Latest Posts


Based on true story.
Bismillahirrahmanirrahim.

Semenjak malam itu, waktu terasa lama sekali berputarnya, sang putri masih berduka, air matanya masih juga belum berhenti mengalir, adapun sang pangeran masih tetap berusaha menghiburnya, meminta maaf berkali-kali. Disadari atau tidak, setiap ucapan maaf dan hiburannya itu sedikit demi sedikit mulai memperbaiki kembali kepingan hati yang telah hancur merapuh itu, bagaikan puzzle yang satu per satu saling melengkapi hingga lengkap seutuhnya, tak sesempurna sebelumnya memang, tapi paling tidak, ada sepotong hati yang baru di sana.

Saat tatanan hati itu telah utuh, sang puteri mulai membuka hatinya, memberikan secercah harapan bagi cintanya bersama sang pangeran, membangun lagi kenangan yang sekejap terhapus begitu saja, ia sadar ada yang harus ia lakukan, diam saja tidak akan mengubah apapun, namun sebuah tindakan dapat menentukan masa depan pernikahannya.

Lupakan sekejap dongeng-dongeng percintaan yang melodramatis itu, sungguh saat ini sang puteri memiliki sebuah alasan yang lebih dari cukup untuk memutuskan mitsqalan ghalidza yang telah mereka genggam bersama selama kurang lebih 6 tahun ini, perceraian. Bagaimana tidak, ini tentang perselingkuhan, kawan.. sebuah hubungan haram yang dilakukan oleh seorang pangeran yang telah mendapat cinta dan kepercayaan seorang puteri shalihah seutuhnya. Ini jauh lebih menyakitkan daripada apabila sang pangeran menikah lagi, menjalani hubungan cinta yang halal dengan wanita lain, maka sang puteri akan ridha menerimanya, meski disertai linangan air mata.

Namun dengan bijak sang puteri menyadari bahwa hidupnya bukan dongeng, sekalipun hidup ini cerita, ia tak ingin kisah cintanya berakhir tragis seperti dongeng-dongeng itu. Perceraian? Pikiran itu mungkin pernah terbesit dalam jiwanya yang saat itu sedang kalut, akan tetapi saat ia menatap si mujahid kecil, gagasan itu terhapus sempurna, ada banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan dan didahulukan, masa depan dan kondisi psikologis si mujahid kecil, nama baik orang tua dan keluarga besarnya, hubungan pertemanannya dengan Raisa, dan perasaan sang pangeran. Pangeran yang saat pertama ia berjumpa, ada harapan agar ialah pengeran pangeran pertama dan terakhir yang akan terpatri di hatinya, selamanya.

Sang puteri memaafkan sang pangeran.

Ia tulus, benar-benar tulus melepas kekhawatiran yang membebani jiwanya, ia mengesampingkan egonya untuk perkara yang jauh lebih penting, Insya Allah. Ia memutuskan untuk kembali membuka lembaran baru dalam hidupnya. Sang pangeran berbinar, Masya Allah, Maha Suci Rabb yang telah menitipkan sesosok bidadari tanpa sayap yang begitu setia di sisinya. Maka ia menyesal, teramat menyesal telah mencampakkannya.

Aku mengenalnya melalui facebook, aku tahu ia sudah menikah namun ia wanita yang baik, hafidzah dan lulusan pesantren ternama, kami mulai berhubungan lebih akrab melalui pesan pribadi, setan menghasut kami setiap hari, setan menghiasi dirinya dalam pikiranku membuatku menganggapnya lebih cantik dari dirimu, kekhilafanku yang terbesar adalah saat aku memutuskan ingin menikahinya hingga ia berani meminta khulu’ dari suaminya dan bercerai. Saat itu tiba-tiba Allah menyadarkanku, Allah menghadirkan sosokmu dan si mujahid kecil dalam hatiku, ia tidak sebaik yang kukira, ia tidak sebaik dirimu, semua bayangan indah yang setan hiasi lenyap seketika, wanita yang tidak setia pada suaminya tidak akan setia pula padaku, aku menyesal. Aku salah. Aku khilaf. Maafkan aku.., demikian penjelasan sang pangeran.

Aku mengerti, sayang.. Tenang saja, aku memaafkanmu.. bahkan jauh sebelum engkau mengucapkan kata maaf itu.. Karena aku tidak ingin ada yang tersakiti dalam cerita cintaku. Sungguh Maha Suci Rabb yang telah menitipkan sekeping cinta yang tak begitu kokoh dalam hatiku untukmu, semburat rona kemerahan muncul di pipi sang puteri, ia tersenyum tulus,

Apakah engkau mencintaiku?

Eh? Apa maksudnya? Tentu saja..

Aku sangat mencintaimu..

Lebih..

Lebih, lebih, lebih.. aku menang. Kini engkau tidak bisa mengalahkan cintaku padamu..

Hahaha.., sang puteri tertawa lepas,

Adapun sang pangeran terdiam, ia bahagia sekali dapat kembali menatap teduhnya wajah ceria itu, senyum dan tawanya yang begitu ia rindukan.. Masya Allah, Tabarakallah.. kini luka itu telah sempurna tertutup, keadaan telah membaik, semua akan kembali seperti semula, Insya Allah.

Sang pangeran berbisik dalam hati, ya Allah, jagalah ia untukku.
Ucapan itu seketika menembus langit tanpa batasan bagaikan anak panah yang melesat bersama satu simbol : Amin!

And become us 


Kau tau? Perjalanan hidup manusia bak sebuah buku, sampul depan kelahiran dan sampul belakang adalah kematian. Adapun lembaran-lembaran di dalamnya adalah hari-hari yang telah, sedang dan akan dilalui.. seburuk dan sekusut apapun lembaran yang telah berlalu, selalu ada lembar baru yang masih kosong untuk diisi, memperbaiki dan mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi kemarin agar lebih baik di kemudian hari.

Tidak ada kata terlambat. Kita tidak mungkin lepas dari dosa, bukankah manusia memang tempatnya salah dan lupa? Namun yang menjadi tugas kita adalah menghindari episode-episode pembangkangan yang berkelanjutan.. kewajiban kita adalah terus memperbaiki diri setiap saat, itulah saat yang tepat untuk dapat dikatakan ‘dalam rangka’ beribadah.

Setiap kesulitan pasti diikuti oleh kemudahan, itu janji Allah. Tinggal bagaimana kita, seberapa percaya dan berbaik sangka kita pada-Nya.. Bukankah Ia dalam persangkaan hamba-Nya?

Segala sesuatu memiliki 2 sisi berlawan seperti koin, ada sisi baik dan ada sisi buruk, semua tergantung dengan seberapa bijak kita dalam memanfaatkannya.. pun media sosial, boleh jadi kita mengambil himah darinya, dan boleh jadi pula kita terjerumus dalam fitnah di dalamnya.. maka berhati-hatilah menjaga hati, kita makhluk yang selalu lupa namun setan –yang sejatinya musuh kita- tidak pernah lupa, ia dan nenek moyangnya telah begitu berpengalaman ribuan tahun menggoda manusia, mengajak manusia untuk ikut menemaninya di Jahannam, Naudzubillah..

Maka berbuat adillah, saudariku.. tempatkan sesuatu pada tempatnya, ambil yang bermanfaat dan tinggalkan yang ber-mudharat.. bertakwalah di manapun engkau berada, ikutilah keburukan dengan kebaikan dan pergauli manusia dengan pekerti yang baik.

Milikilah hati yang cantik, tak peduli apakah orang lain menyadari kecantikan itu atau tidak, yang jelas kecantikan seperti inilah yang akan abadi, tak akan lekang di makan zaman, insya Allah.

Look back and thank Allah.
Look forward and trust Allah.
Allah closes the door that no one can open.
Allah opens the door that no one can close.


Wallahu A’lam.
Selesai.

Based on true story.
Bismillahirrahmanirrahim.

Raisa yang tahu bahwa sang puteri tinggal di Jakarta berniat ingin berkunjung ke rumahnya karena katanya ia hanya sendirian di sini, sang puteri menyambut dengan senang hati dan berjanji akan izin pada sang pangeran terlebih dahulu sebelum ia berkunjung, meski ada ragu yang mendera, ia berharap memiliki saat yang tepat untuk mengingatkannya, berdialog dari hati ke hati nantinya, bagaimanapun juga ia teman kecilnya, ia akan tetap menyayanginya karena Allah.

Sayang, teman kecilku akan berkunjung kemari.. bolehkah?, ujar sang puteri di suatu pagi sembari menyiapkan sarapan,

Oh ya? Siapa ia?, sang pangeran mendongak menatapnya,

Namanya Raisa, kami sudah lama tidak bertemu, kini ia tinggal di Jakarta sendirian.. dan ia seorang janda..,

Tiba-tiba raut wajah sang pangeran berubah, Jangan, aku tidak mengizinkan, itu berbahaya, kau tahu?, jawab sang pangeran

Eh?, sang puteri bingung, aku tidak mengerti..

