Latest Posts
Bismillahirrahmanirrahim.


Namaku Aisyah. Usiaku 18 tahun. Aku baru resmi lulus bulan Mei kemarin dan akan mulai kuliah September nanti Insya Allah. Saat ini kesibukanku hanya bantu-bantu di penerbit abi (Pustaka AMMA) sebagai penerjemah, penulis, editor dan cover designer. Jadi hampir setiap hari banyak waktu yang aku habiskan di depan layar laptop.

Selama ini aku masih setia menggunakan laptop lama abi yang kuberi nama 'Arkan' untuk menunjang pekerjaan sementaraku itu. Laptop 'Arkan' ini sudah aku gunakan bertahun-tahun, mungkin karena sudah tua, kadang saat sedang dipakai, tiba-tiba mati sendiri atau lola (loadingnya lama) saat multitasking. Hal ini seringkali mengganggu Produktifitas dalam berkarya. Bagaimana tidak, pernah saat aku sedang mendesain sebuah sampul buku, tiba-tiba pret! Mesinnya mati! Ya Allah, mana belum aku simpan.. bagaimana nanti kalau aku gunakan saat kuliah? Kan malu kalau mati di dalam kelas saat sedang mengerjakan tugas.

Jadilah aku memutuskan mengganti si 'Arkan'. Tapi tidak mau laptop lagi, aku mau notebook saja yang lebih praktis. Tapi sebelum memilih penggantinya, kata abi, aku harus menentukan bagaimana kriteria notebook yang sesuai dengan kebutuhanku selain dari fitur-fitur dasar tentunya (seperti menulis blog, menonton atau mendengar audio). Bagiku, untuk sekelas notebook, ada beberapa spesifikasi 'lebih' yang harus dimiliki agar tepat menjadi pilihan, terutama bagi para pelaku industri kreatif.

Notebook idaman

Pertama-tama, aku harus memilih merk notebooknya. Si ‘Arkan’ dahulu bermerk ASUS tipe K401J dan selama ini Alhamdulillah aku nyaman menggunakannya, smartphone abi juga ASUS tipe Zenfone GO, maka baiklah, ASUS adalah merk yang akan kupercaya. Selanjutnya tipe apa yang sesuai untuk kebutuhanku. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aku putuskan si ‘Arkan’ baru adalah notebook yang sama dengan punya abi, yaitu ASUS EeeBook E202.

Karena ternyata ASUS E202 sesuai dengan yang aku harapkan, berikut penjelasan lengkapnya sekaligus kriteria dalam memilih notebook yang bagus menurutku :


1. Daya baterai tahan lama

Baterai ASUS E202 kuat sampai 8 jam

Bagi seorang penulis, fitur inilah kualifikasi yang paling penting. Karena terkadang, ide bisa muncul kapan saja, sehingga kita butuh notebook yang bisa digunakan untuk menuangkan ide mendadak tersebut. Jika idenya panjang dan butuh waktu yang lama untuk menuliskannya, tentu butuh baterai yang kuat. Tidak keren jika saat sedang semangat menulis, tiba-tiba muncul notifikasi baterai lemah, bisa hilang seketika inspirasi kita.

Nah, ASUS tipe E202 menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam dan memiliki port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu, karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya dan kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0. Dengan baterai tahan lamanya, kita bisa menyelesaikan sebuah artikel atau menerjemahkan dalam sekali menulis saja tanpa khawatir tiba-tiba drop, dan bagi blogger sepertiku, bisa langsung di kirim sekalian di blog. Inspirasi mendadak pun terealisasi seketika.

2. Ukuran minimalis

Ukuran ASUS E202 lebih kecil dari kertas A4

Tentu kita tidak mau repot jika harus membawa notebook berukuran besar saat akan bekerja, apalagi kalau berat. Menurutku, ukuran sangat membantu dalam menentukan produktivitas seorang seniman, jika ukurannya enak untuk dibawa kemana-mana, kemungkinan produktif jadi lebih besar karena sering dibawa. Ukuran yang minimalis juga membantu seorang editor dalam melihat tugas-tugasnya lebih holistik, fokus dan terkesan mudah dikerjakan insya Allah. Sebagaimana Al-Quran berukuran kecil yang tampak lebih sedikit daripada Al-Quran besar, jadi lebih cepat menyelesaikan hafalan atau tilawah.

Adapun ASUS E202 hanya berukuran 12 inci, dengan dimensi 193 x 297 mm, tidak lebih besar dari ukuran kertas A4 lho, bobotnya juga hanya 1,21 kg! Ini berarti lebih simpel dan mudah digunakan dimana saja tanpa khawatir sulit dipegang atau dipangku.

Terlebih karena aku mengutamakan kesendirian saat bekerja agar tetap konsentrasi, layar yang terlalu besar kurang memberikan suasana privasi. Aku suka ukuran layar yang memang ditujukan untuk seorang pengguna saja, bukan layar besar konsumsi bersama seperti televisi.

3. Desain menarik

Pilihan warna ASUS E202 banyak dan menarik

Desain dan tampilan yang menarik dapat membuat seorang pengguna nyaman dengan notebooknya betah berlama-lama di depan layar, warna yang cantik menjadikan kita setia dan tidak akan ganti-ganti notebook lagi..

Seperti ASUS E202 yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini, ia tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge, jadi kita lebih pede saat menggunakannya dimana saja. Tidak sesuai kan, kalau seorang desainer, desain notebooknya tidak se-kreatif karyanya. Jadi menurutku desain yang eye-cathing perlu dijadikan pertimbangan.

Makin produktif dan kreatif bersama ASUS E202


Demikian hasil analisisku mengenai si calon ‘Arkan’ baru. Menurutku, ASUS E202 adalah pilihan yang terbaik untuk meningkatkan kreatifitas dan produktifitas. Tulisan ini juga merupakan rekomendasi bagi teman-teman lain yang masih bingung notebook apa yang akan dibeli.
Oya, sebenarnya, ini merupakan harapanku, karena aku juga masih menabung.. tapi aku berharap suatu hari nanti ia akan tiba secara nyata di hadapanku, Insya Allah.
Nothing is impossible.

Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com

Nb. Rasullah shallallahu alaihi wasallam suka memberi nama barang-barang kesayangan beliau.
Wallahu A'lam.
Bismillah.


Menjadi Lebih Baik !

Ini bukan karena hasilnya tidak bagus, bukan sama sekali.. ini lebih ke bagaimana kamu mengarahkan, mengaplikasikan, menggunakan, memanfaatkan apa yang -begitu menakjubkan- kamu miliki.. oke mungkin perkara ini memang passion atau minat kamu, tapi tak selamanya kamu harus menggelutinya terus menerus dengan mempertaruhkan hal hebat lain yang kamu miliki dari waktu, tenaga, akal, pikiran dan kemampuan..

Aku tidak melarang, silahkan tekuni, silahkan dalami jika memang itu membuatmu senang, tapi menulis, berkarya, bekerja di industri kreatif tidak semata-mata memenuhi kesenanganmu dan memuaskan keinginanmu saja. berkarya apalagi mengabdi, tentu harus lebih mempertimbangkan kepuasan orang yang kamu harap dapat memanfaatkan hasil kerja kerasmu..

Sungguh, menghasilkan karya dari sesuatu yang telah kamu pahami memang baik, tapi tidak banyak yang memetik manfaatnya, tentu orang lain tidak mau rugi menghabiskan uang atau waktunya untuk sesuatu yang kurang bermanfaat untuk mereka, ada kalanya kamu harus melihat dunia sekelilingmu lalu mengikuti alurnya..

Hasilkan sesuatu yang memang dibutuhkan oleh orang lain dan dapat bermanfaat untuk mereka, karena ada kalanya kamu harus mengorbankan 1 hal untuk meraih 10 hal, mundur selangkah untuk maju 10 langkah, menahan diri untuk menulis 1 buku yang bermanfaat bagimu untuk menulis 10 buku yang bermanfaat untuk oranglain..

Ada saatnya hidup tak sesuai dengan perencanaan kita karena memang kita tak berkuasa untuk menentukan, tapi jika kita gagal akan sesuatu maka secara tidak langsung itu adalah alarm alam bahwa bukan itu yang seharusnya dilakukan atau bukan begitu caranya! hanya kamu yang bisa mengubahnya dan hanya kamu yang bisa mengusahakan untuk terhindar dari kegagalan serupa di masa yang akan datang.

Sekali lagi, ini bukan kegagalan atau kepayahan sama sekali.. ini hanya tentang prioritas, karena berkarya berarti siap memberi manfaat untuk orang lain meski diri sendiri kesusahan atau penuh pengorbanan, persis seperti lilin yang menerangi sekitar meski harus meluluhkan dirinya, karena kelak.. hasilnya akan sebanding dengan pengorbanan, semakin sulit ia, semakin manis pula ganjarannya, Insya Allah..

Barangsiapa yang berbuat kebaikan meski sekecil dzarrah pasti akan melihat balasannya, janji Allah itu pasti..
Kini, bangkitlah, jangan putus asa, lari kembali, kejar seluruh mimpi-mimpimu, semoga Allah mempermudah tiap langkahmu.

Catatan untuk seseorang yang tengah terjatuh gagal. Aku percaya engkau bisa, bukan hanya karena engkau kuat, namun terutama karena Allah-lah sumber kekuatanmu.

Laa haula wa laa quwwata illa Billah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.
Bismillah.


Apalah arti kehidupan tanpa berbuat baik? Aih, ngeri sekali membayangkan porak-porandanya dunia ini bila tak ada yg namanya kebaikan.

Perlulah kita bermuhasabah sejenak, untuk apakah kita di dunia ini, karena sejatinya kelak kita akan kembali ke kampung halaman, tempat dimana seharusnya kita tinggal. Ibarat seorang pengembara, kita hanya singgah sebentar disini, menyiapkan bekal dan menentukan tujuan perjalanan sebelum melanjutkannya kembali.

Berbuat baik terkadang memang butuh pengorbanan. Bagaimana tidak, bahkan disaat seseorang melihat musuhnya dalam kesulitan, untuk berbuat baik di saat seperti itu sungguh sulit, apalagi mengorbankan perasaan yg sudah pasti. Lalu mengapa harus berbuat baik? Bukankah seorang yg tidak baik terkadang memiliki alasan tertentu untuk memenuhi kepentingannya? Seorang pencuri yg mencuri karena kelaparan misalnya. Namun dibalik semua itu, kita sebagai manusia yg beragama harus yakin bahwa satu-satunya motivasi untuk melakukan kebaikan adalah karena Allah sungguh menyaksikan kita, dan telah terpatri dalam kitab suci-Nya bahwa siapapun yg melakukan kebaikan meski sekecil apapun, ia akan mendapat balasannya yg jg berupa kebaikan, begitupun sebaliknya.

Setiap orang tidak bisa hanya diam saja sepanjang hidupnya, maka ia, jika tidak melakukan kebaikan maka tentu ia melakukan keburukan, karena sejatinya baik dan buruk itu bagaikan air dan minyak, tidak dapat menyatu.

Saat ini, aku teringat kisah seorang guru yg suatu hari terdorong secara tdk sengaja oleh seorang muridnya sampai terjatuh ke tanah, iapun menangis, maka si murid ini benar2 menyesal dan meminta maaf berkali2, namun apa kata guru itu? Ia malah berkata bahwa ia menangis bukan karena ia terjatuh, karena ia merasa baik2 saja, namun saat terjatuh itu, tak sengaja tercabut beberapa akar rumput, sehingga kematian rumput yg tak bersalah itu membuatnya amat bersedih. Masya Allah, manusia macam apa dia sampai begitu menghormati makhluk Allah lain yakni tumbuhan sebagaimana ia menghirmati manusia. Lalu bagaimana dengan kita? Sepeduli apakah diri kita atas keadaan orang lain?

Ada pula kisah lainnya tentang seorang gadis yg kurang mampu saat ia membeli sebuah tas baru karena tas lamanya sudah tak layak pakai, ia membeli tas tsb secara kredit karena tak mampu melunasinya secara langsung. Namun di tengah jalan seorang temannya memuji tas barunya itu, iapun tersenyum, lalu dengan amat ringan ia menyodorkan tas itu pada temannya, "kalau kau suka, pakailah.. kuhadiahkan untukmu.." Allahu Akbar! Lihatlah betapa pemurahnya gadis shalihah ini. Perlu diketahui bahwa kisah ini adalah nyata, disaksikan oleh ummiku sendiri yg saat itu menjadi saksi penghadiahan tas tsb, kata ummi beliau memang seorang yg gemar bersedekah dengan apapun yg ia miliki, ia merupakan teman sekaligua inspirasi bagi ummiku, namun semenjak pindah ke bogor, umi lost contact dengannya dan kehilangan jejaknya, aku berharap dan kuminta teman2 untuk bantu mendoakan agar ummiku bisa bertemu lagi dengannya dan semoga Allah menjaganya dimanapun ia berada.

