Latest Posts

Bismillah.




Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan sebuah tulisan yang membuatku merefleksi apa yang sudah kulakukan, saat itu, aku berada di titik kebingungan, rasanya seperti ingin ke suatu tempat, tapi ketika sudah tiba di sana, aku bingung apa yang sebenarnya aku inginkan, atau, apa yang harus aku lakukan. Namun pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa, mencari dunia tidak ada habisnya, padahal dunia sendiri suatu hari akan habis. Lalu seseorang yang sampai sekarang tidak kuketahui identitas nya mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

[QS. Thaha:124]

MasyaAllah Tabarakallah, seolah-olah ayat itu membuatku melihat hidup dari sudut pandang lain, yang lebih positif, insya Allah. Syukran jazakumullahu khayr. Bagi teman-teman yang mau membaca tulisan tersebut, bisa di klik di sini.


Alhamdulillah, pada hari ini, 3 Oktober 2020, seorang adik berdiskusi denganku, membicarakan tentang, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dari setiap keputusan yang kita ambil. Aku berpikir, dan aku pun menyampaikan padanya bahwa dahulu aku berpikir begitu simpel, jadi tolak ukur keputusan yang kubuat banyak didasarkan pada orangtua. Umi Abi. Untukku, apa yang bisa membuat umi abi bahagia, akan kulakukan, misalnya ketika memilih untuk masuk perguruan tinggi yang saat ini sedang aku jalani, bahkan keputusan program studi yang kuambil. Jadi saat itu, yang kutahu hanyalah, pilihan orangtua insya Allah yang terbaik, dan aku harap itu cukup sebagai alasan.


Maka demikianlah aku beberapa tahun selanjutnya. Meski beberapa kali, kadang muncul juga niat-niat lain yang lebih subjektif, misalkan sesederhana, karena aku suka hal tersebut, jadi aku pilih. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Baik, Allah memberikan banyak kebaikan dalam hidupku. Ohya, aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi, setiap pertemuan, perpisahan, rezeki, ajal semuanya telah ditetapkan Allah dalam lauh Mahfudz, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah.


Kembali ke topik, namun dalam pembicaraan hari ini, secara spontan aku menyampaikan beberapa pesan ke adik yang satu ini. Sosok yang senantiasa semangat dalam berbuat kebaikan namun tawadhu nya luar biasa, Masya Allah. Sebuah pesan yang, ketika aku baca ulang, ini bahkan lebih cocok dikatakan sebagai hal yang dapat kupelajari dari segala sesuatu yang sudah kulalui. Ini mungkin boleh dikatakan sebagai, pesan untuk diriku di masa lalu.


Aku paham bahwa tidak ada yang bisa mengulang waktu. Manusia hanyalah kumpulan hari-hari, yang jika satu hari telah berakhir, maka hilanglah sebagian dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri. Jadi bukan, ini bukan angan-angan atau berandai-andai. Ini adalah pesan yang Alhamdulilah baru aku sadari sebagai jawaban dari pertanyaan ku di masa lalu, mungkin. Dan, ini juga pesan yang kukhususkan untuk adik-adik ku yang mungkin saat ini sedang berada dalam fase Quarter Life Crisis. Serba bingung dengan banyak hal, mempertanyakan diri sendiri tentang keputusan yang diambil, pun pusing memikirkan masa depan. Aku harap, pesan ini dapat tersampaikan pada hatimu, sehingga kamu tidak perlu mengalami kebingungan seperti yang kualami.


Aku bukan tipe orang yang mudah membuat keputusan, ada begitu banyak pertimbangan yang muncul dalam benakku sebelum aku berani memutuskan sesuatu, hal-hal sekecil, aku tidak akan membuat status di WhatsApp jika masih ada pesan chat yang belum kubalas, karena bagiku itu akan membuat si pengirim pesan merasa sedih, meski entahlah, rasa itu muncul begitu saja, atau memang aku saja yang merasa demikian.. tapi intinya, memutuskan sesuatu merupakan hal yang akan membutuhkan waktu lama. Terlebih lagi kalau berkaitan dengan kepentingan orang banyak, aku lebih suka menyerahkannya kepada mereka yang bijak, jujur saja, aku khawatir sekali salah mengambil keputusan kemudian merugikan sebagian orang.


Sampai akhirnya, aku semakin selektif dalam memilih pertimbangan memutuskan sesuatu. Beberapa pengalaman di organisasi mengajarkan bahwa akan ada keadaan-keadaan dimana aku harus berpikir cepat, dan memutuskan dengan cepat pula. Dan kalau kamu mau tau, tidak ada pertimbangan baku dalam setiap keputusan cepat yang kubuat, selain dari aku memilih mana yang lebih banyak kebaikannya. Kalau jangka waktunya lebih lama, mungkin aku bisa konsultasi dengan orangtua, atau meminta pertimbangan mereka yang jauh lebih paham. Sehingga, keputusan cepat semacam ini menyebabkan aku bisa jadi sosok yang berbeda tergantung dengan perkara yang kuhadapi, dan aku memohon ampunan Allah jika ada dari keputusan itu yang menyebabkan kedzaliman. Jika kamu salah satu dari orang yang pernah kudzalimi, aku minta maaf, benar-benar minta maaf, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak untukmu, memberkahi hidupmu kedepannya insya Allah ..


Oh, kisah ini semakin panjang. Dan aku belum juga sampai pada intinya, terus berkutat di latar belakang permasalahan. tapi begitulah.. itu yang terjadi padaku sebelumnya.

Hari ini, satu kalimat yang kusampaikan pada adik tersebut adalah seperti ini,
"Kini kak aisyah sadar satu hal, yang seharusnya kak aisyah pikirkan, menjadi pertimbangan membuat keputusan, sejak dulu, dalam segala sesuatu, keputusan apapun itu, adalah.. menjadikan Allah sebagai tolak ukur."


Iya. Itul yang kusampaikan dan ituah yang seharusnya aku lakukan, simpelnya dengan menjawab pertanyaan, 'Allah Ridha tidak ya, aku melakukan ini? Apa ya yang kira-kira dapat menghasilkan keridhaan Allah?' dan jawabannya akan menjadi jawaban dari keputusanku.


Salah seorang kakak pernah menasihatiku, kalimat ini pernah kutulis juga dalam tulisan yang cukup berkesan untukku di sini dan di sini juga. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita tau Allah Ridha atau tidaknya? Jawabannya adalah, minta fatwa pada hati kita masing-masing.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.

[HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)]


Sang kakak bilang, bahwa kita sudah mumayyiz, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi sebagai manusia yang mampu berpikir, kita bisa melihat, apakah ini baik atau buruk, baik dengan standar perasaan maupun logika. Dan aku pikir itu benar, itulah kenapa kita sudah diberi amanah syariat. Karena kita sudah mumayyiz. Kita pada dasarnya tau apakah yang kita lakukan baik atau tidak, dalam sudut pandang syariat, terutama. Fitrah kita dan hati nurani kita menunjukkan itu. Tentu akan lebih baik lagi jika kita paham ilmunya, belajar agama lebih dalam sehingga kita dapat menerapkan dalil syariat sebagai rujukan dalam kondisi yang kita hadapi.


Jadi, begitulah..

Aku, kamu, kita semua akan menghadapi banyak hal kedepannya. Banyaknya pilihan, arus informasi yang begitu cepat, semua itu akan memaksa kita untuk berpikir lebih, dan seringkali membuat kita bingung juga ya.. memilih satu permen diantara dua akan jauh lebih mudah daripada memiliki satu dari 100 pilihan permen. Namun aku berdoa, semoga, kedepannya, kita dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan sebuah keputusan, menjadikan Allah sebagai tolak ukur, memilih yang termudah selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana tauladan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan.

Tentu banyak hal besar yang akan kita hadapi, masalah besar, keputusan besar.. sebelum kuliah misalnya, mau di kampus mana? Jurusan apa? Saat kuliah, mau ikut organisasi apa? Mau ambil berapa sks? Perlu kah ikut acara sana sini? Magang dimana? Nanti skripsi membahas apa? Setelah kuliah, baiknya apa yang bisa kulakukan ya? Coba apply kerja dimana? Atau memutuskan menikah dengan siapa? Atau S2 saja dulu? Atau pertanyaan seperti, sebetulnya aku mau menjadi apa? Mau hidup seperti apa?


Masya Allah.. pada akhirnya, sebesar apapun perkara yang kita hadapi, kita harus ingat, Allah jauh lebih besar dari itu semua, Allahu Akbar. Mudah sekali bagi Allah untuk menunjukkan kita, mendatangkan bantuan dari arah yang tidak kita sangka. Apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita, sebagaimanapun kita mengejarnya, tidak akan pernah sampai. Dan, apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti akan sampai pada kita, bagaimanapun caranya. Boleh jadi, apa yang menurut kita buruk, itu sebenarnya baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita baik, itu sebenarnya buruk. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karenanya, menjadi urgen sekali untuk kita mendasarkan setiap keputusan kita pada standar keridhaan Nya.


Aku jadi teringat sebuah quotes.



Aku berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kita semua Taufiq dan Hidayah Nya. Menjaga dan melindungi kita dimanapun dan kapanpun. Serta menetapkan hati kita untuk selalu istiqomah meniti jalan ini, jalan yang lurus, meski tidak selalu mulus. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.


Alhamdulillaahi Alladzi Bini'matihi Tatimmu Shalihat.

Syukran jazakumullahu khayr sudah menyimak catatanku, semoga ada manfaat yang bisa diambil, tulisan ini merupakan pengingat untuk diriku sendiri dan juga pembaca sekalian. Jika ada hal-hal yang keliru atau perlu diklarifikasi, jangan sungkan untuk menyampaikan ya, mari sama-sama kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Jangan lupa untuk berdoa memohon petunjuk-Nya.. ^^

Bismillah.


Bagaimana kabarmu adikku yang cantik nan shalihah? Semoga selalu dalam lindungan-Nya ya..

Adikku sayang, tahukah kamu kalau manusia itu tempatnya kesalahan dan lupa, makanya dalam bahasa Arab kata manusia diambil dari kata ‘نسي - ينسى  yang artinya lupa. Semua orang pasti pernah melakukan dosa, bedanya, orang yang memiliki keimanan kuat akan senantiasa ingat dan takut pada Allah ketika dia mau berbuat dosa, adapun orang yang keimananya lemah akan mudah tergoda oleh setan dan jatuh dalam lubang maksiat dan penyesalan. Naudzubillah.

Kamu ingat kan, kalau shalihah itu bukan hanya menghafal Al-Quran dan belajar ilmu agama aja, tapi juga mengamalkannya. Karena ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon tanpa buah. Adapun soal lingkungan yang tidak mendukung, teman-teman yang mulai menyimpang, cuekin aja, kamu tetep bisa bergaul sama mereka tapi jangan sampai melebur atau kebawa pengaruh yang ga baik. Kamu harus punya prinsip, kamu harus amanah, orangtua menempatkan kamu di pesantren karena kasih sayang mereka ingin kamu menjadi lebih baik, lebih cerdas, lebih mandiri dan tentu lebih shalihah.

Kakak paham ada banyak hal yang kamu pikirkan, mengingat kamu juga sekarang jadi ketua (eh ketua apa sih, kamar apa osis? :D), tapi masih banyak hal penting yang harusnya lebih utama untuk dipikirkan, kayak, gimana bisa membahagiakan dan membanggakan orangtua, gimana meraih nilai bagus, gimana supaya tetap berakhlak baik..

Allah Maha Kuasa mempertemukan orang baik  sama orang baik juga, kalau kamu yang dulu Allah pertemukan dengan Suci, Asiah, Salma, dsb itu karena Insya Allah kamu baik. Nah coba deh menjadi lebih baik lagi, Insya Allah akan datang orang-orang yang lebih baik di sekitarmu. Kakak sampaikan ini, karena di sini kakak juga pernah merasakan, saat kita berusaha selalu baik, Allah selalu mempertemukan dengan orang baik lain dan sebaliknya, kalau kita tidak baik, akan Allah pertemukan dengan orang yang ngga baik juga.

Kalau soal tanggung jawab sama jabatan dan peraturan, ini mah masuk muamalah ya, gimana cara bergaul yang baik dengan orang lain. Dalam hal ini kita harus mencontoh dari tauladan terbaik manusia, yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam menghadapi orang-orang yang menentang beliau, membenci bahkan menyakiti beliau, lalu apa yang beliau lakukan? Marah? Membalasnya? Membenci? Tidak.

Beliau justru mendoakan kebaikan untuk mereka. Menunjukkan akhlaq islam yang baik, menghadapi dengan hati yang lembut. Dan pada akhirnya seluruh Jazirah Arab luluh hatinya, sebagian besar masuk Islam dengan keimanan yang ikhlas dan hasilnya? Nama Rasulullah selalu harum dimanapun dan kapanpun. Jadi, adikku sayang, tugas kita tetap baik pada siapapun, terutama teman-teman sendiri, saudari kita sesama muslim, apapun yang terjadi.



Kakak sayang kamu karena Allah,
Kalau kamu kehilangan-Nya, kasih sayang kakak juga akan hilang.
Karenanya kakak ingin kamu selalu ingat Allah, kapanpun dan dimanapun.

Agar kamu tenang hatinya, nyaman dan ceria hadapi hari-hari di sana.

#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia
Bismillah.


Harga produk herbal mahal? Sabun yang kita gunakan tidak jelas keamanan komposisinya? Ingin menghemat pengeluaran dengan membuat sendiri atau bahkan menambah pemasukan dengan menjualkannya? Yuk belajar membuat produk herbal sendiri.

Kebetulan belum lama ini Aisyah dan umi menghadiri sebuah pelatihan pembuatan produk herbal di Cibubur. Masya Allah manfaat sekali, Jazakillah Khairan untuk bu Lisnawati yang sudah berbagi ilmunya. Materi pertama yang kami pelajari adalah membuat sabun, Aisyah sudah catat di google keep tapi Qadarullah terhapus, jadi resep sabun menyusul ya Insya Allah.

RESEP HOT CREAM :
Hot cream harganya mahal, harganya lumayan mahal, seperti counterpain.
 Bahan :
Creambase 100 gr
Minyak adas 15 ml
Minyak cabai 15 ml
Minyak sereh 2 ml
Pepermint 10 ml.
 Cara membuat :
Semua bahan dicampur menjadi 1. Untuk menurunkan Ph, didiamkan 24 jam dahulu atau di tim 10 menit api kecil (kukus dalam mangkuk kayak bikin coklat) dulu, kalau pakai minyak cabai bisa langsung dipakai.

 RESEP MINYAK PIJAT / PENGHANGAT :
 Bahan :
White oil 100 ml
Minyak adas 7 ml
Minyak cengkeh 5 ml
Minyak cabai 10 ml
Untuk pewangi / aditif, tambah bibit minyak mawar / lavender
 Cara membuat :
Langsung saja dicampur menjadi satu di sebuah botol, lalu dikocok sampai rata.
 Catatan :
White oil bisa diganti atau di mix dengan minyak zaitun. Kalau mau zaitun semua, minyak cabainya 5 ml saja, karena minyak zaitun sudah hangat.

 RESEP SALEP GATAL
 Bahan :
Vaselin 100ml,
Minyak jarak 10ml
Pegagan 4gr
Miyak cengkeh 5ml
Minyak pala 5ml (opsional).
 Cara pembuatan:
Diaduk, tim 10 menit.

 RESEP FRESHCARE
DPE, minyak adas, minyak cabe, peppermint, perbandingan sama.

 RESEP SUNLIGHT
 Bahan :
Teksafone 200gr
Camperland 24ml
NACL / garam 10gr
Marlon 2ml
Air 2400ml
Parfum secukupnya
Pewarna secukupnya
 Cara membuat :
Larutkan NACL dan air, aduk sampai bening. Masukkan larutan ke dalam teksafone sedikit demi sedikit sampai rata, lalu kemudian camperland dan marlon. Diamkan 24 jam, masukkan parfum dan pewarna.

Untuk salep, basic nya vaseline.
Untuk minyak, basic nya white oil.
Untuk krim (soffell, krim wajah wajah, hand body, hot cream) basic nya cream base.



