Latest Posts

🔸 بِسْـــــــمِ أللَّه ِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيْم 🔸


🔹🔹🔹🔹
محاضرة عامة
 تطوير قانون الشريعة الإقتصادية في مواجهة تحديات العصر الصناعي 4.0

 Public Lecture
 Perkembangan Hukum Ekonomi Syariah dalam Menghadapi Tantangan Zaman Industri 4.0

مع الأستاذ الدكتور محمد رشيد
Bersama Ustadz Dr. Muhammad Rasyid
🔹🔹🔹🔹

أندونيسيا ستكون منارا من منارات الإقتصادية الإسلامية إن شاء الله.
المال قديما: الذهب و الفضة و الغنم و البقر و غير ذلك. و الآن قد تطور معنى المل حتي يشتمل على الموارد الطبيعية.
لا يفارق حياتنا المال حتى يضع العلماء موضوعا عنه في المقاصد الشريعة، فبني الإسلام الإقتصادية على أساسها.
Indonesia akan menjadi salah satu tiang ekonomi Islam insya Allah.
Harta, dahulu berarti: emas, perak, kambing, sapi dan semacamnya. Tapi sekarang makna harta telah berkembang, mencakup sumber daya.
Hidup kita tidak dapat lepas dari harta, sehingga para ulama telah menetapkan pembahasan tentang ini dalam Maqashid Syariah (tujuan-tujuan syariat Islam yang terkandung dalam setiap aturannya), oleh karenanya, Islam membangun perekonomian berdasarkan pondasi tersebut.

نعيش و نموت بالمال، فالبحث عنه مهم جدا و لا يهجر العلماء في تعلم فقه المعاملات و كتابة بحثهم في كثير من المؤلفات المشهورة الذي أسند إليه الإقتصادية الحديثة، منها كتاب الخراج لأبي يوسف و كتاب الأموال لأبي أبيد، تلميذ أبي يوسف.
Kita hidup dan mati dengan membutuhkan harta, maka pembahasan tentang harta ini sangat penting, para ulama juga tidak meninggalkan pembelajaran fiqh muamalah dan penulisan riset mereka dalam banyak karya-karya terkenal yang menjadi patokan perekonomian modern, diantaranya kitab Al-Kharraj karya Abu Yusuf dan kitab Al-Amwal karya Abu Ubaid, murid Abu Yusuf.

يجب على كل مسلم أن يعلم أن المال في الحقيقة ليس لنا بل لله تعالى، فهو صاحب المال و له حق لسن القانون التي تتعلق بالمال كما شاء، و نحن الوكيل فقط فعلينا أن نؤدي أمانة المال كما يرشده الشريعة الإسلامية.
Wajib bagi setiap Muslim untuk mengetahui bahwa harta pada hakikatnya bukan milik kita, tetapi milik Allah,  Allah lah penguasa harta, Dia memiliki hak untuk menetapkan peraturan yang berkaitan dengan harta sesuai keinginannya, dan kita sebagai wakil harus menunaikan amanah harta sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh syariat Islam.

قل الله تعالى في كتابه الكريم، {وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ}. هذه الآية تدل على الحث على مراقبة الله حتى فى تصرفنا المالية.
Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, {dan Dia (Allah) bersama kamu dimana saja kamu berada}. Ayat ini menunjukkan motivasi untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah bahkan ketika kita melakukan transaksi harta.

و هناك الموازنة بين المعاملة و العبادة كما قال تعالى في سورة الجمعة، {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ} و قوله، {وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ{..
عندنا الحرية في تصرف المال ما برح مناسبا بشرية الإسلام.
Terdapat kesetimbangan antara Muamalah dan Ibadah sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Jumu'ah, {Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli} dan firman-Nya, {Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (Muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, Apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan, dan Allah Pemberi Rezeki yang terbaik}..
Kita tetap memiliki kebebasan dalam menggunakan harta selama sesuai dengan Syariat Islam.

الجوانب القانونية في الإقتصادية تتعلق بالجوانب السياسية. يصعب للدولة الضعيفة لطبيق الإقتصادية الإسلامية لأنها ما زالت تحتاج إلى مصرف العالم الذي بني على أساس الإقتصادية القانونية.
Aspek hukum dalam perekonomian berhubungan dengan aspek politik. Sulit bagi negara lemah untuk menerapkan perekonomian Islam karena ia masih butuh pada bank dunia yang terbentuk atas pondasi ekonomi hukum (konvensional).

عندنا أمل كبير في تطوير الإقتصادية الإسلامية، هناك 2 تريليون دولار في إنفاق العالم الإسلامي، فحركتنا ناشئة.
Kita punya harapan besar dalam perkembangan ekonomi Islam, sekarang ini terdapat 2 triliun dolar sumbangan dari dunia Islam, ini membuktikan bahwa pergerakan kita tumbuh.

المنافذ الإقتصادية في العالم الإسلام. لو يتحد الدول الإسلامية فلا يستطيع العالم الغريبة أن يعيش من دوننا، كل الموارد في قلب العالم الإسلامي ما زالت بكرا من المشرق والمغرب، من أفريقيا حتي آسيا، من الجزائر، السعودية، مصر، تركي، باكستان، عراق، ماليزيا حتى أندونيسيا. فعندنا القدرة و الإستطاعة للتطوير، لذالك لا يتركنا العالم الغربية و هم يريدون أن يقيدنا. لا يستقل الدولة الإسلامية إستقلالا كاملا ما دامت تتبع الغربيين.
Bandar perekonomian terdapat pada dunia Islam. Jika negara-negara Islam bersatu maka dunia barat tidak akan dapat hidup tanpa kita, semua sumber daya terletak di tanah Islam yang kebanyakan belum tersentuh, dari Timur sampai Barat, dari Afrika sampai Asia, dari Aljazair, Saudi, Mesir, Turki, Pakistan, Irak, Malaysia sampai Indonesia. Kita punya kemampuan dan potensi untuk berkembang, oleh karena itu dunia barat tidak pernah meninggalkan kita, mereka ingin menguasai kita. Sebuah negara belum dikatakan merdeka dengan sempurna jika masih berkiblat pada barat.

لو كان المستثمرون يريدون مصلحة المجتمع و ليست مصلحة الفرد فقط، سيهم البلاد الإسلامية لاستثمارهم.
Apabila para investor menginginkan kebaikan masyarakat, bukan hanya kebaikan individu saja, mereka mungkin akan memperhitungkan negara-negara Islam untuk ditanami investasi.

في الجانب الآخر، نشكر الله تعالى لأن الإرادة السياسية سمحت نمو الاقتصاد الإسلامي في أندونيسيا. لعل الله أن يساعدنا في التخلص من الإقتصاد الربوية إن شاءالله.
Di sisi lain, kita harus bersyukur kepada Allah Ta'ala karena kuasa politik membolehkan pertumbuhan ekonomi Islam di Indonesia.
Semoga Allah membantu kita dalam membebaskan diri dari ekonomi ribawi, insya Allah.


-------
 كتبتها عائشة السلفية.
 طالبة جامعية في كلية المعاملة جامعة التزكية.
 Ditulis oleh Aisyah As-Salafiyah.
 Mahasiswi STEI Tazkia Program studi Hukum Ekonomi Syariah.

Bismillah.



Manusia adalah makhluk sosial, selain saling membutuhkan satu sama lain, juga saling berkompetisi agar dapat diakui eksistensinya.

Hidup, boleh jadi dapat diibaratkan dengan kompetisi, tapi ia bukan kompetisi biasa dimana ada yang menang dan ada yang kalah, ini adalah sebuah perjalanan dimana siapapun yang sampai ke tujuan bisa menjadi pemenang. Karenanya kita harus selalu menjaga diri untuk terus menuntut ilmu agar tidak melenceng dari rute yang lurus dan senantiasa istiqomah agar tidak berhenti di tengah jalan.

Dunia adalah penjara bagi setiap muslim. 'Penjara' disini sejatinya memiliki makna ganda. Kebanyakan kita mengartikannya dengan, sekedar tempat untuk menderita.
Kenyataannya, penjara sini bisa diartikan sebagai, tempat tinggal sementara, artinya ini bukan tempat kita, ini adalah tempat ujian, adapun rumah, tempat tinggal sebenarnya, tempat pulang, tempat kembali kita adalah tujuan perjalanan kita tadi, Jannah, Syurga, Insya Allah.

Kebanyakan manusia bila ditanya, apa yang paling ia inginkan, ia cari, ia usahakan dalam hidup, ia akan menjawab, KEBAHAGIAAN..
Sayangnya kebahagiaan bukan sesuatu yang nyata, tidak bisa dibeli atau didapatkan dengan harta, maksudnya bukan sesuatu yang dapat kita lihat atau kita raba, ia adalah suatu perasaan yang maya, muncul dalam hati, ketenangan yang terpatri dalam jiwa.

Namun, seringkali kita lupa bahwa dari hati-lah makna kebahagiaan yang sesungguhnya, kita mulai mendefinisikan standar tertentu untuk dapat dikatakan bahagia.
Ada sebagian orang, menjadikan kekayaan sebagai standarnya. Memiliki rumah besar, perabot mahal, kendaraan mewah, baru dikatakan bahagia.
Ada lagi yang menjadikan tahta standarnya. Memiliki jabatan tinggi, status mentereng, dihormati banyak orang, baru dikatakan bahagia.

Ada pula yang menjadikan keindahan fisik standarnya, padahal ini jauh lebih relatif, tapi dalam hal inipun media mengilusikan bahwa dengan tinggi, langsing, kulit putih, dan sebagainya seorang wanita dikatakan cantik, oleh karena itu berbagai produk kecantikan merebak luas di pasaran, kini bukan hanya untuk merawat lagi niatnya, tapi lebih untuk menutupi ketidaksampurnaan. Jika sudah tampak seperti role model tertentu, baru dikatakan bahagia.

Semua ini, tidak dapat dijadikan tolak ukur kebahagiaan.
Ketahuilah, kebahagiaan itu seharusnya relatif, ia tidak bergantung pada apapun, sejatinya. Tidak pada kekayaan, tidak pada jabatan, tidak pada keindahan. Semuanya sementara, tidak akan pernah kekal, itulah dunia, kebahagiaan yang ditawarkan olehnya semu belaka.

Kenyataannya, kita sering melihat orang-orang sederhana di sekitar kita tampak begitu bahagia, senyum terlukis di wajahnya, selalu ceria menghadapi hari-hari yang berlalu meski melalui banyak kesulitan.
Sementara kita, yang boleh jadi memiliki 'lebih' dari standar kebahagiaan yang kita buat, justru sering galau dan gundah, ketakutan memenuhi pelupuk mata kita setiap akan tidur dan setiap bangun tidur.

Khawatir harta kita habis, hilang atau bisnis kita bangkrut.
Khawatir jabatan kita dilengeserkan atau ada seseorang yang lebih layak menempatinya.
Khawatir keindahan fisik kita akan luntur seiring usia yang semakin menua.
Sehingga tanpa sadar kita mulai melakukan segala sesuatu agar standar-standar itu tidak punah.

Adapun mereka yang mengetahui kebahagiaan sejati, tenang dan tentram hatinya..
Ia menyadari, bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang berawal dari hati pula, yaitu secercah rasa syukur dan qanaah (menerima apa adanya dengan ikhlas) atas apa yang telah Allah kehendaki.
Ia terlepas dari ikatan standar dunia, ia sadar bahwa inilah dunia, indah namun melalaikan. Menyesatkan kita dari rute perjalanan kita yang lurus.

Terkadang, kita bukan saja perlu membuka mata, namun juga harus membuka hati, mendengarkan naluri yang sering tertutupi. Sudah cukup kita menjadikan perkataan dan anggapan orang lain sebagai tolak ukur.
Jadikan Allah tujuan kita, jadikan Ridha-Nya harapan kita.

Bukankah Allah sendiri yang telah memfirmankan,

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ  ۗ  اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 28)

Dan dalam ayat lain,

وَمَنْ اَعْرَضَ  عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ  اَعْمٰى
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 124)

Saudariku yang kusayangi karena Allah, Allah yang telah menciptakan kitalah yang mengatakan demikian, maka siapa yang akan kita percaya sekarang? Allah sang khalik atau manusia lain yang notabene makhluk?

Sekali lagi, tidak ada standar kebahagiaan yang terikat pada dunia, biarlah keberadaan kita tidak eksis di mata penghuninya, namun siapa yang tak ingin namanya harum dalam pembicaraan penghuni langit?

Mohonlah kebahagiaan itu pada Rabb yang maha membolak-balikkan hati, Ialah satu-satunya tempat bergantung yang tak akan pernah khianat, yang selalu menerima kembalinya kita meski kitalah yang telah banyak berkhianat, sungguh tak ada daya dan kekuatan yang mampu mengirimkan kebahagiaan dalam diri kita kecuali dengan izin-Nya.

Jika benar ingin mengetahui ilmu tentang kebahagiaan, ketenangan dan ketentraman, mari kita buka lagi kitab suci yang berisi surat-surat cinta dari sumber kebahagiaan itu sendiri; Al-Quran. Bacalah ia, pahami, amalkan. Insya Allah, kita akan berbahagia.


Allah berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا  وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ طُوْبٰى لَهُمْ وَحُسْنُ مَاٰبٍ
"Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka mendapat kebahagiaan dan tempat kembali yang baik."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 29)

Wallahu A'lam.
Bismillah.


Teknik di kampusnya adalah sebuah jurusan yang terkenal sangat menghargai waktu. Bayangkan saja, jadwal kelas jam sekian, telat 2 menit saja tidak boleh masuk. Apalagi kalau ujian, padahal soal baru saja dibagikan.

Bahkan saat rapat himpunan mahasiswa jurusan teknik, tema yang akan dibahas disounding sehari sebelumnya, jadi masing-masing anggota bisa memikirkannya dahulu, baru saat rapat waktunya untuk menyampaikan pendapat, ide dan mengambil keputusan. Jika ada interupsi yang tidak berkaitan dengan rapat atau pembicaraan melebar kemana-mana, pemimpin rapat dengan tegas akan menegur, "maaf cukup dulu pembicaraan ini, mari kita kembali ke permasalahan.."

Budaya tepat waktu ini telah dibangun dengan kokoh dan terbentuk sejak awal berdirinya jurusan teknik. Salah satunya diteladankan langsung oleh alumni pertamanya. Seorang mahasiswa brilian dengan IPK 3,9 yang mendapatkan beasiswa ke Jepang. Rupanya sejak di kampus tersebut, ia telah membiasakan diri untuk selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jadwal hariannya berkutat dengan kegiatan yang produktif.

Dari pagi sampai Dzuhur ia kuliah, kemudian shalat Dzuhur, makan siang sampai jam 1, dilanjutkan dengan membimbing asistensi adik tingkat sampai jam 2, lalu ia menghadiri ujian atau praktek sampai Ashar, setelah Ashar ada rapat atau diskusi dengan organisasi karena ia merupakan salah satu aktivis yang memiliki jabatan penting dalam organisasi, akhirnya waktu malam ia habiskan untuk membaca dan belajar. Subhanallah.

Nah, suatu hari, setelah ia melanjutkan kuliah di Jepang, ia diundang ke kampus untuk memberikan motivasi kepada para mahasiswa jurusan teknik. Dari sekian banyak hal yang diekspektasikan darinya, ia hanya menyampaikan satu statement sederhana yang boleh jadi sudah bosan kita mendengarnya, tapi sejatinya tidak mudah untuk dipraktekkan, "Jangan pernah menunda waktu" Simple, tapi mengena.

“Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”
(Kitab Al Jawaabul Kaafi, dikutip dari Rumaysho.com)


Jangan pernah tertipu dengan deadline, seringkali tugas yang seharusnya bisa diselesaikan sehari malah baru terselesaikan sepekan karena deadline nya sepekan. Jangan menunda apa yang bisa kita lakukan sekarang, karena boleh jadi, kita tidak akan mendapatkan kesempatan yang sama esok hari.

Wallahu A'lam.
Tulisan ini terinspirasi dari cerita Hani Khairo Amalia.
Jazahallahu Khairan.
Bismillah.


Oleh: Duna Izfanna, M. Ed Psy Ph.D

The best of me dalam versi diri sendiri, karena kita berbeda-beda satu sama lain. Ketika kita punya tujuan, usahakan untuk tulis. Kemudian berani bermimpi. Mimpi jangan hanya dibawa tidur, tapi bangun dan sadar. Masa kuliah adalah masa yang paling aktif. Kembangkan potensi kalian. Kalian pasti kenal B.J. Habibie, kenapa beliau bisa sukses? Melihatlah ke atas, namun kaki tetap menapak di bumi. Beliau tahu dimana bakatnya, kemudian menetapkan satu tujuan, fokus dan ikhtiar serta tawakkal.

Kemudian kita belajar dari Nick Vujicic yang dengan kondisi fisiknya yang terbatas, lahir tanpa tangan dan kaki, namun ia pantang menyerah dan menjadi luar biasa. Sejak kecil ia sudah akrab dengan rumah sakit dan sering di bully. Suatu hari ia putus asa, tapi ia memiliki ibu yang selalu menyemangati, akhirnya ia menentukan untuk memilih hidup bahagia, nothing is impossible.

Dari mereka kita belajar, tapi versi kita sendiri. Hidup itu seperti buku, saat lahir buku itu masih kosong dan bersih. Setahun - dua tahun ia mulai belajar dan mengisi lembaran buku tersebut sampai sekarang. Bagaimana kita menjadi yang terbaik versi diri kita sendiri.

1.   SIAPA SAYA.
Bagaimana diri anda, tuliskan satu kata tentang diri anda. Lebih mudah menilai diri sendiri atau orang lain? Biasanya orang lain. Karena kita lebih suka mengomentari orang lain daripada bermuhasabah diri sendiri. Menilai diri kita membutuhkan waktu untuk mencapai perasaan terbuka. Siapa yang menciptakan kita? Allah. من عرف نفسه فقد عرف ربه Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Kita adalah hamba Allah. Apapun yang terjadi pada diri kita ada campur tangan Allah.

Jadi pertama bersyukur, terima apa yang Allah karuniakan. SELF: Fisik, Emosi, Fikiran, Perilaku. Pahami diri kita. Pemahaman yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda.
~ Fisik. Sempurna?
~ Emosi. Labil kah?
~ Fikiran. Positif atau negatif?
~ Perilaku (attitude). Baik atau kadang naik-turun?

Apa yang kamu fikirkan, apa yang kamu lakukan, apa yang kamu katakan itu mencerminkan diri kamu. Dalam menakar kepribadian, dalam psikologi ada yang namanya RIDO Scale Self Assessment dan RIASEC Hexagon.
@ Petakan kelebihan dan kekurangan kita.
Kelebihan contohnya: akhlak baik, disiplin, mudah bergaul, keluarga mendukung, motivasi tinggi, sehat, berani mencoba. Kekurangan contohnya: sulit bergaul, malas, keterbatasan keuangan, masalah keuangan, takut salah, kurang disiplin, moody.
@ Pahami, syukuri dan bangga dengan diri anda!
@ Tidak membandingkan diri dengan orang lain.
Ada pepatah mengatakan, rumput tetangga lebih hijau dari rumput rumah kita, padahal boleh jadi rumput tersebut imitasi.

Ketika mengenal "siapa saya" maka :
 Mengenal diri sendiri dan menerimanya.
 Mengetahui pikiran, perasaan diri sendiri.
Evaluasi.

2.   APA TUJUAN SAYA.
Tulislah apa tujuan hidup anda? Kalau kita mau makan di luar, kita harusnya punya tujuan. Apalagi dengan hidup. Pilihan itu banyak, tapi pilihlah satu dan buat alternatif. Dengan mengenal diri sendiri di step pertama, insya Allah kita bisa memilih tujuan yang benar.

3.   BISAKAH SAYA MENCAPAINYA?
Niatkan, kemudian fokus. Tulis rencana hidup, petakan bagaimana kamu akan mencapainya. Tuliskan hal apa saja yang harus anda lakukan.
Perspektif Memandang gelas setengah isi dan setengah kosong.
Prinsip Sesuatu yang dapat membimbing kita, sebagai seorang Muslimah, yang terutama adalah Syariat. Selanjutnya harus positif dan mendukung tujuan saya. Jalan tol memang lancar tapi kurang menantang. Hidup juga begitu, seharusnya rintangan membuat kita menjadi lebih semangat.
Doa Al-Baqarah: 126 Allah Ta'ala berfirman:
 وَاِذْ قَالَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ۗ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُمَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَابِ النَّارِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, Dia (Allah) berfirman, Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126) So, start now.

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

Q & A
Q: Bagaimana meningkatkan kepercayaan diri.
A: Mengenal apa yang bisa kita lakukan berdasarkan kelebihan diri sendiri, kemudian persiapan yang matang. Motivasi eksternal nya dukungan dari sekitar dan lingkungan.

Q: Kaitan antara kecerdasan dengan kemampuan bicara dan menulis.
A: Sebenarnya iya, semakin cerdas seseorang, semakin banyak idenya, semakin cepat berbicaranya karena ada banyak ide yang ingin diungkapkan. Sama dengan tulisan, ada banyak yang ingin ia tuliskan, ia khawatir idenya hilang dan berusaha menghargai waktu, akhirnya ia menulis cepat, tapi faktor-faktor tersebut tidak berhubungan dengan rapi atau berantakannya tulisan.

Q: Berpura-pura bahagia.
A: Setiap orang ada saat senang dan sedihnya. Pada dasarnya ekspresi dan tindakan yang menggambarkan perasaan seseorang sulit untuk ditutupi. Tapi kadang kita bisa menyembunyikannya. Lalu baik apa tidak? Jika berpura-puranya dalam arti menerima, ikhlas, bersyukur dan berusaha untuk tidak meluapkan emosi negatif. Dan insya Allah ini yang terbaik.

Q: Mengatasi emosi.
A: Tipe emosi ada yang tinggi, sedang dan rendah. Jika kita dicela, misalnya. Ada orang yang langsung membalas, ada yang diam dan memendam, ada yang tidak dibawa perasaan, hanya tertawa saja.
Solusinya, pertama, mengubah perspektif menjadi lebih positif, husnudzon, pikiran positif akan membuat perasaan lebih positif juga, insya Allah. Jika memang perlu, cobalah untuk diskusi, tanyakan secara terbuka dan bijak, barangkali ia tidak sengaja.

Q: Cara memaksimalkan planning.
A: Langkah pertama biasanya sulit tapi motivasinya tinggi, nah sekarang bagaimana caranya mengistiqomahkan motivasi dan semangat tersebut. Caranya, buat planning yang menarik, misalnya dengan ditempel di tempat-tempat yang sering dilihat atau buat check list. Terakhir, cari lingkungan yang baik, teman-teman yang dapat mendukung kita, mengingatkan sehingga kita selalu istiqomah. Jangan lupa untuk berdoa.

Kesimpulan
Kenali diri dan tujuan dengan baik karena hal itu akan memberikan jalan hidup untuk meraih cita-cita yang terbaik. Yakinlah Allah akan memberikan jalan hidup yang terbaik bagi orang yang senantiasa berusaha yang terbaik.


Wallahu A'lam.
Bismillah.


Bulan Syawal telah tiba, undangan dibagikan dimana-mana, perayaan tersebar di berbagai pelosok negeri. Ya, ini bulan Syawal, ini bulan dimana Sunnah untuk melaksanakan pernikahan. Orang-orang bersuka cita, kecuali sebagian kecil dari para jofisa -jomblo fi sabilillah- katanya. Mereka baper, kemudian merenung, galau tiada tara menunggu sang pangeran, terus-menerus menerima undangan, kapan menyebarnya ya?

Hey, aku jadi bertanya-tanya. Apakah status menikah akan mengubah masa depan? Apakah menjadi seorang istri pasti bahagia? Apakah memiliki pasangan bisa membahagiakan yang digambarkan orang-orang? Akhir-akhir ini menikah muda seolah menjadi trend. Sehingga banyak remaja dan teman-teman kita yang jadi gelisah, menurut mereka belum menikah di usia muda berarti belum keren.

Menikah muda memang sarana yang baik dalam mengikat hubungan dengan lawan jenis, daripada pacaran, kan? Tapi perlu diketahui, menikah adalah obat bagi mereka yang terserang penyakit cinta. Ini berarti, bagi kita yang tidak terinfeksi virus merah jambu ini, tidak harus mengecap obatnya jika memang belum siap.

Menikah memang Sunnah, menggenapkan separuh agama. Tapi sebagai seorang Muslimah penuntut ilmu, jangan lupa bahwa pernikahan telah diatur oleh Allah dalam Lauh Mahfudz-Nya. Soal kapan, dimana, dengan siapa memang tidak ada yang tahu, tapi insya Allah kelak akan indah pada waktunya. Tugas kita sekarang adalah, senantiasa memperbaiki diri, Allah menjanjikan laki-laki baik untuk wanita baik dan laki-laki buruk untuk wanita buruk. Selama masa penantian, mari menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, sebelum melaksanakan Sunnah menikah, yuk laksanakan amalan-amalan Sunnah lain yang boleh jadi banyak kita lalaikan.

Allah Maha Menggenggam hati hamba-Nya, mampu membolak-balikkannya seketika. Orang yang mencintai kita atau kita cintai saat ini, yang paling kita harapkan untuk menjadi pasangan halal kita, belum tentu yang terbaik. Allah mampu membalikkan rasa cinta menjadi benci dalam sekejap. Jadi, jaga hati, kehormatan, adab bahkan pandangan dari hal-hal negatif.

Hati-hati, jika ada seseorang yang mudah mengumbar ungkapan cinta dan sayang padamu selagi belum halal, akan mudah pula menyatakan hal yang sama pada oranglain. Jaga dirimu saudariku sayang.. Jangan sampai, masa muda kita sekarang disibukkan dengan gulana berlebihan memikirkan siapa ya jodoh kita? Kapan ketemunya? Dimana? Bagaimana?

Jika telah tiba waktunya, Allah sendiri yang akan menunjukkan jalan baiknya, pertemuan yang menakjubkan, siapa tahu? Mari belajar sungguh-sungguh untuk masa depan yang lebih cerah, berusaha lebih keras untuk hasil yang lebih sukses. Buktikan bahwa kita adalah pribadi yang mampu bertanggungjawab sejak dini, sehingga kelak ketika akan menikah nanti, calon mertua akan tenang mengamanahkan anaknya pada seseorang yang telah terbukti kemapanannya.


Terakhir, mohonlah kepada Allah, yang Maha Kuasa agar kita dipertemukan dengan seseorang yang bukan hanya akan mengubah status dari single menjadi menikah, tapi juga mampu membantu kita menjadi lebih shalihah. Menikahlah dengan seseorang yang hanya dengan bersamanya, Surga terasa lebih dekat, insya Allah.

Wallahu A'lam.

Bismillah.


Ini kisah tentang sesosok Muslimah yang tetap tegar untuk istiqomah di tengah lingkungan yang tidak mendukungnya. Ia tetap menjadi pribadi yang baik, menjadi bagian dari teman-temannya namun tetap menjaga batasan, menjadi diri sendiri selama itu sesuai dengan akhlak Al-Quran dan Sunnah.

Pesantren memang tempat yang baik untuk menuntut ilmu, namun bukan berarti semua unsur pendukung (penghuni)nya sama baiknya, meski sejatinya yah, sedang dalam proses memperbaiki diri, mungkin.

Prinsip hidupnya selama di pesantren adalah, datang untuk belajar, menuntut ilmu, jadi tidak punya teman atau bahkan dikucilkan karena dianggap terlalu penurut tidak jadi masalah, karena itu sama sekali tidak merugikannya. Aku suka itu, karena menurutku orang cerdas itu berpendirian, ia bisa memilah mana kritik yang membangun, mana yang menjatuhkan.

Nggak ikut trend, kuper, kudet? None of my business. Masih banyak hal penting yang harus dikerjakan. Belajar, murajaah, membaca buku, menghafal matan, dll.

Lalu apa tidak merasa sepi dan nggak pengen punya pengalaman seru kaya temen-temen? Gimana kalau nanti malah terlupakan?
Well, pertama, nostalgia itu nggak bermanfaat, yang lalu biarlah berlalu, hanya menghabiskan waktu saja. Tidak apa-apa tidak diingat kok, untuk apa? Walaupun aku yakin, setiap individu teman-temannya Insya Allah selalu mengingatnya, sebagai pribadi yang terlalu sempurna untuk dilupakan, pribadi yang meski tidak menyenangkan tapi menenangkan, dan selalu dibutuhkan, selalu berprestasi. Kenangan baik disini baginya adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin, membuat sejarah dengan tinta emas.


Kalau mereka bilang hidup ini Cuma sekali, di pesantren juga sebentar, harus dihabiskan dengan seru-seruan karena kapan lagi bisa bersenang-senang bersama teman-teman? Ia bilang, senang-senang ada waktunya, hidup memang Cuma sekali, karena itu harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang produktif, bukan wasting time dengan chit chat unfaedah yang tidak memberi atsar apapun nantinya setelah lulus dari pesantren. 

Bukankah kita tahu,
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
Ilmu tanpa amal (praktek) bagaikan pohon tanpa buah.
Lalu bolehkah kita bertanya, kemana ilmu akhlaknya? ilmu ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain’? ilmu tentang urgensi waktu? ilmu tentang masa depan akhirat? Mana realisasi dari apa yang sudah dipelajari? Karena itu, yuk bersama berusaha mengamalkan ilmu yang kita dapatkan dengan memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif.

Tidakkah terbesit sedikit saja keinginan untuk mencoba seperti mereka? Nonton ini-itu, ke bioskop, ke restoran terbaru, mencoba kuliner viral, mendengar musik?
‘Tidak’ ujarnya tegas.
Alhamdullah ia tidak suka dengan semua itu dan memang tidak tertarik sama-sekali untuk mencoba. Kalaupun diajak, ia akan ingat orang tua, ia sadar membawa nama baik orang tua, ia ingin membuat keduanya bangga, ia merasa belum bisa memberi apapun.
Jadi ketika liburanpun, ia prefer bantu dan nemenin umi di rumah.


Hidupmu milikmu, keputusanmu juga tanggung jawabmu. Lakukan apa yang perlu dilakukan, lihat apa yang perlu dilihat, dengar apa yang perlu didengar dan ucapkan apa yang memang perlu diucapkan.

Terinspirasi dari saudari jauhku, adiknya istri paman sepupuku, yang tidak ingin disebut namanya.
Uhibbuki Fillah, Barakallahufiik..