun menyerbu, dimana aku akan melanjutkan jenjang pendidikan. Well, pada akhirnya abi menuntunku untuk menapakkan kaki di sekolah tinggi dimana abi mengajar, STEI Tazkia.

Kelas baru, lingkungan baru dan teman-teman baru. Uh-oh, rasa gugup menyergapku tiba-tiba saat melihat daftar anggota kelas yang akan membersamaiku setahun kedepan, nama-nama asing yang belum pernah kukenal sebelumnya. tidak ada satupun yang kukenal. Siapa ya teman-teman baruku nanti? Jujur saja, saat itu aku merasa takut, takut mereka tidak bisa menerimaku, takut mereka akan mencecarku dengan berbagai pertanyaan yang tidak ingin kujawab, takut mereka memandangku aneh. Tapi tidak ada yang tahu bahwa sesuatu akan terjadi.

Pada akhirnya aku memasuki kelas tanpa kepercayaan diri sama sekali, kaki ini rasanya berat sekali untuk melangkah.. Berada di kelas, aku mulai mempelajari banyak hal yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Bahkan belum pernah aku dengar, rasanya semua itu asing sekali, begitu juga mereka, teman-teman sekelasku yang rupanya telah lebih menguasai materi pembelajaran.

Aku tertatih mengejar ketertinggalan, aku belum pernah mempelajari apapun tentang Ekonomi sebelumnya.. Aku merasa payah dan tidak layak berada di sini.

Tapi suatu keajaiban terjadi, entah bagaimana awalnya, beberapa teman-teman berhikmah membantuku, mereka datang dan mengulurkan tangannya, membuat hariku kembali bercahaya.. Jazakunnallah Khairan Hani, Fifi, Aul, Qiya, Ishmah, Uli.. Saat itu, sikap mereka yang blak-blakan, ramai dan ceria membuatku kembali bangkit untuk berjuang lagi, maka aku memutuskan, untuk mereka, untuk kelas kami, aku belum akan menyerah dulu, aku akhirnya sadar, aku tidak sendirian.. Aku tidak pernah dibiarkan sendirian.

Hari demi hari terlewati, aku menemukan fakta menarik. Mereka itu ternyata punya bakat menyenangkan siapapun di sekitarnya, termasuk aku. Hampir semua orang yang pernah memasuki kelas mengakui itu, terutama para dosen, banyak yang menyatakan bahwa kelas kami terbaik, what a surprise! Alasannya sederhana, karena mereka terbuka dan menerima segala sesuatu apa adanya, mereka juga cerdas, cepat tanggap dan nggak mudah men-judge orang lain. Dalam sekejap, mereka mampu mengikuti semua alur mata kuliah pembelajaran dosen. Bahkan Allah maha Kuasa menganugerahkan kami kemudahan dalam belajar. Kami mendapatkan penghargaan sebagai kelas terbaik dengan rata-rata IP 3,5.. Subhanallah, keren!

Kini aku percaya bahwa berlari sendirian memang membuatku lebih cepat. Tapi berlari bersama membuat kami lebih jauh..

Aku jadi teringat hadits Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam,
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).

Menurutku, mereka bisa diumpamakan dengan penjual minyak wangi itu. Setiap anggota kelas memiliki kelebihan yang berbeda-beda, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan itulah yang membuat mereka menjadi saling melengkapi, seperti ‘Bhineka Tunggal Ika’.. Hebatnya lagi, masing-masing dapat menerima dan menghargai keunikan satu sama lain, kalau boleh disebut dalam satu kata, aku akan bilang bahwa kelas ini balance, dengan tetap bergerak menuju ke arah yang lebih baik.

Seperti akhir semester 2 ini, ketika organisasi Badan Independen Mahasiswa Matrikulasi (BIMM) STEI Tazkia mengadakan perlombaan akhir kampus matrikulasi yang dinamakan D'ace Festival. Kegiatan ini berisi beberapa lomba yang mana setiap kelas harus mengirimkan perwakilan nya untuk setiap lomba..
Dari sinilah kekompakan dan kerjasama antar anggota kelas semakin terbentuk, kami jadi banyak bertemu, berkumpul, berdiskusi, saling menyemangati dan mendukung untuk meraih kesuksesan bersama.