Rumah tangga kita baik-baik saja saat ini, aku khawatir bila kawanmu yang janda itu datang, ia akan merusak pikiranmu dan mempengaruhimu dengan sugesti-sugesti buruk tentang pernikahan..

Sang puteri tak begitu memahami alasan tersebut, ia tentu tak ingin berburuk sangka kepada kawannya, namun bagaimanapun juga ia tetap mematuhi perintah kekasihnya, ia yakin Insya Allah ada hikmah dibalik semua ini. Akhirnya sang puteri menyampaikan hal tersebut pada Raisa sebaik-baiknya agar ia tak tersinggung.. dan Alhamdulillah Raisa dapat memahami keputusannya meski dengan berat hati.

Sore itu langit Jakarta tampak begitu gelap, hujan turun dengan derasnya, angin bertiup cukup kencang, Subhanallah.. suasanya dingin menyeruak memasuki tiap ruang, membuat siapapun malas beranjak kemana-mana, satu-satunya hal menyenangkan yang bisa dilakukan adalah menghangatkan tubuh dengan berselimut di dalam rumah dengan ditemani segelas cokelat panas. Rintikan hujan telah membasahi setiap jengkal tanah halaman rumahnya, ada beberapa tangkai pohon bunga di sana, ada yang masih menguncup, ada yang telah merekah sempurna dan adapula yang mulai layu, Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan begitu sempurna.

Sang puteri keluar kamar, ia berdiri mematung di depan jendela, menatap tiap bulir tetesan hujan yang jatuh ke bumi, ia termenung.. suasana hatinya semendung langit Jakarta saat ini, hey, ada sesuatu yang mengganjal di sana. Ia memejamkan mata sesaat sebelum menarik nafas dalam-dalam, ada yang harus ia lakukan (atau lebih tepatnya, ia tanyakan) untuk menghapus kegundahan yang telah menderanya sejak beberapa hari lalu. Maka dengan keyakinan yang masih bercampur keraguan, ia meraih HP nya, membuka whatsapp dan mengirim pesan untuk seseorang, Raisa..

Ukhti Raisa, afwan.. kalau boleh tahu nama lengkapmu siapa?

Cling! Sebuah pesan masuk,

Raisa Ummu Fathi.. kenapa?

Deg! Suatu perasaan menikam hatinya tiba-tiba, prasangka demi prasangka mengalir memasuki pikirannya, ah, tidak, tidak.. aku harus tetap berprasangka baik, pada kawanku, apalagi pada kekasihku, nama yang sama bukan berarti orang yang sama juga.. boleh jadi ada jutaan orang yang memiliki nama tersebut. Ia menepis semua prasangka buruk itu. Masya Allah, inilah potret sang puteri yang selalu memancarkan cahaya kebaikan di setiap waktu.

Tidak, aku hanya bertanya, aku terlupa nama lengkapmu.., demikian ia tulis balasan whatsappnya, kemudian ia menutup aplikasi tersebut.

Waktu semakin beranjak malam, langit gelap karena hujan semakin bertambah gelap, pertanda matahari akan segera tenggelam sebentar lagi, sang puteri berwudhu, menyucikan diri untuk menghadap Ilahi, ia memakai mukenanya, menunggu waktu maghrib, menunggu momen tepat untuk mengadukan setiap beban yang terpikul begitu berat dalam jiwanya, demikianlah ia, menahan tangis hingga tiba sepertiga malam terakhir untuk kemudian ditumpahkannya semua pada yang Maha Menggenggam tiap-tiap jiwa, ia selalu berusaha membuat semua orang di sekitarnya percaya bahwa ia baik-baik saja.

Cling! Sebuah pesan masuk, ia menatap layar Hpnya sekilas, bukan saat yang baik untuk berkomunikasi, pikirnya. Pesan itu tak menarik perhatiannya jika yang mengirim bukan Raisa, ada apa ini? Kenapa tiba-tiba sekali di waktu seperti ini? Dengan bergetar, ia mengambil HP nya, membacanya dengan seksama,

Hei, kenapa tidak langsung menanyakan yang sebenarnya saja?

