Latest Posts
Bismillah.


Apalah arti kehidupan tanpa berbuat baik? Aih, ngeri sekali membayangkan porak-porandanya dunia ini bila tak ada yg namanya kebaikan.

Perlulah kita bermuhasabah sejenak, untuk apakah kita di dunia ini, karena sejatinya kelak kita akan kembali ke kampung halaman, tempat dimana seharusnya kita tinggal. Ibarat seorang pengembara, kita hanya singgah sebentar disini, menyiapkan bekal dan menentukan tujuan perjalanan sebelum melanjutkannya kembali.

Berbuat baik terkadang memang butuh pengorbanan. Bagaimana tidak, bahkan disaat seseorang melihat musuhnya dalam kesulitan, untuk berbuat baik di saat seperti itu sungguh sulit, apalagi mengorbankan perasaan yg sudah pasti. Lalu mengapa harus berbuat baik? Bukankah seorang yg tidak baik terkadang memiliki alasan tertentu untuk memenuhi kepentingannya? Seorang pencuri yg mencuri karena kelaparan misalnya. Namun dibalik semua itu, kita sebagai manusia yg beragama harus yakin bahwa satu-satunya motivasi untuk melakukan kebaikan adalah karena Allah sungguh menyaksikan kita, dan telah terpatri dalam kitab suci-Nya bahwa siapapun yg melakukan kebaikan meski sekecil apapun, ia akan mendapat balasannya yg jg berupa kebaikan, begitupun sebaliknya.

Setiap orang tidak bisa hanya diam saja sepanjang hidupnya, maka ia, jika tidak melakukan kebaikan maka tentu ia melakukan keburukan, karena sejatinya baik dan buruk itu bagaikan air dan minyak, tidak dapat menyatu.

Saat ini, aku teringat kisah seorang guru yg suatu hari terdorong secara tdk sengaja oleh seorang muridnya sampai terjatuh ke tanah, iapun menangis, maka si murid ini benar2 menyesal dan meminta maaf berkali2, namun apa kata guru itu? Ia malah berkata bahwa ia menangis bukan karena ia terjatuh, karena ia merasa baik2 saja, namun saat terjatuh itu, tak sengaja tercabut beberapa akar rumput, sehingga kematian rumput yg tak bersalah itu membuatnya amat bersedih. Masya Allah, manusia macam apa dia sampai begitu menghormati makhluk Allah lain yakni tumbuhan sebagaimana ia menghirmati manusia. Lalu bagaimana dengan kita? Sepeduli apakah diri kita atas keadaan orang lain?

Ada pula kisah lainnya tentang seorang gadis yg kurang mampu saat ia membeli sebuah tas baru karena tas lamanya sudah tak layak pakai, ia membeli tas tsb secara kredit karena tak mampu melunasinya secara langsung. Namun di tengah jalan seorang temannya memuji tas barunya itu, iapun tersenyum, lalu dengan amat ringan ia menyodorkan tas itu pada temannya, "kalau kau suka, pakailah.. kuhadiahkan untukmu.." Allahu Akbar! Lihatlah betapa pemurahnya gadis shalihah ini. Perlu diketahui bahwa kisah ini adalah nyata, disaksikan oleh ummiku sendiri yg saat itu menjadi saksi penghadiahan tas tsb, kata ummi beliau memang seorang yg gemar bersedekah dengan apapun yg ia miliki, ia merupakan teman sekaligua inspirasi bagi ummiku, namun semenjak pindah ke bogor, umi lost contact dengannya dan kehilangan jejaknya, aku berharap dan kuminta teman2 untuk bantu mendoakan agar ummiku bisa bertemu lagi dengannya dan semoga Allah menjaganya dimanapun ia berada.

Eh, kenapa jadi ngelantur begini? Hehe.. semoga kita dapat mengambil pelajaran dari 2 kisah diatas, tentu masih banyak kisah2 berbuat baik yg patut di contoh dari berbagai pribadi2 mulia, apalagi jika membaca kisah2 para nabi & Rasul atau Rasul dan para sahabatnya, seperti salah satu kisah yg sungguh membuatku takjub sampai detik ini, yaitu kisah 3 orang kehausan yg saling mengutamakan temannya untuk lebih dulu minum, aku tidak akan menceritakannya panjang lebar karena teman2 bisa browsing sendiri, tapi pokoknya adalah saat mereka sedang kehausan lalu mengutamakan kebutuhan temannya dan berpikir, barangkali temanku itu lebih membutuhkan air ini. Dan yg mengagumkan, ternyata ketiganya berpikiran yg sama sampai ketiganya mati kehausan krn tdk ingin egois, mendahulukan diri sendiri. Maka patutlah kita berkaca pada mereka, semoga Allah mengganjar mereka dengan syurga dan mengkaruniai kita sifat seperti dan kemudahan untuk selalu berbuat baik dimanapun, kapanpun dan pada siapapun, Allahumma Aamiin.

Karena perbuatan baik yang merupakan amal jariyah, pahalanya tidak akan berhenti hingga selesainya masa manusia di dunia.
It'll never end till the end, Insya Allah.


Bogor, 10 April 2015
Bismillah.


 24 Mei 2017
Tanggal yang selama ini kutunggu-tunggu, yang kubulatkan dalam kalender dan aku terus menghitung hari.

Terbayang segala penat, lelah dan beratnya amanah akan segera lengser dari bahuku. Amanah sakan dan anak-anak, amanah kelas dan murid-murid, amanah halaqah dan adik-adik. Tiap tetes air mata akan berakhir seketika.
Hari ini tanggal itu tiba.

Aku salah, salah besar. Aku tidak menyangka perkara ini tidak sesimpel bayangannya. Sungguh begitu berat melepaskan semua ini. Berpisah dengan orang-orang yang telah mengisi hidup kita dengan suka duka selama setahun.

Manis sekali bukan? Post-it dengan pola angka 12

Seharian aku menghabiskan waktu di sakan bersama partnerku, kak Sofi. Kami mengumpulkan sisa-sisa momen yang bisa dikenang, untuk terakhir kali. Semalam anak-anak sakanku membuat kejutan menghias sakan dengan berbagai tulisan yang sejujurnya, amat memilukan. Berbagai kata-kata terakhir, ucapan selamat jalan dan doa perpisahan ramai di dalam sakan, mereka membuatnya hingga jam 1 malam lebih.

"Good Luck"

See U Again

Ilalliqaa'

 Aku dan Sakan 12

Aku tidak bisa berekspresi saat itu, aku terdiam, bingung dengan apa yang harus kukatakan atau kulakukan. Senang, haru dan sedih bercampur tak terdefinisi. Mereka bilang itu malam terakhir, meski pendek mungkin, namun paling tidak kita melewatinya bersama.

Pagi ini tanggal itu tiba.
Aku masih disibukkan dengan sejumlah buku yang minta diisi oleh pesan kesan. Aku berfoto dengan kak sofi yang boleh jadi merupakan foto bersama pertama dan terakhir kami. Benar saja, siang sampai sore terasa berlalu begitu cepat, tak terasa waktu sudah ashar.

Inilah saat acara wisuda kami.
Semuanya berjalan dengan lancar dan baik sampai tiba-tiba, setelah acara itu resmi ditutup, pikiranku baru tersadar.

Hey, ini hari terakhir aku di sini, inilah (mungkin) saat-saat terakhir aku melihat wajah orang-orang yang kusayangi, yang membantuku menyusun mozaik hidupku, yang berhikmah mengajarkanku berbagai hal.

Aku akan segera meninggalkan sakan 12 yang penuh kenangan, tawa dan tangis yang bergulir tiada henti. Aku akan meninggalkan anak-anakku yang entah kenapa rasa sayangku baru saja bertumbuh subur akhir-akhir ini. Ya Allah, bila aku diberi kesempatan lagi, aku ingin memperbaikinya dari awal, aku ingin mengenal mereka lebih jauh, menyalakan seberkas cahaya dalam hidup mereka, menjadi berguna bagi mereka.
Ini semua sudah terlambat. Ini semua sudah selesai. Dan aku -mutlak- salah perhitungan.

Asyifa datang menemuiku, gadis unik kakak dari si kembar ini tiba-tiba memelukku erat, jiwaku basah seketika. Air mata mulai meleleh dipipiku membasahi cadar, begitu juga ia. Asyifa-ku, maaf aku harus meninggalkanmu, aku tak punya pilihan, tapi engkau akan selalu kukenang, Insya Allah, sahabat yang selalu nyambung membicarakan topik apapun, dari kleptomania hingga dinosaurus.

Umi menungguku, tak lama anak-anak sakan 6 mengerubungiku, menangis sesegukan, Sofi yang selalu minta uang jajan titipannya, Yuri yang selalu ceria, Tabita yang lucu, Shafa yang cantik dan elegan, Dinda yang lembut, Hani yang polos dan sederhana, mereka bukan anak sakanku, aku bahkan jarang bertemu mereka  tapi betapa aku merasa kehilangan mereka, terutama Sofi dan halaqah ketawanya.

Umi masih setia menunggu di depan aula ditemani Asyifa. Keluar dari aula, air mataku masih belum berhenti, aku tidak kuat untuk ke sakan, hatiku akan remuk dan air mataku akan habis disana.
Akhirnya umi pulang. Umi akan menjemputku ba'da Isya, Asyifa mengantarku ke sakan.

Di depan sakan, anak-anakku sedang berkumpul. Menanti kami, mungkin? Entahlah, tapi yang jelas, begitu aku melihat wajah mereka, aku merasa seolah aku tak akan bisa melihatnya lagi di kemudian hari. Aku pasti akan teramat kehilangan. Tangisku pecah seketika, Jene, Habibah dan yang lainnya memelukku, mereka kemudian membimbingku masuk ke sakan.
Ya Allah, beri aku kesempatan lagi. Aku belum ingin berpisah dengan mereka. Mengapa aku seolah baru terbangun dari sebuah tidur panjang sehingga aku tidak menyiapkan apapun untuk mempersiapkannya? Kupikir bahkan, bila denting waktu kuputar mundur, aku belum dapat memberikan sesuatu yang terkenang untuk mereka. Mereka duduk dan berkumpul di sekitarku, ya Allah.. wajah-wajah ini.. para bidadari mungil ini..

Ada Afifah yang cantik, Azizah yang ramah, Alvina yang bijak, Alvira yang cuek, Chika yang manja dan suka memberi, Faizah yang unik, Fathimah yang tekun, Ghea yang ceria, Habibah yang imut, Hajar yang cerdas, Salsa yang suka fashion, Mutia yang pendiam, Nanda yang Rajin, Rahma yang teliti, Salma yang manis, Khoiriyah yang suka desain, Zeyn yang lucu, Kholish yang baik, Nurul yang sopan, Syahidah yang simpel tapi complicated dan Zahra yang seru..

Semua terjadi begitu cepat, hari-hari beterbangan bebas, momen-momen kebersamaan tiba-tiba meluap di pikiranku.
Kita harus berpisah, mau tidak mau.

Kak Sofi pulang malam itu.. aku yang tadinya hendak menginap semalam lagi tak kuat menahan haru yang mendera, aku menutup mataku, aku juga harus pulang malam ini, aku tidak ingin menghabiskan malam itu dengan tangisan. Aku perlu menenangkan diri, begitu pula anak-anakku.

Aku membereskan barang-barangku, keluar dari sakan yang telah kuhuni setahun ini. Aku bertemu dengan murid-muridku kelas 7, diantaranya Khodijah.. ia menyelipkan surat di tanganku, wajahnya begitu sendu, air mata menggenangi kedua matanya yang indah, ia memelukku erat, Ya Allah, jagalah ia untukku.

Turun tangga, bruk! Shafa Marisa dan beberapa anak kelas 8 D memelukku tiba-tiba, mereka menangis di bahuku,
"Maaf aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kakak.." bisiknya,
Sudah, kumohon.. semua ini akan membuatku semakin berat meninggalkan kalian. Aku menyayangi kalian.. tenang saja, aku akan senantiasa mendoakan kalian, Insya Allah.. segala kebaikan semoga tercurahkan untuk kalian.

Anak-anak sakanku mengantar sampai ke gerbang, aku berusaha menahan tangis dengan amat sangat, aku tidak ingin membuat mereka sedih, karena kesedihan hanya akan menyesakkan kalian. Aku tidak ingin itu, kalian harus bahagia. Harus.

:')

Ya Allah, bila aku bisa, aku ingin menggenggam hati mereka yang telah menetap kuat dalam lubuk hatiku. Ya Allah, saksikanlah betapa aku mencintai mereka karena-Mu. Kebahagiaan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan mereka. Aku sadar bahwa sebentar lagi semua ini hanya akan tersimpan dalam memori. Aku tak sanggup membayangkannya. Air mataku tidak berhenti mengalir sepanjang perjalanan ke rumah. Ini aneh sebenarnya, padahal aku merupakan orang yang sulit untuk mengungkapkan perasaan melalui ucapan atau tindakan. Tapi kali ini berbeda, kalian berbeda, kalian istimewa bagiku.

Untuk anak-anak sakanku, anak-anak halaqahku, anak-anak kelasku.. aku mencintai kalian karena Allah. Terima kasih untuk kenangan yang kalian titipkan. Semoga segala kebaikan untuk kalian.
Aku berharap penggantiku nantinya akan lebih baik. Kalian tidak akan sendirian.. Ada Allah, ada cahayaku dan ada orang-orang yang akan terus mencintai kalian karena Allah.
Aku titipkan kalian pada Allah.

Bahagialah.
Bahagialah untukku walaupun bukan bersamaku.
Aku pergi.
Bismillah.


Beberapa hari lalu, terbesit dalam diriku keinginan untuk membeli sebuah rak di bawah ranjang sebagai pengganti dari kasur bawah yang memang jarang digunakan, kupikir dengan rak di kolong ranjang dapat memaksimalkan organize kamarku sehingga buku-bukuku bisa kuletakkan disana dan memindahkan meja belajar agar lebih rapi.

Aku juga banyak mendapat inspirasi berkebun dan menjahit dari laman pinterest.com, kebetulan ada halaman kecil disamping rumah yang ingin kutanami sayur-sayuran dengan teknik hidroponik, dan pagar besi dekat kolam pesantren juga ingin kuhiasi dengan pohon rambat agar terlihat lebih hijau.. mungkin sejenis bunga alamanda, insya Allah.

Selain ide berkebun, yang sedang kukerjakan juga proyek menjahit, liburan kemarin aku membuat (hampir) 22 desain baju sesuai karakter teman-temanku di kelas XII B (Genius2), dan niatnya aku juga berharap bisa menjahit semua baju itu dan meminta masing-masing mereka memakainya.

Tapi tunggu dulu, ada beberapa hal yang belum kupertimbangkan, saat ini aku sudah kelas 3 MA dan sebentar lagi lulus, Insya Allah.. lalu kemudian mengabdi dan melanjutkan kuliah. Namun dimana? Aku bahkan belum yakin jurusan apa yang kuinginkan, kalau menurut living map yang kubuat beberapa tahun lalu, seharusnya aku mengambil jurusan psikologi, kebidanan, tata boga atau syariah. Itu beberapa tahun lalu, sedangkan sekarang, aku belum bisa memastikan.

Ah, sejauh itukah? Sebenarnya aku belum begitu siap untuk hidup sendiri dan jauh dari keluarga, meski kedua orang tuaku mendukung keputusanku dengan memberi beberapa masukan tentunya.

Hey, bagaimana dengan keinginan-keinginanku? Setelah kupikirkan lebih dalam, mungkin semuanya harus kutunda dulu, bagaimanapun, abiku menasihatiku untuk fokus belajar di tahun terakhir MA ini, nanti setelah lulus bolehlah memikirkan yang lainnya. Begitupun keinginan-keinginanku.

Aku sempat ingin menundanya sampai aku selesai sekolah, lalu pindah ke tempat baru (dan dunia baru : perkuliahan), tapi uhm, sampaikah umurku kesana?

Tidak, bukannya aku pesimis, tapi entah kenapa aku jadi banyak memikirkan tentang pindah rumah akhir-akhir ini, abiku yang bimbang untuk memfokuskan diri diantara 3 sekolah yang beliau mengajar disana, abiku agak condong untuk memilih fokus di salah satu universitas di Sentul, Bogor. Tapi untuk bolak-balik ke rumah setiap hari, kata abiku, itu akan sangat merepotkan, dan mungkin pilihan terburuk paling terakhir kami adalah pindah rumah.

Entahlah, aku belum sempat untuk memikirkan lebih dalam bagaimana hidupku di masa depan, aku hanya akan berusaha yang terbaik dan meminta kepada Allah agar Ia memberikan yang terbaik untukku.

Membicarakan tentang pindah rumah, aku tiba-tiba terbetik dengan suatu pikiran.. Yup! Pada akhirnya kita memang akan pindah rumah, bukan? Dari dunia ke akhirat?
Kalau dari sekarang aku berusaha hemat dan menabung untuk kebutuhanku setelah pindah rumah, maka aku mengingatkan diriku, sudahkah aku berbekal untuk kehidupan abadi nanti?

Disaat aku menunda semua keinginanku dengan harapan akan terwujud lebih baik lagi setelah pindah rumah, maka sekuat apa aku telah menahan diriku dari segala keinginan hawa nafsu demi mendapat yang lebih baik nanti, berupa rumah di Syurga?

Aku selalu menghitung hari, berapa lama lagi aku di rumah ini? Meski pasti akan berat meninggalkannya, yang mana tempat ini adalah tanah kelahiranku dan banyak kenangan telah terpatri disini, tapi bagaimanapun, jika keadaan memaksa kami, maka apa boleh buat?

Bukankah ini persis sekali dengan rumah 'dunia' kita ini? Kita tidak tahu kapan akan pindah menuju rumah 'akhirat' dan rumah mana yang akan kita tinggali? Bukankah kebanyakan orang berat untuk meninggalkan dunia ini? Bukankah orang-orang berharap dapat hidup abadi? Masya Allah, sungguh ini perkara yang amat besar, aku salah, ini semua tidak sesederhana pindah rumah, meski secara pemikiranku yang terbatas ini, keduanya tampak mirip jika dipermisalkan.

Akan tetapi, aku harus ingat, bahwa nenek moyang kita (Adam dan Hawa) berasal dari Syurga, kita semua berada di dunia untuk melaksanakan ujian, ah lagi-lagi aku mempermisalkannya.. tapi benar bukan? Oleh karenanya kita harus mengerjakan dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkan waktu jug sebaik-baiknya, karena kita tidak tau berapa lama durasi ujian kita ini? Jangan berleha-leha, karena kesalahan atau kekurangan waktu sedikit saja bisa menjadikan seseorang merugi, bukan.. bukan merugi karena tidak naik kelas sebagaimana ujian di dunia, karena jika hanya demikian, setiap orang memiliki kesempatan kedua untuk mengulang. Tapi ujian besar ini, mempertaruhkan kebahagiaan atau kesengsaraan kita selamanya..

Salah seorang teman pernah mengingatkanku, perhatikan dengan baik sahabatmu yang akan selalu bersamamu sampai hari penentuan kelak..
Siapa itu? tanyaku,
Amalanmu, amalan baik atau amalan burukmu, merekalah yang akan menemanimu di alam kubur, yang dapat menuntunmu ke kebahagiaan Syurga atau menarikmu ke kesengsaraan Neraka, ujarnya.

Nb. Maaf bila tulisanku tidak sesuai dengan judulnya, kutulis pada catatan HP tanpa perencanaan, tertulis begitu saja bagai mengalirnya air.

Bogor, 12 Agustus 2015
Bismillah.


Pernah dengar istilah statement judul diatas? Kalau baru mendengar sekarang, berarti sama denganku.
Sebelumnya, aku juga belum pernah tahu istilah 'learning by teaching' yang Isya tadi abiku katakan.

Awalnya, abiku ada jadwal mengajar di fakultas ekonomi tentang bursa efek dan pasar modal, kulihat abi sibuk membaca beberapa buku yang berkaitan dengan tema itu, duduk di depan laptop lebih lama dari biasanya saat menyiapkan materi untuk besok.

Setelah kusiapkan satu mug teh dingin, aku iseng bertanya,
"Abi baca apa sih? Kok lama sekali?"
"Ini lagi belajar buat materi besok ngajar" ujar abi,
"Emang abi belum paham? Dulu kan abi juga kuliah ekonomi.."
"Masih dipelajari lagi.."
"Lha, materi buat besok tapi baru dipelajari sekarang?"
"Nggak, mendalami aja.. mempraktekkan metode learning by teaching.." begitu katanya.

Umm, belajar dengan mengajar. Rasanya aku pernah tahu sebelumnya..
Oh ya, Syifa Putri! Salah satu santriwati tercerdas Ibnu Taimiyah, juara 1 lomba menggambar se-Lampung saat TK, finalis Olimpiade Matematika Nasional saat SD dan juara 1 Olimpiade Matematika MTs se-Jawa Barat yang juga termasuk anak halaqahku.. yang mana saat suatu hari aku sempat bertanya padanya mengenai metodenya dalam belajar (terutama matematika), ia menjawab bahwa faktanya ia hampir tidak pernah belajar, ia hanya sering mencoba dan berlatih mengerjakan soal-soal sehari-hari, dan saat menjelang ujian, ia justru disibukkan dengan mengajarkan teman-temannya.

Masya Allah, hebat sekali bukan? Bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain dan bukan hanya memahami, tapi juga mampu memahamkan orang lain.
Learning by teaching, umm.. sebenarnya secara tidak langsung kami (kelas XII B alumni 2 Banat) sering mempraktekkannya, namun statement demikian baru kudengar sekarang.

Misalnya, saling menjelaskan antar teman untuk lebih mudah mengingat atau saling bertanya-jawab, dan biasanya aku melakukan demikian bersama Hilyah, salah satu teman baikku.
Selain itu, anggota kelas kami, biasanya bila belum memahami suatu materi pelajaran, kami merasa lebih nyaman bertanya kepada teman yang paham dibanding pada gurunya langsung, soalnya biasanya teman dapat menjelaskan dengan bahasa yang mudah kita mengerti dan lebih santai tentunya.

Dan kegiatan seperti ini sering terjadi saat menjelang ujian dan semuanya sudah terbiasa, baik yang mengajarkan ataupun yang minta diajarkan. Alhamdulillah, kegiatan sederhana seperti ini termasuk simbiosis mutualisme juga kan? Selain dapat mempererat ukhuwah antar anggota kelas dan saling tolong menolong, juga ada manfaat bagi kedua belah pihak, yang diajari menjadi paham dan yang mengajari bertambah paham sekaligus memurajaah (mengulang) dan mendapat pahala juga Insya Allah.

Membicarakan semua ini membuatku teringat perkataan seorang kakak kelas yang terkenal berkepribadian tegas, "kami memang diamanahkan untuk membimbing kalian, tapi itu bukan berarti kami dapat menjaga kalian terus-menerus atau menjadi alasan perilaku kalian. Bagaimanapun, kami tidak sempurna, kami bukan malaikat yang terbebas dari kesalahan, suatu saat mungkin kami khilaf dan itu karena kami manusia, kami juga bisa lupa. Kebaikan dan kebenaran datangnya dari Allah sedangkan keburukan dan kesalahan datangnya dari diri kami dan dari syaithan"

Juga dengan perkataan salah seorang guru,
"Kami mungkin disebut guru, tapi kami juga masih belajar, faktanya, kami telah belajar banyak dari kalian, belajar bagaimana bagaimana mengerti kalian semua yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, belajar bagaimana menjadi guru yang baik, dll (aku lupa lanjutannya).
Sebenarnya kami hanya wasilah, perantara bagi kalian dalam menuntut ilmu, kami disini untuk menyampaikan apa yang kami tahu saja. Ilmu itu amat luas, bagi kita untuk mempelajarinya. Belajarlah dari buaian sampai liang lahat.Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, setiap orang sebagai guru dan setiap waktu sebagai jam pelajaran."

Aih, tiba-tiba aku jadi membayangkan jauh kedepan, jika nanti tiba saatnya aku mengajar di kelas yang sebenarnya, pelajaran apa sajakah yang akan kudapati? Aku juga berharap dapat menerapkan metode ini di tengah murid-muridku kelak, agar yang belum paham tak sungkan bertanya pada yang paham dan yang paham dengan senang hati membantu yang belum paham.

Aku jadi teringat anak-anak halaqahku, rindu mereka.. yup, dalam kegiatan belajar-mengajar kecil-kecilan semacam ini saja, telah banyak sekali hikmah dan ibrah yang dapat kupelajari. Aku percaya bahwa dimana kita mengajarkan atau menyampaikan sesuatu pada orang lain, akan ada saja hal baru yang dapat dipetik, karena sungguh, aku telah mengalaminya sendiri.

Silahkan dipraktekkan : Buatlah sebuah amal jariyah : Ajarkan dan kau akan dapati pelajaran baru disana!

24 Maret 2016
Bismillah.

We already know that Arabic is language of the Holy Qur'an, language of many Islamic prayers and also Syurga (Heaven)'s language, so its an obligation to learn Arabic for Muslims.

But did you know that English is important too? English known as an International Language that we can use almost in every country in the world, even in Saudi Arabia.
That means, understanding English is used in an interaction with others.

I am not trying to compare which one (between Arabic and English) the most better, but I want you to know that both have their own importance.

Let's make it simple. How can we convey Islam to the foreign with different language in other country if we don't understand English? Whereas the Western are who need us, they need a right Islamic knowledge.

I personally think that (Alhamdulillah) we, Indonesian Muslims already have so many students and scholars who understand Arabic well, so we believe that they've learned deens lesson in their school / college.

So now, their obligatory is to convey it to the society, but the question is, how to convey it if they just understand Arabic (and most people not)? Fyi, all over the world especially Western Muslims need more dai and daiyah who can tell them what they didn't know from lessons that we learn it just by Arabic. If not us, so who?

One of my friends in Lithuania who convert to Islam in February 2015 told me that Islam is a smallest population there and most people hate it, they still think Islam is radical, terrorist and anything else, but Alhamdulillah, Allah give her Hidayah.. but, she said, it was a pity that Lithuanians don't know the truth of Islam because no one tell them.

That's why beside we learn Arabic to understand the Deen lessons, we need to learn English too so we can convey to the English speakers (especially the Western people) what we already know from the Deen knowledge that we learn by Arabic.

I know my English is not perfect, but I try my best, so hope all of you, the readers can get what I mean.

I am still learning both language (Arabic and English) and not fluently in talking or writing yet, at least my foreign Muslimah friends can understand my writing and I hope you too..


15 September 2015
Bismillahirrahmanirrahim..

 

Assalamualaikum my lovable sisters.

I hope you're in a very good state and I hope you have high iman (faith). I want to tell you, don't ever be sad, because Allah is with you. This live is not worth with being sad, so you should always smile. Even sometime you feel upset, I also feel upset a lot of time Because I really just want to go home to Jannah..

And I want to listen to Quran And I want to read Quran all day. If you ever feel sad, you should go do sujud (prostration) and you should remember that you are from the Muslim ummah. That means, that everyone is making dua (prayer) for you, Including me.. So just keep your head high and be strong. Because.. Because after hardship is ease.. Just like Allah promised in the Quran.

When you feel sad, remember this life is just a test.. and soon it will be over and you'll be happy forever in Jannah. You won't be sad, and you get sweat and it comes out perfume on you. Everything that's meant to happen to you Allah wanted it to happen to you. So be happy for that, Don't be sad..

You're a Muslim and Allah loves you, so love Him back. I know I am just a girl, but please listen to me when I talk. When you go to Jannah, you won't even remember these times and something bad happens to you or you get hurt, Allah will take the bad things away.. Insha Allah you'll find your way, isn't it?


Sometimes Allah tests us with hardships but Allah tests the people that he loves so He loves you and I love you too so much.. I hope this made you happy, or at least it made you smile..

* Written from an inspiring Muslimah's audio. I love the words, it makes me smile ^^