Latest Posts
Lanjutan Part 1

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada beberapa hal unik yang kuingat selama aku disana diantaranya adalah adanya panggilan-panggilan khusus antar kami, seperti kak Afi yang memanggil Dais ‘adik ipar’ dan Dais memanggilnya ‘kakak ipar’ (bahkan kata Dais kalau bisa saat walimahnya, semua anggota program murajaah hadir sekalian reuni, hhe..), kak Azizah yang dipanggil ‘yu jijah’ oleh kak Afi dan kak Sholihah, kak Sholihah yang dipanggil ‘Solik’ oleh kak Afi, Ghina yang dipanggil ‘mami’  oleh Dais dan kak Afi karena suka memberi nasihat dan aku yang dipanggil ‘miss perfeksionis’ oleh kak Rahmi.

Disana, selain ikut program murajaah Ma’had Syathiby aku juga ikut daurah Nahwu setelah diajak oleh Ghina, selain aku dan Ghina, Syaima (musyrifahku), kak Sholihah dan kak Azizah juga ikut, disana aku bertemu kak Sarah Kujjah (teman mayaku), daurah itu diisi oleh ustadz Irham dengan kitab berjudul At-Tashiil. Daurah itu berjalan selama 5 hari, meski belum semua isi kitabnya terbahas, paling tidak untukku, aku bisa memurajaah nahwu sekaligus mendapat beberapa pengetahuan baru, diantaranya perkataan Ghina yang membuatku kagum,

“Kalau Yunani mengumpamakan matahari itu laki-laki dan bulan perempuan, tapi ternyata dalam ilmu Nahwu sebaliknya, matahari itu dianggap perempuan dan bulan laki-laki”

Oya, pada hari keempat daurah, saat itu aku pulang bersama Syaima, kami menemukan seekor kucing kecil berbulu abu-abu yang terlantar di jalanan, karena kasihan, kami membawanya pulang ke asrama. Kebetulan saat itu ada seekor kucing berbulu hitam-putih yang sering main ke asrama kami saat Subuh dan Maghrib, saat sahur dan berbuka karena biasanya kami menyisihkan sedikit untuknya. Saat kucing kecil abu-abu itu dibawa ke asrama, Syaima menyarankan agar mereka berdua diberi nama, akhirnya kak Rahmi memberi nama si kucing hitam-putih itu Tommy dan si kucing kecil itu Choky, namun pada akhirnya kak Rahmi lebih sering memanggil Tommy dengan ‘Abang’ dan Choky ‘Adek’. Setelah beberapa hari, ternyata abang dan adek (Tommy dan Choky) sering bertengkar, dan yang sering melerai mereka adalah kak Rahmi, sampai-sampai ia memperlakukan mereka seperti anak kecil dan sering berkata pada Tommy,

“abang yang baik sama adeknya dong..”

Pada akhirnya, karena pertengkaran mereka selalu terjadi, kamipun sepakat untuk mengembalikan Choky ke tempat kami menemukannya, karena kasihan kami melihatnya sering (seolah) dibully oleh Tommy.

Selama disana, aku sering sekali menuliskan perkataan teman-teman yang menurutku berkesan atau mengandung nasihat di buku agendaku, saking seringnya, kak Rahmi sampai bilang,

“kalau Doraemon punya kantong ajaib yang isinya bermacam-macam, Aisyah punya buku ajaib yang isinya juga bermacam-macam”

Awalnya, saat aku, Ghina, Dais dan kak Afi sering berbuka di asrama, sedangkan yang lain ada yang di asrama ungu, ada yang di masjid dan ada juga yang pulang karena rumahnya dekat. Waktu itu secara tidak sengaja, kami menemukan fakta menarik bahwa kami berempat ternyata berbeda golongan darah, aku O, Ghina AB, Dais A dan kak Afi B, akupun menuliskannya karena kupikir jarang 4 orang dengan golongan darah yang berbeda bisa saling dekat satu sama lain, berawal juga dari kata-kata Ghina saat pertama kali menasihatiku saat aku sedih, rindu dengan keluarga di rumah, ia berkata,

“sabar aja, waktu pasti berlalu..”

Aku suka dengan psikologi, terutama yang berhubungan dengan pembagian karakteristik dan sifat, aku juga suka menilai orang berdasarkan sifat dominan yang kulihat, dari teman-teman di asrama murajaah yang bertahan hingga akhir, yaitu : Ghina yang unik, Dais yang seru, kak Rahmi yang keibuan dan berjiwa pendidik, kak Afi yang alim, kak Azizah yang ramah, kak Sholihah yang lucu dan berprinsip, dan Syaima yang super pendiam.

Aku juga sempat mampir ke toko buku Muslim Gallery, aku mampir kesana bersama kak Rahmi dan Ghina di suatu sore, kami membeli beberapa buku, dan Masya Allah buku-buku di sana bagus-bagus sekali, rasanya jadi ingin membeli semua, apalagi dengan adanya diskon di setiap belanja, aku merekomendasikan teman-teman untuk mampir kesana jika ingin mencari buku-buku Islam, lokasinya tepat di depan outlet Rodja, jika ada kesempatan, aku juga ingin berkunjung lagi insya Allah.

Pada beberapa hari terakhir sebelum perpulangan, ada orang iseng yang memasang guling dibungkus kain putih seperti pocong di sebuah pohon di belokan menuju asrama murajaah. Pertama kali aku melihatnya saat sedang bersama Ghina menjelang Maghrib, saat kulihat dari jauh, kupikir ‘apa itu putih-putih di pohon?’ saat mendekat, Subhanallah ternyata pocong-pocongan, awalnya aku merasa takut karena kukira hanya aku yang melihatnya, ternyata Ghina juga, akupun langsung menunduk dan berlari kecil diikuti Ghina yang malah tertawa. Setelah diceritakan di asrama, ternyata kak Sholihah dan kak Azizah juga sudah melihatnya sejak kemarin, dan mereka biasa saja. Keesokan harinya kami melihat bersama-sama dan ternyata benar, yang memasang kok niat sekali sampai dibuat persis begitu, meski hasilnya memang lucu sih, hhe.. tapi 2 hari kemudian benda itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, sepertinya sudah diangkat oleh yang punya, Alhamdulillah..

Hari terakhir, 20 Ramadhan 1436 H. Hari yang ditunggu-tunggu, tapi tunggu, entah kenapa hari itu perasaanku campur aduk, antara senang dan sedih. Senang karena akan bertemu dan berkumpul kembali dengan keluargaku dan pulang ke rumah, tapi sedih karena akan berpisah dengan saudari-saudariku yang meski belum genap sebulan kukenal, tapi sudah menempati ruang dalam mozaik hatiku.

Di hari terakhir itu diadakan tes hafalan, untuk program murajaah yang diujikan ya sejumlah murajaah yang telah disetorkan, kami semua diuji oleh kak Azka (yang waktu itu anggota halaqohnya tinggal aku sendiri karena kak Muslimah sakit, kak Tika dan Dais sudah pulang) sedangkan Syaima ikut menguji anggota program umum. Aku mendapat giliran kedua setelah kak Afi, tidak begitu lancar memang, tapi Alhamdulillah akhirnya aku bisa menyelesaikan ketiga soal yang diberikan oleh kak Azka. selesai tes hafalan, ada pembagian hadiah dan sertifikat, setelah itu foto bersama, setelah itu resmilah kegiatan Tahfidz Ramadhan II ini berakhir.

Aku dijemput oleh ummi dan ditemani beberapa teman ummi yang anak-anaknya akan ikut I’tikaf di masjid Al-Barkah karena kebetulan abi dan adik-adikku tidak bisa mengantar. Aku dijemput saat Dzuhur, semua sudah pulang ke rumah masing-masing kecuali kak Sholihah dan kak Azizah karena rumah mereka dekat, jadi pulang paling terakhir.

Perjalanan pulang kuhabiskan dengan mengingat-ingat apa saja pelajaran yang kudapatkan selama 20 hari disana, ternyata amat banyak sekali.. bukan hanya kesempatan untuk murajaah dengan disiplin, tapi juga pelajaran hidup untuk toleransi, kerja sama, tolong-menolong,  berbagi dan banyak lagi. Diantara semua itu, yang paling mengena bagiku adalah belajar bagaimana menjadi percaya diri, karena menurut teman-temanku, kepercayaan diriku rendah sekali, hehe.. maaf ya teman-teman.. Kak Rahmi bilang padaku,

“Harus percaya diri, jadilah diri sendiri selama tidak merendahkan orang lain”

Iya kak, insya Allah aku akan mengingatnya..

~~~



Untuk Ummu Aisyah, Ummu Yahya, Kak Azka, Syaima Rahmat, Ghina Aprillia, kak Rahmi Indrizna, Dais Latifah, kak Afifah Amani Nabila, kak Azizah Amdad, kak Mar’atussolihah, kak Nur Atikah, kak Muslimatul Marhamah, kak Hilwa Muchsinah, Fadhlin Augustine Auliya, Nun, Wardah, Syifa, Hanan, kak Zahro, kak Yu’mim Billah, Falisa, Fajrin, Berliana Safitri, kak Qothrun Nada, kak Romlah dan semua teman-temanku di ma’had Asy-Syathiby, Jazakunnallah Khairan Katsiron, Uhibbukunna Fillah.


الحياة متعبة و معكنّ تحذف الباء
Bismillahirrahmanirrahim..

Sumber : Website Ma'had


Catatan yang (mungkin akan) panjang ini dimulai dari sebuah rencana yang sudah kususun untuk memurajaah (mengulang kembali) hafalan Al-Quranku di Bulan Ramadhan. Waktu itu yang kupikirkan hanya bagaimana mengisi waktu kosong di bulan mulia ini dengan amal baik semaksimal mungkin, terlebih sekolah juga akan libur, maka kuputuskan untuk memperbanyak membaca Al-Quran.

Awalnya, aku berniat untuk menyetorkan murajaahku ke ummi atau ke Zainab, tapi qadarullah saat itu ada beberapa teman yang mengajakku untuk ikut pesantren kilat, lalu kupertimbangkan, ‘kenapa tidak? Ada baiknya juga dicoba..’, ummi dan abi-pun ikut mendukung setelah kusampaikan.

Pilihan pertamaku jatuh pada program Manzil Qur’an di sebuah pesantren Tahfidz di daerah Bogor (aku lupa nama pesantrennya), namun karena beberapa hal, pilihan itu dibatalkan. Kemudian abiku menawarkan untuk ikut program Tahfidz Ramadhan II di Ma’had Asy-Syathiby, Cileungsi sebagaimana yang dikirimkan oleh teman beliau lewat whatsapp. Aku langsung menerima tawaran itu, apalagi saat tau ada program khusus murajaah, aku membayangkan, pasti menyenangkan bertemu dengan teman-teman baru yang memiliki tujuan sama sehingga bisa saling memotivasi satu sama lain.

Aku mengisi form pendaftaran online, dan Alhamdulillah beberapa hari kemudian datanglah kabar gembira itu melalui ustadz Shodiqin, sepupu bibiku yang menyatakan bahwa aku diterima menjadi peserta Tahfidz Ramadhan II program Murajaah. Aku lalu mempersiapkan segala keperluan dan bekalku kesana, karena tempatnya cukup jauh (di komplek Radio Rodja Cileungsi) dan waktunya cukup lama (20 hari). Saat packing, entah kenapa aku tiba-tiba merasa nervous sekali, hehe.. tapi Alhamdulillah Zainab dan Afifah memotivasiku sehingga aku menjadi yakin kembali.

Tanggal di kalenderku menunjukkan tanggal 17 Juni yang sudah kutunggu-tunggu, aku dan keluargaku berangkat dari rumah jam 10 pagi dan sampai di masjid Al-Barkah saat Dzuhur. Setelah shalat Dzuhur kami makan siang bersama lalu aku diantar ke sebuah rumah ber-cat ungu dengan tulisan ‘Rumah Tahfidz’ di depan gerbangnya, tak lama kemudian ummi, abi, Muadz, Zainab dan Afifah-pun bersiap meninggalkanku, tiba-tiba aku merasa sedih, karena jujur saja, selama aku bersekolah di pesantren, aku belum pernah merasakan tinggal di asrama bersama-sama, jadi maklum saja kalau aku agak umm, melankolis, he..

Setelah keluargaku pamit, akupun resmi sendirian dan mulai berkenalan, orang pertama yang kukenal bernama Syifa (aku tidak tau lengkapnya tapi belakangan aku tau bahwa ia anggota halaqoh kak Raisa), kemudian yang lainnya.. ada Azra, Hanan, Nun, Wardah, kak Afi, kak Umim, kak Zahro, kak Tika.. tidak banyak sih, tapi lumayan, akhirnya aku punya terman baru, Alhamdulillah..

Malam hari setelah tarawih bersama di masjid Al-Barkah, kami dikumpulkan bersama, berkenalan lalu peserta program Murajaah dipindahkan asrama baru yang oh ternyata lebih jauh dari asrama awal kami (asrama Ungu) bersama dengan musyrifah kami, Syaima. Aku bertemu orang-orang baru lagi di program murajaah (2 yang sudah kukenal : kak Afi dari ma’had Ali Imam Bukhari dan kak Tika dari pesantren Al-Qonitat, ada kak Azizah dari LIPIA (alumni Imam Bukhari), kak Sholihah dari pesantren As-Sunnah Cirebon, kak Ata, kak Muslimah dari pesantren Darul Hikmah Lampung dan Dais dari SMK Al-Hadid. Setelah bercakap-cakap sebentar, kami bersiap-siap tidur (kebetulan saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam), kak Ata pulang namun tidak kembali lagi, ada 2 kamar dan 1 ruang tamu yang dijadikan ruang tidur, aku kebagian di ruang tamu bersama kak Afi, Dais dan kak Tika.

Jam 3 pagi aku terbangun, ah sebenarnya aku juga tidak benar-benar tidur karena biasanya aku akan sulit tidur untuk pertama kali di tempat berbeda. Setelah bersih-bersih kami sahur dan shalat Shubuh, lalu Syaima menjelaskan bahwa halaqoh Murajaah akan dibagi menjadi 2 bagian : 3 orang dibimbing olehnya (yaitu kak Afi, kak Azizah dan kak Sholihah) dan 4 lainnya dibimbing oleh Azka (aku, Dais, kak Tika dan kak Muslimah), kamipun langsung menuju masjid untuk memulai halaqoh.

Pagi itu, 1 Ramadhan 1436 H, pertama kalinya aku bertemu pembimbing halaqohku, namanya Azka, aku memanggilnya kak Azka. Secara singkatnya aku memulai murajaahku dari juz 1 sebagaimana yang lain. Halaqoh berakhir jam 7, kami balik ke asrama untuk bersih-bersih lagi dan piket, ada juga yang tilawah. Dilanjutkan ke masjid lagi jam 8 sampai jam 11 untuk menghafal, lalu pulang untuk qoilullah (tidur siang) dan shalat Dzuhur, setelah itu ada yang murajaah ada juga yang istirahat lagi sampai Ashar, setelah shalat Ashar kami kembali ke masjid untuk halaqah sore, setoran murajaah lalu jam 5 kami sudah boleh pulang untuk jajan atau mencari persiapan buka puasa, mengambil jatah buka puasa di asrama ungu kemudian pulang ke asrama murajaah, kami disana berbuka, shalat Maghrib dan Isya, lalu kembali ke masjid untuk shalat tarawih.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa dan sama saja, kecuali aku mendapat lebih banyak teman baru dan mengenal mereka, dan sungguh, Tabarakallah.. ternyata dunia tidak seluas yang kubayangkan! Banyak yang baru kukenal tapi ternyata mereka mengenal teman-temanku, misalnya saja :

·         kak Afi dan kak Azizah yang ternyata kenal dengan mbak Maryam dan mbak Hanifah
·         Dais yang kenal dengan Shofi dan Dhifya teman sekelasku, juga dengan Berlin adik kelasku dan Firqoh teman dumayku
·         Kak Sholihah yang kenal dengan mbak Novi Wibawanti teman ummiku, bahkan kata kak Sholihah, beliau adalah guru SDnya
·         Kak Rahmi yang kenal dengan mbak Maryam dan the Cica
·         Alin yang kenal dengan kak Nina

Aku juga jadi memiliki beberapa teman antar-pesantren, seperti :
ü  Ghina Aprillia dari Al-Ma’tuq lalu ke Al-Hadid
ü  Dais Latifah dari Itishom lalu ke Hidayatun-Najah lalu ke Al-Hadid
ü  Kak Afi, kak Azizah dan kak Rahmi dari Imam Bukhari
ü  Kak Zahro dari Albina
ü  Fadlin dari Future Gate
ü  Kak Sarah Kujjah dari Bin Baz
ü  Kak Hilwa dari (sebuah pesantren di) Aceh
ü  Kak Muslimah dari Darul Hikmah
ü  Kak Mar’atussholihah dari As-Sunnah

Banyak pengalaman menarik yang kualami selama di ma’had Asy-Syathiby ini, dimulai dari perjuanganku memurojaah Al-Quran secara keseluruhan untuk pertama kali (istilah dari kak Rahmi : putaran pertama) sampai perjuangan kami bersama-sama untuk saling menguatkan satu sama lain, karena entah kenapa bagi kami kegiatan ini sangat berat, bahkan sejak hari kedua, kami sudah rindu rumah dan berharap tanggal 20 Ramadhan itu segera tiba, kami menghitung tanggal hampir setiap hari menanti hari kepulangan.

Ada tawa dan tangis yang silih berganti setiap waktu, tawa saat kebersamaan, kebahagiaan, dan syukur akan Rahmat Allah yang telah mempertemukan kami disini, tangis atas kerinduan akan keluarga, beratnya perjuangan, terharu, bahagia dan yang paling menyesakkan adalah saat perpisahan.

Ya, perpisahan yang tidak terduga, disaat perjuangan ini belum berakhir, beberapa pejuang Al-Quran gugur, bermacam-macam sebabnya, ada yang sakit, terpaksa pulang atau keinginan sendiri. Di asrama murajaah sendiri diantara yang gugur adalah kak Muslimah karena sakit, kak Tika yang terpaksa karena sudah dijemput dan Dais yang pulang di hari-hari terakhir perjuangan ini.


Ada yang datang duluan dan pulang duluan, ada juga yang datang belakangan dan pulang belakangan, misalnya Ghina yang baru datang ke asrama murajaah (sebelumnya di asrama ungu) setelah diajak oleh Dais untuk bergabung dengan asrama murajaah namun ikut program intensif, karena katanya, hati dan jiwa Ghina bertempat di asrama murajaah, hehe.. selain Ghina, ada kak Rahmi yang Masya Allah hafalannya baik sekali, mutqin.. sampai bisa menyetor 4 juz sehari, sehingga meski datang agak terlambat, ia bisa menyelesaikan program murajaahnya dengan cepat.

Bersambung ke Part 2