Eh? Apa maksudnya?, sang puteri tidak paham,

Aku tahu siapa suamimu, namanya Fulan bin Fulan kan?

Sang puteri tersentak kaget, bagaimana Raisa tahu? Ia tak pernah menceritakan apapun tentang kekasihnya, sedikitpun, pada siapapun, termasuk namanya..

Bukankah ini fotonya?, Raisa mengirimkan sebuah foto,

Setelah foto ter-download, mata sang puteri sempurna membulat demi melihat foto kekasihnya ada pada teman kecilnya itu, hatinya luruh seketika,

Kau ini benar-benar wanita polos yah? Kau tidak tahu media sosial facebook, sampai-sampai engkau tidak tahu kalau kekasihmu telah berselingkuh di belakangmu dengan wanita lain, kasihan sekali kamu.., kata-kata Raisa sukses mencabik-cabik hatinya yang indah, air mata mulai mengalir perlahan, membasahi mukena dan sajadahnya yang suci.

Ah, tiba-tiba sang puteri teringat sesuatu, beberapa waktu yang lalu sang pangeran meminta izinnya untuk menikah lagi, awalnya ia keberatan, namun karena sang pangeran terus menerus mendesaknya, bahkan hari demi hari hal itu terus yang selalu menjadi topik pembicaraan antar keduanya, akhirnya ia menyerah, ia membolehkan.. sungguh ia telah ridha dan menerima apabila kekasihnya membagi cintanya untuk wanita lain di jalan yang halal, poligami.. bukan perselingkuhan. Ya Allah, pangeran, apa yang telah engkau lakukan pada sang puteri yang senantiasa patuh padamu ini?

Raisa masih melanjutkan pesannya, aku telah mengenal suamimu lebih dalam dibanding engkau mengenalnya, ia selingkuhanku, kau tau? Kami mulai berhubungan saat engkau sedang hamil anakmu itu.. Namun ia mengkhianatiku, mengkhianati janjinya sendiri, ia meninggalkanku sendirian sekarang, meski ia masih menanggung kebutuhan hidupku, meski ia masih menafkahiku tiap bulannya sekian juta..  tapi ia pikir semuanya akan kembali seperti semula dengan ia melakukan itu? Ia pikir luka hatiku akan segera sembuh dengan ia memberiku uang sekian dan sekian? Ia pikir aku tidak bisa balas dendam? Suamimu telah merusakku, suamimu telah merobohkan rumah tanggaku, suamimu telah menghempaskan kebahagiaanku.. ia menelantarkanku, ia menghancurkan dongengku untuk membangun dongengnya sendiri.. sejujurnya aku kasihan padamu, kau wanita yang menyedihkan, benar-benar menyedihkan..

Sudah cukup, kumohon.., bisik sang puteri dalam hati, air mata terus menerus membasahi pipinya, ia sudah tidak kuat lagi, air mata telah tertumpah seluruhnya. Ya Rabb, tak pernah sekejap-pun sang puteri membayangkan hal seperti ini akan terjadi, tak pernah barang sedetik saja, ia teramat percaya pada kekasihnya, ia teramat yakin bahwa istananya telah cukup membentengi keluarga kecilnya dari setiap gangguan dari luar,  ia telah berusaha semaksimal mungkin melayani sang pangeran, ia telah memberikan hatinya seutuhnya.

Sang puteri menutup HP nya, masih ada sepotong hati yang tetap mempercayai sang pangeran, dan ia akan tetap lebih mempercayainya jauh daripada ia mempercayai kawan yang telah lama tidak bertemu kemudian tiba-tiba datang dan merusak pernikahannya, ia tak ingin sepotong hati itu ikut tergores juga. Maka dengan gemetar, ia mematikan HP nya dan menyimpannya.

Ya Allah, help me..


Seketika itu adzan Maghrib berkumandang, dengan mukena yang penuh tumpahan air mata, ia tulus, benar-benar tulus menyerahkan semua perkaranya pada Rabb yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar, ia mengucapkan setiap doa yang ia hafal, untuk saat ini, hanya satu hal yang ia pinta, agar bahtera rumah tangganya tidak kandas terhempas badai, satu itu saja. Maka saat itu, doanya, doa sang puteri yang terdzalimi sempurna menembus langit tanpa penghalang apapun.

Malam menjelang, sang puteri tidak nafsu melakukan apapun, tubuhnya lemah, ia masih saja menangis sembari memeluk sang mujahid kecilnya.. sampai tiba waktu sang pangeran pulang. Biasanya ia selalu setia menunggunya di depan pintu, membukakan pintu dan menyambutnya dengan memasang wajah ceria dengan senyum terindahnya, membawakan tasnya kemudian menemaninya makan malam dan mendengarkan ceritanya atau terkadang ia yang bercerita, apapun itu.. mulai dari eksperimen resep baru yang gagal sampai tingkah lucu sang mujahid kecil.

Namun malam itu berbeda, tentu saja, tabir kedustaan telah tersingkap persis di depan matanya. Maka saat sang pangeran salam kemudian membuka pintu, ia mendapati sang puteri tengah berbaring termenung di kasur menghadap tembok, sang pangeran tahu pasti ada sesuatu yang salah.

Ada apa, cinta?, ujar sang pangeran membuka pembicaraan, ia duduk di salah satu sisi ranjang,

Sang puteri mengambil nafas panjang, mengusap sisa air mata yang masih membekas di pipinya, ia beranjak duduk, memandangi punggung kekasihnya untuk kemudian ia usap dengan lembut,

Sayang, kau tahu, kita sudah bertahun-tahun menikah.. maka tak perlu ada lagi yang disembunyikan satu sama lain. Aku ingin bertanya sesuatu, tapi aku mohon, engkau menjawab dengan jujur.. Demi Rabb yang telah menyempurnakan mozaik cinta dalam hatiku untukmu, aku lebih menyukai kebenaran walaupun itu pahit, daripada kedustaan meskipun itu manis..

Ya, aku mengerti, apa pertayaanmu?

Sayang, apakah engkau mengenal Raisa Ummu Fathi?, sang puteri berusaha sepenuhnya untuk tidak terbata-bata, namun air mata tiba-tiba mulai menggenang lagi. Sang pangeran tertunduk demi mendengar nama itu.

Ya, aku mengenalnya..

Ya Allah, runtuh sudah benteng pertahanan air mata sang puteri mendengar ucapan kekasihnya, Ya Rabb, jadi apa yang dikatakan Raisa itu benar, sepenuhnya benar..

Sang pangeran mendongak, menyentuh bahu sang puteri, menatapnya lamat-lamat,

Engkau sudah tahu semuanya?

Sang puteri mengangguk tergugu, lidahnya kelu, tubuhnya bergetar hebat, kaki dan tangannya mendingin..

Lalu maukah engkau mendengar penjelasanku? Aku akan menjelaskannya dengan jujur padamu..

Ini bukan saat yang tepat, aku butuh waktu untuk menenangkan diri, pikir sang puteri dalam hati, maka akhirnya iapun menggeleng lemah. Sang pangeran mengerti, ia paham bagaimana perasaan kekasihnya, ia tahu bahwa hati lembut itu butuh waktu untuk diperbaiki kembali.


Semenjak malam itu, waktu terasa lama sekali berputarnya, sang putri masih berduka, air matanya masih juga belum berhenti mengalir, adapun sang pangeran masih tetap berusaha menghiburnya, meminta maaf berkali-kali. Disadari atau tidak, setiap ucapan maaf dan hiburannya itu sedikit demi sedikit mulai memperbaiki kembali kepingan hati yang telah hancur merapuh itu, bagaikan puzzle yang satu per satu saling melengkapi hingga lengkap seutuhnya, tak sesempurna sebelumnya memang, tapi paling tidak, ada sepotong hati yang baru di sana.

Bersambung Insya Allah...


Based on true story.
Bismillahirrahmanirrahim.

Kisah ini berawal dari sebuah pernikahan yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Sepasang insan Allah bersamakan dalam mahligai rumah tangga yang harmonis setelah melewati beberapa waktu yang tidak lama untuk khitbah dan ta’aruf.

Seorang gadis shalihah kini berganti status dari single menjadi menikah, Masya Allah, Tabarakallah.. betapa beruntungnya pangeran yang berhasil memiliki hatinya seutuhnya, karena aku tahu, aku amat tahu bagaimana kesempurnaan akhlak dan agamanya. Maka dimulailah lembaran baru kehidupan mereka bersama.

Kedua insan yang baik, mereka saling menyayangi dan mengasihi layaknya puteri dan pangeran, mereka menjalani hari-hari kebersamaannya dengan penuh cinta. Hingga suatu saat Allah melengkapi kebahagiaan mereka dengan lahirnya si buah hati, mujahid kecil bagi umi-abi.

