Latest Posts

Bismillah.




Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan sebuah tulisan yang membuatku merefleksi apa yang sudah kulakukan, saat itu, aku berada di titik kebingungan, rasanya seperti ingin ke suatu tempat, tapi ketika sudah tiba di sana, aku bingung apa yang sebenarnya aku inginkan, atau, apa yang harus aku lakukan. Namun pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa, mencari dunia tidak ada habisnya, padahal dunia sendiri suatu hari akan habis. Lalu seseorang yang sampai sekarang tidak kuketahui identitas nya mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

[QS. Thaha:124]

MasyaAllah Tabarakallah, seolah-olah ayat itu membuatku melihat hidup dari sudut pandang lain, yang lebih positif, insya Allah. Syukran jazakumullahu khayr. Bagi teman-teman yang mau membaca tulisan tersebut, bisa di klik di sini.


Alhamdulillah, pada hari ini, 3 Oktober 2020, seorang adik berdiskusi denganku, membicarakan tentang, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dari setiap keputusan yang kita ambil. Aku berpikir, dan aku pun menyampaikan padanya bahwa dahulu aku berpikir begitu simpel, jadi tolak ukur keputusan yang kubuat banyak didasarkan pada orangtua. Umi Abi. Untukku, apa yang bisa membuat umi abi bahagia, akan kulakukan, misalnya ketika memilih untuk masuk perguruan tinggi yang saat ini sedang aku jalani, bahkan keputusan program studi yang kuambil. Jadi saat itu, yang kutahu hanyalah, pilihan orangtua insya Allah yang terbaik, dan aku harap itu cukup sebagai alasan.


Maka demikianlah aku beberapa tahun selanjutnya. Meski beberapa kali, kadang muncul juga niat-niat lain yang lebih subjektif, misalkan sesederhana, karena aku suka hal tersebut, jadi aku pilih. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Baik, Allah memberikan banyak kebaikan dalam hidupku. Ohya, aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi, setiap pertemuan, perpisahan, rezeki, ajal semuanya telah ditetapkan Allah dalam lauh Mahfudz, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah.


Kembali ke topik, namun dalam pembicaraan hari ini, secara spontan aku menyampaikan beberapa pesan ke adik yang satu ini. Sosok yang senantiasa semangat dalam berbuat kebaikan namun tawadhu nya luar biasa, Masya Allah. Sebuah pesan yang, ketika aku baca ulang, ini bahkan lebih cocok dikatakan sebagai hal yang dapat kupelajari dari segala sesuatu yang sudah kulalui. Ini mungkin boleh dikatakan sebagai, pesan untuk diriku di masa lalu.


Aku paham bahwa tidak ada yang bisa mengulang waktu. Manusia hanyalah kumpulan hari-hari, yang jika satu hari telah berakhir, maka hilanglah sebagian dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri. Jadi bukan, ini bukan angan-angan atau berandai-andai. Ini adalah pesan yang Alhamdulilah baru aku sadari sebagai jawaban dari pertanyaan ku di masa lalu, mungkin. Dan, ini juga pesan yang kukhususkan untuk adik-adik ku yang mungkin saat ini sedang berada dalam fase Quarter Life Crisis. Serba bingung dengan banyak hal, mempertanyakan diri sendiri tentang keputusan yang diambil, pun pusing memikirkan masa depan. Aku harap, pesan ini dapat tersampaikan pada hatimu, sehingga kamu tidak perlu mengalami kebingungan seperti yang kualami.


Aku bukan tipe orang yang mudah membuat keputusan, ada begitu banyak pertimbangan yang muncul dalam benakku sebelum aku berani memutuskan sesuatu, hal-hal sekecil, aku tidak akan membuat status di WhatsApp jika masih ada pesan chat yang belum kubalas, karena bagiku itu akan membuat si pengirim pesan merasa sedih, meski entahlah, rasa itu muncul begitu saja, atau memang aku saja yang merasa demikian.. tapi intinya, memutuskan sesuatu merupakan hal yang akan membutuhkan waktu lama. Terlebih lagi kalau berkaitan dengan kepentingan orang banyak, aku lebih suka menyerahkannya kepada mereka yang bijak, jujur saja, aku khawatir sekali salah mengambil keputusan kemudian merugikan sebagian orang.


Sampai akhirnya, aku semakin selektif dalam memilih pertimbangan memutuskan sesuatu. Beberapa pengalaman di organisasi mengajarkan bahwa akan ada keadaan-keadaan dimana aku harus berpikir cepat, dan memutuskan dengan cepat pula. Dan kalau kamu mau tau, tidak ada pertimbangan baku dalam setiap keputusan cepat yang kubuat, selain dari aku memilih mana yang lebih banyak kebaikannya. Kalau jangka waktunya lebih lama, mungkin aku bisa konsultasi dengan orangtua, atau meminta pertimbangan mereka yang jauh lebih paham. Sehingga, keputusan cepat semacam ini menyebabkan aku bisa jadi sosok yang berbeda tergantung dengan perkara yang kuhadapi, dan aku memohon ampunan Allah jika ada dari keputusan itu yang menyebabkan kedzaliman. Jika kamu salah satu dari orang yang pernah kudzalimi, aku minta maaf, benar-benar minta maaf, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak untukmu, memberkahi hidupmu kedepannya insya Allah ..


Oh, kisah ini semakin panjang. Dan aku belum juga sampai pada intinya, terus berkutat di latar belakang permasalahan. tapi begitulah.. itu yang terjadi padaku sebelumnya.

Hari ini, satu kalimat yang kusampaikan pada adik tersebut adalah seperti ini,
"Kini kak aisyah sadar satu hal, yang seharusnya kak aisyah pikirkan, menjadi pertimbangan membuat keputusan, sejak dulu, dalam segala sesuatu, keputusan apapun itu, adalah.. menjadikan Allah sebagai tolak ukur."


Iya. Itul yang kusampaikan dan ituah yang seharusnya aku lakukan, simpelnya dengan menjawab pertanyaan, 'Allah Ridha tidak ya, aku melakukan ini? Apa ya yang kira-kira dapat menghasilkan keridhaan Allah?' dan jawabannya akan menjadi jawaban dari keputusanku.


Salah seorang kakak pernah menasihatiku, kalimat ini pernah kutulis juga dalam tulisan yang cukup berkesan untukku di sini dan di sini juga. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita tau Allah Ridha atau tidaknya? Jawabannya adalah, minta fatwa pada hati kita masing-masing.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.

[HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)]


Sang kakak bilang, bahwa kita sudah mumayyiz, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi sebagai manusia yang mampu berpikir, kita bisa melihat, apakah ini baik atau buruk, baik dengan standar perasaan maupun logika. Dan aku pikir itu benar, itulah kenapa kita sudah diberi amanah syariat. Karena kita sudah mumayyiz. Kita pada dasarnya tau apakah yang kita lakukan baik atau tidak, dalam sudut pandang syariat, terutama. Fitrah kita dan hati nurani kita menunjukkan itu. Tentu akan lebih baik lagi jika kita paham ilmunya, belajar agama lebih dalam sehingga kita dapat menerapkan dalil syariat sebagai rujukan dalam kondisi yang kita hadapi.


Jadi, begitulah..

Aku, kamu, kita semua akan menghadapi banyak hal kedepannya. Banyaknya pilihan, arus informasi yang begitu cepat, semua itu akan memaksa kita untuk berpikir lebih, dan seringkali membuat kita bingung juga ya.. memilih satu permen diantara dua akan jauh lebih mudah daripada memiliki satu dari 100 pilihan permen. Namun aku berdoa, semoga, kedepannya, kita dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan sebuah keputusan, menjadikan Allah sebagai tolak ukur, memilih yang termudah selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana tauladan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan.

Tentu banyak hal besar yang akan kita hadapi, masalah besar, keputusan besar.. sebelum kuliah misalnya, mau di kampus mana? Jurusan apa? Saat kuliah, mau ikut organisasi apa? Mau ambil berapa sks? Perlu kah ikut acara sana sini? Magang dimana? Nanti skripsi membahas apa? Setelah kuliah, baiknya apa yang bisa kulakukan ya? Coba apply kerja dimana? Atau memutuskan menikah dengan siapa? Atau S2 saja dulu? Atau pertanyaan seperti, sebetulnya aku mau menjadi apa? Mau hidup seperti apa?


Masya Allah.. pada akhirnya, sebesar apapun perkara yang kita hadapi, kita harus ingat, Allah jauh lebih besar dari itu semua, Allahu Akbar. Mudah sekali bagi Allah untuk menunjukkan kita, mendatangkan bantuan dari arah yang tidak kita sangka. Apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita, sebagaimanapun kita mengejarnya, tidak akan pernah sampai. Dan, apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti akan sampai pada kita, bagaimanapun caranya. Boleh jadi, apa yang menurut kita buruk, itu sebenarnya baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita baik, itu sebenarnya buruk. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karenanya, menjadi urgen sekali untuk kita mendasarkan setiap keputusan kita pada standar keridhaan Nya.


Aku jadi teringat sebuah quotes.



Aku berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kita semua Taufiq dan Hidayah Nya. Menjaga dan melindungi kita dimanapun dan kapanpun. Serta menetapkan hati kita untuk selalu istiqomah meniti jalan ini, jalan yang lurus, meski tidak selalu mulus. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.


Alhamdulillaahi Alladzi Bini'matihi Tatimmu Shalihat.

Syukran jazakumullahu khayr sudah menyimak catatanku, semoga ada manfaat yang bisa diambil, tulisan ini merupakan pengingat untuk diriku sendiri dan juga pembaca sekalian. Jika ada hal-hal yang keliru atau perlu diklarifikasi, jangan sungkan untuk menyampaikan ya, mari sama-sama kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Jangan lupa untuk berdoa memohon petunjuk-Nya.. ^^

Bismillah.



Jangan menjadi people pleaser!

Aku membaca tulisan itu di sebuah kiriman media sosial beberapa waktu lalu. Dan saat itu juga, aku antusias, people pleaser? Hmm, terbayang dalam benakku, seseorang yang selalu menyenangkan orang lain. Eh, bukankah aku juga merupakan salah satu dari tipe orang-orang yang ingin selalu berusaha menyampaikan cahaya kebahagiaan dalam hati orang lain? So, am I a people pleaser?

Rupanya benar, people pleaser adalah sebutan bagi mereka yang cenderung melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain bahkan di atas kepentingannya sendiri dan berusaha untuk tidak membuat oranglain tidak kecewa (Dayana, 2019). Seseorang juga dikatakan sebagai people pleaser ketika kita mengutamakan oranglain dan menomorduakan keinginan kita sendiri atau bahkan sampai mengabaikannya (Cahyanti, 2019).

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan, kalau dilihat dari definisi di atas, berarti iya, aku termasuk.

Sebetulnya awalnya aku pikir ini hanyalah tipe manusia, ada yang people-pleaser, ada yang cuek, ada yang humoris, dan lain sebagainya dari karakter. Namun ternyata, faktanya adalah yang satu ini bukan, people-pleaser dapat menjadi sebuah kebiasaan yang negatif dan merugikan diri sendiri, katanya.

Tapi sebentar..

Bukankah ada kisah tentang Abu Thalhah yang menjamu tamunya dengan makanan yang jumlahnya sedikit, dan beliau meminta anak-anaknya tidur tanpa makan malam, sedang beliau sendiri mematikan lampu dan ikut berpura-pura makan dalam suasana yang gelap sehingga tidak nampak bahwa piringnya kosong, sedangkan semua makanan diberikan untuk tamunya?

Bukankah ada kisah pula, tentang seorang pimpinan pasukan Muslim, yang ketika salah seorang utusan dari kaum Badui datang dan menancapkan pedangnya di hadapan beliau dan tanpa sengaja melukai kaki pimpinan ini namun beliau diam dan sabar menyimak penyampaian dari utusan ini sampai selesai karena khawatir membuatnya merasa bersalah dan jadi takut?

Bukankah ada kisah tentang seorang pemuda yang kelak menjadi ayah Abu Hanifah yang memakan buah yang tidak diketahui pemiliknya tanpa izin, kemudian ketika meminta izin, si pemilik pohon baru bersedia mengizinkan, memberikan ridhanya apabila ia mau menikahi puterinya yang buta, tuli dan bisu, kemudian pemuda ini menerimanya?

Bukankah kita juga mendengar kisah tentang Ali bin Abi Thalib yang rela menggantikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur di ranjangnya ketika rumah sang Nabi dikepung dan ia harus bertaruh nyawa? Atau kisah tentang kebun kurma dan sumur Utsman bin Affan yang beliau wakafkan? Atau tentang kebun di Khaibar yang diwakafkan Umar bin Khattab? Atau tentang seluruh harta yang dishadaqahkan Abu Bakar ridha dengan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya?

Hingga.. kisah sosok yang bahkan ketika menjelang detik-detik akhir hidupnya, masih memikirkan ummat yang dicintainya? Sosok yang senantiasa kita panjatkan shalawat dan salam atasnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam?

Bukankah..

Bukankah semua ini mengutamakan orang lain di atas kepentingan dirinya?

Apakah sosok-sosok luar biasa ini termasuk people pleaser?

Nyatanya tidak.

Ini adalah apa yang disebut dengan itsar.



Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh.

Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan (Tuasikal, 2018).

Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Quran:

 عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌوَيُؤْثِرُونَ

dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

[QS. Al-Hasyr: 9]

Bukankan ini persis sekali dengan definisi people pleaser?

Jadi people pleaser ini baik atau tidak? Positif atau, kelihatannya saja positif tapi memberikan efek negatif pada diri sendiri?

Allahu A’lam Bisshawab (Allah lebih mengetahui kebenarannya), tapi aku cenderung pada, melihat bahwa meski bentuknya sama, sama-sama mengutamakan orang lain, tapi ada satu perbedaan di sini; orientasi, tujuan, niat, purpose, intention.

Seorang people pleaser berusaha menyenangkan orang lain, dan ya, hanya sampai segitu saja. Adapun tokoh-tokoh hebat yang kita sebutkan di atas, tidak sebatas itu, ada tujuan super tinggi yang ingin dicapai, karena mereka punya tujuan hidup jelas, punya cita-cita tinggi, tidak lain dan tidak bukan adalah, meraih ridha Allah Ta’ala. Sehingga jika boleh aku rangkum dalam satu terma agar dapat mendiferensiasi kedua bentuk tindakan ini, maka orang-orang ini dapat dinyatakan sebagai Allah pleaser.

Sosok yang mereka mengutamakan Allah, berusaha untuk melakukan kebaikan, mendahulukan orang lain, berbagi dengan sesama, bahkan ketika diri sendiri membutuhkan. Rupanya ada yang lebih dari hanya sekedar membutuhkan penerimaan dari orang lain, mencari ridha manusia, bukan, bukan hanya itu. Tapi semata-mata karena Allah. Sehingga inilah yang akan membedakan implikasi perasaan pada pelakunya.

Seorang people pleaser akan cenderung menyenangkan orang lain dengan harapan ia dapat diterima dengan baik oleh orang tersebut, dan jika ternyata yang terjadi tidak demikian, atau terjadi demikian, ia diterima, tapi hanya sesaat, akan ada kecewa dalam dirinya, akan ada rasa sedih karena tidak mendapatkan apa yang ia ekspektasikan. Sehingga akan mungkin sekali, ketika perasaan negatif ini muncul, mengikutsertakan rasa-rasa negatif lainnya, aura yang tidak menyenangkan untuk dirasakan.

Adapun Allah pleaser, sejak awal ia sadar, bahwa ia berbuat baik pada orang lain sejatinya adalah berbuat baik pada diri sendiri, karena selain ia mengharapkan balasan -hanya- dari Allah berupa pahala, syurga dan keridhaan-Nya, namun juga karena ia sadar, tidak ada kebaikan yang sia-sia.

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

[QS. Ar-Rahman: 60]

Ia yakin, bahwa ada Rabb yang menitipkan dua malaikat menjaga di sisi kanan dan kirinya, sehingga setiap kebaikannya akan terekam sedetail mungkin dalam catatan amalnya, demikian juga berbuat keburukan, sehingga karena yakin Allah Maha Melihat, ia takut berbuat maksiat. Toh, jika kenyataannya ia mendapat balasan yang kurang baik dari orang yang telah ia beri kebaikan, Allah Maha Kuasa memberikan balasan kebaikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Bahkan, sekalipun balasan itu tidak diberikan di dunia, perjalanan masih panjang, kebaikan itu bisa berupa cahaya di alam kubur, pemberat timbangan amal, atau menjadi pembicaraan penghuni langit.



Oleh karena itu, pada akhirnya aku sadar, bahwa kita semua tetap harus menjadi orang baik. Bukan saja agar dunia ini menjadi lebih baik, yang meski dalam artian ini adalah sebuah efek positif tapi hanya sementara, tapi juga karena ini perintah Allah, karena Allah yang meminta kita untuk berbuat baik, untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling berkata-kata yang baik, saling menampakkan keceriaan.

لا تحقِرنَّ من المعروف شيئًا، ولو أن تلقى أخاك بوجه طَلْقٍ

Janganlah meremehkan kebaikan meskipun kecil, meski hanya memasang wajah berseri tatkala bertemu dengan saudaramu.”

[HR Muslim : 2626]

Namun,

Yang perlu diingat adalah, mengutamakan orang lain hanya berlaku dalam perkara yang bukan ibadah. Adapun pada perkara ibadah, kita diperintahkan untuk saling berlomba-lomba (dan masya Allah perlombaan kebaikan ini adil sekali, semua bisa menjadi pemenang, semua bisa mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala orang lain, tidak ada teori pareto optimum). Sehingga jika dalam perkara menghafal Al-Quran, misalkan. Tentunya kita sebagai seorang muslim harus menjadi yang paling pertama, yang paling semangat, untuk belajar dan mengajarkannya juga. Jangan sampai mendahulukan orang lain, ‘kamu silahkan menghafal Al-Quran duluan, aku kapan-kapan saja..’ bukan begitu konsepnya. Sehingga yang berlaku adalah perkara yang bukan ibadah, seperti misalnya dalam masalah harta, tahta dan lain sebagainya.

Jujur saja, aku pribadi yakin sekali, bahwa ketika kita berbuat kebaikan dengan diniatkan ikhlas karena Allah, kemudian kita betul-betul tulus ingin memberikan kebaikan pada orang lain, insya Allah niat itu akan tersampaikan, kebaikan yang datang dari hati, akan sampai ke hati insya Allah.

Kalaupun tidak, dan hipotesaku ternyata salah, atau tidak berlaku ke semua orang, maaf ya, tapi tidak apa-apa, mungkin kita yang harus muhasabah lagi, barangkali kita belum cukup tulus dan ikhlas memberikan kebaikan itu. Karena ketulusan akan nampak dari ciri seperti, dipuji tidak membuatnya tinggi hati dan dicaci tidak membuatnya rendah diri.

Suatu waktu aku pernah membayangkan, setenang apa ya berada dalam lingkungan keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang memiliki hati nan begitu jernih, tidak mengharapkan apapun kecuali kebaikan, Masya Allah Tabarakallah.. Tapi karena aku sadar ini tidak mungkin di dunia, dan hanya mungkin di akhirat nanti Insya Allah (semoga Allah karuniakan kita dibersamakan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para nabi, para sahabat, para syuhada dan orang-orang shalih), maka mari kita mulai dari diri sendiri dulu, kemudan kita tularkan semangat menebar kebaikan ini keluarga terdekat kita, sahabat-sahabat kita, hingga ke semua orang, Insya Allah.

Masya Allah tidak terasa sudah sepanjang ini ya.

Terimakasih untukmu yang sudah membaca sampai sini.

Jadi inti dari tulisan ini adalah, aku ingin membesarkan hati orang-orang yang kusayangi karena Allah, kemudian saudara saudari semuslimku, dan semua teman-teman bahwa kita semua bisa menjadi orang baik, bukan sebagai people pleaser, tapi mari kita ubah menjadi Allah pleaser. Menjadi khalifah di muka bumi, menjadi sosok yang namanya boleh jadi tidak dikenal di dunia, tapi disebut oleh penghuni langit, menjadi manusia seutuhnya yang sesuai dengan fitrah penciptaannya, yakni sebagai hamba yang beribadah pada Allah, mengamalkan tujuan diutusnya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu menyempurnakan akhlak yang baik, sehingga semoga, kita menjadi manusia terbaik versi hadits:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka.

 


Bismillah yaa, semoga Allah mudahkan kita selalu untuk berbuat kebaikan, karena tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Sehingga perlu sekali kita senantiasa memohon taufiq dan hidayah-Nya agar selalu istiqomah dalam kebaikan.

Untukmu yang sedang membaca tulisan ini,

Semoga Allah mudahkan semua urusanmu, semoga kamu selalu berada dalam lindungan Allah.

Jangan lupa untuk berdzikir :)

 


Daftar pustaka

Cahyanti, A. D. (2019). 8 Ciri Ini Tunjukkan Seorang People Pleaser, Kamu Merasa? Idntimes.Com.

Dayana, A. S. (2019). Mengenal People-Pleaser dan Cara Mengatasinya. Tirto.Id.

Tuasikal, M. A. (2018). Sudahlah Biarkan Dia Duluan.

https://bimbinganislam.com/penjelasan-dari-wajah-ceria-yang-berpahala/

https://muslim.or.id/3421-keutamaan-tersenyum-di-hadapan-seorang-muslim.html

https://muslimah.or.id/11083-buah-indah-dari-itsar-mendahulukan-kepentingan-orang-lain.html

https://muslimah.or.id/811-itsar.html

https://muslim.or.id/10250-itsar-mendahulukan-saudaranya-dari-diri-sendiri-1.html

https://rumaysho.com/17217-kisah-itsar-para-salaf-sudahlah-biarkan-dia-duluan.html


Bismillah.



Dalam setiap lafadz yang terucap, dalam setiap kata yang tertulis, selalu ada makna atau pesan yang hendak tersampaikan. Karena manusia tidak mampu membaca isi hati orang lain, Allah Maha Kuasa menganugerahkan lisan untuk bertutur, mengungkapkan segala rasa yang ada.

Dalam ilmu Ushul Fiqh, sebuah kata diletakkan untuk suatu makna.
Sebuah kata berarti kata tertentu yang jumlahnya jelas, yaitu satu digunakan untuk suatu makna, artinya mengandung lebih dari satu makna. Karena 'suatu' tidaklah menunjukkan jumlah tertentu.

Bagaikan piring yang berfungsi untuk menyajikan makanan, kata pun memiliki tujuan. Ia berfungsi sebagai wadah untuk menyampaikan makna dan pesan.
Hikmah dari penciptaan lisan kita salah satunya adalah untuk berkata yang baik. Jika ada kebenaran yang perlu disampaikan, maka sampaikanlah. Makna yang muncul di hati kita hanya dapat mencapai hati oranglain melalui kata yang terucap.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Al-Qur'an adalah kalam Allah. Perkataan Dzat yang Maha Benar lagi Maha Adil. Karenanya, Al-Qur'an menjadi mukjizat terbesar nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Al-Qur'an juga berisi untaian kata-kata indah nan penuh makna.
Ia adalah kitab dengan 0% kekeliruan. Memang ada beberapa hal yang belum jelas maknanya atau belum kita pahami secara akal. Tapi itulah keindahannya, ada rumusan rahasia yang hanya dapat dipahami oleh-Nya. Selain menunjukkan keterbatasan kemampuan manusia sebagai makhluk, juga menunjukkan kemaha kuasaan Sang Khalik.

Secara logika, ketika 25% isi suatu kitab telah dapat dipastikan kebenarannya secara ilmiah, sedangkan sisanya belum dapat dibuktikan karena kemampuan manusia yang masih rendah, maka dapat diyakini bahwa seiring berkembangnya zaman, 75% lainnya mengandung kebenaran insya Allah. Demikianlah fakta yang kita saksikan di lapangan. Sedikit demi sedikit, terbukti janji-janji Allah yang tercantum dalam Al-Qur'an.
Lagipula, siapa yang lebih benar perkataan nya dari Allah?

Al-Qur'an adalah kitab induk dari seluruh cabang ilmu pengetahuan. Ia berbicara tentang sains, matematika, sejarah, biologi, kedokteran, hukum bahkan psikologi.
Allah berfirman dalam surat An-Nisa ayat 58 :
 اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ
 Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.

Allah adalah sebaik-baik pemberi nasihat. Kembalilah ke Allah. Betapa banyak kesedihan menjadi keceriaan karena sebait doa dan masalah menjadi mudah karena setetes air mata taubat.
Allah tidak menginginkan sesuatupun untuk manusia kecuali kebaikan.

PESAN EKONOMI DALAM AL-QUR'AN
Dalam Al-Qur'an, ada banyak ayat yang membahas tentang ekonomi, diantaranya :
Al-Qur'an berbicara tentang perilaku konsumen
1) Konsumsi yang halal lagi baik
Al-Baqarah : 168
Artinya : "Wahai manusi makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.."
Beberapa Ayat pendukung
- Al Baqarah : 172
- Al Maidah : 4-5, 87-88
- Al Mu'minun : 51
- An Nahl : 114
2) Tidak berlebihan
Al-A'raf : 31
 Artinya: "dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
3) Hidup Sederhana
Al furqon : 67
Artinya: "Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."
4) Tidak memakan harta anak yatim
Al An'am : 152
Artinya: “Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa....."
5) Prinsip Moralitas
Al Baqarah : 219
Tujuan akhir dari makanan dan minuman adalah untuk meningkatkan kemajuan nilai-nilai moral & spiritual

Al-Qur'an berbicara tentang perilaku produsen
1) Q.S. Al-Muthafifin : 2-3
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi”.
2) Q.S.Hud : 85
Artinya: "Dan Syu'aib berkata: 'Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan'”.
3) Q.S.An-Nisa : 135
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”.
4) Q.S. Al-Maidah : 8
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.


---
Namun hal Penting yang perlu diperhatikan adalah pemahaman makna dari setiap lafadz yang Allah cantumkan dalam Al-Qur'an. Jangan sampai kita salah dalam memahaminya. Karena bahasa Arab sangat luas*, baik kosakata nya maupun tata bahasa nya. Begitu terperincinya, hingga tak ada makna yang ambigu jika kita paham betul seluk beluk bahasa Al-Qur'an ini.

Sayangnya, terjemahan Al-Qur'an di Indonesia sendiri terkadang belum mampu menyeluruh dalam mencakup makna yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an, hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Dapat diambil contoh, surat Al-Baqarah ayat 275 yang merupakan salah satu dalil ekonomi yang berkaitan dengan penghalalan jual beli dan pengharaman riba. Dalam ayat tersebut, ada kalimat berikut:

قَالُوْۤا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰوا
Dalam Al-Qur'an terjemahan, dapat kita temukan,
"Mereka berkata bahwa jual beli sama dengan riba."

Namun benarkah demikian?
Apakah lafadz إنما dan إن memiliki arti yang sama? Bila iya, kenapa digunakan lafadz yang berbeda?
Faktanya, perbedaan sekecil apapun dalam bahasa Arab dapat mengubah makna.
Misalnya lafadz بر dibaca dengan 3 harokat berbeda :
Burrun (بُر) dengan harokat huruf ba' dhommah memiliki arti: gandum
Barrun (بَر) dengan harokat huruf ba' fathah memiliki arti: daratan
Birrun (بِر) dengan harokat huruf ba' kasroh memiliki arti: bakti

Hal ini menunjukkan perlunya perhatian khusus dalam membaca dan memahami lafadz berbahasa Arab.

Adapun mengenai ayat 275 Al-Baqarah tadi, lafadz إنما dapat dipisah menjadi 2 kata: إن dan ما.
Kata pertama إن memiliki arti: sesungguhnya atau bahwasanya
Kata kedua ما memiliki makna: kata tanya (apa) atau makna peniadaan.
Maka dapat disimpulkan, kata إنما secara kontekstual bermakna "Sesungguhnya tidak lain".
Terjemahan lengkapnya menjadi "Mereka berkata bahwa sesungguhnya jual beli tidak lain sama dengan riba."

Nampakkah perbedaan nya?
Ayat ini mengandung sifat penegasan, sehingga perlu lebih diperhatikan. Ia di highlight-kan untuk menunjukkan betapa kerasnya orang-orang yang memakan riba itu beralasan, karena mereka berat untuk meninggalkan riba, lalu Allah membantah mereka dengan tegas pula: "Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba".
Sungguh inilah yang banyak terjadi di zaman sekarang, ketika perbankan konvensional menggunakan sistem bunga (riba) yang bukan harum, tapi haram, adapun bank syariah menggunakan sistem bagi hasil yang mungkin bagi beberapa pihak tidak menyenangkan, namun sejatinya menenangkan.

Maka marilah kita menjadi muslim yang taat, ini merupakan perintah mutlak dari Rabb yang menggenggam penuh jiwa kita.
Ketahuilah, kuantitas harta dapat dicari melalui 2 cara: jalan halal dan jalan haram.
Sedangkan kualitas keberkahan harta hanya dapat dicari melalui 1 jalan: yaitu jalan halal.
Dengan melalui jalan halal, kualitas dan kuantitas harta kita dapat terus ditingkatkan secara bersamaan insya Allah.

Semoga Allah memberi kemudahan kepada kita untuk memahami dan mengamalkan sepenuhnya pesan yang Ia sampaikan dalam Al-Qur'an.
Aamiin Allahumma Aamiin.

Bismillah.


Setahun yang lalu, ketika medali kelulusan Ibnu Taimiyah resmi dikalungkan oleh penanggung-jawab khidmah padaku, berbagai pertanyaan mulai bermunculan. Salah satu yang paling familiar adalah, kuliah dimana? jurusan apa? dan kapan nikah? eh.. ^_^

Soal kuliah dimana dan jurusan apa ini sebenarnya sudah ditentukan oleh abi, karenanya, keinginan umi agar aku ke LIPIA atau keinginanku sendiri ke psikologi tertunda, lebih tepatnya sih dialihkan ke kuliah online, insya Allah. Maka, diputuskanlah aku masuk STEI TAZKIA jurusan Muamalah. Memang, di kelas saat mata pelajaran fiqh jual beli atau faraidh (hukum waris) nilaiku Alhamdulillah selalu bagus padahal aku tidak terlalu suka, husnudzanku karena gurunya yaitu ustadz Humaidi memang ahli dan sangat kompeten dalam bidang ini.

Awalnya aku tidak begitu tahu banyak tentang sekolah tinggi ataupun jurusan ini. Yang pernah aku dengar dari abi, muamalah adalah salah satu jalan menjadi konsultan. Aku suka pelajaran dan materi yang membutuhkan banyak analisa dan pemikiran, rumit dan berbeda, ada hitung-menghitung, tapi lebih ke pelajaran hidup yang kompleks dan tidak ada tuntutan atau sumpah untuk bekerja, namun tetap dibutuhkan oleh semua orang kapan saja dan dimana saja, maksudnya sih psikologi. Tapi mendengar pernyataanku, abi menyela ‘wah muamalah banget tuh..’.

Perlu waktu lama bagiku untuk mengatakan iya, pun saat membaca brosur tazkia, melihat sekilas, aku prefer ke jurusan BMI (Bisnis Manajemen Islam) karena tampaknya keren. Tapi konsentrasinya yaitu pemasaran / kewirausahaan dan perbankan / keuangan, dua-duanya tidak sesuai denganku yang notabene low self esteem dan lebih suka belajar sesuatu yang berkonsep big picture. Jadi yah memang dibanding jurusan lain, aku lebih cocok ke muamalah.

STEI TAZKIA memiliki peraturan bagi mahasiswa tahun pertama untuk berasrama di kampus matrikulasi. Sampai di sini ternyata suasananya berbeda dari di pesantren dahulu, di sini cenderung lebih bebas dengan pembelajaran agama yang kurang padat dibanding pesantren, namun tentu banyak pula pengetahuan baru yang aku dapat, terutama praktek. Di pesantren kami belajar teori, dan di sini kami belajar memperdalam bagaimana aplikasi dan modifikasinya dalam kehidupan nyata.

Aku mulai suka TAZKIA. Aku suka guru-gurunya yang cerdas namun tetap tawadhu, para pembimbing yang disiplin dan bijak, teman-teman yang seru dan menyenangkan serta lingkungan yang asri dan islami di tengah hiruk-pikuknya metropolitan. Entah sejak kapan, aku mulai merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga besar ini, keluarga pejuang ekonomi Islam Insya Allah.

Di awal masuk, TAZKIA mengadakan sejumlah placement test, diantaranya Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan tes narkoba. Tes bahasa lumayan sulit menurutku walau Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan semuanya. Tes Bahasa Inggris adalah TOEFL, Bahasa Arab disusun oleh TAZKIA, terdiri dari tiga bagian : bagian pertama mudah, huruf hijaiyah dan beberapa kata-kata umum, bagian kedua sedang, lebih ke kalimat dan konsep atau kaidah bahasa, bagian ketiga sulit, ada mengharokati sesuai kaidah nahwu, menerjemahkan artikel ilmiah, meng-i’rab kalimat dan membuat paragraf dengan tema tertentu, sudah seperti test I’dad Lughawi nya LIPIA saja, bahkan lebih sulit.

Setelah itu ada PORTAL (pekan orientasi dan ta’aruf almamater), banyak seminar dan kajian ilmiah dari para narasumber hebat, diantaranya para praktisi ekonomi Islam, peneliti di Bank Indonesia, ustadz ahli fikih, entrepreneur, pengamat ekonomi bahkan ekonom komandan KOPASSUS. Semua tokoh tersebut sangat menginspirasi masya Allah. Masing-masing materinya akan aku tuliskan juga nanti Insya Allah.

Tapi intinya, satu konsep sama yang aku simpulkan dari keseluruhan adalah, Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur dengan rinci dan bijak semua aspek kehidupan manusia, termasuk masalah ekonomi, jadi, ekonomi adalah sebagian kecil ilmu yang telah diajarkan dalam Al-Quran dan Sunnah dengan adil. Tugas kita sekarang adalah bagaimana mengembalikan kembali masa keemasan perekonomian Islam dengan menggunakan aturan dan prinsip Al-Quran dan Sunnah yang secara tidak langsung merupakan rumusan Allah Ta’ala. Jadi apa yang menjadi fokus kita sekarang bukanlah harta, tapi konsep pengelolaan harta. Kelesuan perekonomian di beberapa negara Islam salah satunya disebabkan karena mereka mulai meningalkan prinsip-prinsip Islami (syariah) dan memegang teguh prinsip konvensional buatan manusia. Jadi belajar ekonomi carilah akhirat dulu, dunia akan mengikuti, pelajari dasar dan landasan utama dulu, pembaharuan akan dapat ditelaah, kerja dakwah dulu baru kerja nafkah. Karena kita tidak tahu hidup di dunia sampai kapan, kalau tujuan kita hanya uang, pekerjaan ataupun jabatan, saat maut mendahului, sia-sia semuanya. Saat PORTAL itulah Allah mulai membukakan pintu hati dan wawasanku untuk menambatkan pilihan pada jurusan muamalah dengan yakin, Insya Allah.


Perbedaan jurusan awalnya bukan menjadi topik utama antar teman, namun saat di PORTAL ada pengelompokan sesuai prodi / jurusan, aku kaget sekaligus bingung karena jumlah anggota jurusan lain mencapai puluhan namun sayangnya muamalah sangat sedikit, perasaan miris tiba-tiba merasuk, sedemikian sedikitkah remaja yang akan menjadi teman seperjuanganku nanti, jumlahnya bahkan dapat dihitung dengan jari, Ya Allah..

Memang, jumlah tidak menjamin keberhasilan suatu program. Tapi jujur, muamalah membutuhkan kalian, membutuhkan para pejuang yang dapat menjadi pondasi dan dasar dari semua ilmu ekonomi. Karena apa yang akan kita pelajari adalah Al-Quran dan Sunnah serta Bahasa Arab yang jelas tidak akan pernah ada perubahan pada keduanya, adapun ilmu lainnya sekalipun itu praktek, pasti akan mengalami perubahan dan pembaruan suatu hari nanti, dan apa yang kita pelajari saat ini menjadi ketinggalan zaman kedepannya.

Sebagai seorang muslim, kita harus tahu hukum dan kehalalan / keharaman semua aplikasi ekonomi yang kita terlibat di dalamnya. Dari mana kita tahu? Tentu dari dasar hukumnya yaitu Al-Quran dan Sunnah. Ketahuilah bahwa apa yang aku cita-citakan dari sebuah pelajaran penting yang akan selalu dibutuhkan oleh siapapun secara umum salah satunya adalah muamalah. Perkembangan ekonomi yang begitu pesat dengan inovasi-inovasi baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya akan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Contohnya saja penggunaan e-money (uang non tunai) yang sedang booming akhir-akhir ini, dari mulai go-pay, T-cash, Google Wallet dll. Yang menjadi perbincangan masyarakat umumnya bukan, ‘bagaimana sistem dan konsepnya?’ tapi lebih ke ‘apa hukumnya?’, oleh karena itu mempelajari apa yang lebih banyak manfaatnya bagi oranglain Insya Allah lebih baik.

Salah seorang teman pernah berkata, ‘aku pengen masuk muamalah tapi aku takut tidak bisa bahasa Arab, tapi aku pengen bisa juga..’.
Karena tidak bisa makanya kita belajar, kalau sudah bisa ya jadi pengajar. Bagaimana mau bisa kalau tantangan bukannya dihadapi malah dihindari? Ujian tidak akan pernah semakin mudah, tapi kita yang harus semakin kuat. Ingin bisa bahasa Al-Quran dan bahasa ahli Surga ya paksakan diri untuk usaha, mau bagaimana lagi? Tidak ada keberhasilan dengan santai-santai.

Teman-teman, kalau bukan kita yang mempelajari Al-Quran dan Sunnah sebagai dasar dan pijakan sistem ekonomi Syariah maka siapa lagi? Jangan sampai apa yang menjadi hak intelektual kita, kaum muslimin, lalu dipelajari, diaplikasikan, diambil alih bahkan di-atasnamakan oleh orang lain seperti yang terjadi pada hasil inovasi para ilmuwan Muslim zaman dahulu, dilupakan sejarah, terkubur kemudian dibangkitkan kembali dengan hak cipta di tangan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab.

Pejuang muamalah mungkin memang sedikit, karenanya kita mengajak teman-teman semua untuk ikut bergabung, apa yang akan dipelajari nantinya bukan hal yang main-main : hukum dan syariah, namun usaha dalam tingkat kesulitan yang lebih tinggi akan dibalas juga dengan pahala yang setara Insya Allah. Maka aku harap diluar sana masih ada para pejuang cerdas yang siap bermanfaat bagi orang banyak. Lupakan dulu pekerjaan yang mentereng, jabatan tinggi atau perusahaan bonafide. Jangan hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja, jadilah orang yang berbeda, ambil resiko sebesar mungkin, hadapi semua tantangan, coba level tersulit dan jadilah pemenang.

Demikian, Wallahu A’lam.



STEI Tazkia atau Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia adalah sebuah perguruan tinggi swasta di Bogor, Indonesia. Wikipedia

Alamat: Jl. Ir. H. Djuanda No. 78, Sentul City, Citaringgul, Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat 16810
Telepon: (021) 87962291
Provinsi: Jawa Barat
Jenis: Swasta
Didirikan: 11 Maret 1999
Ketua: Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec