Latest Posts

Bismillah.




Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan sebuah tulisan yang membuatku merefleksi apa yang sudah kulakukan, saat itu, aku berada di titik kebingungan, rasanya seperti ingin ke suatu tempat, tapi ketika sudah tiba di sana, aku bingung apa yang sebenarnya aku inginkan, atau, apa yang harus aku lakukan. Namun pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa, mencari dunia tidak ada habisnya, padahal dunia sendiri suatu hari akan habis. Lalu seseorang yang sampai sekarang tidak kuketahui identitas nya mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

[QS. Thaha:124]

MasyaAllah Tabarakallah, seolah-olah ayat itu membuatku melihat hidup dari sudut pandang lain, yang lebih positif, insya Allah. Syukran jazakumullahu khayr. Bagi teman-teman yang mau membaca tulisan tersebut, bisa di klik di sini.


Alhamdulillah, pada hari ini, 3 Oktober 2020, seorang adik berdiskusi denganku, membicarakan tentang, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dari setiap keputusan yang kita ambil. Aku berpikir, dan aku pun menyampaikan padanya bahwa dahulu aku berpikir begitu simpel, jadi tolak ukur keputusan yang kubuat banyak didasarkan pada orangtua. Umi Abi. Untukku, apa yang bisa membuat umi abi bahagia, akan kulakukan, misalnya ketika memilih untuk masuk perguruan tinggi yang saat ini sedang aku jalani, bahkan keputusan program studi yang kuambil. Jadi saat itu, yang kutahu hanyalah, pilihan orangtua insya Allah yang terbaik, dan aku harap itu cukup sebagai alasan.


Maka demikianlah aku beberapa tahun selanjutnya. Meski beberapa kali, kadang muncul juga niat-niat lain yang lebih subjektif, misalkan sesederhana, karena aku suka hal tersebut, jadi aku pilih. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Baik, Allah memberikan banyak kebaikan dalam hidupku. Ohya, aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi, setiap pertemuan, perpisahan, rezeki, ajal semuanya telah ditetapkan Allah dalam lauh Mahfudz, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah.


Kembali ke topik, namun dalam pembicaraan hari ini, secara spontan aku menyampaikan beberapa pesan ke adik yang satu ini. Sosok yang senantiasa semangat dalam berbuat kebaikan namun tawadhu nya luar biasa, Masya Allah. Sebuah pesan yang, ketika aku baca ulang, ini bahkan lebih cocok dikatakan sebagai hal yang dapat kupelajari dari segala sesuatu yang sudah kulalui. Ini mungkin boleh dikatakan sebagai, pesan untuk diriku di masa lalu.


Aku paham bahwa tidak ada yang bisa mengulang waktu. Manusia hanyalah kumpulan hari-hari, yang jika satu hari telah berakhir, maka hilanglah sebagian dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri. Jadi bukan, ini bukan angan-angan atau berandai-andai. Ini adalah pesan yang Alhamdulilah baru aku sadari sebagai jawaban dari pertanyaan ku di masa lalu, mungkin. Dan, ini juga pesan yang kukhususkan untuk adik-adik ku yang mungkin saat ini sedang berada dalam fase Quarter Life Crisis. Serba bingung dengan banyak hal, mempertanyakan diri sendiri tentang keputusan yang diambil, pun pusing memikirkan masa depan. Aku harap, pesan ini dapat tersampaikan pada hatimu, sehingga kamu tidak perlu mengalami kebingungan seperti yang kualami.


Aku bukan tipe orang yang mudah membuat keputusan, ada begitu banyak pertimbangan yang muncul dalam benakku sebelum aku berani memutuskan sesuatu, hal-hal sekecil, aku tidak akan membuat status di WhatsApp jika masih ada pesan chat yang belum kubalas, karena bagiku itu akan membuat si pengirim pesan merasa sedih, meski entahlah, rasa itu muncul begitu saja, atau memang aku saja yang merasa demikian.. tapi intinya, memutuskan sesuatu merupakan hal yang akan membutuhkan waktu lama. Terlebih lagi kalau berkaitan dengan kepentingan orang banyak, aku lebih suka menyerahkannya kepada mereka yang bijak, jujur saja, aku khawatir sekali salah mengambil keputusan kemudian merugikan sebagian orang.