Setiap anggota kelas terlibat dalam minimal satu lomba sesuai dengan kemampuan dan potensi spesial masing-masing.. Yang aktif, diikutkan basket, badminton, voli, panahan.. Yang akademis diikutkan ranking 1, jurnal, spelling bee.. Yang atristik diikutkan fotografi, teatrikal, kaligrafi, fashion show, plating dan handicraft..

Setiap individu menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari kelas dan mereka berperan dengan maksimal, terutama yang ikut bertanding. Bukan kemenangan yang dipikirkan, tapi membawa nama baik kelas.. Maka dalam setiap perlombaan, usaha dikerahkan semaksimal mungkin, semua berkontribusi, setiap butuh apa-apa, kostum, peralatan, kamus, bahkan jasa keluar asrama memfotokopi, membeli kebutuhan, menjahit, make up sampai menjadi supporter terheboh ada saja yang siap jadi relawan.

Hampir dalam setiap lomba, kami menyiapkan sebaik-baiknya dengan latihan berulang kali, sampai malam pun masih dilanjutkan, mengorbankan tenaga, waktu dan pikiran. Saking seringnya kami berlatih, beberapa anggota kelas lain berkomentar,
"Kelas kalian memang terniat, Masya Allah.. Supporter nya paling ramai dan heboh.. Setiap kami lewat lapangan, selalu ada kelas kalian yang latihan olahraga, setiap lewat Mushalla, selalu ada kelas kalian yang latihan kesenian, kelas kalian juga yang bee speller nya selalu bawa kamus Oxford kemana-mana.. Pokoknya lapangan dan mushalla dikuasai kelas kalian, setiap kita mau latihan pasti selalu ada kelas kalian.. Senam, gobak sodor, voli, basket, badminton, bagi kami hanya permainan aja, tapi bagi kalian, semangatnya sudah seperti ajang pertaruhan nama baik, haha.."

Maha Suci Allah yang telah menjadikan mereka bagian dari mozaik hidupku.
Dari mereka, banyak yang aku pelajari, aku datang tanpa tahu apapun, tapi we achieve through teamwork, ini adalah salah satu corporate culture terpenting di kampus kami, dan Alhamdulillah.. hal itu bisa terealisasikan dengan baik. Buktinya, saat ini, dari mereka, aku jadi tahu banyak hal, misalnya, bahwa hidup, tidak melulu harus serius. Bahwa belajar, tidak hanya di kelas. Bahwa kebersamaan lebih penting dari kemenangan, ini yang terpenting.


Suatu waktu, pernah terbesit dalam pikiranku, kenapa ikatan ukhuwah ini baru terasa erat di akhir-akhir kebersamaan ya? Asal tahu saja, kelas ini terdiri dari mahasiswi-mahasiswi dari jurusan yang berbeda-beda. Ah, mau dianalisis bagaimanapun, aku tetap tidak menemukan jawabannya. Aku tahu bahwa di setiap pertemuan ada perpisahan, Sunnatullah, tapi entah kenapa rasa takut itu mucul lagi, dalam bentuk yang berbeda, kali ini aku merasa takut kehilangan mereka, takut untuk sekedar membayangkannya, apalagi benar-benar mengalaminya.

Bagaimanapun juga, aku bersyukur aku telah diberi kesempatan untuk berada di sini, di antara mereka, menjadi bagian dari mereka. Maha Suci Allah yang telah telah menitipkan rasa cinta karena-Nya dariku untuk mereka. Jadi yang terpenting sekarang adalah, bagaimana memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama orang-orang di sekitarku. Bagaimana nanti tidak ada yang tahu, tapi perjuangan harus tetap berlanjut, dimanapun dan kapanpun aku dan mereka berada. Karena dari kebersamaan yang singkat ini, kami telah mendapatkan banyak cahaya dari sumber-sumbernya yang tidak terbatas, semoga kedepannya, selalu, aku dan teman-temanku akan bercahaya.

Aku tahu, aku hanya manusia biasa, aku sama sekali bukan sosok yang sempurna. Aku ini hanya Aisyah, ingat? Kehidupan, yang hidup. Karenanya, tawa dan air mata akan terus bergulir sebagaimana kebahagiaan dan kesedihan akan tetap selalu ada, Insya Allah.

Aku percaya, bahwa pertemuan ini bukan sebuah kebetulan, ini adalah pertemuan yang indah dan spesial. Allah yang Maha Baik telah menentukan pertemuan baik ini dalam Lauh Mahfudz-Nya untuk sebuah tujuan baik. Jika suatu hari nanti aku pergi jauh dan tidak lagi berada di sisi mereka, aku berharap kami masih saling mendoakan, karena doa adalah sebaik-baik hadiah yang akan selalu sampai. Pintu langit tidak akan pernah tertutup. Sungguh, aku bukan berharap tidak terjadi perpisahan, tapi aku berharap suatu hari nanti Allah akan mempertemukan kembali di tempat dan waktu yang tepat dan lebih baik. Syurga-Nya, mungkin? Siapa tahu.
---



Untuk setiap memori sejak September 2017 di kelas E.
Uhibbukunna Fillah.
Terima kasih untuk kenangannya selama ini, kenangan yang akan dirindukan nantinya. Aku berharap segala kebaikan untuk kalian.
Aku titipkan kalian pada Allah.
Ya Allah, jagalah mereka untukku.

Aku dipertemukan dengan para bidadari yang memesona,
🌸 Aulia Zahra
🌸 Mayang Nirwana
🌸 Hani Khaira Amalia
🌸 Fifi Afiah Luqman
🌸 Anastasha Wahyuningtyas
🌸 Nabila Ramadiana
🌸 Faliza Hafidzatul Fauziah
🌸 Dias Hanifa Ardhanariswari
🌸 Ania Iqrima Azalia
🌸 Ishmah Choirunnisa
🌸 Rihaadatul Aisy
🌸 Nandya Ahlussanah
🌸 Nurul Hakim
🌸 Rukiyah Hasibuan
🌸 Tia Anggraeni
🌸 Sofiya Nadhifa
🌸 Adilah Lu'lu'
🌸 Yunita Surya Pratiwi
🌸 Umulia Safitri
🌸 Novia Lestari
🌸 Nabila Farha
🌸 Naimatul Kurnia
🌸 Baiq Fathia Zulfahmia
🌸 Riyadhatul Mustami'ah
🌸 Aulia Salsabila
🌸 Annisa Irma Suryani

9x - 2i < 3(3x - i + u)
*Aku selalu nervous untuk mengungkapkan sesuatu, tapi jawablah soal ini dan engkau akan tahu apa yang selama ini ingin aku sampaikan.

Bismillah.



Oleh : Kak Rifka Mustafida

KENAPA HARUS MENULIS?
1. Berkontribusi dan dakwah. Menurut data OJK, dari 100 masyarakat, kurang lebih hanya 11 orang yang tahu. Jadi karya tulis kita bisa bermanfaat dan amalnya terus mengalir Insya Allah. Berkontribusi ke masyarakat secara nggak langsung membantu mereka menyelesaikan masalah di ruang lingkup mereka. Kenapa kita lebih sering menggunakan ekonomi ribawi? Bahkan kita menggunakan rujukan dari Adam Smith dengan World of Nations nya.
2. Dapat pendapatan dan akomodasi jalan-jalan gratis.

JENIS KARYA TULIS
Essay
Paper
Skripsi
Tesis
Disertasi

Paper itu harus pakai metode penelitian, analisis nya lebih lengkap dan panjang. Struktur nya latar belakang, landasan teori biasanya pengertian dan definisi, metodologi penelitian, pembahasan, penutup dan daftar pustaka.

GIMANA DAPAT IDE MENULIS?
Cari bidang yang menarik bagi kita.
Membaca berita ekonomi.
Berdiskusi

BAGAIMANA CARA MENULIS PAPER?
Permasalahan
Data pendukung, ambil dari bps badan pusat statistik.
Tujuan penulisan di akhir paragraf latar belakang.
Landasan teori, diambil dari penelitian terdahulu.
Metodologi ada kualitatif berupa penjabaran, literature review, mapping analysis dan kuantitatif berupa angka-angka, regresi dan DEA.
Pembahasan, terdiri dari tujuan kepenulisan, rangkuman dan rekomendasi.
Referensi, tulis nama penulis, tahun, judul, kota / negara, penerbit.

CARA MENERBITKAN
Masukkan ke jurnal, ngirim paper atau konferensi (kunjungi confbay.com), lomba.

Jurnal terakreditasi, journal terindex scopus, journal guide association bussiness school (ABS).
Bismillah.


Why should English?
Why not Arabic?
Why everyone put English as a priority?

It's actually because at the moment, unfortunately Arabic is not declared as the main language of the world. And we hope one day Arabic will be the main language of the world because Arabic is the language of Al-Quran, so it's a must for all Muslims to learn Arabic.

At the moment English is the main focus, the main language of the world. So in that case we have to do more dakwah, we have to interact to more people, we have to go cross borders, we have to go overseas and you have to mastering English. So that's why the motivation to learn English is not only for trend, not for lifestyle, no. But because English is the language of the world and we have to control the world by controlling the language first.


How to Mastering English?

For mastering English, make it a habit and apply it to our life every day, so I really encourage you to speak English every day without a fail, so it's not because you want to show that you know English, but because you want to practice the language.

It's unfortunately sometimes, you have a golden opportunity when you're in dormitory where you always meet your friends with the same interests, so it's the time for you to practice your English all the time, do not speak Indonesians for one year. Sleep with English, dream in English. Of course Arabic too in the same time.

تكلم بالعربية أو الإنجليزية فقط
ممكن كذلك؟ ممكن إن شاء الله.

So from time to time write everything in English and Arabic and read them. Let's say we have newspapers like Jakarta Post, unfortunately we don't have Arabic newspaper.

So this is how you master English. By turning into the habit and then make a goal, what else you'd like to do in English. Because if you don't have motivation, sometimes you know, you're a human, you feel lazy, demotivated, you don't want to speak English anymore, so promise to your body and yourself, you speak English now, you learn about English now, memorize vocabularies. Try with English, fight with it. Don't worry. I will take you. This is the same you speak to your old friend.

I always make promise to myself because I want to make this life is meaningful, full of wishes and contribution to the ummah. I want to become خير الناس أنفعهم للناس.


How to Get Scholarship Abroad?

You have social media, this is one of your opportunities to interact with people overseas, first of course you have to be careful because not everyone can be your friend. So let's say you come to my Facebook account, you see my friends overseas, you can ask them to become your friend, or you go to LinkedIn, Instagram and find the information about scholarship opportunity.

Second go to websites that normally offer scholarship, there is also scholarship fair in Jakarta, you can go and grab it. You go there, attend the booth and get brochure, make sure that you know what is the program, try to apply, but of course the most important thing is your niat (aim), what is your intention. So is it because you want to go study abroad, you want to see people overseas. Make your niat properly. Practice your English from now, get more information, always be kind to people, if people need your help, help them.

I think that TOEFL and IELTS is easy, because I always prepare everything in advanced, and I make as a habit, so this is one of the trick so you can get scholarship.
So first niat, second tips networking.

Many Indonesians even they go to UK, USA, they can't speak English well, they can't debate in English, even to say hello in English, they are useless, they don't have opportunity to practice there.


The Effective Way to Learn English

The effective way to learn English is reading. So let's say when you go to atm, there is an option of the language, choose English, set your phone in English, everything with English, even your social media should be in English. Also when you write your dreams, your diary, etc.

At the moment be strange to Bahasa, don't speak Bahasa, it's too easy. And my children have been living in the UK, they learn English by reading books. After you read books, and you'll be able to write. The book to them is not only about you read the book, but about appreciating people's work. This is how western people teaching their children. So start buying English books, or if you don't want to spend money, I know that English books are quite expensive, you go to the website, have you heard about BBC? You can read or listen to BBC news everyday everywhere. You'll be influenced by them. Because when you hear, you tend to follow right? BBC is free and you know how to imitate the proper English.

My child actually was a first winner for journalism competition in English, she wrote about ISIS. Her English is so beautiful and interesting.


How to Teach English?

Before you teach your friends, of course you have to prepare yourself better. Always give them motivation, because language is about motivation, sometimes you give tips or homework to them, but they don't really work on it or don't really like it, so try to courage them, make a competition, debate is one of the way. Why does it work? Because people tend to be emotional when debating, they will try very much to make you understand what their ideas are.

You also can make listening to news as your habit. So every morning or during your lunch time, you watch it on tv or phone.

And choose the accent, don't mix between American and England for example, you'll be confused with the slang or the idioms.


That's all what I got from the interview.
Hope it helps you in learning English.
Bismillah.


KNOWLEDGE

Masalah kita biasanya bahasa inggris kurang lancar, bahasa arab kurang fasih dan matematika jeblok.
Kalau ingin sukses di Dunia atau Akhirat harus tau ilmunya. Kamu harus jadi yang paling jago dan menguasai spesialisasi bidang ilmu anda. Kalau ngomongin shodaqoh kita kenal ustadz Yusuf Mansur, kalau ngomongin zikir kita kenal ustadz Arifin Ilham, kalau ngomongin qoblu kita kenal aa Gym.
Pokoknya kalau ngomongin ekonomi Islam belum ketemu kita belum afdhol.

Silahkan sebarkan ilmu di sosmed, kalau ada seminar di manapun apalagi kalau gratis, dengarkan baik-baik dan jadilah penanya pertama dengan pertanyaan yang paling baik dengan bahasa Inggris atau Arab, minta kartu nama, insya Allah kalian akan mudah dikenal sama speakernya.

Ketika kalian magang, pastikan semua knowledge nya ngelotok, terutama dalil-dalilnya, insya Allah akan mudah di employee sama perusahaan tersebut.

Rumusnya, besok belajar apa, baca dulu. Hari ini belajar apa, baca lagi.
Akhir pekan baru baca apa yang kalian suka.

SKILL

Soft skill ---> presentation ability, leadership, language, etc.
Hard skill ---> software komputer, aplikasi tertentu, nyetir, etc.

ATTITUDE AND BEHAVIOR

Inilah yang paling menentukan.
Kita ingin kalian jadi anak pintar dan sholeh. Karena kalian Masya Allah La Haula Wala Quwwata Illa Billah.. Maka perlu diadakan pendisiplinan. Lalu bawa ke rumah keistiqomahannya.
Saat ini kita belum bisa memberikan apa-apa, maka yang bisa kita berikan adalah kebanggaan dan akhlak yang baik.

Orang yang berpenampilan menarik, kaya, pinter, menjabat punya kecenderungan sombong. Kecenderungan inilah yang membuat kita gagal sukses. Jangan sampai sukses secara nilai namun gagal secara sosial karena tidak bisa teamwork.

Dalam sukses di tempat karir yang paling menentukan adalah spiritual dan emotional factor.

Bismillah.


Hari ini, salah seorang adikku yang manis nan cuek curhat, tentang permasalahan antara tanggungjawab dan persahabatan. Bagaimana jika ada suatu amanah yang hanya bisa dilakukan jika salah satu resikonya mengkhianati persahabatan. Apa yang harus dilakukan?
Ok, manisku, cantikku, sayangku.. Tenangkan dulu hatimu dan aku akan mencoba memberi secercah cahaya yang akan menghangatkanmu insya Allah..

Jujur saja, aku percaya kalian semua, kamu dan teman-teman kamu adalah anak-anak baik. Bagaimana tidak, aku pernah tinggal seatap dengan kalian dan menjadi ibu kedua yang mengenal secara langsung bagaimana luar-dalam kalian, dari mulai makanan kesukaan sampai kebiasaan aneh masing-masing. Setiap kalian dan juga aku tentunya punya kesalahan, tapi sejauh yang aku lihat, semuanya masih dalam batas wajar kok.

Kini sebagai OSIS, menghadapi teman yang bukan hanya tidak mendukung, tapi bahkan menentang, umm bagaimana ya? kalau dipikir logisnya sih,  kamu maupun teman-teman yang notabene pernah jadi anak-anak didik aku nggak salah, bagaimanapun juga kalian kan cuma melaksanakan tugas yang mungkin sebenarnya berat juga untuk kalian lakukan..
Dan iya, harusnya mereka paham kalau kalian punya amanah yang harus dipertanggung-jawabkan..

Nggak mudah memang..
Merangkul mereka salah satunya dengan tetap bersikap biasa, jangan sampai terlalu skeptis..
Tegur dengan tidak langsung kalau memang diperlukan..
Ajak bercanda..
Tetep blend in sama kedua belah pihak..
Humm, gimana lagi ya?

Susah juga kalau i'tikad baik nya nggak klop dari kedua belah pihak..
Tapi yang penting, aku pengen kamu dan temen-temen tetep jadi temen yang baik.. Seperti biasanya, jangan berubah kecuali jadi lebih baik..
Kalau nggak terdesak jangan ngomongin masalah ini, jangan diungkit-ungkit..
Jadi pihak netral..

Kamu dan temen-temen harus yakin,
Kalau orang baik pasti akan selalu ada yang nggak suka..
Jangankan kita yang banyak salah, Rasulullah aja yang sempurna banyak pembencinya..
Jadi keinginan untuk disukai semua orang itu angan-angan yang mustahil..
Pun ketika kita meninggalkan suatu kewajiban atau bahkan tanggung jawab cuma karena ngga enakan?
Apa iya kita yang mumayyiz, sudah bisa membedakan baik dan buruk masih belum bisa mengamalkan hanya karena khawatir anggapan orang lain?
Mereka emang temen, tapi temen juga punya batas untuk ngatur hidup kita, toh bukan mereka yang ngasih makan kita..

Tetep pegang prinsip, bergaul tapi jangan sampai melebur, kita juga harus buktiin punya pendirian, nggak ikut-ikutan..
Kalau nantinya muncul rasa kesel, sebel dan sejenisnya..
Hadapi dengan bijak, kita kan manusia, punya perasaan begitu, wajar kok..
Asal kita nggak mengungkapkan kekesalan kita sama mereka..
Pada akhirnya semua orang juga bisa ngeliat mana tokoh antagonis dan protagonis nya..
He, begitulah sunnatullah.. 😊

Makanya, sekarang, jadi anak baik, rajin belajar..
Biar nanti punya anak juga gitu..
Susah?
Ya emang susah, kalau gampang level anak SD dong?
Kalau ujian hidup itu gampang, hadiahnya bukan surga, tapi piring cantik..
Mau?

Insya Allah dimanapun kalian berada, akan selalu aku doakan..
Jangan lupa kamu juga harus doakan juga temen-temen..
Allah kan maha membolak balikkan hati..
Sampaikan, OSIS juga manusia.. Bisa salah..
Kalaupun ada anggota OSIS yang melanggar atau menentang, nasihatkan agar jangan contoh OSIS yg kaya gitu, contoh OSIS lain yang baik..

Sampaikan juga, kalau misalnya ada seorang muslim yang melakukan pengeboman, terus orang-orang non muslim komentar, tuh kan orang Muslim radikal, teroris..
Itu gimana?
Jelas salah kan..
Nge-judge keseluruhan karena kesalahan sebagian pihak itu nggak adil..
Bilang juga, kita melakukan ini karena sayang sama semuanya..
Kita pengen sekolah kita dikenal baik dan terhormat, karena masing-masing kalian secara tidak langsung juga duta nya sekolah, kalian bawa nama baik sekolah.

Oya kasih pencerahan dan reminder dari hati ke hati, ajak mikir..
Kalau aku paling suka tema orang tua, paling ngena..
Ceritakan kalau orangtua kalian di rumah menunggu keberhasilan kalian, jangan sampai mengecewakan mereka, jangan sampai nama orangtua jadi buruk karena kelakuan anaknya..
Kalian di sini nggak gratis, jangan sampai orangtua bersusah payah mengeluarkan uang buat Sekolah tanpa hasil..
Usahakan setiap hari lihat foto orangtua, lihat senyum mereka, harapan di mata mereka.. Buat mereka bangga dan bahagia.. Sebagaimana mereka membuat kita bahagia di waktu kecil..

Kita punya tauladan terbaik seperti Umar bin Khattab yang berani berubah dan menampakkan perubahan selama itu baik.
Tetap berjuang ya, sayang!


Bismillah.


Oleh : Isna Fauziah Biljannah

Firman Allah SWT. dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran ayat 91:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الَْْرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَىٰ بِهِ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong. (Q.S.Ali-Imran:91)

Apa yang paling berharga di dunia ini? Emaskah? Berapa harga emas?katakanlah 1 kg = 600.000.000,- . Berapa berat bumi? Jika berat bumi dikalikan 1 kg emas, betapa banyak nominalnya sampai kita kesulitan untuk menghitungnya.
Orang kafir telah divonis bahwa tempat kembalinya adalah neraka sebagaimana firman Allah dalam surah An-Nazi’at yang artinya “maka sungguh, nerakalah tempat kembalinya”. Lantas mereka bernegosiasi kepada Allah untuk menebus hukumannya dengan sebongkah emas sepenuh bumi??? Sungguh Allah tidak akan menerimanya.

Islam tidak bisa dirupiahkan, karena islam bukan dollar, bukan ringgit, apalagi real. Jangan sekali-kali kau tukar yang paling berharga di dunia ini dengan suatu hal yang sangat remeh. Apa kau sudi menggadaikan shalat jama’ahmu dengan gaji 10 juta? Apa kau sudi menggadaikan dzikir dan do’amu dengan gaji 20 juta? Engkau berangkat pagi pulang malam, shalat jama’ah keteteran, kesucian tempat ibadah kau acuhkan, dzikir dan do’a kau abaikan. Tidak sakitkah mereka engkau abaikan? Yang seharusnya mendapat perhatian bahkan mungkin lebih.

Islam harus masuk ke semua aspek kehidupan, ekonomi, sosial, budaya bahkan negara. Jangan berharap negara akan jaya apabila di dalamnya tidak ada al-Qur’an. Mengapa negara kita semakin terpuruk? JELAS! karena tidak ada al-
Qur’an di dalamnya, karena tidak ada Agama di dalamnya. Bagaimana
peradaban Andalusia dapat berjaya? Bahkan sampai sekarang belum ada yang
mampu menandinginya? Karena al-Qur’an dan Haditslah pedomannya.

Bismillah.


Narasumber : Ustadz Edi Chandra

Who are you? Man anta? Siapa kamu?
Seorang Muslim akan menjawab: أنا عبدالله - saya hamba Allah
Seorang Yahudi atau Nasrani akan menjawab: نحن أبناء الله - kami adalah anak-anak Allah
Seorang Hindu dan Budha akan menjawab: kami adalah hasil dari daur ulang, maksudnya reinkarnasi dari kehidupan sebelumnya (konsep yin dan yang).

Mari kita bahas satu per satu, apakah ada yang salah diantara ketiga pernyataan di atas? Tentu. Lalu apakah ada yang benar? Jika ada yang salah, maka pasti ada yang benar. Lalu yang mana yang benar yang mana yang salah dan kenapa?
Jawaban Hindu dan Budha sebenarnya kurang logis, karena mereka memaknai alam selalu berputar, itu berarti tidak ada awal dan tidak ada akhir. Padahal jelas ada manusia pertama.
Jawaban Yahudi dan Nasrani kurang tepat karena meski mereka meyakini Tuhan, namun mereka terlalu berlebihan dalam menyadarkan kata 'anak' kepada-Nya, meski semua juga tahu bahwa maknanya ya bukan seperti yang tersurat.
Maka jawaban satu-satunya yang benar adalah jawaban orang Muslim.