Episode demi episode berlalu dengan happy, momen demi momen berharga terpatri dalam jiwa, Masya Allah, keluarga kecil yang indah. Seolah Allah menciptakan sebuah pohon cinta bagi sepasang insan tersebut yang mereka rawat tiap waktu. Kau tahu? Bila engkau mengenal mereka, engkau akan melihat bahkan setelah berlalu beberapa tahun setelah hari pernikahan mereka, mereka masih tetap romantis seperti baru saja menikah, mereka sering saling memberi hadiah atau kejutan kecil satu sama lain, sekuntum bunga dari sang pangeran, masakah hasil eksperimen resep baru dari sang puteri. Ah, mungkin inilah sebab langgengnya kebahagiaan mereka.

Masalah-masalah kecil memang ada, dan akan selalu ada, bukan? Tapi mereka selalu berhasil menghadapinya dengan mudah, seolah masalah hanya sebagai asam-garam kehidupan saja, tak menjadi beban yang berarti. Tabarakallah, betapa luasnya rahmat yang Allah karuniakan pada mereka. Bagaimana tidak? Sang puteri yang senantiasa terjaga dalam istananya, ia patuh akan perintah kekasihnya, ia merawat segala hal dengan penuh kelembutan, adapun sang pangeran, ia ikhlas menghabiskan banyak waktu di luar rumah demi menghidupi sang puteri dan mujahid kecilnya, ia begitu dermawan dan ringan tangan, tak pernah mengkhawatirkan hal yang telah Allah tetapkan untuknya, dan mungkin karena itulah Allah mudah sekali menghamparkan rezeki bagi mereka, selalu ada saja surprise berupa rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Berlalu sudah 6 tahun usia pernikahan mereka, semua tampak begitu sempurna, sungguh sang puteri tak putus-putusnya memuji Allah akan segala nikmat dan anugerah yang tak pernah terputus dalam tiap hari-harinya. Tak pernah ada sesal sedikitpun dalam dirinya setelah pernikahan itu, bahkan tiap kali ia terbangun dari tidurnya kemudian menemukan sang pangeran dan si mujahid kecil di sisinya, ia amat lega, ia sangat bersyukur untuk keberadaan keduanya sebagai mozaik yang melengkapi kehidupannya, kini sempurnalah baginya semua kebahagiaan, Masya Allah.

Sang puteri adalah gadis yang shalihah, ia tak ingin kebaikan menyelimuti diri dan keluarganya saja, ia sayang pada kawan-kawannya, ia juga mencintai setiap muslimah dan setiap orang yang dikenalnya karena Allah. Ia berharap bisa masuk syurga bersama mereka semuanya.. karenanya ia tak pernah berhenti mengingatkan kami banyak hal, tentang syurga, neraka, kehidupan akhirat, hisab, mahsyar, semuanya.. membuat kami lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala sesuatu.

It's you !

Suatu hari, ia membuka HP sang pangeran, ada satu foto poster dakwah yang telah ia lihat sebelumnya dan hendak ia fordward ke HP nya untuk kemudian disebarkan lagi kepada teman-temannya. Ia telah mengirim foto poster dakwah itu.. kemudian Qadarullah tanpa sengaja, benar-benar tak sengaja jarinya menyentuh sebuah foto lain, ternyata hanya sebuah bukti transfer.. ia membaca sekilas, rupanya sang pangeran baru saja mentransfer sejumlah uang (dengan nominal jutaan) dengan keterangan shadaqah ditujukan kepada seseorang dengan nama nasabah Raisa Ummu Fathi.. eh, Raisa? Bukankah itu nama salah satu teman kecilnya?

Ah, jangan suudzon, hanya sama suku pertama namanya saja, lagipula ini bukti transfer shadaqah, mungkin ia seorang janda yang memang membutuhkan bantuan, pikirnya. Ia sempat sedikit penasaran, karena biasanya sang pangeran selalu mendiskusikan segala hal sebelum memutuskannya, namun ia langsung menepisnya segera.. ia mencari banyak alasan untuk husnuzon, mungkin sang pangeran lupa menyampaikan, ia percaya padanya, ia amat sangat percaya bahwa sang pangeran tidak mungkin melakukan suatu hal yang dilarang agama, kecuali Allah menghendaki.

Sang putri melupakan kejadian itu tak berapa lama hingga beberapa hari kemudian, seorang teman menghubunginya melalui whatsapp, teman kecilnya, Raisa. Deg! Sesuatu bergetar dalam hatinya, teman kecil (mereka bertemu di taman kanak-kanak) yang sudah tidak bertemu selama 10 tahun tiba-tiba menghubunginya, darimana ia mendapat nomornya? Tidak ada apa-apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Insya Allah, ini hanya kebetulan.. ujarnya dalam hati. Hubungan pertemanan yang telah lama terputus karena jauhnya jarak kini mulai bersemi kembali, itu yang ia harapkan.

Teman kecilnya itu, Raisa, menceritakan banyak hal, ia bilang bahwa ia telah menyelesaikan sekolahnya di salah satu pesantren ternama dan telah menghafal Al-Quran seluruhnya (hafidzah), sang puteri senang mendengarnya, ia yakin bahwa kawannya telah menjadi sosok yang lebih baik darinya, eh lalu bagaimana statusnya saat ini? Apakah ia sudah menikah juga?

Sudah, jawab Raisa, namun sudah bercerai..

Eh, kenapa?, Sang puteri berusaha untuk tetap husnudzon.

Aku yang minta khulu’ karena aku berselingkuh dengan lelaki lain, lanjutnya tanpa beban.

Astaghfirullah Raisa, bagaimana mungkin? Kamu tau perbuatan itu merupakan dosa besar, kan? Kamu jauh lebih mengerti agama dariku..

Aku tahu, tapi aku tidak mencintai suamiku, lelaki itu jauh lebih mencintaiku, ia berjanji akan menikahiku jika aku bercerai dengan suamiku..

Sang puteri tak habis pikir, ia beristighfar berkali-kali, mengingatkan kawannya untuk kembali ke jalan yang benar, menjalani cinta yang halal.. namun tak disangka, Raisa malah beberapa kali menjawab dengan kata-kata kasar, Subhanallah, Innalillah.. musibah apa ini? Tak pernah sekalipun ia menyangka bahwa salah satu kawannya akan ada yang sampai berani melakukan perbuatan keji seperti itu tanpa perasaan bersalah sama sekali meski ia berkali-kali mengingatkan.

Namun setelah bercerai, lelaki itu meninggalkanku, ia menyelisihi janjinya, ia menikah dengan perempuan lain dan telah memiliki anak. Kini aku tinggal di Jakarta, aku sudah tidak memakai hijab panjang dan cadar lagi, aku datang ke sini sendirian untuk membalas dendamku, untuk menghancurkan rumah tangganya sebagaimana ia telah merusak rumah tanggaku, kau tau bagaimana terlukanya aku?

Astaghfirullah, Istighfar saudariku.. kau tahu, mungkin itu semua petujuk bahwa lelaki itu bukan jodoh yang Allah tentukan untukmu, sekarang yang bisa engkau lakukan hanya bertaubat pada Allah untuk khilaf yang telah terjadi.. meski lelaki itu telah berbuat keji padamu, bukan berarti engkau boleh membalas perbuatan sebagaimana yang telah ia lakukan, engkau hanya akan mendzalimi istri dan anaknya..

Raisa tak peduli, ia tetap pada pendiriannya.. semakin ia menegurnya, selembut apapun itu, Raisa malah sebaliknya, ia semakin sering melontarkan kata-kata kasar begitu ringannya, sang puteri yang begitu halus perasaannya tak sanggup membaca perkataan semacam itu, akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri pembicaraannya dan mengalihkan ke topik lain.


Raisa yang tahu bahwa sang puteri tinggal di Jakarta berniat ingin berkunjung ke rumahnya karena katanya ia hanya sendirian di sini, sang puteri menyambut dengan senang hati dan berjanji akan izin pada sang pangeran terlebih dahulu sebelum ia berkunjung, meski ada ragu yang mendera, ia berharap memiliki saat yang tepat untuk mengingatkannya, berdialog dari hati ke hati nantinya, bagaimanapun juga ia teman kecilnya, ia akan tetap menyayanginya karena Allah.

Besambung Insya Allah...
Bismillahirrahmanirrahim..



Rangkaian kata ini, kutulis dengan segenggam asa yang kuharap tak pernah padam.

Untukmu wahai saudari..
Tak ada kata sengaja dalam kisah ini..
Aku datang bersama hidupku, dan kau datang bersama kisahmu..
Tak serupa, namun kita tetap sama..
Begitulah aku dan kamu pada awal kisah, sebelum akhirnya menjadi 'kita'..
Dan hari itupun datang..
Hari dimana kita berbicara tanpa saling kenal..
Seperti yang telah kukatakan, tak ada kata sengaja..
Hari berikutnya, masih tetap sama..
Dalam keadaan yang juga tak sengaja, kita kembali berjumpa..
Hingga pada akhirnya, kita berjumpa dan bahkan berbicara dalam keadaan saling mengenal..
Bukankah itu sebuah anugerah?
Kita bertukar sapa, bercerita, bercanda, bahkan menangis bersama.
Kisah ini, yang kuharapkan tetap sama..
Seperti hari-hari lalu, hingga esok, lusa dan juga nanti..
Kisah ini, yang selalu kujadikan doa, agar dapat menjadi jembatan menuju jannah-Nya..


Aku dan kamu.. kita.. adalah teman.
Kita datang dalam keadaan berbeda..
Lalu merajut kisah, hingga kitapun menjadi sama..
Memang tak ada kata sengaja dalam pertemuan lalu, namun juga tak ada kata menyesal setelahnya.
Pertemanan yang indah..
Yang kita lukis dengan menyertai nama-Nya..
Yang kita iringi dengan ketaatan kepada-Nya..
Kisah ini..
Kisah tanpa sengaja ini..
Yang kuharap dapat tetap kokoh,
Tak terkikis termakan waktu, tak pudar terbatas jarak..
Sampai kapanpun, julukan teman terindah itu akan tetap ada..
Mari kita bergenggaman tangan,
Karena teman indah sepertimu,

Terlalu sayang bila kita lepas genggaman sebelum sampai jannah-Nya.
Bismillahirrahmanirrahim..


S : Berapa jumlah Surah dlm al-Qur'an ?
J : 114 Surah

S : Berapa jumlah Juz dlm al-Qur'an ?
J : 30 Juz

S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Qur'an ?
J : 60 Hizb

S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Qur'an ?   
J : 6236 Ayat

S : Berapa jumlah Kata dlm al-Qur'an ?, dan Berapa Jumlah Hurufnya ?   
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf

S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Qur'an ?,    
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun
HamalatulArsy, dll.

S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Qur'an?   
J : 14 Sajdah

S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Qur'an ? 
J : 25 Nabi

S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Qur'an ?, sebutkan.  
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra'd, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr.

S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Qur'an ?sebutkan.    
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas.

S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Qur'an ?    
J : 29 Surah.

S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyah ?, sebutkan 10 saja.
J : Suarah Makiyah adalah Surah yg diturunkan sebelum Hijrah, seperti : al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra', al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq.

S : Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyah? sebutkan lima saja ?    
J : Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan setelah Hijrah, seperti : al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj.

S : Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Qur'an?
J : Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa', Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw.

S : Siapakah satu-satunya nama wanita yg disebut namanya dlm al-Qur'an?     
J : Maryam binti Imran.

S : Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm al-Qur'an?    
J : Zaid bin Haritsah.

S : Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah?    
J : Surah at-Taubah.

S : Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah?     
J : Surah al-Naml.

S : Apakah nama Surah yg bernilai seperempat al-Qur'an?
J : Surah al-Kafirun.

S : Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga al-Qur'an?
J : Surah al-Ikhlas

S : Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur?
J : Surah al-Mulk

S : Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang minggu ?
J : Surah al-Khafi

S : Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa?
J : Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat No.255

S : Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya ?
J : Surah al-Fatihah, tujuh ayat.

S : Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa?
J : Firman Allah Swt :" Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat, Surah al-Zalzalah ayat 7-8.

S : Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya ?
J : Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77.

S : Pada Kata apakah pertengahan al-Qur'an itu di Surah apa ?
ayat no Berapa ?
J : وليتلطف Surah al-Kahfi ayat No. 19.

S : Ayat apakah bila dibaca setiap habis Shalat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga ?
J : Ayat Kursi.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa ?
J : Ayat  فبأي آلاء ربكما تكذبانِ ) pada Surah al-Rahman.

S : Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa ? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa ?
J : Ayat ( ويل يومئذ للمكذبين ) pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthafifin ayat No. 10.

S : Apakah Ayat terpanjang dlm al-Qur'an ? pada Surah apa? Ayat berapa?
J : Ayat No 282 Surah al-Baqarah.

Wallahu A’lam
Semoga bermanfaat.