Eh, kenapa jadi ngelantur begini? Hehe.. semoga kita dapat mengambil pelajaran dari 2 kisah diatas, tentu masih banyak kisah2 berbuat baik yg patut di contoh dari berbagai pribadi2 mulia, apalagi jika membaca kisah2 para nabi & Rasul atau Rasul dan para sahabatnya, seperti salah satu kisah yg sungguh membuatku takjub sampai detik ini, yaitu kisah 3 orang kehausan yg saling mengutamakan temannya untuk lebih dulu minum, aku tidak akan menceritakannya panjang lebar karena teman2 bisa browsing sendiri, tapi pokoknya adalah saat mereka sedang kehausan lalu mengutamakan kebutuhan temannya dan berpikir, barangkali temanku itu lebih membutuhkan air ini. Dan yg mengagumkan, ternyata ketiganya berpikiran yg sama sampai ketiganya mati kehausan krn tdk ingin egois, mendahulukan diri sendiri. Maka patutlah kita berkaca pada mereka, semoga Allah mengganjar mereka dengan syurga dan mengkaruniai kita sifat seperti dan kemudahan untuk selalu berbuat baik dimanapun, kapanpun dan pada siapapun, Allahumma Aamiin.

Karena perbuatan baik yang merupakan amal jariyah, pahalanya tidak akan berhenti hingga selesainya masa manusia di dunia.
It'll never end till the end, Insya Allah.


Bogor, 10 April 2015
Bismillah.


 24 Mei 2017
Tanggal yang selama ini kutunggu-tunggu, yang kubulatkan dalam kalender dan aku terus menghitung hari.

Terbayang segala penat, lelah dan beratnya amanah akan segera lengser dari bahuku. Amanah sakan dan anak-anak, amanah kelas dan murid-murid, amanah halaqah dan adik-adik. Tiap tetes air mata akan berakhir seketika.
Hari ini tanggal itu tiba.

Aku salah, salah besar. Aku tidak menyangka perkara ini tidak sesimpel bayangannya. Sungguh begitu berat melepaskan semua ini. Berpisah dengan orang-orang yang telah mengisi hidup kita dengan suka duka selama setahun.

Manis sekali bukan? Post-it dengan pola angka 12

Seharian aku menghabiskan waktu di sakan bersama partnerku, kak Sofi. Kami mengumpulkan sisa-sisa momen yang bisa dikenang, untuk terakhir kali. Semalam anak-anak sakanku membuat kejutan menghias sakan dengan berbagai tulisan yang sejujurnya, amat memilukan. Berbagai kata-kata terakhir, ucapan selamat jalan dan doa perpisahan ramai di dalam sakan, mereka membuatnya hingga jam 1 malam lebih.

"Good Luck"

See U Again

Ilalliqaa'

 Aku dan Sakan 12

Aku tidak bisa berekspresi saat itu, aku terdiam, bingung dengan apa yang harus kukatakan atau kulakukan. Senang, haru dan sedih bercampur tak terdefinisi. Mereka bilang itu malam terakhir, meski pendek mungkin, namun paling tidak kita melewatinya bersama.

Pagi ini tanggal itu tiba.
Aku masih disibukkan dengan sejumlah buku yang minta diisi oleh pesan kesan. Aku berfoto dengan kak sofi yang boleh jadi merupakan foto bersama pertama dan terakhir kami. Benar saja, siang sampai sore terasa berlalu begitu cepat, tak terasa waktu sudah ashar.

Inilah saat acara wisuda kami.
Semuanya berjalan dengan lancar dan baik sampai tiba-tiba, setelah acara itu resmi ditutup, pikiranku baru tersadar.

Hey, ini hari terakhir aku di sini, inilah (mungkin) saat-saat terakhir aku melihat wajah orang-orang yang kusayangi, yang membantuku menyusun mozaik hidupku, yang berhikmah mengajarkanku berbagai hal.

Aku akan segera meninggalkan sakan 12 yang penuh kenangan, tawa dan tangis yang bergulir tiada henti. Aku akan meninggalkan anak-anakku yang entah kenapa rasa sayangku baru saja bertumbuh subur akhir-akhir ini. Ya Allah, bila aku diberi kesempatan lagi, aku ingin memperbaikinya dari awal, aku ingin mengenal mereka lebih jauh, menyalakan seberkas cahaya dalam hidup mereka, menjadi berguna bagi mereka.
Ini semua sudah terlambat. Ini semua sudah selesai. Dan aku -mutlak- salah perhitungan.

Asyifa datang menemuiku, gadis unik kakak dari si kembar ini tiba-tiba memelukku erat, jiwaku basah seketika. Air mata mulai meleleh dipipiku membasahi cadar, begitu juga ia. Asyifa-ku, maaf aku harus meninggalkanmu, aku tak punya pilihan, tapi engkau akan selalu kukenang, Insya Allah, sahabat yang selalu nyambung membicarakan topik apapun, dari kleptomania hingga dinosaurus.

Umi menungguku, tak lama anak-anak sakan 6 mengerubungiku, menangis sesegukan, Sofi yang selalu minta uang jajan titipannya, Yuri yang selalu ceria, Tabita yang lucu, Shafa yang cantik dan elegan, Dinda yang lembut, Hani yang polos dan sederhana, mereka bukan anak sakanku, aku bahkan jarang bertemu mereka  tapi betapa aku merasa kehilangan mereka, terutama Sofi dan halaqah ketawanya.

Umi masih setia menunggu di depan aula ditemani Asyifa. Keluar dari aula, air mataku masih belum berhenti, aku tidak kuat untuk ke sakan, hatiku akan remuk dan air mataku akan habis disana.
Akhirnya umi pulang. Umi akan menjemputku ba'da Isya, Asyifa mengantarku ke sakan.

Di depan sakan, anak-anakku sedang berkumpul. Menanti kami, mungkin? Entahlah, tapi yang jelas, begitu aku melihat wajah mereka, aku merasa seolah aku tak akan bisa melihatnya lagi di kemudian hari. Aku pasti akan teramat kehilangan. Tangisku pecah seketika, Jene, Habibah dan yang lainnya memelukku, mereka kemudian membimbingku masuk ke sakan.
Ya Allah, beri aku kesempatan lagi. Aku belum ingin berpisah dengan mereka. Mengapa aku seolah baru terbangun dari sebuah tidur panjang sehingga aku tidak menyiapkan apapun untuk mempersiapkannya? Kupikir bahkan, bila denting waktu kuputar mundur, aku belum dapat memberikan sesuatu yang terkenang untuk mereka. Mereka duduk dan berkumpul di sekitarku, ya Allah.. wajah-wajah ini.. para bidadari mungil ini..

Ada Afifah yang cantik, Azizah yang ramah, Alvina yang bijak, Alvira yang cuek, Chika yang manja dan suka memberi, Faizah yang unik, Fathimah yang tekun, Ghea yang ceria, Habibah yang imut, Hajar yang cerdas, Salsa yang suka fashion, Mutia yang pendiam, Nanda yang Rajin, Rahma yang teliti, Salma yang manis, Khoiriyah yang suka desain, Zeyn yang lucu, Kholish yang baik, Nurul yang sopan, Syahidah yang simpel tapi complicated dan Zahra yang seru..

Semua terjadi begitu cepat, hari-hari beterbangan bebas, momen-momen kebersamaan tiba-tiba meluap di pikiranku.
Kita harus berpisah, mau tidak mau.

Kak Sofi pulang malam itu.. aku yang tadinya hendak menginap semalam lagi tak kuat menahan haru yang mendera, aku menutup mataku, aku juga harus pulang malam ini, aku tidak ingin menghabiskan malam itu dengan tangisan. Aku perlu menenangkan diri, begitu pula anak-anakku.

Aku membereskan barang-barangku, keluar dari sakan yang telah kuhuni setahun ini. Aku bertemu dengan murid-muridku kelas 7, diantaranya Khodijah.. ia menyelipkan surat di tanganku, wajahnya begitu sendu, air mata menggenangi kedua matanya yang indah, ia memelukku erat, Ya Allah, jagalah ia untukku.

Turun tangga, bruk! Shafa Marisa dan beberapa anak kelas 8 D memelukku tiba-tiba, mereka menangis di bahuku,
"Maaf aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk kakak.." bisiknya,
Sudah, kumohon.. semua ini akan membuatku semakin berat meninggalkan kalian. Aku menyayangi kalian.. tenang saja, aku akan senantiasa mendoakan kalian, Insya Allah.. segala kebaikan semoga tercurahkan untuk kalian.

Anak-anak sakanku mengantar sampai ke gerbang, aku berusaha menahan tangis dengan amat sangat, aku tidak ingin membuat mereka sedih, karena kesedihan hanya akan menyesakkan kalian. Aku tidak ingin itu, kalian harus bahagia. Harus.

:')

Ya Allah, bila aku bisa, aku ingin menggenggam hati mereka yang telah menetap kuat dalam lubuk hatiku. Ya Allah, saksikanlah betapa aku mencintai mereka karena-Mu. Kebahagiaan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan mereka. Aku sadar bahwa sebentar lagi semua ini hanya akan tersimpan dalam memori. Aku tak sanggup membayangkannya. Air mataku tidak berhenti mengalir sepanjang perjalanan ke rumah. Ini aneh sebenarnya, padahal aku merupakan orang yang sulit untuk mengungkapkan perasaan melalui ucapan atau tindakan. Tapi kali ini berbeda, kalian berbeda, kalian istimewa bagiku.

Untuk anak-anak sakanku, anak-anak halaqahku, anak-anak kelasku.. aku mencintai kalian karena Allah. Terima kasih untuk kenangan yang kalian titipkan. Semoga segala kebaikan untuk kalian.
Aku berharap penggantiku nantinya akan lebih baik. Kalian tidak akan sendirian.. Ada Allah, ada cahayaku dan ada orang-orang yang akan terus mencintai kalian karena Allah.
Aku titipkan kalian pada Allah.

Bahagialah.
Bahagialah untukku walaupun bukan bersamaku.
Aku pergi.
Bismillah.


Beberapa hari lalu, terbesit dalam diriku keinginan untuk membeli sebuah rak di bawah ranjang sebagai pengganti dari kasur bawah yang memang jarang digunakan, kupikir dengan rak di kolong ranjang dapat memaksimalkan organize kamarku sehingga buku-bukuku bisa kuletakkan disana dan memindahkan meja belajar agar lebih rapi.

Aku juga banyak mendapat inspirasi berkebun dan menjahit dari laman pinterest.com, kebetulan ada halaman kecil disamping rumah yang ingin kutanami sayur-sayuran dengan teknik hidroponik, dan pagar besi dekat kolam pesantren juga ingin kuhiasi dengan pohon rambat agar terlihat lebih hijau.. mungkin sejenis bunga alamanda, insya Allah.

Selain ide berkebun, yang sedang kukerjakan juga proyek menjahit, liburan kemarin aku membuat (hampir) 22 desain baju sesuai karakter teman-temanku di kelas XII B (Genius2), dan niatnya aku juga berharap bisa menjahit semua baju itu dan meminta masing-masing mereka memakainya.

Tapi tunggu dulu, ada beberapa hal yang belum kupertimbangkan, saat ini aku sudah kelas 3 MA dan sebentar lagi lulus, Insya Allah.. lalu kemudian mengabdi dan melanjutkan kuliah. Namun dimana? Aku bahkan belum yakin jurusan apa yang kuinginkan, kalau menurut living map yang kubuat beberapa tahun lalu, seharusnya aku mengambil jurusan psikologi, kebidanan, tata boga atau syariah. Itu beberapa tahun lalu, sedangkan sekarang, aku belum bisa memastikan.

Ah, sejauh itukah? Sebenarnya aku belum begitu siap untuk hidup sendiri dan jauh dari keluarga, meski kedua orang tuaku mendukung keputusanku dengan memberi beberapa masukan tentunya.

Hey, bagaimana dengan keinginan-keinginanku? Setelah kupikirkan lebih dalam, mungkin semuanya harus kutunda dulu, bagaimanapun, abiku menasihatiku untuk fokus belajar di tahun terakhir MA ini, nanti setelah lulus bolehlah memikirkan yang lainnya. Begitupun keinginan-keinginanku.

Aku sempat ingin menundanya sampai aku selesai sekolah, lalu pindah ke tempat baru (dan dunia baru : perkuliahan), tapi uhm, sampaikah umurku kesana?

Tidak, bukannya aku pesimis, tapi entah kenapa aku jadi banyak memikirkan tentang pindah rumah akhir-akhir ini, abiku yang bimbang untuk memfokuskan diri diantara 3 sekolah yang beliau mengajar disana, abiku agak condong untuk memilih fokus di salah satu universitas di Sentul, Bogor. Tapi untuk bolak-balik ke rumah setiap hari, kata abiku, itu akan sangat merepotkan, dan mungkin pilihan terburuk paling terakhir kami adalah pindah rumah.

Entahlah, aku belum sempat untuk memikirkan lebih dalam bagaimana hidupku di masa depan, aku hanya akan berusaha yang terbaik dan meminta kepada Allah agar Ia memberikan yang terbaik untukku.

Membicarakan tentang pindah rumah, aku tiba-tiba terbetik dengan suatu pikiran.. Yup! Pada akhirnya kita memang akan pindah rumah, bukan? Dari dunia ke akhirat?
Kalau dari sekarang aku berusaha hemat dan menabung untuk kebutuhanku setelah pindah rumah, maka aku mengingatkan diriku, sudahkah aku berbekal untuk kehidupan abadi nanti?

Disaat aku menunda semua keinginanku dengan harapan akan terwujud lebih baik lagi setelah pindah rumah, maka sekuat apa aku telah menahan diriku dari segala keinginan hawa nafsu demi mendapat yang lebih baik nanti, berupa rumah di Syurga?

Aku selalu menghitung hari, berapa lama lagi aku di rumah ini? Meski pasti akan berat meninggalkannya, yang mana tempat ini adalah tanah kelahiranku dan banyak kenangan telah terpatri disini, tapi bagaimanapun, jika keadaan memaksa kami, maka apa boleh buat?

Bukankah ini persis sekali dengan rumah 'dunia' kita ini? Kita tidak tahu kapan akan pindah menuju rumah 'akhirat' dan rumah mana yang akan kita tinggali? Bukankah kebanyakan orang berat untuk meninggalkan dunia ini? Bukankah orang-orang berharap dapat hidup abadi? Masya Allah, sungguh ini perkara yang amat besar, aku salah, ini semua tidak sesederhana pindah rumah, meski secara pemikiranku yang terbatas ini, keduanya tampak mirip jika dipermisalkan.

Akan tetapi, aku harus ingat, bahwa nenek moyang kita (Adam dan Hawa) berasal dari Syurga, kita semua berada di dunia untuk melaksanakan ujian, ah lagi-lagi aku mempermisalkannya.. tapi benar bukan? Oleh karenanya kita harus mengerjakan dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkan waktu jug sebaik-baiknya, karena kita tidak tau berapa lama durasi ujian kita ini? Jangan berleha-leha, karena kesalahan atau kekurangan waktu sedikit saja bisa menjadikan seseorang merugi, bukan.. bukan merugi karena tidak naik kelas sebagaimana ujian di dunia, karena jika hanya demikian, setiap orang memiliki kesempatan kedua untuk mengulang. Tapi ujian besar ini, mempertaruhkan kebahagiaan atau kesengsaraan kita selamanya..

Salah seorang teman pernah mengingatkanku, perhatikan dengan baik sahabatmu yang akan selalu bersamamu sampai hari penentuan kelak..
Siapa itu? tanyaku,
Amalanmu, amalan baik atau amalan burukmu, merekalah yang akan menemanimu di alam kubur, yang dapat menuntunmu ke kebahagiaan Syurga atau menarikmu ke kesengsaraan Neraka, ujarnya.

Nb. Maaf bila tulisanku tidak sesuai dengan judulnya, kutulis pada catatan HP tanpa perencanaan, tertulis begitu saja bagai mengalirnya air.

Bogor, 12 Agustus 2015
Bismillah.


Pernah dengar istilah statement judul diatas? Kalau baru mendengar sekarang, berarti sama denganku.
Sebelumnya, aku juga belum pernah tahu istilah 'learning by teaching' yang Isya tadi abiku katakan.

Awalnya, abiku ada jadwal mengajar di fakultas ekonomi tentang bursa efek dan pasar modal, kulihat abi sibuk membaca beberapa buku yang berkaitan dengan tema itu, duduk di depan laptop lebih lama dari biasanya saat menyiapkan materi untuk besok.

Setelah kusiapkan satu mug teh dingin, aku iseng bertanya,
"Abi baca apa sih? Kok lama sekali?"
"Ini lagi belajar buat materi besok ngajar" ujar abi,
"Emang abi belum paham? Dulu kan abi juga kuliah ekonomi.."
"Masih dipelajari lagi.."
"Lha, materi buat besok tapi baru dipelajari sekarang?"
"Nggak, mendalami aja.. mempraktekkan metode learning by teaching.." begitu katanya.

Umm, belajar dengan mengajar. Rasanya aku pernah tahu sebelumnya..
Oh ya, Syifa Putri! Salah satu santriwati tercerdas Ibnu Taimiyah, juara 1 lomba menggambar se-Lampung saat TK, finalis Olimpiade Matematika Nasional saat SD dan juara 1 Olimpiade Matematika MTs se-Jawa Barat yang juga termasuk anak halaqahku.. yang mana saat suatu hari aku sempat bertanya padanya mengenai metodenya dalam belajar (terutama matematika), ia menjawab bahwa faktanya ia hampir tidak pernah belajar, ia hanya sering mencoba dan berlatih mengerjakan soal-soal sehari-hari, dan saat menjelang ujian, ia justru disibukkan dengan mengajarkan teman-temannya.

Masya Allah, hebat sekali bukan? Bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain dan bukan hanya memahami, tapi juga mampu memahamkan orang lain.
Learning by teaching, umm.. sebenarnya secara tidak langsung kami (kelas XII B alumni 2 Banat) sering mempraktekkannya, namun statement demikian baru kudengar sekarang.

Misalnya, saling menjelaskan antar teman untuk lebih mudah mengingat atau saling bertanya-jawab, dan biasanya aku melakukan demikian bersama Hilyah, salah satu teman baikku.
Selain itu, anggota kelas kami, biasanya bila belum memahami suatu materi pelajaran, kami merasa lebih nyaman bertanya kepada teman yang paham dibanding pada gurunya langsung, soalnya biasanya teman dapat menjelaskan dengan bahasa yang mudah kita mengerti dan lebih santai tentunya.

Dan kegiatan seperti ini sering terjadi saat menjelang ujian dan semuanya sudah terbiasa, baik yang mengajarkan ataupun yang minta diajarkan. Alhamdulillah, kegiatan sederhana seperti ini termasuk simbiosis mutualisme juga kan? Selain dapat mempererat ukhuwah antar anggota kelas dan saling tolong menolong, juga ada manfaat bagi kedua belah pihak, yang diajari menjadi paham dan yang mengajari bertambah paham sekaligus memurajaah (mengulang) dan mendapat pahala juga Insya Allah.

Membicarakan semua ini membuatku teringat perkataan seorang kakak kelas yang terkenal berkepribadian tegas, "kami memang diamanahkan untuk membimbing kalian, tapi itu bukan berarti kami dapat menjaga kalian terus-menerus atau menjadi alasan perilaku kalian. Bagaimanapun, kami tidak sempurna, kami bukan malaikat yang terbebas dari kesalahan, suatu saat mungkin kami khilaf dan itu karena kami manusia, kami juga bisa lupa. Kebaikan dan kebenaran datangnya dari Allah sedangkan keburukan dan kesalahan datangnya dari diri kami dan dari syaithan"

Juga dengan perkataan salah seorang guru,
"Kami mungkin disebut guru, tapi kami juga masih belajar, faktanya, kami telah belajar banyak dari kalian, belajar bagaimana bagaimana mengerti kalian semua yang memiliki kepribadian yang berbeda-beda, belajar bagaimana menjadi guru yang baik, dll (aku lupa lanjutannya).
Sebenarnya kami hanya wasilah, perantara bagi kalian dalam menuntut ilmu, kami disini untuk menyampaikan apa yang kami tahu saja. Ilmu itu amat luas, bagi kita untuk mempelajarinya. Belajarlah dari buaian sampai liang lahat.Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, setiap orang sebagai guru dan setiap waktu sebagai jam pelajaran."

Aih, tiba-tiba aku jadi membayangkan jauh kedepan, jika nanti tiba saatnya aku mengajar di kelas yang sebenarnya, pelajaran apa sajakah yang akan kudapati? Aku juga berharap dapat menerapkan metode ini di tengah murid-muridku kelak, agar yang belum paham tak sungkan bertanya pada yang paham dan yang paham dengan senang hati membantu yang belum paham.

Aku jadi teringat anak-anak halaqahku, rindu mereka.. yup, dalam kegiatan belajar-mengajar kecil-kecilan semacam ini saja, telah banyak sekali hikmah dan ibrah yang dapat kupelajari. Aku percaya bahwa dimana kita mengajarkan atau menyampaikan sesuatu pada orang lain, akan ada saja hal baru yang dapat dipetik, karena sungguh, aku telah mengalaminya sendiri.

Silahkan dipraktekkan : Buatlah sebuah amal jariyah : Ajarkan dan kau akan dapati pelajaran baru disana!

24 Maret 2016