Latest Posts

Bismillah.




Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan sebuah tulisan yang membuatku merefleksi apa yang sudah kulakukan, saat itu, aku berada di titik kebingungan, rasanya seperti ingin ke suatu tempat, tapi ketika sudah tiba di sana, aku bingung apa yang sebenarnya aku inginkan, atau, apa yang harus aku lakukan. Namun pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa, mencari dunia tidak ada habisnya, padahal dunia sendiri suatu hari akan habis. Lalu seseorang yang sampai sekarang tidak kuketahui identitas nya mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

[QS. Thaha:124]

MasyaAllah Tabarakallah, seolah-olah ayat itu membuatku melihat hidup dari sudut pandang lain, yang lebih positif, insya Allah. Syukran jazakumullahu khayr. Bagi teman-teman yang mau membaca tulisan tersebut, bisa di klik di sini.


Alhamdulillah, pada hari ini, 3 Oktober 2020, seorang adik berdiskusi denganku, membicarakan tentang, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dari setiap keputusan yang kita ambil. Aku berpikir, dan aku pun menyampaikan padanya bahwa dahulu aku berpikir begitu simpel, jadi tolak ukur keputusan yang kubuat banyak didasarkan pada orangtua. Umi Abi. Untukku, apa yang bisa membuat umi abi bahagia, akan kulakukan, misalnya ketika memilih untuk masuk perguruan tinggi yang saat ini sedang aku jalani, bahkan keputusan program studi yang kuambil. Jadi saat itu, yang kutahu hanyalah, pilihan orangtua insya Allah yang terbaik, dan aku harap itu cukup sebagai alasan.


Maka demikianlah aku beberapa tahun selanjutnya. Meski beberapa kali, kadang muncul juga niat-niat lain yang lebih subjektif, misalkan sesederhana, karena aku suka hal tersebut, jadi aku pilih. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Baik, Allah memberikan banyak kebaikan dalam hidupku. Ohya, aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi, setiap pertemuan, perpisahan, rezeki, ajal semuanya telah ditetapkan Allah dalam lauh Mahfudz, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah.


Kembali ke topik, namun dalam pembicaraan hari ini, secara spontan aku menyampaikan beberapa pesan ke adik yang satu ini. Sosok yang senantiasa semangat dalam berbuat kebaikan namun tawadhu nya luar biasa, Masya Allah. Sebuah pesan yang, ketika aku baca ulang, ini bahkan lebih cocok dikatakan sebagai hal yang dapat kupelajari dari segala sesuatu yang sudah kulalui. Ini mungkin boleh dikatakan sebagai, pesan untuk diriku di masa lalu.


Aku paham bahwa tidak ada yang bisa mengulang waktu. Manusia hanyalah kumpulan hari-hari, yang jika satu hari telah berakhir, maka hilanglah sebagian dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri. Jadi bukan, ini bukan angan-angan atau berandai-andai. Ini adalah pesan yang Alhamdulilah baru aku sadari sebagai jawaban dari pertanyaan ku di masa lalu, mungkin. Dan, ini juga pesan yang kukhususkan untuk adik-adik ku yang mungkin saat ini sedang berada dalam fase Quarter Life Crisis. Serba bingung dengan banyak hal, mempertanyakan diri sendiri tentang keputusan yang diambil, pun pusing memikirkan masa depan. Aku harap, pesan ini dapat tersampaikan pada hatimu, sehingga kamu tidak perlu mengalami kebingungan seperti yang kualami.


Aku bukan tipe orang yang mudah membuat keputusan, ada begitu banyak pertimbangan yang muncul dalam benakku sebelum aku berani memutuskan sesuatu, hal-hal sekecil, aku tidak akan membuat status di WhatsApp jika masih ada pesan chat yang belum kubalas, karena bagiku itu akan membuat si pengirim pesan merasa sedih, meski entahlah, rasa itu muncul begitu saja, atau memang aku saja yang merasa demikian.. tapi intinya, memutuskan sesuatu merupakan hal yang akan membutuhkan waktu lama. Terlebih lagi kalau berkaitan dengan kepentingan orang banyak, aku lebih suka menyerahkannya kepada mereka yang bijak, jujur saja, aku khawatir sekali salah mengambil keputusan kemudian merugikan sebagian orang.


Sampai akhirnya, aku semakin selektif dalam memilih pertimbangan memutuskan sesuatu. Beberapa pengalaman di organisasi mengajarkan bahwa akan ada keadaan-keadaan dimana aku harus berpikir cepat, dan memutuskan dengan cepat pula. Dan kalau kamu mau tau, tidak ada pertimbangan baku dalam setiap keputusan cepat yang kubuat, selain dari aku memilih mana yang lebih banyak kebaikannya. Kalau jangka waktunya lebih lama, mungkin aku bisa konsultasi dengan orangtua, atau meminta pertimbangan mereka yang jauh lebih paham. Sehingga, keputusan cepat semacam ini menyebabkan aku bisa jadi sosok yang berbeda tergantung dengan perkara yang kuhadapi, dan aku memohon ampunan Allah jika ada dari keputusan itu yang menyebabkan kedzaliman. Jika kamu salah satu dari orang yang pernah kudzalimi, aku minta maaf, benar-benar minta maaf, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak untukmu, memberkahi hidupmu kedepannya insya Allah ..


Oh, kisah ini semakin panjang. Dan aku belum juga sampai pada intinya, terus berkutat di latar belakang permasalahan. tapi begitulah.. itu yang terjadi padaku sebelumnya.

Hari ini, satu kalimat yang kusampaikan pada adik tersebut adalah seperti ini,
"Kini kak aisyah sadar satu hal, yang seharusnya kak aisyah pikirkan, menjadi pertimbangan membuat keputusan, sejak dulu, dalam segala sesuatu, keputusan apapun itu, adalah.. menjadikan Allah sebagai tolak ukur."


Iya. Itul yang kusampaikan dan ituah yang seharusnya aku lakukan, simpelnya dengan menjawab pertanyaan, 'Allah Ridha tidak ya, aku melakukan ini? Apa ya yang kira-kira dapat menghasilkan keridhaan Allah?' dan jawabannya akan menjadi jawaban dari keputusanku.


Salah seorang kakak pernah menasihatiku, kalimat ini pernah kutulis juga dalam tulisan yang cukup berkesan untukku di sini dan di sini juga. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita tau Allah Ridha atau tidaknya? Jawabannya adalah, minta fatwa pada hati kita masing-masing.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.

[HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)]


Sang kakak bilang, bahwa kita sudah mumayyiz, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi sebagai manusia yang mampu berpikir, kita bisa melihat, apakah ini baik atau buruk, baik dengan standar perasaan maupun logika. Dan aku pikir itu benar, itulah kenapa kita sudah diberi amanah syariat. Karena kita sudah mumayyiz. Kita pada dasarnya tau apakah yang kita lakukan baik atau tidak, dalam sudut pandang syariat, terutama. Fitrah kita dan hati nurani kita menunjukkan itu. Tentu akan lebih baik lagi jika kita paham ilmunya, belajar agama lebih dalam sehingga kita dapat menerapkan dalil syariat sebagai rujukan dalam kondisi yang kita hadapi.


Jadi, begitulah..

Aku, kamu, kita semua akan menghadapi banyak hal kedepannya. Banyaknya pilihan, arus informasi yang begitu cepat, semua itu akan memaksa kita untuk berpikir lebih, dan seringkali membuat kita bingung juga ya.. memilih satu permen diantara dua akan jauh lebih mudah daripada memiliki satu dari 100 pilihan permen. Namun aku berdoa, semoga, kedepannya, kita dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan sebuah keputusan, menjadikan Allah sebagai tolak ukur, memilih yang termudah selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana tauladan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan.

Tentu banyak hal besar yang akan kita hadapi, masalah besar, keputusan besar.. sebelum kuliah misalnya, mau di kampus mana? Jurusan apa? Saat kuliah, mau ikut organisasi apa? Mau ambil berapa sks? Perlu kah ikut acara sana sini? Magang dimana? Nanti skripsi membahas apa? Setelah kuliah, baiknya apa yang bisa kulakukan ya? Coba apply kerja dimana? Atau memutuskan menikah dengan siapa? Atau S2 saja dulu? Atau pertanyaan seperti, sebetulnya aku mau menjadi apa? Mau hidup seperti apa?


Masya Allah.. pada akhirnya, sebesar apapun perkara yang kita hadapi, kita harus ingat, Allah jauh lebih besar dari itu semua, Allahu Akbar. Mudah sekali bagi Allah untuk menunjukkan kita, mendatangkan bantuan dari arah yang tidak kita sangka. Apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita, sebagaimanapun kita mengejarnya, tidak akan pernah sampai. Dan, apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti akan sampai pada kita, bagaimanapun caranya. Boleh jadi, apa yang menurut kita buruk, itu sebenarnya baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita baik, itu sebenarnya buruk. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karenanya, menjadi urgen sekali untuk kita mendasarkan setiap keputusan kita pada standar keridhaan Nya.


Aku jadi teringat sebuah quotes.



Aku berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kita semua Taufiq dan Hidayah Nya. Menjaga dan melindungi kita dimanapun dan kapanpun. Serta menetapkan hati kita untuk selalu istiqomah meniti jalan ini, jalan yang lurus, meski tidak selalu mulus. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.


Alhamdulillaahi Alladzi Bini'matihi Tatimmu Shalihat.

Syukran jazakumullahu khayr sudah menyimak catatanku, semoga ada manfaat yang bisa diambil, tulisan ini merupakan pengingat untuk diriku sendiri dan juga pembaca sekalian. Jika ada hal-hal yang keliru atau perlu diklarifikasi, jangan sungkan untuk menyampaikan ya, mari sama-sama kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Jangan lupa untuk berdoa memohon petunjuk-Nya.. ^^

Bismillah.

Hari ini aku mendapatkan surat dari salah satu anak sakanku dahulu. Dia curhat, tentang kondisi keluarganya yang tidak menerimanya memakai hijab panjang dan men-judgenya fanatik dalam beragama. Ia rapuh, bagaimana tidak, keluarga yang seharusnya melindungi, menguatkan dan mendukung, justru memojokkannya sedemikian rupa.
Aku terenyuh, Masya Allah, betapa lembutnya hati gadis kecil ini, suratnya menyiratkan bahwa ia ingin tetap istiqomah dengan hijab panjangnya dan keluarganya memahami keadaannya.
Aku sudah menuliskan jawabannya, sebisaku.
Dan aku pikir, mungkin bukan hanya dirinya yang memiliki masalah demikian, memiliki prinsip dalam beragama yang ditentang oleh keluarga. Maka aku memutuskan untuk membagikan bagian ‘isi’ suratnya di sini. Semoga bermanfaat.

Umm, jadi tentang hijab..
Suka kepikiran ga, kadang untuk jilbab yang wajib aja masih susah, gimana buat cadar ya? Padahal semakin tertutup kita, kalau kata Alvira mah, lebih misterius dan membuat penasaran, apalagi kalau cantik, shalihah dan pinter agama kaya kamu, he.. ^^
Sebenarnya yang terutama dan terpenting adalah keyakinan dan rasa bangga dalam diri kita akan hijab ini. Kalau rasa bangga sudah melekat erat dalam sanubari, tantangan bagaimanapun juga akan dapat kita anggap sebagai angin lalu saja.
Jadi, aku tanya nih, kamu udah yakin belum dengan hijab yang dipakai? Bangga engga dengan identitas kemuslimahan itu? Kalau sudah iya, Alhamdulillah.. kita bisa ke step selanjutnya. Tapi kalau belum, atau masih ada rasa iri akan fashion, gaya dan mode orang lain (barat, korea atau non islam) kecuali dipakai di dalam rumah, maka coba perbaiki dulu niatnya.. ini adalah perintah dari Rabb yang maha menghidupkan dan mematikan lho. Jangan sampai kita dimatikan dalam keadaan belum menerima secara ikhlas perintah hijab. Pelajari lagi bahasan ini di buku-buku atau artikel Islam dari para asatidz (ustadz-ustadz) yang terpercaya..
Kalau bagian ini sudah lulus, maka baru sekarang kita diskusikan tentang menghadapi tantangannya.
Keyakinan dalam diri kita akan sangat membantu dalam istiqomah memakai hijab panjang, tidak peduli apa kata orang lain..
Masalahnya, kita mau jadi remaja apa kalau mengikuti kata orang lain terus? Jadi remaja yang punya  prinsip, kita sudah mumayyiz bisa membedakan mana baik mana buruk, apa iya kita mau meninggalkan sesuatu yang baik cuma karena anggapan orang lain?
Kalau kata Dhifya, kebiasaan itu harus ngikutin agama, jangan agama yg ngikutin kebiasaan. Pegang dulu agama kita, baru kita sesuaikan kebiasaan dan adat kita berdasarkan agama.
Begitu juga dengan keluarga dan teman-teman..
Bergaul dengan baik tapi jangan sampai melebur, jangan sampai terbawa arus, mengikuti hal-hal yang kurang baik.. Nah apalagi kamu udah banyak belajar agama. Alangkah baiknya kalau justru kamu yang mendakwahkan dan memberi contoh bahwa begini lho hijab yang benar..
Ambil hati mereka. Gimana caranya? Dengan akhlak kita, tunjukkan identitas muslim sejati, dengan hikmah dan santun, peka terhadap lingkungan (sering terapkan 3 S : salam, senyum, sapa) dan yang penting juga bergaul cantik, he.. maksudnya dakwah itu tidak harus di masjid tapi bisa kita lakukan dimana saja dan kapan saja seperti saat bertemu akhwat atau anak SD dan SMP di angkot, kalau ada waktu, ajak ngobrol dan kenalan, tanya kesehariannya, disitu kita bisa masuk, ajakin ke kajian atau sharing pengalaman, terus terhadap pedagang atau ummahat (ibu-ibu), sesekali tanya kabar, anaknya sekolah dimana dan gimana keadaannya, lama-kelamaan mereka akan percaya dan mau share dengan kita setiap ada kesempatan, mudah-mudahan dengan contoh seperti diatas orang-orang di sekeliling kita tidak menghindar dari kita karena kitanya peduli sama mereka.
Aku yakin, orang cerdas pasti ga akan mudah menilai hanya melalui penampilan.
💝 💝 💝
Aku tahu kamu telah mengusahakan segala cara untuk kebaikan keluarga dan teman-teman.. tapi itulah proses, tidak bisa sekejap langsung berubah. Jangankan sesosok manusia, takdir-pun kadang tidak berpihak pada kita. Tapi kamu harus yakin, bahwa Allah telah merencanakan sesuatu yang baik, dan hanya Ia yang mampu memberikan hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki..
Tetap bersabar ya, cantik.. Tawakkal pada Allah, perbanyak berdoa. Mohon pada Rabb yang Maha Menggenggam hati hamba-Nya dan mampu membolak-balikkannya seketika.
Aku sampaikan ini, karena aku sendiri pernah mengalaminya, aku juga pernah berhadapan sama saudara yang awalnya nentang sunnah, tapi tak ada yang bisa kita lakukan kecuali mendoakannya. Menunjukkan akhlaq islam yang baik, hadapi dengan hati yang lembut. Tugas kita tetap baik pada siapapun, terutama keluarga sendiri, apapun yang terjadi.
Buktikan bahwa kamu ingin mereka berubah bukan karena kamu lebih baik, tapi karena kamu menyayangi mereka, ingin bersama dengan mereka bukan hanya di dunia, namun juga di Syurga. Bukankah amat bijak bila kita mendoakan petunjuk agar mereka sadar akan kesalahannya, sehingga tidak akan ada lagi orang yang tersakiti karenanya.
Kalau sampai kita kebawa emosi juga, malah jadi penghalang hidayah buatnya, sampaikan padanya bahwa Sunnah itu indah, pada lisan yang terjaga dan perilaku yang beradab.
Kalau mau lebih optimis lagi, lihat kisah-kisah terdahulu, kau tahu, Umar bin Khottob saja dulu hampir membunuh Rasulullah, itu karena ia belum masuk Islam, belum kenal Allah dan Rasul-Nya. Lalu.. Allah Maha Kuasa menerangi hatinya dengan keimanan, dan pada akhirnya Umar jadi sahabat Rasulullah, salah satu orang terdekat beliau, bahkan dijamin Syurga oleh Allah. Itulah indahnya hidayah.
Jangan cemas. Insya Allah semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa melewatinya. Allah tidak akan pernah meninggalkan. Allah tahu apa yang terbaik untukmu. Saat ini, Allah mau kamu lebih mendekatkan diri pada-Nya. Perbanyaklah sujud di keheningan malam.
Tetaplah tersenyum, karena kebahagiaan akan selalu ada bersama orang-orang yang Ridha dengan takdir.
🌷🌷🌷
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (Terjemahan QS. Al Baqarah ayat 286).



Demikian.

Wallahu A’lam.
#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia
Bismillah.

Kalau kata anak kelas 9 D,
Kekinian itu (katanya) ngikutin jaman, nyeleneh, selalu update semua sosmed, punya follower 1 K lebih. Padahal sebenarnya gak selalu gaul, biasanya ikut-ikutan. Nge-trend tapi kurang bermanfaat. Seharusnya kekinian itu LIMITED EDITION

Trend kekinian silih berganti waktu demi waktu. Saat sedang booming, semua orang berlomba-lomba menunjukkan dan mempublikasi kepada dunia bahwa mereka telah resmi ikut trend, sosialita dan kekinian.
Adapun orang-orang yang menyibukkan diri dengan belajar dan berdakwah, apalagi ilmu agama,  meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, dianggap kuno, kuper dan jumud.

Aku bukan orang yang suka ikut kesana kemari, aku lebih suka mempelajari dan mengamati fenomena yang terjadi. Jadi sebenarnya, aku tidak memihak siapapun.
Tapi, setelah menganalisa lebih jauh, aku menemukan fakta bahwa trend yang katanya kekinian itu, banyak yang memang kurang bermanfaat dan tidak mendidik. Hanya untuk senang-senang dan kelihatan keren saja. Tidak semua trend seperti itu memang, tapi kebanyakannya.
Sebut saja pose foto, ada saja gaya yang tidak biasa, katanya supaya kekinian, tapi kok jatuhnya malah tidak jelas.
Kemudian bahasa dan kata-kata yang sulit dimengerti, bahasa alay dan singkatan gaul masih menjamur di kalangan remaja. Seperti singkatan YXGK, awalnya aku tidak paham sama sekali lho saat pertama kali mendengarnya. Bukannya buruk sih, tapi kesannya kurang sopan saja menggunakan bahasa semacam itu. Padahal kita sebagai pemuda Indonesia kan seharusnya bangga berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, tidak ng-inggris (bagus bisa berbahasa Inggris, tapi harus lebih sering berbahasa Indonesia ya).

Dunia hiburan apalagi. Banyak remaja yang mencari kesenangan di sana, terutama dunia musik. Coba lihat, sekarang banyak sekali musik atau lagu yang mungkin kedengarannya keren, tapi isinya sangat buruk, berlawanan dengan norma agama yang ada dalam masyarakat kita. Pasti tahu kan apa yang aku maksud?
Oya, sekarang juga sedang ramai isu mengenai girlband yang akan diundang oleh pemerintah. Sebagai remaja, aku tahu bahwa kita sedang dalam masa pencarian jati diri. Tapi jika yang dijadikan contoh adalah gadis-gadis seperti itu, bagaimana generasi masa depan bangsa bisa meningkatkan prestasi? Ingat Musa? Hafidz cilik yang memiliki hafalan luarbiasa mutqin? Kenapa bukan dia atau yang semisalnya ya yang diundang. Padahal tahu tidak, ia bukan hanya anak asli Indonesia yang cerdas, tapi membawa harum nama bangsa dalam perlombaan Tahfidz internasional.

Hiburan memang tidak dilarang. Ada masanya jenuh melakukan hal serius terus menerus, futur istilahnya. Perlu penyegaran dan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan membuat kita semangat lagi. Tapi jangan sampai, hiburan yang kita pilih malah membawa pengaruh yang negatif. Kesalahan semacam ini bisa berakibat fatal lho. Depresi, stress atau bahkan bunuh diri. Karena hawa nafsu adalah musuh terbesar kita. Sekali kita tenggelam dalam lautan keburukan, akan sulit sekali menyelamatkan diri. Pun sebagaimana hati yang sudah kotor, ditambah kotoran sebanyak apapun ya tidak akan terasa atau kelihatan lagi. Karena sejatinya, hawa nafsu kita, jika dituruti untuk bersenang-senang terus, tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah ada ujungnya. Selain bersifat negatif, juga memberi efek kecanduan. Sama seperti trend kan? Terus berkembang tidak peduli baik atau buruk. Kebahagiaan sejati tidak sama dengan kesenangan sementara yang didapat dengan mudah. Hiburan dan trend kekinian usianya tidak lama, setelah beberapa waktu, akan ketinggalan zaman juga. Kalau memaksakan diri mengikutinya, yang ada kita seperti mengejar bayangan yang tidak pernah berakhir. Saat tidak kesampaian, yang ada bingung, kesal, marah, stress, depresi dan akhirnya..

Jangan sampai, ponsel kita cerdas, tapi penggunanya tidak cerdas. Ayolah kita menjadi remaja yang cerdas. Masa' sudah tahu buruk masih diikuti hanya karena ingin apresiasi dari orang lain dan dianggap kekinian? Akan jadi generasi seperti apa kita kalau mengikuti trend yang terbaru terus? Apalagi trend yang tidak memberi manfaat dan hanya membawa keburukan. Atau memang ada trend yang baik? Bisa dipilah-pilih tergantung bagaimana kita menyikapinya. Kita sudah mumayyiz. Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Jadi remaja yang produktif, kreatif, inovatif dan berprestasi. Jangan menjadi konsumen yang ikut-ikutan. Kalau perlu, jadilah trend-setter. Buat trend yang baik dan bermanfaat.

رضا الناس غاية لا تدرك، فعليك بما في نفسك فالزمه

Ridho manusia itu sesuatu yang sulit digapai, malah ga mungkin karena semua manusia punya keinginan dan lisan yang dengan itu mudah bagi mereka mengkritik, maka yakin dengan diri kita sendiri dan konsisten (terutama masalah ibadah dan menuntut ilmu).
Ingat bahwa sebaik-baik manusia adalah Rosulullah kemudian sahabat dan generasi seterusnya, apa iya kita berkecil hati hanya karena ada yang mengatakan kuper atau nggak kekinian?
Kembali ke Be Yourself-nya yang berpatokan dengan maslahat dan madhorot, apalagi kita Muslim, punya ilmu agama, jangan mudah baper dengan urusan dunia yang sepele.

Ini baru 'limited edition'


Wallahu A'lam.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita.
#ODOP #BloggerMuslimahIndonesia
Bismillah.
Tausiyah oleh Ustadz Maulana
Jakarta, 15 Juli 2017
Ditulis oleh Aisyah A.


Alhamdulillah kita bisa bertemu pada kesempatan sore hari ini dalam rangka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran agar kita dikecualikan dari orang-orang yang merugi.
Sebagaimana yang Allah firmankan dalam surat Al-Ashr :

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)

1. Demi masa.
2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Mari kita sama-sama mengingat sebuah pertanyaan yang akan memotivasi kita dalam kehidupan ini, yaitu mengapa kita ada di dunia?
Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh orang-orang yang beriman, karena jawabannya ada di dalam Al-Quran, yaitu surat Adz-Zzariyat ayat 56 :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Ternyata hikmah penciptaan kita adalah untuk beribadah kepada Allah. Kadang kita tersibukkan oleh perkara duniawi sehingga kita lupa bahwa kita sedang beribadah. Syariat telah mengatur segala sesuatu dalam hidup kita agar kita senantiasa beribadah. Hitunglah berapa banyak waktu dan kesehatan yang Allah jadikan untuk sarana kita beribadah. Padahal sejatinya hampir di setiap aktifitas sehari-hari, ada sunnah di sana, dari mulai bangun tidur, baca doa, ke kamar mandi dengan mengawali kaki kiri, shalat tahajjud dll. Terus sampai siang, sore, malam. Kerja, sekolah, makan, semua itu bisa dinilai ibadah jika diniatkan untuk Allah ta'la. Dan memang itulah tujuan kita diciptakan.
Waktu kosong apabila tidak kita gunakan untuk beribadah maka pasti akan tergunakan untuk kemaksiatan. Karena kemaksiatan bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi karena ada kesempatan, jadi waspadalah!

Padahal Allah telah berfirman, apabila kita telah selesai dari satu amalan, maka bersungguh-sungguh lah kepada amalan lain, dalam surat Al-Insyirah ayat 7 :

فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ 

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Ibadah yang menjadi tujuan penciptaan kita merupakan amanah besar dari Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah surat Al-Ahzab ayat 72 :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Amanah yang dimaksud adalah perintah Allah yang harus kita lakukan dan larangan Allah yang harus kita tinggalkan.

Amanah adalah salah satu akhlak yang senantiasa ada pada diri Rasul.
Amanah terbagi menjadi 3 bagian :
1. Amanah kepada Allah, yaitu mengenai ibadah dalam hidup sebagaimana yang telah dijelaskan tadi.
2. Amanah kepada Rasulullah.
3. Amanah kepada orang lain.

Biasanya hanya jenis ketiga inilah yang kita ketahui sebagai amanah.
Adapun amanah pertama dan kedua, banyak manusia yang lalai darinya. Yang mana kalau bukan karena taufiq Allah, maka manusia akan abai dari beban ini. Padahal Allah telah menyiapkan sarana-sarananya, yaitu akal, kesehatan, harta, diutusnya para Rasul dan Al-Quran. Jadi seharusnya tidak ada lagi alasan untuk menyia-nyiakan amanah ini.

Amanah kepada Rasul mencakup 4 hal
1. Menjalankan setiap perintah Rasul.
2. Menjauhi apa yang dilarang oleh Rasul.
Konsepnya hampir sama dengan amanah kepada Allah karena Sunnah dari Rasul adalah penjelas dari Al-Quran dari Allah.
3. Membenarkan kabar yang datang dari beliau
4. Melaksanakan ibadah sesuai dengan metode yang diajarkan oleh Rasulullah

Semua ini dapat kita lakukan hanya dengan terus menuntut ilmu dan belajar, mengamalkan kemudian berdakwah.
Berdakwah adalah ibadah tahapan ketiga setelah berilmu dan beramal, jadi jangan sampai kita melupakan diri kita saat mengingatkan orang lain. Kalau bukan kita yang melaksanakan, maka siapa lagi? Bagaimana orang yang kita dakwahi akan tergerak jika kita sendiri tidak bergerak?
Dakwahkan kepada orang-orang terdekat, keluarga, saudara, teman-teman baru masyarakat.
Dakwah adalah tugas kita semua, apapun yang bisa kita sumbangsihkan niatkanlah untuk menjadikan diri kita sebagai pelita bagi sekitar. Apapun yang kita bisa lakukan maka berperanlah untuk Islam.

Amanah kepada sesama manusia banyak bentuknya dan semuanya akan dimintai pertanggungjawaban, baik itu amanah antar anak-orangtua, amanah profesi, amanah harta, dll.
Komunitas Muda Berdakwah ini misalnya, pasti ada bagian-bagian atau tugas-tugasnya masing-masing, ada ketua, bendahara, sekretaris ataupun anggota. Saat kita melihat bahwa ini adalah amanah, kita akan lebih bersemangat melaksanakannya karena mengingat bahwa salah satu ciri orang munafik adalah mengkhianati amanah. Bukan sebagai ketaatan atas ketua saja, tapi sebagai ketaatan kepada Allah dalam melaksanakan amanah.
Demikian juga status kita, sebagai anak, orangtua, suami, istri, murid, guru, apapun itu selalu ada amanah yang harus ditunaikan.

Tetap semangat dan optimis dalam melaksanakan amanah, semoga apa yang kita perjuangkan mendapat balasan dari Allah ta'ala.


Wallahua'lam.
Bismillahirrahmanirrahim..

Stiker dan Pin Halal Bihalal Muda Berdakwah


[Bogor] Komunitas Muda Berdakwah kembali mengadakan Event serunya di kebun Raya Bogor pada hari sabtu Tanggal 15 Agustus 2015. Meskipun dengan konsep yang berbeda dibanding tahun lalu. Akan tetapi acara tersebut tetap berlangsung Meriah.

Sejak pintu Kebun Raya Bogor (KRB) dibuka, satu persatu peserta terus berdatangan untuk menghadiri acara tersebut.
Acara yang dimulai pada pukul 09.30 WIB itu dipandu oleh Rizal Wahid, salah satu panitia yang menjadi MC sekaligus Motivator untuk para peserta yang hadir di acara tersebut. Ia memandu para peserta agar selalu hikmat dan fokus untuk mengikuti acara kali ini. Suasana semakin meriah saat acara Ice Breaking yang dibawakan oleh MC. Dengan beberapa kuis dan permainan baik individual maupun berpasangan, para peserta tampak ceria dan bergembira di sesi yang berlangsung cukup lama ini.

“kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah, salah satunya Ghozwul Fikr. Sebagai pemuda sudah saatnya kita mengkaji Islam lebih dalam serta ikut berkontribusi dalam berdakwah sehingga minimal kita tidak terbawa arus pemikiran yang salah dan akan lebih baik jika kita mampu menyampaikan kebenaran pada masyarakat di sekitar kita” Ujar Akmal Sjafril, yang menjadi pemateri pada acara halal bihalal tersebut.

Akmal yang merupakan salah satu penggagas #IndonesiaTanpaJIL itu juga berpesan kepada para peserta yang hadir bahwa saat ini, musuh-musuh Islam sudah menyerang pemikiran kaum Muslimin dan sudah seharusnya anak-anak muda untuk terus belajar. Agar nantinya  mampu melawan pemikiran mereka dan mengembalikan kejayaan Islam.


Acara yang dihadiri oleh 120 lebih muda-mudi yang berasal dari berbagai kota  itu diakhiri dengan sesi foto bersama dan salam-salaman antara para peserta dan panitia, namun tentunya batasan syariat tetap diutamakan oleh panitia.

Setelah berakhirnya acara, para peserta pun banyak memberikan tanggapan mengenai acara tersebut. Salah satunya Umi Zelmy, peserta yang merupakan ibu rumah tangga itu datang dari Bandung dengan membawa sanak keluarganya. “kami Sekeluarga Bersyukur, Alhamdulillah Syukron, untuk kegiatan selanjutnya sebaiknya diadakan sholat Dhuha berjamaah. kesan kami, luar biasa happy karna bisa nambah teman. Nambah ilmu, serta Insya Allah bertambah berkah.”

Dari pihak panitia acara pun tak kalah ikut memberikan tanggapan, “Alhamdulillah seneng banget bisa ikut berpartisipasi di kegiatan kemarin, apalagi peserta ikhwan bertambah gak sedikit kayak Wisata Dakwah tahun lalu. Ditambah lagi makin terharu ketika ngeliat perjuangan peserta yg jauh2 dateng utk dateng ke acara halal bihalal kemarin. Dan dilihat dari antusias peserta yg ingin gabung dengan Muda Berdakwah menjadi bukti bahwa Muda Berdakwah sudah diterima masyarakat.”

Komunitas Muda Berdakwah sendiri adalah salah satu komunitas dari banyaknya komunitas-komunitas yang bergerak di bidang dakwah dan anak muda. Program utamanya adalah mendakwahkan ilmu-ilmu islam kepada anak-anak muda khususnya. Dan salah satu programnya adalah acara Halal bihalal yang telah dilaksanakan sabtu kemarin. 

---




Tabarakallah.. pada Halal Bihalal ini aku dipertemukan dengan orang-orang mengagumkan yang membuatku banyak belajar dari mereka, tentang ukhuwah, kerja keras, kerja sama, loyalitas, tanggung jawab, kesungguhan, saling percaya, tolong menolong dan yang terpenting, belajar untuk terus berusaha yang terbaik demi dakwah Islam ini.

Ada banyak hal-hal yang berkesan untukku disini yang tak dapat kuceritakan semuanya, tapi yang jelas, aku bersyukur, aku bersyukur pada Allah yang telah menghadirkan kalian semua dalam potongan mozaik hidupku diluar dugaanku, dan kadang, hal seperti inilah yang membuatku tersentuh, bahwa pada kenyataannya bukan aku yang memilih. Ini bahkan lebih indah dari pilihanku sendiri. Iya, kita dipertemukan oleh-Nya dan ini sudah menjadi ketetapan-Nya.

Dan mulai saat itu, telah tumbuh keyakinan dalam diriku, keyakinan bahwa kebenaran pasti menang, namun harga yang dibayarkanpun tidak murah, dan dakwah tidak selalu mudah, tapi karena itulah para Nabi menjadi orang pilihan dan dirahmati Allah, kuharap, semoga kami semua mampu mengemban tugas para Nabi ini.

Kebaikan dan kebenaran harus selalu disampaikan, karena kalau bukan kita, siapa lagi? Karena kalau semua orang baik diam, siapa yang akan menjadi cahaya ditengah kegelapan? Karena dakwah bukan tugas Kiyai saja dan selagi kita mampu, lakukan sepenuh hati, kita tidak gagal selama kita tidak putus asa, dimanapun kita menuntut ilmum disitu pasti ada kebaikan walaupun sedikit, dan yang pasti semua itu butuh proses dan proses butuh perjuangan.

Adikku Muadz pernah berkata saat kutanya cita-citanya, "aku ingin berdakwah dan berjihad seperti pata sahabat dan ulama zaman dahulu, aku mau hidup mulia atau mati syahid!"

Sungguh, sejarah Islam ditulis dengan 2 warna, merah oleh darah para syuhada dan hitam oleh tinta para ulama.

Bismillah, akan kusebarkan Islam dengan dakwah dan kupertaruhkan dengan darah.



Kontak Muda Berdakwah :

🐤Twitter : @MudaBerdakwah
📷Instagram : @muda_berdakwah
🌏FB : Muda Berdakwah
📲Line@ : @IFE9127U
📱Pin : 538e1049
📧 Email : mudaberdakwah@yahoo.co.id
SMS/WA : 0877-8686-7876