Latest Posts

Bismillah.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 🍃
Apa kabar teman-teman? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya..


Dua bulan kedepan ini kita punya banyak waktu luang insya Allah, jadi mari kita memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat, karena boleh jadi, kita tak dapat mengambil hikmah yang sama di kemudian hari.

"Liburan Semester Genap"
Bagaimana kita bisa memanfaatkan waktu?
Pertama, buat sesi dialog dengan diri sendiri dan tanyakan kepada diri kita masing-masing apa yang kita sukai, bidang apa yang ingin kita kuasai saat ini atau kebiasaan apa yang ingin kita latih, pertanyaan-pertanyaan ini akan membantu kita mengatur prioritas kita dan membantu mengidentifikasi tujuan yang dapat kita gunakan untuk mengisi waktu liburan.

Kedua, manfaatkan waktu dengan hal-hal bermanfaat seperti:
1 / Menghafal Alquran
Yaitu dengan menentukan waktu tertentu untuk menghafal dan membaca tafsir atau memahami ayat-ayat yang telah kita hafalkan.. Kita juga perlu membuat jadwal agar terus kontinyu selama liburan ini.

2 / Membaca buku
Masing-masing kita memiliki selera buku yang berbeda-beda, karenanya kita bisa merencanakan sejak awal buku yang kita sukai untuk dibaca, pastikan juga buku yang kita pilih bermanfaat.

3 / Mengembangkan keterampilan
Misalnya, kita menyukai keterampilan menulis / handlettering, gunakan liburan kita untuk berlatih, contoh lain jika kita suka mempelajari bahasa atau ingin meningkatkan keahlian berbahasa, manfaatkan liburan untuk banyak praktik atau mendengarkan percakapan agar lebih fasih, contoh lain misalnya belajar menjahit, memasak, berkebun dan keterampilan lain yang positif.

4 / Membiasakan Ibadah Sunnah
Tetap menjaga kewajiban beribadah tepat waktu, kemudian dilanjutkan dengan membiasakan ibadah Sunnah, shalat Witir, puasa Senin Kamis, Dhuha, dan lain sebagai nya..
Serta terus mendawamkan membaca Alquran, karena meski telah selesai bulan Ramadhan, Jangan sampai kita terputus dari Alquran. Mari semangat lagi di liburan ini memperbanyak membaca Quran 🌱 ..

Dan ada banyak lagi aktivitas-aktivitas yang dapat dilakukan selama liburan ini, teman-teman bisa merencanakannya sejak sekarang juga..

Yang terpenting, Jangan sampai kita menyelesaikan liburan ini tanpa faidah, mari kita melakukan hal-hal baik dan mendapatkan banyak manfaat pada liburan ini! Karena ini adalah kesempatan kita! 🌿💕
Dua bulan itu waktu yang cukup lama.


Karena dalam satu menit saja, menurut Dr. Aidh Abdullah Al Qarni, kita bisa membaca 100 kali istighfar, membaca beberapa ayat Al-Quran, membaca empat halaman buku, menulis sebanyak empat baris, mengahafalkan satu bait syair, membaca lima kali shalawat, sujud, berdoa dan banyak lagi.


Bismillah.


Tahun 1999 merupakan hari yang bersejarah bagi K.H. Mustofa Mughni, M.A (Pimpinan Pesantren Daarul Mughni Al Maaliki) karena pada hari itulah beliau pertama kali membeli tanah seluas 300  dari hasil menjual 1 buah mobil untuk dibangun sebuah pesantren yang kini memiliki santri lebih dari 1.000 orang. Pada awalnya, pesantren yang diberi nama Daarul Mughni ini disediakan untuk orang-orang fakir dan yatim yang tinggal di lingkungan sekitar dengan jumlah santri sebanyak 43 orang, saat itu, K.H. Mustofa yang berperan mengajar dan istri beliau memasak untuk para santri.

K.H. Mustofa adalah salah seorang pengusaha sukses sebelum beliau mendirikan pesantren, beliau pernah berkecimpung dalam usaha impor komputer bersama Ustadz Yusuf Mansur.

“Dulu saya kaya, saya merasa kerja keras saya berhasil, tapi hancur semua, tidak berkah. Tapi sekarang, saya sadar bahwa kekayaan saya bukan sepenuhnya milik saya, ada hak orang lain di sana” ujar beliau kepada kami saat kami berkesempatan berkunjung pada Jumat, 7 Desember 2018 lalu.

من أراد الدنيا فعليه بالعلم, و من أراد الأخرة فعليه بالعلم, و من أراد كلاهما فعليه بالعلم
‘Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka ia bisa didapat dengan ilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia bisa didapat dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka ia bisa didapat dengan ilmu’

Sebelum membangun pesantren, K.H. Mustofa memutuskan untuk menabung dan berpikir bagaimana caranya memiliki cukup uang. Beliau juga berharap kedepannya akan ada ustadz-ustadz yang bergelar sarjana ekonomi, pagi ke bank dan sore dakwah, sehingga ekonomi Islam di Indonesia bisa bangkit dimulai dari pesantren. Menurut beliau, Indonesia hancur bukan karena orang bodoh, justru di Indonesia ini Alhamdulillah ada banyak orang yang pintar, tapi sayangnya masih kurang iman. Sedangkan yang dibutuhkan adalah orang-orang pintar yang ahli ekonomi dan di sisi lain agamanya kuat.

Meski telah menjadi pimpinan pesantren, jiwa pengusaha beliau masih sangat kuat, hal ini terbukti dengan tingginya tingkat kemandirian ekonomi pesantren yang dipimpinnya, banyak sektor yang dimanfaatkan oleh ustadz melihat peluang pasar dengan memenuhi kebutuhan masyarakat dan para santri di sekitarnya. Dimulai dari minimarket yang menjadi tangan kedua dari perusahaan sehingga harga yang dijual bisa lebih murah, percetakan, konveksi (termasuk juga sablon dan bordir), menawarkan waralaba ayam goreng, klinik dan apotik hingga penyewaan bus. Dan dengan banyaknya usaha yang kini dikelola oleh pesantren, biaya pendidikan menjadi lebih terjangkau karena tersubsidi dari keuntungan dari usahanya.


Dalam berbisnis, modal bukan menjadi penentu utama, modal juga penting, tapi ada 4 hal yang lebih penting: kemauan, modal, intuisi dan trik. Karena banyak orang yang ketika dikasih modal, mereka juga bingung akan berbisnis apa. Penting juga untuk masuk ke dalam sistem, dengan mengerti ilmu dan proses kerjanya, kita bisa mendapatkan keuntungan.

Dalam bisnis minimarket misalnya, memang kita tidak bisa mandiri 100%, kita membutuhkan pihak-pihak lain yang membantu. Awalnya minimarket di pesantren beliau merupakan waralaba dari salah satu ritel waralaba terkenal di Indonesia, dan sejak pertama kali didirikan, minimarket tersebut laku keras dengan pasar 1.000 santri dan masyarakat sekitar yang hendak memenuhi kebutuhannya. K.H. Mustofa pun mempelajari bagaimana sistem bisnis ini agar minimarket nya tidak menjadi tangan ketiga, tapi menjadi konsumen tangan kedua.

Beliau menelusuri bagaimana caranya dapat berhubungan dengan para pemain tangan pertama yang merupakan perusahaan penyuplai tanpa melalui distributor. Ketika menemui perusahaan-perusahaan tersebut, rupanya ada minimal pembelian jika dilakukan langsung dari mereka sejumlah 1-2 truk per pembelian. Beliau yang telah mempertimbangkan segmentasi pasar memutuskan untuk menerima persyaratan tersebut dan rupanya keputusan beliau berdampak positif, harga yang harus dibayar jauh lebih murah sehingga orang-orang bisa membeli di minimarketnya dengan harga yang juga lebih terjangkau. Pada akhirnya, minimarket nya lepas dari ritel waralaba dan menjadi minimarket yang mandiri.

K.H. Mustofa berprinsip bahwa tanpa uang, kita tetap bisa membuat usaha. Daripada kerja pada orang lain, beliau lebih memilih untuk menjadi tukang bebek, yang awalnya beli sepasang, dengan ketekunan dan ketelatenan, bisa jadi ratusan. Beliau mencontohkan salah satu teman beliau yang merupakan penjuang melon, ketika usaha mandirinya disertai dengan ilmu tentang sistem, Alhamdulillah kini bisa punya mobil mewah, bagaimana caranya? Teman beliau menjual melon bukan di pasar, tapi menyuplai langsung ke supermarket, hotel dan restoran.

Pesantren harus punya mutu agar menarik dan bermanfaat. Jika ada sekolah gubuk yang bisa mendidik anak-anak untuk pintar berbahasa Inggris, kemudian ketika ada acara ditampilkan kemampuan anak-anak yang kualitasnya bagus, harga masuknya fantastis. Oleh karenanya, dimanapun bidang kita, perbaiki kualitas, jangan dulu membicarakan harga, bicarakan mutu. Nanti ketika orang-orang sudah percaya, Insya Allah akan mudah menariknya, karena sudah punya ciri khas.

Adapun dunia pendidikan, pesantren khususnya, yang paling penting adalah bagaimana sistem pendidikannya bisa membentuk karakter anak-anak santri, mengubah mereka menjadi lebih baik dengan manhaj dan kurikulum yang bagus. Insya Allah dengan begitu, kita akan membangun generasi yang memiliki kemandirian dalam keterampilan hidup, insya Allah.

Bismillah.



Dalam setiap lafadz yang terucap, dalam setiap kata yang tertulis, selalu ada makna atau pesan yang hendak tersampaikan. Karena manusia tidak mampu membaca isi hati orang lain, Allah Maha Kuasa menganugerahkan lisan untuk bertutur, mengungkapkan segala rasa yang ada.

Dalam ilmu Ushul Fiqh, sebuah kata diletakkan untuk suatu makna.
Sebuah kata berarti kata tertentu yang jumlahnya jelas, yaitu satu digunakan untuk suatu makna, artinya mengandung lebih dari satu makna. Karena 'suatu' tidaklah menunjukkan jumlah tertentu.

Bagaikan piring yang berfungsi untuk menyajikan makanan, kata pun memiliki tujuan. Ia berfungsi sebagai wadah untuk menyampaikan makna dan pesan.
Hikmah dari penciptaan lisan kita salah satunya adalah untuk berkata yang baik. Jika ada kebenaran yang perlu disampaikan, maka sampaikanlah. Makna yang muncul di hati kita hanya dapat mencapai hati oranglain melalui kata yang terucap.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Al-Qur'an adalah kalam Allah. Perkataan Dzat yang Maha Benar lagi Maha Adil. Karenanya, Al-Qur'an menjadi mukjizat terbesar nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Al-Qur'an juga berisi untaian kata-kata indah nan penuh makna.
Ia adalah kitab dengan 0% kekeliruan. Memang ada beberapa hal yang belum jelas maknanya atau belum kita pahami secara akal. Tapi itulah keindahannya, ada rumusan rahasia yang hanya dapat dipahami oleh-Nya. Selain menunjukkan keterbatasan kemampuan manusia sebagai makhluk, juga menunjukkan kemaha kuasaan Sang Khalik.

Secara logika, ketika 25% isi suatu kitab telah dapat dipastikan kebenarannya secara ilmiah, sedangkan sisanya belum dapat dibuktikan karena kemampuan manusia yang masih rendah, maka dapat diyakini bahwa seiring berkembangnya zaman, 75% lainnya mengandung kebenaran insya Allah. Demikianlah fakta yang kita saksikan di lapangan. Sedikit demi sedikit, terbukti janji-janji Allah yang tercantum dalam Al-Qur'an.
Lagipula, siapa yang lebih benar perkataan nya dari Allah?

Al-Qur'an adalah kitab induk dari seluruh cabang ilmu pengetahuan. Ia berbicara tentang sains, matematika, sejarah, biologi, kedokteran, hukum bahkan psikologi.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 58 :
 اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ
 Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.

Allah adalah sebaik-baik pemberi nasihat. Kembalilah ke Allah. Betapa banyak kesedihan menjadi keceriaan karena sebait doa dan masalah menjadi mudah karena setetes air mata taubat.
Allah tidak menginginkan sesuatupun untuk manusia kecuali kebaikan.

PESAN EKONOMI DALAM AL-QUR'AN
Dalam Al-Qur'an, ada banyak ayat yang membahas tentang ekonomi, diantaranya :
Al-Qur'an berbicara tentang perilaku konsumen
1) Konsumsi yang halal lagi baik
Al-Baqarah : 168
Artinya : "Wahai manusi makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.."
Beberapa Ayat pendukung
- Al Baqarah : 172
- Al Maidah : 4-5, 87-88
- Al Mu'minun : 51
- An Nahl : 114
2) Tidak berlebihan
Al-A'raf : 31
 Artinya: "dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
3) Hidup Sederhana
Al furqon : 67
Artinya: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."
4) Tidak memakan harta anak yatim
Al An'am : 152
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa....."
5) Prinsip Moralitas
Al Baqarah : 219
Tujuan akhir dari makanan dan minuman adalah untuk meningkatkan kemajuan nilai-nilai moral & spiritual

Al-Qur'an berbicara tentang perilaku produsen
1) Q.S. Al-Muthafifin : 2-3
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.
2) Q.S.Hud : 85
Artinya: "Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan'”.
3) Q.S.An-Nisa : 135
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.
4) Q.S. Al-Maidah : 8
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.


---
Namun hal Penting yang perlu diperhatikan adalah pemahaman makna dari setiap lafadz yang Allah cantumkan dalam Al-Qur'an. Jangan sampai kita salah dalam memahaminya. Karena bahasa Arab sangat luas*, baik kosakata nya maupun tata bahasa nya. Begitu terperincinya, hingga tak ada makna yang ambigu jika kita paham betul seluk beluk bahasa Al-Qur'an ini.

Sayangnya, terjemahan Al-Qur'an di Indonesia sendiri terkadang belum mampu menyeluruh dalam mencakup makna yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an, hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Dapat diambil contoh, surat Al-Baqarah ayat 275 yang merupakan salah satu dalil ekonomi yang berkaitan dengan penghalalan jual beli dan pengharaman riba. Dalam ayat tersebut, ada kalimat berikut:

قَالُوْۤا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا
Dalam Al-Qur'an terjemahan, dapat kita temukan,
"Mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba."

Namun benarkah demikian?
Apakah lafadz إنما dan إن memiliki arti yang sama? Bila iya, kenapa digunakan lafadz yang berbeda?
Faktanya, perbedaan sekecil apapun dalam bahasa Arab dapat mengubah makna.
Misalnya lafadz بر dibaca dengan 3 harokat berbeda :
Burrun (بُر) dengan harokat huruf ba' dhommah memiliki arti: gandum
Barrun (بَر) dengan harokat huruf ba' fathah memiliki arti: daratan
Birrun (بِر) dengan harokat huruf ba' kasroh memiliki arti: bakti

Hal ini menunjukkan perlunya perhatian khusus dalam membaca dan memahami lafadz berbahasa Arab.

Adapun mengenai ayat 275 Al-Baqarah tadi, lafadz إنما dapat dipisah menjadi 2 kata: إن dan ما.
Kata pertama إن memiliki arti: sesungguhnya atau bahwasanya
Kata kedua ما memiliki makna: kata tanya (apa) atau makna peniadaan.
Maka dapat disimpulkan, kata إنما secara kontekstual bermakna "Sesungguhnya tidak lain".
Terjemahan lengkapnya menjadi "Mereka berkata bahwa sesungguhnya jual beli tidak lain sama dengan riba."

Nampakkah perbedaan nya?
Ayat ini mengandung sifat penegasan, sehingga perlu lebih diperhatikan. Ia di highlight-kan untuk menunjukkan betapa kerasnya orang-orang yang memakan riba itu beralasan, karena mereka berat untuk meninggalkan riba, lalu Allah membantah mereka dengan tegas pula: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba".
Sungguh inilah yang banyak terjadi di zaman sekarang, ketika perbankan konvensional menggunakan sistem bunga (riba) yang bukan harum, tapi haram, adapun bank syariah menggunakan sistem bagi hasil yang mungkin bagi beberapa pihak tidak menyenangkan, namun sejatinya menenangkan.

Maka marilah kita menjadi muslim yang taat, ini merupakan perintah mutlak dari Rabb yang menggenggam penuh jiwa kita.
Ketahuilah, kuantitas harta dapat dicari melalui 2 cara: jalan halal dan jalan haram.
Sedangkan kualitas keberkahan harta hanya dapat dicari melalui 1 jalan: yaitu jalan halal.
Dengan melalui jalan halal, kualitas dan kuantitas harta kita dapat terus ditingkatkan secara bersamaan insya Allah.

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk memahami dan mengamalkan sepenuhnya pesan yang Ia sampaikan dalam Al-Qur'an.
Aamiin Allahumma Aamiin.


Bismillah.


Ada sebuah perumpamaan.
Tekstur kentang itu keras, umumnya tidak bisa dimakan langsung.
Telur teksturnya cair, umumnya tidak bisa dimakan langsung juga.
Namun, jika keduanya direbus, unsur-unsur dalam keduanya berubah. Kentang menjadi lunak dan telur menjadi padat, dan keduanya bisa dikonsumsi.
Fenomena perubahan ini dinamakan boiling water.

Manusia pun memiliki keadaan boiling water pula, yaitu keadaan yang mentrasformasikan diri menjadi bermanfaat.
Berbicara tentang kemanfaatan, menulis sejatinya memiliki manfaat yang beragam. Mulai dari terapi hingga media dakwah.
Dalam surat Yusuf, Allah menceritakan tentang nasihat Ya’kub kepada anak-anaknya untuk masuk tidak hanya dari satu pintu saja, sehingga ketika ada satu pintu tertutup, masih ada peluang pintu lain yang terbuka.
Begitupun dakwah, ia memiliki berbagai macam pintu, dan kita memiliki pilihan untuk melalui pintu mana yang akan kita tuju.



Katanya, orang pintar belajar dari pengalaman sendiri. Tapi orang bijak, belajar dari pengalaman orang lain. Orang pintar baru memahami lubang itu berbahaya ketika ia pernah terperosok, namun orang bijak memahaminya bahkan tanpa perlu mengalami. Maka, banyak-banyaklah membaca, ambil hikmah sebanyak mungkin dari kisah-kisah di sekitar kita, dan kiranya memungkinkan, mari berbagi hikmah tersebut melalui karya tulis.
Setiap orang punya sesuatu untuk diceritakan, bahan berbagi yang boleh jadi sarat akan pelajaran dan inspirasi bagi oranglain.
من جد وجد
If you believe something, the universe will conspire to help you realize it.



Mendapat kebahagiaan itu dengan membatasi keinginan, bukan melampiaskannya. Batasi diri. Jangan membangun terus, berhenti sebentar. Jangan semua yang kita ketahui ingin ditulis dan dimasukkan ke tulisan. Kriteria nya harus dolce e util; menyenangkan dan juga bermanfaat.

Panduan kreatif menulis

. 1. Harus ada setting waktu dan tempat yang jelas. Fiksi itu bukan sepenuhnya khayalan, waktu dan tempatnya diambil dari kenyataan.
Memang ada genre high-fantasy seperti Harry Potter yang penuh imajinasi, namun harus konsisten dan kreatif.
Untuk penentuan tempat, bisa diambil dari pengalaman tempat yang pernah dikunjungi atau ditinggali. Kalau tidak bisa, ya kita harus mengadakan riset.
Karena novel yang bagus itu, dapat dipahami oleh orang awam dan dibenarkan oleh para ahli.

· 2. Munculkan situasi spesifik sejak awal.
Contoh:
Ayat-Ayat Cinta diawali dengan kisah Fahri yang akan berangkat setor hafalan ke Syaikh Utsman ketika cuaca Mesir sedang panas-panasnya, jarak tempuh lumayan jauh, dan ada godaan ashiir dingin di kulkas, ia jadi ragu untuk berangkat.
Laskar Pelangi diawali dengan gambaran seorang guru wanita yang harap-harap cemas menunggu 10 anak murid agar sekolahnya tetap dapat berdiri, kedatangan para murid satu-per satu membuatnya dapat bernafas lega.

·3. Jangan malu menyampaikan pengalaman, kita tidak tahu barangkali pengalaman itu sangat menarik bagi pembaca yang belum pernah mengalaminya. Jangan menganggap remeh menulis. Tuliskan peristiwa utamanya agar konsisten dan terarah.



·4. Struktur cerita, diantara Linier (berurutan dan runtut) dan Sandwich (awal dan akhir sama, bagian pengantar dan penutup adalah situasi present, namun isi storynya past).
Prolog: Membuat pembaca masuk ke cerita
Story: Flash Back (kilas balik)
Epilog: Kembali ke situasi present

·5. Narrator:
Orang pertama. Namun ia hanya bisa menggambarkan suasana di sekitar ‘aku’ atau ketika si tokoh utamanya berinteraksi.
Orang ketiga. Penulis serba tahu, bisa menggambarkan orang kapanpun, tapi jangan lupa untuk menyelami tiap karakter.

· 6. Tentukan tokoh di awal. Karakter tokoh harus sedetail mungkin, pekerjaan, sifat, etnis, hobi, sampai warna matanya. Kita harus live with it.

· 7. Plot adalah dasar cerita sebelum dikembangkan, tidak boleh lebih dari 3 paragraf, dan nanti detailnya menyusul bersamaan dengan riset. Plot ini adalau guidance untuk pengembangan cerita.

·  8. Konflik:
Interior: Pertentangan dengan diri sendiri.
Eksterior: Pertentangan dengan orang lain.
Munculkan klimaks di akhir, harus memuncak, dari masalah kecil sampai masalah besar, jangan langsung meletakkan yang besar di awal, bahkan film superhero pun, berantem yang paling dahsyatnya di akhir.

· 9. Ending:
Happy ending: masalah terselesaikan.
Sad ending: masalah tidak terselesaikan namun harus ada pencerahan, bila awalnya A, maka akhirnya minimal A aksen.
Open ending: mengawang-ngawang.

Menulis memang butuh manajemen, bukan Cuma modal mood, karenanya butuh banyak aturan teknis.
Bila baru menulis novel pertama, disarankan untuk menulis dengan hati, jangan terlalu banyak menggunakan otak. Selesaikan dulu, jangan banyak mengkritik diri sendiri. Bila sudah selesai, baru perbaiki bagian yang memang perlu diperbaiki.
Jangan terlalu idealis, yang menjadikan tokoh sebagai winner atau loser itu bukan orangnya, tapi keadaan. Tidak ada yang menjadi pahlawan dari awal sampai akhir, pun tidak ada yang jadi penjahat selamanya, tidak ada tokoh yang sempurna, karakter juga harus realistis. Boleh jadi di satu keadaan ia unggul, namun tidak di keadaan lain.



Ingat bahwa menulis itu bukan hanya soal bakat, namun juga ide dan inspirasi. Contohnya seperti F.X. Toole yang sehari-hari beraktivitas di ring tinju, namun ia berhasil menulis sebuah buku yang kemudian difilmkan dengan judul Million Dollar Baby.

Kalau kita bukan raja tapi ingin dikenal dan berkontribusi, menulislah. Dengan menulis kita turut berbagi pemikiran dan budaya.
Kalau ingin berumur panjang menulislah. Setelah kita mati, 100 tahun atau 200 tahun kemudian boleh jadi tulisan kita masih dikenang dan dibaca oleh orang-orang, nama kita masih sering disebut-sebut seperti para ulama kita zaman dahulu.
Mari menulis, karena para ulama tidak lepas aktivitasnya dari menulis.



Seminar Kepenulisan Kreatif
Bersama: Akmal Nasery Basral
Penulis 14 buku, 3 diantaranya sudah difilmkan; Batas, Nagabonar Jadi 2 dan Sang Pencerah.
22 Desember 2018

Bismillah.


Okay, I’ll start with something that I always think about, peace, happiness, self-well-being and productivity. I’m type of person who overthinks almost everything in my life and really perfectionist. I wanted my life to be meaningful and valuable. So I read many articles, books and watch movies, videos, listen to audios from many experts, psychologists or scholars. I try to find meaning of life. And I satisfy with what my religion, Islam, explains, to pray to God, dedicating my life to please Allah. That’s logic because what does a creator wanted from his creation except for pleasing him?

So time flies, I was really interested at psychology, but now I’m an Islamic Economic Law sophomore, I learn a lot about money, economy and wealth. Finally I found that money isn’t an essential cause of happiness, actually, it is the essential cause of many problems in the world.

I read many motivational, self-help and personal development books, most of them are focused only to one or two theme, How to Win Friends and Influence People by Dale Carnegie talk about human social relationship, then I wonder, so if we could be accepted by society we’ll be happy? Unfortunately I’m an introvert, so I don’t really like to be socially open.

The Secret by Rhonda Byrne teaches about the importance of positive mindset, husnudzon, and that was great book I think, but Islam has taught that concept almost 1400 years ago, then the 7 Habits of Highly Effective People by Stephen Covey and Eat that Frog by Brian Tracy tell about productivity, making life plan and stick to the rules.. I have tried it, but sometimes I get confused about what should be my main purpose, what is the biggest thing I want to achieve, what is the proper target of my activities? I’m thirsty for only one thing to be remembered, simple motto for life, which every positive thing will follow.

When I focused on health for example, I’ll be too prevent, forbid my sweet teeth habit, I can’t enjoy delicious foods, every morning I had to exercise or jogging instead of helping my mother preparing breakfast, there I sacrificed quality time with my family..

When I focused on beauty, I spent my money for cosmetics that often not suitable for my skin type, it seems like I’m too selfish thinking about my appearance, my mother said, “the real beauty appears from inside”, so I try to love myself, and since beautiful is a relative word based on perspective (and also the angle of camera, sometimes), every woman is beautiful just the way she is.

Then productivity, since I’m a perfectionism addict, I try to spend my day beneficially, profitable and of course productive, I made plans, annual, monthly, weekly and even daily, I made time deadline of every task. But when I finished a task and start to arrange another new task, I always think, what do I really want? What is this for? It feels like I need to do this just to be a productive person or seen as one? In fact I have experienced finishing everything completely as same as my plan last year, Alhamdulillah, I achieved all of my checklists.. But when it was done, I don’t really feel satisfied, there’s a feeling that I should do more, it’s not enough, slightly, but inside my deepest heart, I feel empty, all gifts, adore glances, compliments, certificates, those are not what I wanted.

Where is the barakah? I watch Productive Muslim video by Mohammed Faris and it does inspire me, change the way I think, Barakah will be there if we do it sincerely, in Islam it means, Ikhlas, for Allah. I asked myself, who am I struggling for? Who is all my achievements for? Selfishly just for pleasing myself or for pleasing Allah as His servant? Barakah, he explained, do less for more, maximizing the impact of the output. It contains mindset, value and ritual.
Now I get the satisfying answer of ‘why I should be productive?’, so here are the reasons:

1.   It’s the path of the Messengers, all of the prophets are productive person, they do their job responsibly, prophet Idris (Enoch) was a tailor, prophet Zakariya (Zechariah) was a carpenter, prophet Isa (Jesus) and prophet Muhammad were a shepherd, etc. If they as our role model, are work hard and being productive for making money so they don’t burden others for their financial needs, then how about us?

2.   It’s the key to success, success in the world means a lot, it could be have a good health, good family relationship or good at career, whatever it is, it requires productive effort.

3.   It gives meaning to life, life is boring and tasteless if we just sit down and do nothing.

4.   It makes our Prophet proud, we are the representative of the best ummah, Muslim ummah, it’s shameless if we are lazy, consumptive and import more that export. So be productive, make our prophet proud and try the best to thank Rasulullah shallallahu alaihi wasallam for what he has done for us, especially for bringing Islam to us.

The right key to be productive in everything in any area are knowledge, action and consistency. The last is the most important that we always lack of it. Even Rasulullah shallallahu alaihi wasallam said in hadits, “the best of deeds are the ones but are consistent even if they are small”. And the way for consistency is discipline which means do everything needed even if we don’t like, that’s it.

Then, what we should do is managing our life and also spiritual submission, because we as Muslims are belong to Allah Ta’ala, so we can’t do anything without His permission, there we realizes verse 5 of surah Al-Fatiha : {It is You we worship and You we ask for help}, we need His help to worship Him. And most of non-muslims are focused on managing their life but forget the spiritual submission.

Now, how to become discipline? These are the ingredients: higher purpose (and the highest is Allah’s blessing) + constant practice (do the same every single day just like Islam teaches shalat and fasting) + self-accountability (the scroll of good deed and sin). We have this perfect concept to be followed in our religion, Alhamdulillah.

So Productive Muslim is who have spiritual strength (Iman), physical vitality and social responsibility. If you can combine that three, you get productive muslim lifestyle.

Finally I realized, now, that if I really want the best of all (anything in the world), the most beautiful and proper purpose, it is Allah, His blessing, Jannah.. It’s above all the great things I ever knew.

Do everything for Allah, even work, wealth and money, are just a tool for survive in this Adam’s prison (aka Dun-ya), my home and your home is in Jannah, Insya Allah, because there was the first human Allah created, Adam, belong to. Life is just a journey, from Allah, for Allah and to Allah. Mind good, do good and purpose good.. We will be responsible for everything we do in this world, our youth, our health, our wealth, our time, our life.

So, finally, I want to dedicate my life to do something useful, beneficial to me (get good deeds from Allah) and to others. I won’t be too selfish, as long as Allah like it, I’ll do. And the other positive things will follow, health, peace, success and happiness. My purpose is Allah, so all my activities, my tasks, my times must be based on that, insya Allah.
Wallahu A’lam.


Ps. I apologize for my bad English and grammar.
Bogor, September 4, 2018.