Bagaimanapun juga, ketiga pihak di atas mengakui adanya Tuhan. Orang Islam menyebut Allah, orang Nasrani menyebut Tuhan Yesus dan orang Hindu menyebut Shanti.
Lalu apakah Tuhan yang kita sembah itu berbeda? Sebentar. Sebelumnya, kita ajukan pertanyaan, siapakah manusia pertama? Tentu saja Adam. Semua agama juga meyakininya. Lalu siapa yang menciptakan Adam? Tuhan. Jadi sejatinya Tuhan yang disembah adalah sama. Namun sayangnya mereka salah dalam memahami makna Tuhannya. Inilah yang dinamakan Syirik, ketika meyakini adanya Tuhan, namun pengertiannya salah.
Inilah juga yang menjadi tujuan pengutusan para Nabi dan Rasul, yaitu meluruskan kembali pemahaman yang salah mengenai Tuhan.

Jadi siapa kita? Jika anda masih mengaku Muslim, maka pastikan jawaban anda adalah, 'saya hamba Allah'. Hamba pasti memiliki majikan atau. رب. Hamba yang baik adalah hamba yang taat pada Rabbnya, menuruti semua peraturan dan hukumnya. Nah peraturan di sini diturunkan sebagai Islam. Jadi kesimpulannya, sumber hukum adalah Allah melalui Rasulullah dengan Al-Quran dan Sunnah.

Jadi apa itu sumber hukum?
Para ahli hukum, mahasiswa jurusan hukum dan para hakim yang kurang memahami Islam akab menjawab, norma dan undang-undang.
Namun sebagai pejuang Ekonomi Islam Indonesia, kita berbeda, sumber hukum kita berasal dari sumber yang terpercaya, autentik dan tidak diragukan lagi, yaitu Al-Quran.

Oleh karena itu, manusia sebagai objek hukum terbebani (مكلف ), artinya ia bisa terkena hukum dosa atau pahala jika memenuhi syarat Islam, baligh dan berakal.
Lalu kapan pengadilan dan penghakiman itu dilakukan? Tentu saja di akhirat. Dunia adalah tempatnya amal.

Manusia ada 2 macam :
Pertama : جبري yaitu sesuatu yang tidak disengaja / fitrah, seperti suku, ras ataupun cinta. Semuanya tidak memiliki konsekuensi hukum.
Kedua : اختياري yaitu amal yang disengaja atau dilakukan dengan usaha. Ini berdampak pada hukum taklif halal haram.
Sumber hukum yaitu Allah telah menurunkan aturan berupa Al-Quran dan Sunnah yang terdiri dari 5 jenis hukum taklifi :
1. Wajib - mendapat pahala jika dilakukan dan mendapat dosa jika ditinggalkan.
2. Mandub / sunnah - mendapat pahala jika dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan.
3. Haram - mendapat dosa jika dilakukan dan mendapat pahala jika ditinggalkan.
4. Makruh - mendapat pahala jika ditinggalkan dan tidak berpahala jika dilakukan.
5. Mubah - boleh, tidak berpahala tidak berdosa. Namun poin ini berpotensi masuk ke 4 hukum lainnya.

Kenapa ada perbedaan manhaj? Dan darimana asalnya perbedaan hukum?
Jika ada suatu permasalahan yang memiliki dasar hukum namun belum jelas detailnya, kita tidak bisa bertanya langsung kepada Allah ataupun Rasulullah. Maka terjadilah ijtihad, dalam ijtihad para ulama, terkadang ada perbedaan pendapat yang masing-masing memiliki dalil penguat, jadi setiap pendapat dengan hukum tertentu itulah dinamakan manhaj.
Adapun proses menyimpulkan hukum dari teks dinamakan استنباط الأحكام.

Ekonomi Islam membahas prinsip transaksi yang halal. Namun seiring berkembangnya zaman, manusia selalu berimprovisasi, lalu kaum muslimin bertanya, apa hukumnya? Nah saat itulah kita gunakan fiqh Muamalah. Fiqh ini membahas tentang hubungan antar manusia. Adapun fiqh yang membahas hubungan antara manusia dengan Allah dinamakan fiqh Ibadah.