ADITIF OPSIONAL
Rice oil : kulit lembut dan kencang.
Minyak biji anggur : menghilangkan flek hitam bintik-bintik
Sunflower / bunga matahari : menghilangkan flek hitam melebar.
Propolis, susu etawa, pegagan, sambiloto : menghilangkan jerawat.
Minyak jarak : alergi gatal-gatal.
White oil, minyak cengkeh, minyak adas : untuk pijat.
Pepermint kristal : untuk hot cream yg wangi dan hangat. Karena pepermint biasa akan menghilangkan wangi.
Sabun pepaya sebagai aditif gunakan yg mengkel warna oren-hijau
Sabun semangka sebagai aditif gunakan bagian putih bawahnya merah yang dekat kulit
Sabun sirih, blender, peres, endapkan ambil bagian atasnya.
Untuk sampo mobil, teafol atau tambah EDT untuk busanya.
Untuk membunuh kuman, glikosan.
Pewarna cair: gunakan merk kupu-kupu atau rajawali.
Krim pemutih muka : bengkoang
Gatal : minyak castrol oil, olium caston, minyak jarak
Minyak wangi : PG (tekstur minyak oily), DPE (tekstur cair liquid)
Sabun susu : supaya warnanya putih tambahkan 0.5 gram titanium dioksida TIO2
Sabun sirih : beli esensial sirih atau manjakani atau sirih diblender, peres, ambil atas2nya
Sabun : kalau ga ada minyak zaitun / sawit, pake minyak VCO
Supaya keset sabun cuci piringnya : marlon 1 ml
Sabun cuci untuk busa : teksafone & marlon 1:1
Bahan soffell : cream base 100gr, olium lavender 17ml, olium rutaca 10ml

Minyak naga : Minyak adas 30ml & peppermint 30ml

Demikian.
Wallahu A'lam.
#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia
Bismillah.


Alhamdulillah ada kabar gembira dari komunitas Qurrata A’yun yang kami luncurkan pada tanggal 17 Agustus kemarin. Program pertama yang kami buat pertama kali adalah T3Q yaitu Talqin, Tahsin dan  Tahfidz Al-Quran yang pernah Aisyah tulis di sini. Alhamdulillah program itu peminatnya lumayan banyak, 500-an lebih, sampai teman kami yang menjadi cp nya saja kewalahan.

Memang, saat itu kami tidak terlalu banyak pertimbangan, intinya jalan aja dulu, kalau memang ada yang salah ya kita perbaiki sama-sama.
Nah setelah merevisi program tersebut, kami menemukan beberapa pelajaran dalam membuat suatu komunitas atau acara, diantaranya berikut ini :

➡ Mempersiapkan akun media sosial resmi.
Untuk apa? Untuk pengumuman resmi dan info-info terkait komunitas agar cp tidak berkali-kali menjawab pertanyaan yang sama.
Di antara media sosial terpenting yang telah kami miliki sejauh ini adalah, akun fanpage facebook, instagram, channel telegram dan alamat email.

➡ Siapkan cp (kontak) alternatif dan berbeda gender.
Seorang cp yang menerima pertanyaan atau pendaftaran terutama suatu acara sangat mungkin kewalahan menerima puluhan sampai ratusan chat setiap harinya, belum lagi kalau hp dan aplikasinya tergabung dengan milik pribadi, kan kasihan kalau chat penting malah tenggelam karena banyaknya chat peserta.
Untuk yang menerima peserta laki-laki dan perempuan, usahakan untuk dipegang oleh gender yang sama, ikhwan untuk ikhwan dan akhwat untuk akhwat, hal ini dilakukan untuk meminimalisir fitnah, ketidak-nyamanan dan modus, he.

➡ Buat formulir pendaftaran instan di google form.
Nah, ini dia hal yang nggak kepikiran sejak awal, dengan google form, semua informasi yang masuk terdata dengan lengkap dan kita juga lebih mudah untuk mengaturnya.

➡ Buat susunan organisasi yang jelas dengan rincian tugas masing-masing.
Ini penting sekali dilakukan saat pertama kali membuat sebuah komunitas, agar setiap anggota atau pengurus menerima dengan tugasnya dan dapat bertanggung-jawab penuh. Ini juga penting untuk menghindari konfllik dan saling mengandalkan antar-anggota dengan mengatakan, misalnya, ‘aku tidak mau mengerjakan ini, kamu saja, kan tidak ada perjanjian sebelumnya, dst.’

➡ Memiliki visi misi.
Visi misi bagaikan ruh bagi komunitas, tanpanya, sebuah komunitas tidak akan hidup, visi misi juga merupakan tiang yang menjadi tumpuan dan tolak ukur setiap anggota untuk terus mengembangkannya.

➡ Setiap proyek memiliki rancangan yang matang.
Sejak awal ide proyek, buatlah mind mapping atau langkah-langkah yang jelas sampai akhir, apa saja yang dibutuhkan dan berbagai antisipasi kemungkinan-kemungkin agar proyeknya tidak stuck di tengah jalan karena hambatan yang tidak terduga.

➡ Yang terpenting adalah, niatkan untuk kebaikan dan ikhlas karena Allah.
Jika sejak awal komunitas dibangun dengan niat untuk menyebarkan kebaikan maka semua akan dipermudah oleh-Nya insya Allah. Selain itu semua usaha yang kita lakukan juga akan berpahala dan menjadi amal baik kita.
الدَّالُ على الخير كفاعله
"orang yang menunjukkan kebenaran, maka baginya pahala seperti orang yang mengamalkannya"

Demikian beberapa poin penting yang perlu diperhatikan saat membangun komunitas atau hendak membuat acara baik yang offline ataupun online.
Semoga bermanfaat.


 🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Oya ada tambahan, komunitas Qurrata A’yun sedang membuka kesempatan menjadi kontributor penulis tetap nih, buat yang ingin berbagi tulisan dengan orang lain, tapi bingung mau disalurkan kemana.
Atau ingin menyampaikan sesuatu yang bermanfaat & ingin orang lain mengamalkan apa yang kamu sampaikan, tapi bingung mau dipost dimana.
Sekarang, Komunitas Qurrata A'yun membuka lowongan bagi kamu yang suka menulis agar bisa mengirim & menyalurkan tulisannya di media-media resmi yang Kami miliki.

Langsung aja yuk gabung bersama Tim Kami di bidang kepenulisan.
Tapi sebelum itu, ada baiknya kalau kamu baca hadits dibawah ini, supaya makin ikhlas & yakin bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mulia & ngga akan sia-sia.
إذا مات ابنُ آدمَ انقطع عملُه إلا من ثلاثٍ : صدقةٍ جاريةٍ , أو علمٍ يُنتفَعُ به , أو ولدٌ صالحٌ يدعو له
“Apabila anak cucu Adam meninggal, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga; sedekah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan atau anak shalih yang mendo’akan (orang tua)nya.” (HR. Muslim)

Jika kamu berminat, isi form berikut yaa:
https://goo.gl/forms/kznvWbhWt52JCerJ2

FP: fb.com/info.qurrataayun
IG & Channel TG: qurrataayun_official


#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia
Bismillah.


Ada yang cita-citanya menjadi hafidz hafidzah? Hafidz dalam arti sebenarnya, menghafal dan menjaga Al-Quran secara sempurna 30 juz.
Pernah dengar hadits Rasulullah shallallahu alahi wasallam :
خيركم من تعلم القرآن و علمه
Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.
Jadi, siapa sih yang nggak mau menjadi manusia terbaik seperti kriteria Rasulullah?
Allah memberikan kita nikmat waktu 24 jam sehari, adakah kita menyisihkan sedikit untuk mempelajari dan menghafal kalam-Nya?

Kenapa harus menghafal Al-Quran?
Karena ia termasuk bentuk berbakti kepada kedua orangtua. Orangtua juga mendapat pahala atas kebaikan yang dilakukan oleh anaknya. Di akhirat nanti, orangtua yang anaknya penghafal Al-Quran akan mendapatkan mahkota dari cahaya.
Selain itu mengikuti Rasulullah. Bagaimana tidak, akhlak Rasulullah saja Al-Quran, dan beliau mengisi malam-malamnya dengan lantunan ayat Al-Quran.
Yang paling utama adalah mendapatkan banyak kemuliaan.

Nah berikut Aisyah tuliskan beberapa poin penting tentang menghafal Al-Quran nasihat dari ustadz Arham bin Ahmad Yasin (penulis buku Agar Sehafal Al-Fatihah), salah seorang hafidz yang masya Allah sangat mutqin (kuat hafalannya) :
Ikhlas lillahi ta'ala. Ini adalah syarat wajib yang paling penting dalam menghafal Al-Quran. Niatkan pertama untuk Allah, mencari keridhaaan-Nya, bukan keridhaan atau anggapan manusia yang remeh.
Menghafal dengan tartil, jangan terburu-buru, nikmati setiap ayat yang dibaca, ingat bahwa setiap huruf memiliki 10 pahala.
Bermujahadah (sungguh-sungguh) dan berusaha keras.
Allah berfirman :
و من أراد الآخرة و سعى لها سعيها
Dan barangsiapa yang menginginkan Akhirat dan melalui jalannya..
Artinya bukan hanya sekedar keinginan dan azam saja, tapi perlu pembuktian dengan tindakan dan usaha.
Sabar dan istiqomah.
Apapun yang terjadi, sekali memutuskan untuk menjadi ahlul Quran, tidak boleh ada malas atau putus asa, paksakan diri.
Ingat bahwa menghafal Al-Quran itu mudah, Allah jelas berfirman :
و لقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر
Dan kami telah memudahkan Al-Quran untuk dihafal, maka adakah yang mengambil pelajaran?
Jadi intinya, kunci menghafal ada di tangan kita sendiri, mau belajar apa tidak?
 Tunjukkan adab dan akhlak yang baik dan santun. Diantara adab menghafal adalah, tidak boleh main-main, bercanda atau iseng.
Suara lantang. Suara yang lantang membantu kita membedakan makhraj dan mudah diingat.
Baca terus sampai suara habis, justru setelah itu suara akan lebih panjang, latih terus.. agar nantinya baca Al-Quran berapa juz-pun tetap berstamina.
Tidak boleh melamun, harus khusyuk dan tadabbur, kalau tidak, sebanyak apapun bacaannya, tidak akan masuk.
Baca dan ulang minimal 5 kali dengan fokus dan penuh konsentrasi.
Hafalan baru itu mudah hilang, ibarat buruan yang masih liar, harus dijinakkan dengan diulang setiap hari dalam sepekan, setelah itu selanjutnya baru boleh diulang sepekan sekali saja.

Bagaimana jika sudah hafal?
Kata الحفظ (hifz) artinya menjaga, adapun hafidz berarti orang yang menjadi Al-Quran di hati dan akalnya.
Jadi sering-sering murajaah, ini pekerjaan seumur hidup. Jangan sampai kita melupakan hafalan.
Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihat bahwa dosa (melupakan) yang paling besar adalah melupakan hafalan.
Melupakan dan lupa beda ya.
~ melupakan berarti menyia-nyiakan.
~ lupa adalah normal dan manusiawi.
Lakukan murajaah tanpa melihat mushaf, coba baca diluar kepala, kecuali saat mentok.
Murajaah itu harus sempurna, jangan pilih-pilih. Pegang hafalan yang sudah kuat sembari memperkuat atau menyisir hafalan yang belum kuat.
Jangan hanya fokus dengan juz-juz tertentu, kasihan hafalan yang lainnya.
Kalau kata kak Rahmi (kakak kelasku di Tahfidz Ramadhan),
"Jadikan murajaah itu proses kontinyu yang tidak akan pernah berhenti, hatta ataanal yaqiin, sampai datang kematian. Diantara hikmah lupanya hafalan adalah agar kita terus mengulang-ulang, jadi pahalanya juga terus-menerus, dan agar manusia tidak menjadi sombong dengan hafalannya. Kalau seseorang sekali baca langsung hafal sampai mati tanpa murajaah, niscaya dia mencukupkan diri dari membaca atau membuka Al-Quran. Ingat bahwa segala sesuatu memiliki hikmah, Insya Allah."

Kita siap berbeda!
Hafalan Al-Quran menjadi kontrol hidup kita di zaman penuh fitnah ini.

Bismillah. Mari mulai menghafal Al-Quran.


Demikian.
Wallahu A'lam.
#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia