Latest Posts

Bismillah.



Kenapa kita melakukan sebuah aktivitas?

Kapan kita rela meluangkan waktu kita untuk sesuatu?

Mengapa kita menyusun target hidup?

Apa yang ingin kita capai dalam hidup?

 

Kalau mengikuti kebanyakan manusia (yang mana amat sangat memungkinkan untuk salah dan terus berubah seiring berkembangnya zaman), alurnya yaitu sesederhana; lahir, tumbuh, bermain, belajar, kuliah, bekerja, menikah, menjadi orangtua, pensiun, wafat.. lupakan dulu soal sekolah bagus atau tidak, perusahaan bonafit atau tidak, tempat tinggal dan kendaraan mewah atau sederhana.. itu hanya soal pilihan dan kemampuan..

Tapi, setelah tercapai semua itu.. lalu apa?

Aktualisasi diri? Melakukan yang kita suka? Menjadi diri sendiri? Rekognisi dari orang lain?

Masya Allah, bagaimana jika ternyata.. kita wafat sebelum mencapai apa yang kita inginkan tersebut? Katanya, agar meninggal tanpa penyesalan karena minimal sedang dalam proses usahanya.. tapi kalau tidak melibatkan Allah, bagaimana nanti saat dihisab, untuk apa usiamu dihabiskan?

Memikirkan dunia terlalu banyak akan membuat frustasi, itu fakta. Uang bukan solusi, bahkan seringkali uang justru jadi sumber masalah.

Karenanya, mari kita, sebagai seorang Muslim, melihat kembali peta panjang kehidupan kita.. merefleksikan lagi siapa yang menciptakan kita, untuk tujuan apa, dan bagaimana akhirnya..

Jadikanlah setiap aktivitas kita ibadah, bukan hanya aktualisasi diri.. harus setingkat lebih tinggi, tujuan nya bukan hanya pencapaian dunia, tapi juga pencapaian akhirat.. karena Allah melihat proses, adapun hasilnya, Allah yang menentukan..

Jangan lagi bergantung pada apa yang kita suka atau kita inginkan, tapi dasarkan rasa suka atau ingin itu pada apa yang Allah suka atau ingin.. karena kita tidak akan mampu mencapai nya tanpa pertolongan Allah. Bahkan bernafas atau melihat atau mendengar saja, kita tidak akan mampu tanpa izin Allah. Laa Haula wa laa quwwata Illa Billah..

Jangan juga berusaha menjadi diri sendiri, karena sekali lagi, bergantung pada diri sendiri bisa salah atau kalah.. kita manusia yang punya hawa nafsu dan selalu diberikan was-was oleh syaitan, dan keduanya mengajak kepada keburukan.. jadilah kita sebagaimana yang Allah Ridha, dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam contohkan.. karena petunjuk Nya tidak akan pernah salah.. dan kitapun tenang karena telah berpedoman pada Dzat yang abadi.. Ingat di surat Al-Ikhlas, Allahusshamad.. Allah adalah satu-satunya tempat bergantung.

Terakhir, rekognisi dari oranglain. Tahukah kita bahwa hati orang bisa berubah-ubah seketika tergantung oleh banyak hal? Bisa jadi hari ini dia menyukai kita dan besok membenci kita.. hanya karena mood nya terpengaruh oleh kondisi internal maupun eksternal nya, padahal bisa jadi kita tidak berubah sama sekali.. karenanya, kita yang perlu menentukan apa yang harus diterima dan ditolak, mana yang harus didengarkan, mana yang tidak.. tentunya dengan pertimbangan aturan Allah juga.. misalnya, ucapan orangtua, tentu saja harus selalu diperhatikan dan ditaati selama bukan dalam hal keburukan atau maksiat..

Perbedaan sudut pandang terhadap aktualisasi diri atau ibadah ini, akan berpengaruh pada bagaimana kita bertindak, bagaimana kita berusaha, bagaimana kita bercita-cita.. dan ini adalah satu topik yang saat ini sedang kuhadapi. Menjadi seorang mahasiswa Pascasarjana dan juga seorang isteri.. banyak yang mengatakan bahwa sayang sekali ijazahnya jika tidak digunakan untuk berkarir, padahal banyak kesempatan yang terbuka.. terus untuk apa mengambil S2 kalau akhirnya hanya jadi ibu?

Hey, tunggu. Sebelum aku menjawab semua itu, rasa-rasanya aku yang perlu bertanya dahulu, jadi selama ini belajar, sekolah dan kuliah kita tujuannya hanya untuk bekerja saja? Mengumpulkan uang yang bahkan nominal dari rezeki kita setiap harinya sudah Allah tentukan?

Betul, bekerja juga bisa menjadi ibadah.. mengamalkan ilmu yang kita miliki, mendapatkan hasil yang bisa kita gunakan untuk membahagiakan orang-orang yang kita sayangi.. tapi jangan lupa, sekali lagi, panjangkan niat tersebut sampai kepada Allah. Ikhlas betul-betul mengerjakannya sebagai ibadah, atau mungkin kewajiban jika memang kondisinya mengharuskan (misalnya anak perempuan yang mengurus orangtua yang sudah renta dan adik-adik yang masih kecil, tidak ada yang bisa membantu mencari nafkah).. karena dengan hati yang ikhlas, kita akan menyadari bahwa tugas kita, kewajiban kita, ibadah kita adalah berusaha sebaik-baiknya.. sedangkan hasilnya, kita serahkan kepada Allah, karena Allah tau mana yang terbaik untuk kita. Jadi, tidaklah kita besar kepala jika hasilnya banyak, pun tidak berkecil hati jika hasilnya sedikit.. karena yang dilihat dari kita, yaitu besar kecilnya usaha kita, bukan besar kecilnya hasil..

Diantara hal yang seringkali kita lupakan, bahwa kita memiliki tugas peradaban, menjadi Khalifah di bumi, memakmurkan bumi, dengan perannya masing-masing.. kadang kita belum tau apa peran yang Allah titipkan pada kita, hal yang bermanfaat bagi diri kita dunia akhirat maupun bagi ummat, namun.. Allah akan mengarahkan kita, karena itu kita perlu selalu meminta petunjuk-Nya.. Allah akan menempatkan kita di tempat, bersama orang-orang, di suatu waktu yang kadang tidak kita sangka-sangka, tapi itulah saat bagi kita untuk belajar menerima dan menjalani sebaik-baiknya.. baik itu dimana kita sekolah, dimana kita kuliah, jurusan yang kita tekuni, perusahaan tempat kita bekerja, orangtua dengan karakter nya masing-masing, lingkungan sekitar kita, pasangan kita, anak-anak kita, rumah kita, kendaraan kita, jabatan yang kita duduki, dan semuanya.. sama seperti nabi Musa yang memiliki kelebihan dalam kekuatan fisik, namun Allah perintahkan ia untuk berdakwah pada Firaun dengan kalimat yang lembut, yah.. boleh jadi itu bukan passion atau bidangnya, tapi beliau tetap berusaha melaksanakan nya, dan Allah melihat proses tersebut, ketika nabi Musa telah berusaha sebaik mungkin, totalitas mengerjakan perintah Allah, hingga akhirnya terdesak lari ke laut dan nampak tidak ada jalan keluar lagi, nabi Musa yakin ada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.. dan demikianlah, seperti cerita yang telah dicantumkan dalam Al-Qur'an, bahwa Allah belah laut itu untuk menjadi jalan keluar nya..

Sungguh, begitu juga nabi-nabi lain mengajarkan kita tentang tawakkal.. nabi Ibrahim yang dibakar dalam api dan kemudian menjadi dingin, nabi Yunus yang ditelan ikan paus dan kemudian Allah selamatkan, nabi Ismail yang akan disembelih dan kemudian Allah gantikan dengan sembelihan besar..

Janji Allah tidak pernah salah, Allah tidak akan membebani seseorang diluar batas kemampuannya. Implikasinya adalah, dimanapun Allah menempatkan kita, di posisi apapun, bersama siapapun, Allah telah membekali kita dengan kemampuan yang cukup.. tinggal bagaimana kita, apakah mau atau tidak menjalani nya..

 


Karenanya, ketika Allah Maha Kuasa menempatkan aku dulu sebagai seorang mahasiswa, aku diberikan kesempatan untuk belajar, yang bisa kulakukan adalah berusaha sebaik-baiknya.. melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan oleh penuntut ilmu, sebagai bentuk ibadah, bukan hanya apa yang diminta oleh kampus.. hingga Allah mudahkan aku untuk lulus dengan baik, Alhamdulillah..

Demikian juga, saat aku lulus, aku bekerja di beberapa tempat, awalnya ingin memanfaatkan ilmu yang pernah kudapat, mengamalkannya, dan memberi manfaat, membahagiakan orangtua.. hingga aku baru melihat bagaimana dunia begitu menyilaukan.. tidak ada lagi yang mengatur atau membimbing kita seperti di sekolah atau kampus, kita harus belajar mengatur dan mengendalikan diri sendiri.. aku dengan latar belakang hukum ekonomi syariah, mulai mencoba berbagai bidang dari yang mulai posisi dengan gaji 1 juta per bulan, 1.5 juta, 2.5 juta, 4 juta, 6 juta, hingga 10 juta.. ambisi ku terus meningkat, hingga akhirnya, Allah selamatkan aku dari angan-angan tidak berakhir tersebut..

Saat ini, Allah posisikan aku menjadi seorang isteri. Aku bekerja di rumah, pekerjaan rumah tangga, dengan suamiku sebagai satu-satunya atasanku. Lalu hasil yang kudapatkan? Hmm, kalau bisa disebut, aku akan menyatakan bahwa hasilnya worth it.. tidak ada angka pasti, karena aku merasa ada banyak ketenangan dan keberkahan yang tidak bisa dikuantifikasi.. dan yang terpenting, aku merasa cukup, Alhamdulillah.

Kemudian, bagaimana dengan karirku?

Karirku adalah menjadi ibu rumah tangga.

Aku punya ibadah sekaligus kewajiban yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Bagaimana aku menjadi pemimpin di rumah, apakah aku taat pada suami, apakah aku sudah membahagiakan nya dengan penampilan bahkan ucapan, apakah aku mendapat Ridha nya. Inilah ibadahku sekarang..

Aku tidak lagi bekerja untuk pimpinan perusahaan manapun, tapi aku bekerja untuk pimpinan rumah tanggaku, suamiku. Karena inilah ibadah prioritas bagi seorang isteri.. bukan, bukan karena yang lain dilarang, tapi aku pribadi, memutuskan untuk fokus dalam bidang ini, mungkin, boleh jadi, disinilah peran peradaban ku.. Aku ingin ketika aku wafat, suamiku Ridha padaku, sehingga aku bisa menjadi bagian dari para isteri yang dibolehkan memilih pintu Syurga manapun yang ia inginkan karena telah memenuhi kewajibannya pada Allah dan Rasul-Nya, kemudian suaminya.

Meski, tentu saja, keadaan ini tidak sama bagi semua orang.

Di saat menulis tulisan ini, aku sedang mengandung dengan usia hampir mencapai 9 bulan.. tentu saja ada banyak kekhawatiran, terlebih aku masih minim ilmu tentang kehamilan dan persalinan, meski Alhamdulillaah ada berbagai kelas online yang tersedia dan sangat membantu.. Namun, bagiku, dan bagi semua calon ibu, di samping mempelajari hypnobirthing, prenatal yoga, latihan nafas, afirmasi positif, komunikasi dengan janin, ada hal yang harus diingat lebih dulu, hal yang untukku jauh lebih memiliki efek menenangkan.. yaitu, kesadaran bahwa kita tengah beribadah, berjihad untuk menjadi seorang ibu.. dan sekali lagi, ketika Allah memberi kita amanah ini, Allah berikan juga segala potensi yang kita butuhkan untuk melaluinya, insya Allah.. Allah Maha Baik, insya Allah, Allah mudahkan kita semua untuk melahirkan, menyusui, dan mendidik generasi Rabbani yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah..

Menjadi seorang ibu, adalah sebuah amanah yang luar biasa besar. Melalui rahim seorang ibu, seorang manusia akan terlahir, sosok yang kelak, tergantung bagaimana orangtuanya akan mendidiknya, namun berpotensi untuk menjadi penerus estafet kekhalifahan dan ibadah kita di bumi.. sosok yang jika dibimbing dengan cinta pada Allah dan Rasul-Nya, tidak mustahil untuk menebarkan kebaikan dan mengharumkan Islam dengan karya-karyanya seperti para syuhada dan ulama dahulu. Mendidik calon pemimpin Rabbani seperti itu, tentu butuh pendidikan yang baik, terencana dengan matang, diimplementasikan secara kontinyu dan dievaluasi secara berkala. Miris sekali melihat berbagai berita di media yang menunjukkan permasalahan yang diakibatkan oleh generasi saat ini, semoga Allah melindungi kita dari segala keburukan.

Maka ketika kita Allah berikan kesempatan untuk memegang posisi seorang ibu, madrasah pertama bagi anak, yuk kita optimalkan. Usahakan semaksimal mungkin agar kelak dapat mencetak generasi yang taat Allah dan Rasul-Nya, berakhlak mulia dan berjuang menebarkan maslahat yang lebih luas, menjadikan bumi Allah sebagai tempat yang lebih baik. Inilah salah satu jejak peradaban yang bisa kita tinggalkan. Inilah amanah besar yang Allah titipkan. Inilah ibadah yang ingin betul-betul aku tekuni, Insya Allah. Berusaha yang terbaik dalam setiap detailnya. Mulai dari merancang kurikulum pendidikan agama, memilihkan lingkungan dan teman yang mendukung dalam kebaikan, pembiasaan adab akhlak mulai dari rumah, menanamkan kecintaan kepada Allah, Rasul-Nya, Iman, Islam dan sejarah, memfilter apa yang dilihat, didengar dan disentuh, hingga hal-hal harian seperti pemilihan pakaian yang syar’i dan menutup aurat tapi tetap nyaman, demikian juga makanan dan camilan sehat yang tetap enak. Karena aku yakin, semakin kita bersungguh-sungguh dalam suatu kebaikan, Allah yang Maha Melihat juga akan membalas dengan kebaikan, walau sebesar biji zarrah.

Sebagai penutup, aku ingin berpesan bahwa kita tetap dapat berperan, berkarya, produktif dalam bidang apapun yang kita suka, selama tidak bertentangan dengan aturan Allah dan Rasul Nya.. kemudian, niatkan itu untuk ibadah, untuk mendapatkan pahala dan keridhaan Allah, untuk memenuhi peran kita sebagai Khalifah di muka bumi, untuk memberi manfaat bagi ummat, untuk menjadi peninggalan amal yang tidak terputus bahkan ketika kita wafat..

Karena kesuksesan abadi, adalah ketika kita mendapatkan akhir kehidupan yang baik, Husnul khatimah, dapat menampakkan kaki di Syurga bersama orang-orang yang kita sayang, tanpa hisab, dijauhkan dari api neraka, dan dilindungi di alam kubur..

Allah berfirman:

فَاَ يْنَ تَذْهَبُوْنَ 

"maka ke manakah kamu akan pergi?"

(QS. At-Takwir 81: Ayat 26)

Mari sebelum melangkah kembali, kita pikirkan dulu baik-baik..


People pleaser? Please No. Be Allah pleaser.

Percaya diri? Please No. Percaya Allah.

Do what you love? Please No. Do what Allah loves.


Semoga Allah berkahi kehidupan kita, langkah kaki kita, semoga Allah berkahi setiap rizki, ilmu, harta, hati, keluarga dan setiap apapun yang kita miliki, yang telah Allah titipkan untuk kita didunia ini.. Semoga Allah berikan kemudahan untuk urusan dunia dan akhirat kita semua..

Aamiin Allahumma Aamiin.

 Bismillah.



 

Dear Kamu yang membaca tulisan ini..

Aku ingin kamu tau,

Kalau dirimu itu berharga

Tak ada bedanya diriku dan dirimu dari sisi keduniaan

Kita sama-sama hamba Allah kan yaa

Kita sama-sama akan dapat ujian

Dan Allah Maha Baik..

Tugas kita hanya dua

Kalau tak bersyukur, ya bersabar..

 

Allah,

Tidak akan membebani seorang hamba

Diluar batas kemampuannya

Hal yang menurut kita tak baik

Boleh jadi itu baik menurut Allah

Allah Maha Tau

Allah Maha Baik

Jadi tugas kita..

Sebagai seorang hamba

Tetep husnudzon sama Allah

Ridha dengan takdir Nya

 

Insya Allah

Tak ada hal apapun

Yang lebih menenangkan

Daripada ucapan kita,

"Aku Ridha dengan Takdir-Mu Ya Rabb.."

Yang semoga dengan itu

Allah juga Ridha sama kita..

 

Allah Maha Melihat

Tidak ada satu kebaikan atau satu keburukan pun

Yang luput dari catatan Allah

Dear Kamu..

 

Hidup di Dunia

Tidak akan pernah selamanya bahagia

Karena bukan disini tempat kita

Kita cuma singgah sebentar saja..

Besok kita akan pulang..

Dunia ini bukan tujuan

Ini adalah tempat ujian

 

Karenanya,

Tidakkah kita Ridha,

Supaya tak apaa orang lain bahagia di dunia

Yang penting kita bahagia di Syurga..

Hidup ini cuma sebentar..

Lahir sendiri, beramal, kemudian meninggal sendiri..

 

Tidak ada yang kekal di dunia..

Sakit yang kita derita

Sedih yang kita rasa

Berat..

Pasti berat sekali rasanya..

Tapi insya Allah

Seberat apa kita sanggup bersabar

Seberat itu juga timbangan amal baik kita insya Allah..

 

Allah sayang orang-orang yang bersabar

Ya Allah..

Disayang sama Allah

Bukankah itu lebih dari cukup?

Kita pasti bahagia disayang saat sama orang yang kita sayangi ..

Bayangkan betapa bahagianya kita disayang sama Allah..

Sama Rabb yang Maha Kuasa atas segala sesuatu

Yang mampu membolak-balik hati manusia

 

Dear kamu..

Kita punya Allah

Tawakkal sama Allah

Dan itu cukup

Wa man yatawakkal alallah fahuwa hasbuh

Tetap husnudzon sama Allah

 

Tujuan kita akhirat

Ridha Allah

Dan untuk mencapai itu,

Kita juga harus Ridha

Pada ketentuan Nya..

 

Kudoakan yang terbaik selalu untukmu, Insya Allah..

Semoga Allah selalu menjaga dan melindungi dirimu

Dimanapun dan kapanpun


Tulisan ini terinspirasi dari seorang adik sholihah yang kukenal sejak 7 tahun lalu.

Barakallahufiiha.

Bismillah.




Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan sebuah tulisan yang membuatku merefleksi apa yang sudah kulakukan, saat itu, aku berada di titik kebingungan, rasanya seperti ingin ke suatu tempat, tapi ketika sudah tiba di sana, aku bingung apa yang sebenarnya aku inginkan, atau, apa yang harus aku lakukan. Namun pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa, mencari dunia tidak ada habisnya, padahal dunia sendiri suatu hari akan habis. Lalu seseorang yang sampai sekarang tidak kuketahui identitas nya mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

[QS. Thaha:124]

MasyaAllah Tabarakallah, seolah-olah ayat itu membuatku melihat hidup dari sudut pandang lain, yang lebih positif, insya Allah. Syukran jazakumullahu khayr. Bagi teman-teman yang mau membaca tulisan tersebut, bisa di klik di sini.


Alhamdulillah, pada hari ini, 3 Oktober 2020, seorang adik berdiskusi denganku, membicarakan tentang, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dari setiap keputusan yang kita ambil. Aku berpikir, dan aku pun menyampaikan padanya bahwa dahulu aku berpikir begitu simpel, jadi tolak ukur keputusan yang kubuat banyak didasarkan pada orangtua. Umi Abi. Untukku, apa yang bisa membuat umi abi bahagia, akan kulakukan, misalnya ketika memilih untuk masuk perguruan tinggi yang saat ini sedang aku jalani, bahkan keputusan program studi yang kuambil. Jadi saat itu, yang kutahu hanyalah, pilihan orangtua insya Allah yang terbaik, dan aku harap itu cukup sebagai alasan.


Maka demikianlah aku beberapa tahun selanjutnya. Meski beberapa kali, kadang muncul juga niat-niat lain yang lebih subjektif, misalkan sesederhana, karena aku suka hal tersebut, jadi aku pilih. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Baik, Allah memberikan banyak kebaikan dalam hidupku. Ohya, aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi, setiap pertemuan, perpisahan, rezeki, ajal semuanya telah ditetapkan Allah dalam lauh Mahfudz, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah.


Kembali ke topik, namun dalam pembicaraan hari ini, secara spontan aku menyampaikan beberapa pesan ke adik yang satu ini. Sosok yang senantiasa semangat dalam berbuat kebaikan namun tawadhu nya luar biasa, Masya Allah. Sebuah pesan yang, ketika aku baca ulang, ini bahkan lebih cocok dikatakan sebagai hal yang dapat kupelajari dari segala sesuatu yang sudah kulalui. Ini mungkin boleh dikatakan sebagai, pesan untuk diriku di masa lalu.


Aku paham bahwa tidak ada yang bisa mengulang waktu. Manusia hanyalah kumpulan hari-hari, yang jika satu hari telah berakhir, maka hilanglah sebagian dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri. Jadi bukan, ini bukan angan-angan atau berandai-andai. Ini adalah pesan yang Alhamdulilah baru aku sadari sebagai jawaban dari pertanyaan ku di masa lalu, mungkin. Dan, ini juga pesan yang kukhususkan untuk adik-adik ku yang mungkin saat ini sedang berada dalam fase Quarter Life Crisis. Serba bingung dengan banyak hal, mempertanyakan diri sendiri tentang keputusan yang diambil, pun pusing memikirkan masa depan. Aku harap, pesan ini dapat tersampaikan pada hatimu, sehingga kamu tidak perlu mengalami kebingungan seperti yang kualami.


Aku bukan tipe orang yang mudah membuat keputusan, ada begitu banyak pertimbangan yang muncul dalam benakku sebelum aku berani memutuskan sesuatu, hal-hal sekecil, aku tidak akan membuat status di WhatsApp jika masih ada pesan chat yang belum kubalas, karena bagiku itu akan membuat si pengirim pesan merasa sedih, meski entahlah, rasa itu muncul begitu saja, atau memang aku saja yang merasa demikian.. tapi intinya, memutuskan sesuatu merupakan hal yang akan membutuhkan waktu lama. Terlebih lagi kalau berkaitan dengan kepentingan orang banyak, aku lebih suka menyerahkannya kepada mereka yang bijak, jujur saja, aku khawatir sekali salah mengambil keputusan kemudian merugikan sebagian orang.


Sampai akhirnya, aku semakin selektif dalam memilih pertimbangan memutuskan sesuatu. Beberapa pengalaman di organisasi mengajarkan bahwa akan ada keadaan-keadaan dimana aku harus berpikir cepat, dan memutuskan dengan cepat pula. Dan kalau kamu mau tau, tidak ada pertimbangan baku dalam setiap keputusan cepat yang kubuat, selain dari aku memilih mana yang lebih banyak kebaikannya. Kalau jangka waktunya lebih lama, mungkin aku bisa konsultasi dengan orangtua, atau meminta pertimbangan mereka yang jauh lebih paham. Sehingga, keputusan cepat semacam ini menyebabkan aku bisa jadi sosok yang berbeda tergantung dengan perkara yang kuhadapi, dan aku memohon ampunan Allah jika ada dari keputusan itu yang menyebabkan kedzaliman. Jika kamu salah satu dari orang yang pernah kudzalimi, aku minta maaf, benar-benar minta maaf, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak untukmu, memberkahi hidupmu kedepannya insya Allah ..


Oh, kisah ini semakin panjang. Dan aku belum juga sampai pada intinya, terus berkutat di latar belakang permasalahan. tapi begitulah.. itu yang terjadi padaku sebelumnya.

Hari ini, satu kalimat yang kusampaikan pada adik tersebut adalah seperti ini,
"Kini kak aisyah sadar satu hal, yang seharusnya kak aisyah pikirkan, menjadi pertimbangan membuat keputusan, sejak dulu, dalam segala sesuatu, keputusan apapun itu, adalah.. menjadikan Allah sebagai tolak ukur."


Iya. Itul yang kusampaikan dan ituah yang seharusnya aku lakukan, simpelnya dengan menjawab pertanyaan, 'Allah Ridha tidak ya, aku melakukan ini? Apa ya yang kira-kira dapat menghasilkan keridhaan Allah?' dan jawabannya akan menjadi jawaban dari keputusanku.


Salah seorang kakak pernah menasihatiku, kalimat ini pernah kutulis juga dalam tulisan yang cukup berkesan untukku di sini dan di sini juga. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita tau Allah Ridha atau tidaknya? Jawabannya adalah, minta fatwa pada hati kita masing-masing.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.

[HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)]


Sang kakak bilang, bahwa kita sudah mumayyiz, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi sebagai manusia yang mampu berpikir, kita bisa melihat, apakah ini baik atau buruk, baik dengan standar perasaan maupun logika. Dan aku pikir itu benar, itulah kenapa kita sudah diberi amanah syariat. Karena kita sudah mumayyiz. Kita pada dasarnya tau apakah yang kita lakukan baik atau tidak, dalam sudut pandang syariat, terutama. Fitrah kita dan hati nurani kita menunjukkan itu. Tentu akan lebih baik lagi jika kita paham ilmunya, belajar agama lebih dalam sehingga kita dapat menerapkan dalil syariat sebagai rujukan dalam kondisi yang kita hadapi.


Jadi, begitulah..

Aku, kamu, kita semua akan menghadapi banyak hal kedepannya. Banyaknya pilihan, arus informasi yang begitu cepat, semua itu akan memaksa kita untuk berpikir lebih, dan seringkali membuat kita bingung juga ya.. memilih satu permen diantara dua akan jauh lebih mudah daripada memiliki satu dari 100 pilihan permen. Namun aku berdoa, semoga, kedepannya, kita dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan sebuah keputusan, menjadikan Allah sebagai tolak ukur, memilih yang termudah selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana tauladan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan.

Tentu banyak hal besar yang akan kita hadapi, masalah besar, keputusan besar.. sebelum kuliah misalnya, mau di kampus mana? Jurusan apa? Saat kuliah, mau ikut organisasi apa? Mau ambil berapa sks? Perlu kah ikut acara sana sini? Magang dimana? Nanti skripsi membahas apa? Setelah kuliah, baiknya apa yang bisa kulakukan ya? Coba apply kerja dimana? Atau memutuskan menikah dengan siapa? Atau S2 saja dulu? Atau pertanyaan seperti, sebetulnya aku mau menjadi apa? Mau hidup seperti apa?


Masya Allah.. pada akhirnya, sebesar apapun perkara yang kita hadapi, kita harus ingat, Allah jauh lebih besar dari itu semua, Allahu Akbar. Mudah sekali bagi Allah untuk menunjukkan kita, mendatangkan bantuan dari arah yang tidak kita sangka. Apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita, sebagaimanapun kita mengejarnya, tidak akan pernah sampai. Dan, apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti akan sampai pada kita, bagaimanapun caranya. Boleh jadi, apa yang menurut kita buruk, itu sebenarnya baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita baik, itu sebenarnya buruk. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karenanya, menjadi urgen sekali untuk kita mendasarkan setiap keputusan kita pada standar keridhaan Nya.


Aku jadi teringat sebuah quotes.



Aku berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kita semua Taufiq dan Hidayah Nya. Menjaga dan melindungi kita dimanapun dan kapanpun. Serta menetapkan hati kita untuk selalu istiqomah meniti jalan ini, jalan yang lurus, meski tidak selalu mulus. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.


Alhamdulillaahi Alladzi Bini'matihi Tatimmu Shalihat.

Syukran jazakumullahu khayr sudah menyimak catatanku, semoga ada manfaat yang bisa diambil, tulisan ini merupakan pengingat untuk diriku sendiri dan juga pembaca sekalian. Jika ada hal-hal yang keliru atau perlu diklarifikasi, jangan sungkan untuk menyampaikan ya, mari sama-sama kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Jangan lupa untuk berdoa memohon petunjuk-Nya.. ^^

Bismillah.



COVID-19 kini menjadi pandemi yang menyebar hampir di seluruh belahan dunia, hingga ditulisnya artikel ini (10 Mei 2020/ 17 Ramadhan 1441 H), data statistik World Health Organization menyatakan bahwa kasus positif COVID-19 telah mencapai angka 3,9 juta kasus dan 274 ribu kematian. Istilah COVID-19 sendiri merupakan singkatan dari Corona Virus Desease 2019, dikarenakan virus ini pertama kali teridentifikasi penyebarannya pada akhir tahun 2019 lalu di Wuhan, China.
COVID-19 mengakibatkan banyak dampak yang mengubah segala sesuatu di sekitar kita, membuka sudut pandang baru tentang banyak hal, membuat kita mulai merasa kehilangan hal-hal yang selama ini kita take-for-granted, dari mulai melihat pemandangan di luar rumah, jalan-jalan bersama keluarga, hingga shalat tarawih berjamaah di masjid, sahur on-the-road ataupun buka puasa bersama. Di sisi lain, COVID-19 juga berdampak pada gangguan perekonomian, praktik ihtikar/ penimbunan masker, APD, hand sanitizer mulai banyak terjadi, dan fenomena panic-buying masyarakat menjadikan kita sulit mendapatkan beberapa kebutuhan.
Pandemi ini ini juga memunculkan berbagai kebiasaan baru yang disebut dengan the new normal, sesuatu yang awalnya belum pernah terjadi. Misalnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh benda-benda di tempat umum, menjaga jarak fisik, work from home, belajar dari rumah, belanja secara daring dan hal lainnya yang terjadi setelah adanya pandemi ini. Lalu bagaimana menyikapi the new normal? Bagaimana kita kita beradaptasi dalam masa pandemi ini? Terutama sekali mengantisipasi dampak negatif pada keluarga kita yang saat ini boleh jadi dalam keadaan panik karena tidak bisa melaksanakan rutinitas hariannya.
Penanganan COVID-19 ada baiknya menggunakan langkah-langkah yang sesuai dengan Maqashid Syariah, karena keseluruhan komponen Maqashid Syariah telah dirancang sebagai tujuan syariat yang berhubungan dengan manusia, empat komponen internal yang terdiri dari agama, akal, jiwa dan keturunan, serta 1 komponen eksternal, yaitu harta. Maqashid Syariah sendiri adalah tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari suatu ketetapan hukum dari Allah agar tercapainya kemaslahatan dan kesejahteraan manusia melalui dar-ul mafasid (menolak keburukan) dan jalb mashalih (mendapatkan kebaikan).
Maqashid Syariah bersifat universal, sehingga dapat digunakan untuk menentukan prioritas, yang sekaligus juga menjawab permasalahan kemanusiaan, sosial, kemiskinan bahkan kelaparan. Contoh nyatanya dapat kita lihat pada kisah Khalifah Umar bin Khattab dan seorang ibu yang memasak batu, terdapat prioritas Umar yaitu menjaga jiwa, dalam hal ini bagi ibu tersebut dan anak-anaknya. Pun ketika terjadi thaun (wabah) Amwas dan Aam (tahun) Ramadha, beliau mengimpor dari daerah lain dalam rangka menjaga harta. Demikian juga ketika Khalifah Umar hendak memasuki suatu daerah, namun diberi tahu di sana sedang ada wabah, maka beliau tidak jadi masuk, ini termasuk bentuk menjaga jiwa.

Maqashid Syariah terdiri dari beberapa komponen, salah satu komponen yang sangat penting adalah hifdzu nasl atau menjaga keturunan. Hal ini menunjukkan bahwa di antara tujuan syariat adalah menjaga keturunan dan termasuk juga menjaga keluarga, memastikan umat muslim menghasilkan generasi yang baik untuk menjadi Ummat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyebarkan dakwah Islam. Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau lockdown inilah saat terbaik untuk meningkatkan hubungan dengan keluarga, sakinah mawaddah warahmah-nya selama di rumah. Mengeratkan rasa cinta dengan keluarga, orang tua, pasangan, anak-anak dan sanak saudara.

Jaga Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi). Hadits tersebut menyatakan bahwa kita semua pemimpin, kita bertanggungjawab atas peran yang kita jalani saat ini, maka sudah selayaknya respon terbaik kita menghadapi COVID-19 adalah dengan menunjukkan identitas kita sebagai seorang yang beriman, dan mengajak keluarga kita untuk tetap dalam keadaan beriman.
Maka, mulailah dengan bersyukur. Mungkin akan ada pertanyaa, apa yang bisa kita syukuri dalam keadaan serba sulit ini? Masya Allah, bila kita melihat lagi keadaan sekitar kita, ternyata banyak sekali hal yang bisa kita syukuri. Allah Maha Kuasa masih memberikan kita kehidupan yang baik dan aman, kita memang dalam masa PSBB, namun bukan berarti seperti isolasi seperti keadaan perang, kita masih bisa mendapat air bersih, makanan untuk sahur dan berbuka, shalat dengan nyaman dan masih bisa berkomunikasi serta mengontak orang-orang tersayang seiring dengan perkembangan teknologi saat ini. Maka mulai sekarang, mari ajak keluarga, orang tua dan anak-anak kita untuk bersyukur, katakan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Sebagai seorang mukmin, maka mari bertindak sebagaimana seharusnya seorang mukmin, menjadi role model yang menakjubkan urusannya. Kita bisa mencontoh bagaimana Khadijah bintu Khuwailid yang begitu tangguh menjadi tiang penguat keluarga, ia bertindak dengan penuh perencanaan, bahkan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasa ketakutan setelah mendapat wahyu pertama, Khadijah tetap tenang dalam situasi tersebut, beliau menyelimuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Kita semua adalah role model orang yang beriman, mari kita mencerminkan sikap seorang mukmin yang nantinya dirasakan keluarga, tetangga, masyarakat, sejarah, dan yang terpenting disaksikan oleh Allah Subhanu Wa Ta’ala.
Kita menyatakan bahwa kita beriman pada Allah dalam dua kalimat Syahadat, maka inilah saat terbaik untuk merealisasikan pancaran keimanan kita, manifestasikan dalam tindakan kita hingga orang-orang di sekitar kita merasakannya. Kita yakin Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ia yang mengontrol semuanya, sehingga tak ada yang perlu khawatir berlebihan, Allah telah menetapkan kejadian ini di lauh mahfudz, apa yang telah Allah tetapkan untuk kita pasti akan sampai kepada kita.
Kita membaca dalam surat Al-Insyiroh, setiap kesulitan diikuti oleh kemudahan, bahkan untuk satu kesulitan, ada dua kemudahan yang mengikutinya. Apakah kita meyakininya? Ketahuilah bahwa dalam hidup, kita pasti akan selalu diuji, apapun bentuknya, dan yang berhak mendapatkan kabar gembira, kata Allah, adalah mereka yang sabar. Sabar bukan dalam artian berpikir, ok ini akan berlalu, tapi juga sabar dengan tetap kontinyu melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangannya dan tetap beriman, kemudian ber-istirja’ (mengucapkan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un), mengingatkan diri kita bahwa kita ini milik Allah, kita tidak bisa mengontrol apapun di sekitar kita kecuali dengan daya dan upaya yang berasal dari-Nya. Hidup ini sementara, faktanya adalah kita semua milik Allah, keluarga kita, anak-anak kita, semuanya milik Allah. Kita yakin ada Allah yang mengatur semua ini, dalam sekejap mata, Allah bisa mengubah semuanya, keberadaan COVID-19  ini membutikan bahwa kita adalah makhluk yang lemah, amat sangat butuh pada Allah.

Selalu ada kesempatan dalam setiap keadaan,  di antara kesempatan tersebut adalah kesempatan untuk peduli dengan orang lain, tetangga, masyarakat dan membantu mereka. Selain itu, inilah kesempatan untuk kita fokus pada hal-hal penting di sekitar kita. PSBB yang diberlakukan saat ini mengharuskan kita untuk slow-down, ini adalah kesempatan terbaik untuk bermuhasabah, melihat lebih dalam, apa yang sebetulnya kita cari, apa yang sebenarnya keluarga kita butuhkan. Toh kita bisa tetap mengontak orang-orang tersayang kita, berkumpul dengan keluarga via media daring bahkan yang terjauh. Kita juga mendapat banyak kesempatan bersama keluarga di rumah, komunikasi dengan anak-anak secara offline, membaca buku bersama, mengajarkan banyak hal yang tidak mereka pelajari di sekolah. Karena bagaimanapun, kita sebagai orangtua, atau kakak, tidak selamanya bersama mereka, setidaknya ada bekal yang kita berikan, untuk nantinya mereka menghadapi masa depan, Insya Allah.


Stay At Home

Cari tahu apa yang bisa kita pelajari selama masa pandemi ini. Perbanyak taubat. Sadari bahwa kita adalah makhluk Allah yang selalu berbuat dosa, tanpa henti, namun anehnya kita selalu ingin Allah selalu memberi kita karunia-Nya, dan Allah Maha Baik memberi kita kehidupan yang aman, namun kita menggunakan pemberian Allah tersebut untuk bermaksiat lagi, jadi mulailah meperbaiki diri, perbaiki keluarga dan lingkungan kita. Buat rutinitas yang sehat untuk keluarga, tentukan jadwal harian yang bermanfaat, dan terutama untuk perempuan, para ibu, jadikan ini project keluarga. Adakan pertemuan keluarga, buat rapat bersama, sepakati apa yang akan dilakukan, buat rencana harian, pekanan, bulanan bersama. Project terbaik adalah yang tetap berjalan meski ada hambatan, meski tetap ada perubahan dan adaptasi, untuk menjadi lebih baik.
Adapun laki-laki, para ayah berperan sebagai CEO sebuah keluarga. Ibarat sebuah perusahaan, bahkan lebih perlu untuk diberikan perhatian, adakan rapat bersama, menghadapi tantangan bersama, mengingatkan visi misi bersama, untuk kemudian masing-masing mengerjakan tugas dan kewajibannya dalam rangka mendapatkan ridha Allah dan bisa senantiasa bersama sampai Syurga.
Penting untuk diingat juga, mendengarkan orang lain, orangtua, pasangan, saudara-saudari, terutama anak-anak. Kita harus memotivasi mereka dan membantu mereka melewati ini. Anak-anak kita punya hati, mereka juga merasakan kesedihan ini, emosi kehilangan teman-teman, sekolah, belajar di kelas, segala perubahan ini. Orangtua perlu memberikan kesempatan untuk mereka bercerita, merefleksikan apa yang mereka rasakan, memberikan pemahaman dan dukungan untuk lebih kuat melewati ini. Biarkan mereka mengekspresikan perasaannya, kemudian ajak mereka diskusi bagaimana menghadapi masalah ini, dan sebagai orangtua, kita juga harus tetap tenang, kitalah yang berperan menenangkan mereka, ajak mereka tetap produktif bersama.
Masa di rumah ini, jadikan juga sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Ajak anak-anak untuk berdoa kepada Allah. Miris sekali mendapati banyak anak-anak kita sekarang yang tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan Allah, karenanya ajaklah mereka berdoa, mengangkat tangan ke langit, memohon pada-Nya. Kita mungkin sudah banyak mempersiapkan masa depan anak-anak, namun kita tak selalu bersama mereka, Allah-lah yang selalu bersama mereka, ajarkan mereka bagaimana menyebut nama Allah, Asmaul Husna, membaca Al-Quran, mengucapkan doa-doa, memohon pada-Nya, ajarkan mereka agar selalu meminta pertolongan pada Allah, agar selalu mendekat pada Allah, kembali pada Allah, beri pemahaman bahwa kita selalu membutuhkan Allah kapanpun dan dimanapun.
Terkadang ketika menghadapi masalah, kita lebih cenderung fokus pada solusi short-term, namun jangan lupa untuk memastikan keluarga kita, anak-anak kita tetap bahagia, berolahraga, menjaga kesehatan, melihat keindahan di sekitar serta melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama. Jangan sampai kepanikan menjadikan kita lalai dari hal-hal indah yang Allah karuniakan pada kita, jadilah orang yang positif bagi orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, anak-anak kita.
Berdasarkan semua bahasan ini, mungkin kita merasa banyak dituntut untuk memperhatikan orang lain, jadi mari luangkan waktu sejenak, kita juga perlu perhatikan diri kita sendiri, self-care, beri waktu untuk menyendiri, refresh diri sendiri, dengan secangkir kopi, membaca sejarah nabi, belajar bahasa, menyimak murattal favorit atau apapun itu. Kita tidak akan bisa menolong orang lain bila kita tidak bisa menolong diri kita sendiri terlebih dahulu, jadi tetaplah menutrisi jiwa. Lakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Semua Alhamdulillah sudah tersedia, sumber-sumber di internet bisa diakses hanya dengan sentuhan jari untuk upaya menjaga kesehatan mental kita, karena bila kesehatan mental ini diabaikan, bisa berakibat pada fisik kita juga.
Terakhir, tetaplah menjaga hubungan baik dengan orangtua, saudara-saudara dan tetangga kita, meski mungkin tidak bisa secara langsung, tetap keep in touch, jangan sampai terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri, rumah kita sendiri, mungkin bisa dimulai dengan chat media sosial atau mengirim surat. Posisikan diri kita sebagai seorang mukmin yang bertanggung jawab pada orang-orang di sekitar kita juga, dan pastikan, ‘no one left behind’.
Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita, keluarga dan keturunan kita semua dari pandami COVID-19 ini, karena Allah adalah sebaik-baik pelindung.



Wallahu A’lam Bisshawab.
Bogor, 10 Mei 2020 M/ 17 Ramadhan 1441 H