Latest Posts
Bismillahirrahmanirrahim..


Rabu, 25 Mei 2016
Better late than never, isn't?
Tabarakallah.. hari, tanggal, momen, acara dan kegiatan yang paling ditunggu-tunggu oleh segenap angkatan 1 dan 2 putri, demikian juga angkatan 10 dan 11 putra.. Pelepasan dan pelantikan khidmah baru! Masya Allah.. Barakallahu fiikum 💐

Lengkap sudah jenjang pendidikan MA kami, Alhamdulillah.. lalu setelah itu apa?

Mungkin bagi kebanyakan siswa siswi kelas 12, yang menjadi momok saat ini adalah jenjang perkuliahan (atau pernikahan mungkin?).. akan kemana mereka setelah resmi keluar dari SMA nya setelah berhasil mengantungi ijazahnya..

Namun tidak bagi kami, atau lebih tepatnya belum.. masih ada satu batu loncatan lagi untuk dapat meraih cita-cita melanjutkan studi..
Khidmah (pengabdian)..

Sebuah jenjang yang tidak resmi sebenarnya, tapi menjadi kewajiban sebagai syarat kelulusan dari pesantren kami.. jenjang yang yah.. mengharuskan setiap non asrama menjadi asrama selama setahun untuk menyelesaikan tugas-tugas yang akan diberikan nantinya.

Jujur saja, dari sudut pandangku, ini merupakan pertama kalinya aku tinggal di asrama (selain dari kegiatan Tahfidz Ramadhan Ma'had Syathiby), pertama kalinya aku akan mendapat tugas keasramaan dan pertama kalinya aku akan mengajar di kelas, Insya Allah..

Biar kuperjelas ya, di jenjang khidmah ini, setiap santri akan mendapat 3 tugas pokok :
1. Menjadi musyrifah (pembimbing) sakan (kamar)
2. Amanah khusus keasramaan
3. Amanah mengajar (baik itu di kelas ataupun di halaqah tahfidz)

Dan VOILA! disinilah aku sekarang, menjalani hari-hari yang ternyata tidak sesimpel yang kubayangkan sebelumnya..

Aku mendapat amanah menjadi musyrifah sakan 12 bersama kak Sofi (oya, ada beberapa sakan yang dibimbing oleh 2 musyrifah) yang (kini) beranggotakan 22 anak kelas 10, kemudian amanah kedua, aku menjadi bagian dokumentasi dan database aytam (anak-anak yatim) bersama Naura, terakhir amanah mengajar, aku belum dapat kepastian akan mengajar di mana, tapi menurut ummu Busyro, aku akan mengajar Tahfidz di MTs nantinya, Insya Allah..

Lemari Asrama

Well, pengalaman khidmah dan asrama, sejauh ini Alhamdulillah telah mengajarkanku banyak hal, yang benar-benar kurasakan sendiri manfaatnya dan kupikir kedua hal ini amat penting untuk dialami oleh setiap pelajar..

Hikmah yang terpenting selama kurang lebih sebulan yang telah kulalui adalah, aku belajar banyak tentang kehidupan..

Tentang bagaimana belajar mandiri, benar-benar mandiri, kita tidak bisa selalu bergantung pada orang lain sekalipun ia orang terdekat kita, seperti sahabat, orang tua.. satu-satunya yang bisa kita harapkan agar tak berakhir kekecewaan hanya Allah..

Tentang belajar mentaati peraturan pesantren yang sejatinya merupakan peraturan Islam yang selama ini banyak kita lalaikan, yang sunnahnya, yang makruhnya.. belajar tentang mengamalkan apa yang telah kita tahu harus dilakukan dan meninggalkan apa yang telah kita tahu harus dijauhi.

Tentang muamalah sosial dengan orang yang lebih tua, yang lebih muda dan yang sebaya.. dengan guru, pegawai, teman-teman, adik kelas, anak didik, masyarakat, semuanya.. tolong-menolongnya, kepeduliannya, itsarnya (mendahulukan orang lain dalam hal keduniaan), amar ma'ruf nahi munkarnya, kerjasamanya, kekompakannya..

Tentang menjadi agen Islam yang baik, menjadi sampel tolak ukur keberhasilan suatu lembaga pendidikan, menampilkan bagaimana karakter seorang Muslim seharusnya, menjadi uswatun hasanah..
Tentu saja semua itu memiliki banyak tantangan, suka-duka, asam-garam.. tapi, selama kita yakin akan pertolongan Allah, nothing is impossible, kan? Lagipula, tanpa yang tawa dan tangis, hidup kita akan terasa hambar sekali.. tak ada momen yang bisa dipetik hikmahnya..

Akhirnya, tak ada yang harus kuucapkan kecuali rasa syukurku yang sebesar-besarnya atas karunia yang tak terkira ini, atas kesempatan emas untuk berasrama dan khidmah selama setahun di tempat ini, meski sulit mungkin, tapi tak ada yang harus disalahkan. Bukankah skenario Allah selalu indah? Itulah yang aku yakini.. karenanya, kebahagiaan akan selalu ada, Insya Allah..

\
Masjid Asrama Putri

Sebagaimana perkataan kak Nurmayanti Zain,

Suatu hari, kita akan tercengang dengan begitu teraturnya hal-hal yang sudah tercetak jelas dalam Lauh Mahfudz. Walau harus diakui, di setiap pertemuan akan ada perpisahan. Yang sekarang terpikirkan hanyalah bagaimana memanfaatkan waktu sebaik dan seelok mungkin dengan orang-orang yang berada di sekitar kita. Karena tak ada yang tahu, boleh jadi kita tidak akan pernah bisa mengambil hikmah dari orang itu lagi esok hari..

Bismillahirrahmanirrahim..

Ruang kelas MA Banin

Rabu, 6 April 2016
Hari ini adalah hari terakhir UN, Alhamdulillahi Rabbil Alamin..

UN kali ini juga merupakan ujian nasional terakhir kami, karena setelah UAP (Ujian Akhir Pesantren) nanti kami akan memulai masa khidmah (pengabdian) selama setahun sebelum memasuki dunia perkuliahan, insya Allah.

Ujian.. ah, meski sudah mengalaminya puluhan atau bahkan ratusan kali sampai saat ini (bagaimana tidak, kita sudah mulai menghadapi yang namanya ujian sejak sekolah dasar), namun tetap saja tetap nervous, dan terus berulang demikian..

Terlebih lagi apabila ujiannya berstandar nasional seperti sekarang ini, ditambah dengan persiapan kami yang minim dan seadanya saat persiapan UN, dari mulai buku detik-detik yang baru tiba akhir Januari, mempelajari fikih, hadits dan tafsir materi UN kurang dari 3 bulan dengan jumlah buku yang terbatas, sehingga kami bergantian membacanya, tak ada pengayaan atau bimbel, إلخ..  ^^

Namun, Tabarakallah.. semua itu tidak menjadi hambatan yang begitu berarti bagi kami, karena pada akhirnya ujian nasional kami berjalan lancar hingga hari terakhir..

UN kami dilaksanakan di ruang kelas MA banin (ikhwan) dan diawasi oleh beberapa pengawas dari sekolah lain. Oya, pagi tadi saat pelajaran terakhir, yaitu Tafsir ada sedikit masalah, soal ruang 1 dan 2 (dari 3 ruangan) tidak ada, maksudnya, amplop soalnya ada namun isinya bukan soal tafsir, tapi soal matematika.. maka kepala sekolah kami-pun berinisiatif untuk memoto-kopi lembar ujian beberapa temanku yang ljk-nya belum terpisah dari soal, jadi soal yang kami kerjakan dan ljk nya berupa foto-kopian..

Suasana UN hari terakhir pada pelajaran terakhir

Fyuh~ akhirnya un selesai juga, ternyata tidak serumit dan se-menegangkan yang kukira, hanya perlu banyak persiapan mental agar tidak grogi saja. Eh tapi, menurutku soal un tahun ini agak berbeda dari kisi-kisi yang diberikan dan agak lebih sulit juga dibanding try out-nya, terutama bahasa Inggris, listening section-nya kurang jelas, agak samar gitu..

Overall, Alhamdulillah.. semuanya baik-baik saja, sekarang tinggal menunggu pengumuman hasilnya saja, untuk teman-teman sekelasku, Geni-Us 2, Barakallahu Fiikum dan Ma'anaa Najah.. Insya Allah kita akan mendapatkan hasil yang terbaik !

Nama kelas kami

Bismillahirrahmanirrahim..


Once upon a time..

Tersebutlah seorang lelaki yang biasa dipanggil Bang Syaiha. Kisahnya dimulai ketika ia bertemu dengan kak Ella  Nurhayati yang pada akhirnya menjadi istrinya. Katanya, akad nikahnya saat itu merupakan kebaikan yang amat menakjubkan, karena ia seperti pembuka kebaikan-kebaikan yang lain. Yang mana setelahnya, rezeki keduanya bagai air mengalir dan kebaikan lain bertambah, Insya Allah. Hidup keduanya semakin lengkap ketika sang buah hati, Alif Fathul Hadi dilahirkan, Masya Allah, Tabarakallah.

Kebahagiaan yang selalu diimpikan setiap puteri dan pangeran adalah menikah dan memiliki keturunan baik yang kelak akan melanjutkan kisah kedua orangtuanya.. terus menerus demikian sambung menyambung hingga lengkaplah mozaik hidupnya sampai waktu yang telah ditentukan, bagaikan mengurai benang merah takdir yang telah tertulis bagi mereka.

Tentu tidak semua kisah berjalan seperti yang ada dalam buku-buku dongeng, indah tanpa hambatan yang berarti, nyatanya justru sebaliknya, kan? Kita hidup di dunia nyata, dan itu berarti kita sendiri yang harus mengusahakan kebahagiaan kita, karena tak ada yang menjamin akhir cerita kita akan happily ever after.

Dan kebahagiaan itu terkadang bukan berarti terpenuhinya seluruh keinginan kita, akan tetapi dengan menerima dan mensyukuri apa telah kita raih dari usaha yang telah kita lakukan dengan berbalutkan tawakkal yang ikhlas.

Allah melihat usaha hamba-Nya dan Ia adalah Dzat yang Maha Adil, Ia mengganjar setiap makhluk sesuai dengan apa yang telah diperbuatnya.
Dan sungguh, itu semua lebih dari cukup untuk meraih akhir kisah yang happily ever after, Insya Allah.

Teruntuk Bang Syaiha, kak Ella Nurhayati dan Alif Fathul Hadi..
Barakallahu fiikum. Semoga menjadi keluarga Sakinah Mawaddah wa Rahmah yang happily ever after, Insya Allah.
Bismillahirrahmanirrahim..



Kematian. Sesuatu yang menakutkan setiap yang mendengarkan, sesuatu yang memutus segala harapan kehidupan, sesuatu yang membuatku sadar, bahwa malaikat maut itu dekat, sangat dekat.

Kematian bisa datang kapan saja, tanpa penyakit, tanpa kecelakaan, tanpa kemiskinan. Terkadang ada orang sakit dan kekurangan yang berumur panjang, dan terkadang ada juga orang sehat dan berkecukupan berumur pendek, mati tiba-tiba.

Orang cerdas adalah orang yang selalu mengingat kematian.

Tak dapat dipungkiri pernyataan itu benar, karena dengan mengingat kematian yang datang secara tiba-tiba, kita akan selalu termotivasi untuk senantiasa melakukan kebaikan. Karena hari ini, aku melihat kejadian kematian itu di depan mataku, kematian yang indah, Alhamdulillah. Seseorang yang amat kucinta, yang telah divonis sejak beberapa tahun lalu dengan kematian yang Masya Allah, hal tersebut justru membuatnya semakin rajin dalam beribadah dan menjauhi maksiat sejauh-jauhnya, ia sungguh takut apabila kematian datang dengan tiba-tiba tanpa peringatan, Subhanallah..

Padahal, sejatinya kita semua telah divonis mati sejak berumur 4 bulan dalam kandungan ibu, sesaat setelah ditiupkan ruh kita pada segumpal daging dalam rahim ibu, dan itu merupakan ketetapan yang pasti. Hanya saja kita tidak tahu kapan dan dimana eksekusinya dilaksanakan.

Terkadang kita lupa, kematian sedang mengejar kita.. sehingga tanpa sadar kita berleha-leha dan bersantai di dunia ini, lalai dalam perjalanan yang masih sangat jauh, bahkan sama sekali belum melewati gerbang kehidupan yang sebenarnya, alam kubur.
Wahai Rabb yang Maha Pengampun, kami memohon ampunan-Mu..

Kematian tadi membuatku tersadar bahwa apapun yang kita miliki hanyalah titipan, segala sesuatunya.. baik itu harta, tahta, rupa ataupun orang-orang di sekitar kita.

Kita datang ke dunia tanpa sendirian tanpa membawa apapun, maka sudah seyogianya kita tidak terlalu berambisi dengan kehidupan dunia karena toh pada akhirnya kita akan kembali ke sisinya sama seperti kita lahir, sendirian tanpa apapun..

Ah, aku tak dapat membayangkan bila aku dalam posisi orang yang kucintai itu, jangankan divonis beberapa tahun sebelumnya.. 8 hari saja misalnya, aku divonis akan segera menghadapi malaikat maut setelah menghabiskan pekan terakhirku di dunia. Apa yang akan kulakukan?

Menutup hayat dengan indah, mengakhiri catatan kehidupan dengan happy ending, itu saja, sungguh bagiku itu sudah lebih dari cukup, sebagaimana yang telah dilakukan oleh ia yang sangat kucinta. Tentu saja, apalagi yang diinginkan seseorang yang akan segera pergi jauh selain mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya?

Bukankah pada hari kiamat nanti, hari dimana matahari terbit dari Barat, hari dimana semua orang yang terlena oleh kehidupan dunia baru sadar akan datangnya kematian, manusia akan berbondong-bondong melakukan amal kebaikan, bertaubat, menghabiskan setiap detik dengan beribadah, ruku’ dan sujud, mengeluarkan semua perbendaharaan dunia mereka yang selama ini tersimpan rapat, membaca Al-Quran yang selama ini hanya menjadi pajangan semata.

Maka sungguh, apabila jemputan kematian telah ditentukan untukku, 8 hari yang akan menjadi hari-hari terakhirku di dunia ini, tak akan ada yang kulakukan selain seperti apa yang dilakukan kebanyakan manusia di hari kiamat nanti. Memperbanyak beribadah, meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah kulakukan pada siapapun, terutama kedua-orangtuaku, mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang aku dapat agar dapat menjadi amal jariyah, menghidupkan malam-malamku, senantiasa berada di tempat shalat-ku, ruku’, sujud, mengangkat tangan ke langit, membaca Al-Quran, mengkhatamkannya untuk yang terakhir kali, serta mewasiatkan agar semua yang aku punya di dunia ini untuk disedekahkan, dan oh ya, satu lagi.. satu hal yang ingin sekali kulakukan dalam hidup meski hanya sekali, yaitu shalat syuruq.

Karena, qadarullah Allah belum menghendaki aku untuk dapat mengunjungi tanah haram-Nya sampai saat ini, meski aku ingin sekali ke sana, jiwaku rindu untuk memenuhi panggilan-Nya, oleh karena itu aku ingin –paling tidak- mendapat pahala sebagaimana orang yang melaksanakan haji dan umrah dengan shalat syuruq, karena Nabi Muhammad –shallallahu alaihi wasallam- telah mengabarkan dalam haditsnya, bahwasanya siapapun yang melaksanakan shalat squruq, ia akan mendapat pahala sebagaimana orang yang melaksanakan haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, sempurna.. Masya Allah.

Kita semua akan mati dalam keadaan yang sama saat kita dilahirkan, sendirian, tanpa membawa apa-apa, kemudian memasuki alam baru yaitu alam kubur, alam yang menjadi gerbang kehidupan abadi, saat itulah kita akan ditanya dengan sebuah pertanyaan yang kita telah pelajari di kelas 1 SD, 3 pertanyaan yang boleh jadi kita hafal saat ini lengkap dengan jawabannya, namun tak ada yang dapat menjamin kita dapat menjawabnya, karena sebenarnya, kita akan menjawabnya sesuai dengan kadar keimanan kita. Setelah itu, barulah ditentukan kepada setiap manusia, awal kebahagiaannya atau awal kesengsaraannya, kita memohon kepada Allah keselamatan di alam kubur.

Perkuburan Baqi di Madinah

Subhanallah, betapa indahnya rencana-rencana itu, aku yakin bahwa setiap manusia menginginkan khusnul khatimah, akhir yang baik dalam setiap episode kehidupannya, maka begitu pula aku. Namun, bukankah kita masih sering lupa bahwa sejatinya, setiap detik perjalanan hidup kita, waktu telah melipat usia kita dan kita terus berlari mengejar kematian, sedangkan kita sering lalai, padahal malaikat maut telah banyak mengirimkan pesan bahwa ia akan segera tiba?

Maka akhirnya, yang dapat kita lakukan sekarang adalah, berusaha selalu beribadah dan berakhlak mulia di setiap waktu, selama masih punya waktu, selama nafas masih dikandung badan, Live your life just for Allah..

Karena kesimpulannya, kita tidak tahu pasti kapan kematian akan menjemput kita, oleh karenanya, laksanakan rencana-rencana itu mulai sekarang, saat ini, detik ini juga, jadikan shalat kita, ibadah kita, hidup kita dan mati kita hanya untuk Allah ta'ala.

Perbanyaklah mengingat pemutus semua kelezatan (yakni kematian). Dan ketahuilah olehmu, bahwa setiap hari kuburan berkata: “Aku adalah tempat pengasingan, tempat kesepian, rumah tanah dan rumahnya ulat.”


Bismillahirrahmanirrahim..
28/07/2015


Bahagia itu dekat, tak perlu dicari, ia akan datang dengan sendirinya..
Bahagia itu simpel, bila kita tahu kuncinya..
Bahagia itu letaknya di hati..

Menurutku..
Bahagia itu, ketika raga dipandu oleh jiwa dalam memenuhi fitrah diri sebagai hamba Allah.

Orang bahagia itu tidak mencemaskan penilaian orang lain. Dia bahagia dengan kedamaian di hati dan kepalanya.

Orang bahagia itu juga tidak perlu sibuk memamerkan segala hal hebat yang dia lakukan. Buat apa? Toh, dia tidak butuh sanjungan, pujaan, apalagi komentar dan like orang lain. Jika masih butuh, berarti kebahagiaannya tergantung orang lain.

*Tere Liye

Menurutmu, bahagia itu apa?
Pagi di Kaki Gunung Salak


Oleh : Naura Almas Navisa

Tak kulihat secercah cahayapun dari pahlawan kehidupan ini, matahari..
Kemana gerangan kau bersembunyi?
Tak sadarkah kau bahwa penduduk bumi sedang menanti?
Dalam dingin yang menusuk di pagi hari ini.
Tak kulihat puncak gunung salak yang biasa menjulang dengan gagahnya
Kini, ia sedang dalam kelembapan berselimut kabut pagi Kota Bogor
Dibawahku, daun-daun pohon nangka menari-nari..
Tertiup angin pagi yang menggigit
Mungkin, iapun senasib denganku..
Hawa dingin pagi ini menusuk persedianku..
Mungkin, pohon itu ingin bercerita padaku,
Tapi aku tahu ia tak mampu..
Ayam-ayam jago dan betina, yang tadi mematuk-matuk tanah di sekitar semak-semak
Yang tepat berada di bawah jendela
Lamunanku, tiba-tiba menghilang..
Mungkin iapun merasakan hal yang sama denganku..

KEDINGINAN.. mereka lebih tak kuat daripada aku.


Awan abu diatasku berjalan perlahan-lahan tertiup angin,
Seakan ia akan memberi sebuah kejutan untuk kampung yang kecil ini..
Benar saja, tak lama kemudian..
Ia menjatuhkan butiran-butiran kecil air hujan

Yang menambah dinginnya udara pagi di daerah ini.
Bismillahirrahmanirrahim..


What a beautiful ukhuwah..

I love meet new people in my live and making friends with girls around the world.
I have met so many people, but most of them are just friend to me, there are just a little bit who stay and being my best friend.
Actually, when we meet new people, we have to keep our conversation to always continue, and -for me- it's really hard to keep it with someone who doesn’t match our character each other.
All this time, until now, people who still stay talk to me and I consider them as my best friends are: member of my class (grade 3 of high school aka geni-us2), my halaqah member, and some of cyber friends (I mean whom I contact them just by media social).
And here, I want to talk about those my cyber friends whom I meet from fb, postcrossing, penpal, etc.
I meet so many new people from around the world since I join postcrossing.. but we it is just short-term relationship, because we just exchange postcard each other, and most of the postcrosser are hunting for rare countries postcards, I mean they don't really care about the sender.
Then, I join penpal, I meet better friends who really want to have a friend. And I've meet friends from South Africa until South Korea.. most of them are Europeans (girls).
But, as I've told in first, it's not easy to keep continue the chat, in some moments; we don't have something to talk anymore, finally our conversation stuck there.
In spite of that, Alhamdulillah, thank Allah, that He keep my friendship with some Muslimah..
And to be honest, I love them because Allah, I am happy that who stay being my best friends are my sisters in Islam.
Well, I'll tell you some of them:
There are sister Toki from Syria, Fatima from China, Dydia from USA, Asmah from Russia, Vilte from Lithuania and Hilal from Turkey.
My most frequently chats is with sister Hilal, sister Asmah and sister Vilte. They always reply my messages, while the others didn't reply me yet, maybe they are busy, but it's okay.
I love them so much, I consider them as my real sisters, just like my siblings.. we share everything in our live, and thank to them, I get so many new knowledge that I didn't know before.
Back to the tittle, times ago, I sent a greeting texts from Carita beach in a pic, I wrote the greetings myself then I took a pic of it at Carita beach (actually not really in Carita beach, I took it at a restaurant near the beach) and I sent it to those my sisters.
I was forget it because I do that just for fun and for make them happy and the most important is to keep our ukhuwah, until sister Hilal send me a reply greetings from Yaprak Sarmasi, it is a food which famous in Turkey, masha Allah it was make me really happy, I hope I will taste Yaprak Sarmasi someday when I visit her in Turkey insha Allah.




Finally, days ago, sister Asmah sent me a reply greetings too from Moscow, masha Allah.. how wonderful..



Both greetings are really make me happy, Subhanallah.. it makes me love them more and more.
What I can say now is just, thank you so much, Barakallahu fiikum, May Allah bless you..
And may Allah keep our ukhuwah until Jannah, insha Allah..
I have to say it once again, I love all of you, my sisters, not just because the greetings, but because we are sisters in Islam, our prophet Muhammad shallallahu alaihi wassallam said that our Iman didn't perfect yet until we love for our brothers and sisters (in Islam) what we love for ourselves.
We are honored by Islam for our Iman, not our nationality.
I will make dua, hoping we can meet each other one day. But if we can't, I hope we will meet in His Jannah Insha Allah.

Thank you, Jazakumullah Khairan to be my best friend and my sister yesterday, today, tomorrow and forever insha Allah..
From Zero to Hero
الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات..

Sosok ustadz kami yang satu ini seperti Pilea Microphylla, bunga meriam itu. Yang jika butiran air jatuh di atas daunnya, ia melontarkan tepung sari, semarak, spontan, mekar, dan penuh daya hidup. Di dekatnya kami merasa seperti ditantang mengambil ancang-ancang untuk sprint seratus meter. Sekencang apa engkau berlari? Begitulah makna tatapannya. Untuk sosok seperti beliau secara khusus saya buatkan tulisan ini.
Dikalangan kami para santri bogor, siapa yang tidak mengenal Ustadz Abdurrahman Misno? Yang awalnya bukan siapa-siapa tapi berkat taufik Allah yang dibarengi kegigihan semangat 45 berhasil mengantarkannya meraih gelar doktoral di bidang antropologi hukum islam. Merasa belum apa-apa, beliau masih punya mimpi ingin meraih Post Doktoral di University of Malaya, Malaysia.
"Sekarang zaman spesialisasi, harus punya takhossus. Dengan itu kita juga harus mengerti bagaimana caranya memarketkan diri kita." Nasehat beliau mendengung hebat lalu mengendap di alam bawah sadar sana. Saya yakin nasehat seperti ini juga dilontarkan untuk menyemangati mahasiswa didiknya di STAI Al-Hidayah dan STEI Tazkia.
Berdakwah bisa lewat mana saja selama cara dan tujuannya sesuai manhaj. Antropologi ternyata juga bisa menjembatani antara adat istiadat dan hukum islam karena terkait dengan studi perilaku manusia. Dengan pendekatan seperti ini, kita bisa dengan mudah mengenalkan ajaran Islam untuk daerah-daerah pelosok yang sama sekali belum tersentuh dakwah. Cara unik inilah yang dipakai Ust Abdurrahman Misno untuk mengenalkan Islam pada komunitas adat baduy di pedalaman Desa Kanekes, Banten. Saking baduinya, mereka yang mayoritasnya beragama animisme ini menerapkan isolasi dari dunia luar. Bahkan untuk menggunakan alat bantu seperti sendal atau paku saja dilarang oleh adat.
"Urang sunda teh 3S. Sunda, Sakola, Santri." Tiru beliau ketika menyampaikan nasehatnya demi mengenalkan pendidikan sekaligus spiritualitas beragama.
Dengan segudang prestasinya, dihadapan kami beliau tetap low profile meski sudah bolak-balik Singapura dan Malaysia untuk menghadiri workshop. Cerita ekspedisinya di Gunung Kendeng untuk membuktikan eksistensi Arca Domas diselipi guyonan dan nasehat yang sangat memotivasi. Kami melingkar mendengarkan seksama sambil makan malam. Kami tertawa dengan kelakarnya yang segar, termenung berkontemplasi karena nasehatnya yang mendidik, meski tak jarang kami menatapnya aneh karena kepercayaan dan cerita mistis suku pedalaman. Terbang ke Madinah seperti sudah menyiapkan jauh-jauh hari satu paket cerita itu untuk kami, santri-santri nakalnya.
Tak hanya cerita dan nasehat yang dibawa, beliau yang sudah menelurkan tak kurang dari 150an judul buku ini juga membawakan salah satu karyanya untukku yang didatangkan jauh-jauh dari Indonesia Raya sana. "Menulis adalah salah satu cara mengasah kemampuan diri. Dengan begitu kalian akan dipaksa membaca literatur ilmiah untuk memperkuat kebenaran yang kalian tulis." Paparnya.
Beliau adalah motivator kami, ustadz kami, guru kami. Secara tidak langsung beliau ingin membuktikan bahwa orang yang bersungguh-sungguh akan diberi jalan dan taufik dari Allah. Membuktikan bahwa kesulitan hidup ternyata bisa menjadi pemacu semangat untuk berhasil.
"Motivasi terbesar itu bukan datang dari orang lain, tapi dari diri sendiri." 
(Dr. Abdurrahman Misno Bambang Prawiro, M.E.I)
_ _ _ 
Setiawan Rusli
Sabtu, 13 Februari 2016
Madinah, Kota Nabi.
Bismillahirrahmanirrahim..



Mari mulai dari diri sendiri menjadi muslim yang islami.
SYAIKH Muhamad Abduh, ulama besar dari Mesir pernah geram terhadap dunia Barat yang mengganggap Islam kuno dan terbelakang.
Kepada Renan, filsuf Prancis, Abduh dengan lantang menjelaskan bahwa agama Islam itu hebat, cinta ilmu, mendukung kemajuan dan lain sebagainya.
Dengan ringan Renan, yang juga pengamat dunia Timur Tengah mengatakan (kira-kira begini katanya) :
“Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Quran. 
Tapi tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”. 
Dan Abduh pun terdiam. 
Satu abad kemudian beberapa peneliti dari George Washington University ingin membuktikan tantangan Renan.
Mereka menyusun lebih dari seratus nilai-nilai luhur Islam, seperti kejujuran (shiddiq), amanah, keadilan, kebersihan, ketepatan waktu, empati, toleransi, dan sederet ajaran Al-Quran serta akhlaq Rasulullah SAW.
Berbekal sederet indikator yang mereka sebut sebagai 'islamicity index' mereka datang ke lebih dari 200 negara untuk mengukur seberapa islami negara-negara tersebut.
Hasilnya ?
Selandia Baru dinobatkan sebagai negara paling Islami.
Indonesia ? 
Harus puas di urutan ke 140.
Nasibnya tak jauh dengan negara-negara Islam lainnya yang kebanyakan bertengger di 'ranking' 100-200.
Apa itu islam ? 
Bagaimana sebuah negara atau seseorang dikategorikan islami ?
Kebanyakan ayat dan hadits menjelaskan Islam dengan menunjukkan indikasi-indikasinya, bukan definisi.
Misalnya hadits yang menjelaskan bahwa : 
“Seorang Muslim adalah orang yang disekitarnya selamat dari tangan dan lisannya”. 
Itu indikator.
Atau hadits yang berbunyi :
“Keutamaan Islam seseorang adalah yang meninggalkan yang tak bermanfaat”.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati tetangga ... hormati tamu ... bicara yang baik atau diam”.
Jika kita koleksi sejumlah hadits yang menjelaskan tentang islam dan iman, maka kita akan menemukan ratusan indikator keislaman seseorang yang bisa juga diterapkan pada sebuah kota bahkan negara. 
Dengan indikator-indikator diatas tak heran ketika Muhamad Abduh melawat ke Prancis akhirnya dia berkomentar :
“Saya tidak melihat Muslim disini, tapi merasakan (nilai-nilai) Islam, sebaliknya di Mesir saya melihat begitu banyak Muslim, tapi hampir tak melihat Islam”.

Pengalaman serupa dirasakan Professor Afif Muhammad ketika berkesempatan ke Kanada yang merupakan negara paling islami no 5.
Beliau heran melihat penduduk disana yang tak pernah mengunci pintu rumahnya. 
Saat salah seorang penduduk ditanya tentang hal ini, mereka malah balik bertanya : “mengapa harus dikunci ?”
Di kesempatan lain, masih di Kanada, seorang pimpinan ormas Islam besar pernah ketinggalan kamera di halte bis. 
Setelah beberapa jam kembali ke tempat itu, kamera masih tersimpan dengan posisi yang tak berubah.
Sungguh ironis jika kita bandingkan dengan keadaan di negeri muslim yang sendal jepit saja bisa hilang di rumah Allah yang Maha Melihat. 
Padahal jelas-jelas kata “iman” sama akar katanya dengan aman.
Artinya, jika semua penduduk beriman, seharusnya bisa memberi rasa aman.
Penduduk Kanada menemukan rasa aman padahal (mungkin) tanpa iman. 
Tetapi kita merasa tidak aman ditengah orang-orang yang (mengaku) beriman. 
Seorang teman bercerita, di Jerman, seorang ibu marah kepada seorang Indonesia yang menyebrang saat lampu penyebrangan masih merah :
“Saya mendidik anak saya bertahun-tahun untuk taat aturan, hari ini Anda menghancurkannya. 
Anak saya ini melihat Anda melanggar aturan, dan saya khawatir dia akan meniru Anda”.
Sangat kontras dengan sebuah video di Youtube yang menayangkan seorang bapak di Jakarta dengan pakaian jubah dan sorban naik motor tanpa helm. 
Ketika ditangkap polisi karena melanggar, si bapak tersebut malah marah dengan menyebut-nyebut bahwa dirinya habib.

Mengapa kontradiksi ini terjadi ?
Syaikh Basuni, ulama Kalimantan, pernah berkirim surat kepada Muhamad Rashid Ridha, ulama terkemuka dari Mesir. 
Suratnya berisi pertanyaan :
“Limadza taakhara muslimuuna wataqaddama ghairuhum ?”
Mengapa muslim terbelakang dan umat yang lain maju? 
Surat itu dijawab panjang lebar dan dijadikan satu buku dengan judul yang dikutip dari pertanyaan itu.
Inti dari jawaban Rasyid Ridha, Islam mundur karena meninggalkan ajarannya, sementara Barat maju karena meninggalkan ajarannya. 
Umat Islam terbelakang karena meninggalkan ajaran 'iqro' (membaca) dan cinta ilmu.
Tidak aneh dengan situasi seperti itu, Indonesia saat ini menempati urutan ke-111 dalam hal tradisi membaca.
Muslim juga meninggalkan budaya disiplin dan amanah, sehingga tak heran negara-begara Muslim terpuruk di kategori 'low trust society' yang masyarakatnya sulit dipercaya dan sulit mempercayai orang lain alias selalu penuh curiga.
Muslim meninggalkan budaya bersih yang menjadi ajaran Islam, karena itu jangan heran jika kita melihat mobil-mobil mewah di kota-kota besar tiba-tiba melempar sampah ke jalan melalui jendela mobilnya.
Siapa yang salah ?
Mungkin yang salah yang membuat 'survey'.
Seandainya keislaman sebuah negara itu diukur dari jumlah jama’ah hajinya pastilah Indonesia ada di ranking pertama.

Wallahualam.