Sampai akhirnya, aku semakin selektif dalam memilih pertimbangan memutuskan sesuatu. Beberapa pengalaman di organisasi mengajarkan bahwa akan ada keadaan-keadaan dimana aku harus berpikir cepat, dan memutuskan dengan cepat pula. Dan kalau kamu mau tau, tidak ada pertimbangan baku dalam setiap keputusan cepat yang kubuat, selain dari aku memilih mana yang lebih banyak kebaikannya. Kalau jangka waktunya lebih lama, mungkin aku bisa konsultasi dengan orangtua, atau meminta pertimbangan mereka yang jauh lebih paham. Sehingga, keputusan cepat semacam ini menyebabkan aku bisa jadi sosok yang berbeda tergantung dengan perkara yang kuhadapi, dan aku memohon ampunan Allah jika ada dari keputusan itu yang menyebabkan kedzaliman. Jika kamu salah satu dari orang yang pernah kudzalimi, aku minta maaf, benar-benar minta maaf, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak untukmu, memberkahi hidupmu kedepannya insya Allah ..


Oh, kisah ini semakin panjang. Dan aku belum juga sampai pada intinya, terus berkutat di latar belakang permasalahan. tapi begitulah.. itu yang terjadi padaku sebelumnya.

Hari ini, satu kalimat yang kusampaikan pada adik tersebut adalah seperti ini,
"Kini kak aisyah sadar satu hal, yang seharusnya kak aisyah pikirkan, menjadi pertimbangan membuat keputusan, sejak dulu, dalam segala sesuatu, keputusan apapun itu, adalah.. menjadikan Allah sebagai tolak ukur."


Iya. Itul yang kusampaikan dan ituah yang seharusnya aku lakukan, simpelnya dengan menjawab pertanyaan, 'Allah Ridha tidak ya, aku melakukan ini? Apa ya yang kira-kira dapat menghasilkan keridhaan Allah?' dan jawabannya akan menjadi jawaban dari keputusanku.


Salah seorang kakak pernah menasihatiku, kalimat ini pernah kutulis juga dalam tulisan yang cukup berkesan untukku di sini dan di sini juga. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita tau Allah Ridha atau tidaknya? Jawabannya adalah, minta fatwa pada hati kita masing-masing.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.

[HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)]


Sang kakak bilang, bahwa kita sudah mumayyiz, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi sebagai manusia yang mampu berpikir, kita bisa melihat, apakah ini baik atau buruk, baik dengan standar perasaan maupun logika. Dan aku pikir itu benar, itulah kenapa kita sudah diberi amanah syariat. Karena kita sudah mumayyiz. Kita pada dasarnya tau apakah yang kita lakukan baik atau tidak, dalam sudut pandang syariat, terutama. Fitrah kita dan hati nurani kita menunjukkan itu. Tentu akan lebih baik lagi jika kita paham ilmunya, belajar agama lebih dalam sehingga kita dapat menerapkan dalil syariat sebagai rujukan dalam kondisi yang kita hadapi.


Jadi, begitulah..

Aku, kamu, kita semua akan menghadapi banyak hal kedepannya. Banyaknya pilihan, arus informasi yang begitu cepat, semua itu akan memaksa kita untuk berpikir lebih, dan seringkali membuat kita bingung juga ya.. memilih satu permen diantara dua akan jauh lebih mudah daripada memiliki satu dari 100 pilihan permen. Namun aku berdoa, semoga, kedepannya, kita dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan sebuah keputusan, menjadikan Allah sebagai tolak ukur, memilih yang termudah selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana tauladan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan.

Tentu banyak hal besar yang akan kita hadapi, masalah besar, keputusan besar.. sebelum kuliah misalnya, mau di kampus mana? Jurusan apa? Saat kuliah, mau ikut organisasi apa? Mau ambil berapa sks? Perlu kah ikut acara sana sini? Magang dimana? Nanti skripsi membahas apa? Setelah kuliah, baiknya apa yang bisa kulakukan ya? Coba apply kerja dimana? Atau memutuskan menikah dengan siapa? Atau S2 saja dulu? Atau pertanyaan seperti, sebetulnya aku mau menjadi apa? Mau hidup seperti apa?


Masya Allah.. pada akhirnya, sebesar apapun perkara yang kita hadapi, kita harus ingat, Allah jauh lebih besar dari itu semua, Allahu Akbar. Mudah sekali bagi Allah untuk menunjukkan kita, mendatangkan bantuan dari arah yang tidak kita sangka. Apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita, sebagaimanapun kita mengejarnya, tidak akan pernah sampai. Dan, apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti akan sampai pada kita, bagaimanapun caranya. Boleh jadi, apa yang menurut kita buruk, itu sebenarnya baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita baik, itu sebenarnya buruk. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karenanya, menjadi urgen sekali untuk kita mendasarkan setiap keputusan kita pada standar keridhaan Nya.


Aku jadi teringat sebuah quotes.



Aku berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kita semua Taufiq dan Hidayah Nya. Menjaga dan melindungi kita dimanapun dan kapanpun. Serta menetapkan hati kita untuk selalu istiqomah meniti jalan ini, jalan yang lurus, meski tidak selalu mulus. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.


Alhamdulillaahi Alladzi Bini'matihi Tatimmu Shalihat.

Syukran jazakumullahu khayr sudah menyimak catatanku, semoga ada manfaat yang bisa diambil, tulisan ini merupakan pengingat untuk diriku sendiri dan juga pembaca sekalian. Jika ada hal-hal yang keliru atau perlu diklarifikasi, jangan sungkan untuk menyampaikan ya, mari sama-sama kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Jangan lupa untuk berdoa memohon petunjuk-Nya.. ^^

Bismillah.



Jangan menjadi people pleaser!

Aku membaca tulisan itu di sebuah kiriman media sosial beberapa waktu lalu. Dan saat itu juga, aku antusias, people pleaser? Hmm, terbayang dalam benakku, seseorang yang selalu menyenangkan orang lain. Eh, bukankah aku juga merupakan salah satu dari tipe orang-orang yang ingin selalu berusaha menyampaikan cahaya kebahagiaan dalam hati orang lain? So, am I a people pleaser?

Rupanya benar, people pleaser adalah sebutan bagi mereka yang cenderung melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain bahkan di atas kepentingannya sendiri dan berusaha untuk tidak membuat oranglain tidak kecewa (Dayana, 2019). Seseorang juga dikatakan sebagai people pleaser ketika kita mengutamakan oranglain dan menomorduakan keinginan kita sendiri atau bahkan sampai mengabaikannya (Cahyanti, 2019).

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan, kalau dilihat dari definisi di atas, berarti iya, aku termasuk.

Sebetulnya awalnya aku pikir ini hanyalah tipe manusia, ada yang people-pleaser, ada yang cuek, ada yang humoris, dan lain sebagainya dari karakter. Namun ternyata, faktanya adalah yang satu ini bukan, people-pleaser dapat menjadi sebuah kebiasaan yang negatif dan merugikan diri sendiri, katanya.

Tapi sebentar..

Bukankah ada kisah tentang Abu Thalhah yang menjamu tamunya dengan makanan yang jumlahnya sedikit, dan beliau meminta anak-anaknya tidur tanpa makan malam, sedang beliau sendiri mematikan lampu dan ikut berpura-pura makan dalam suasana yang gelap sehingga tidak nampak bahwa piringnya kosong, sedangkan semua makanan diberikan untuk tamunya?

Bukankah ada kisah pula, tentang seorang pimpinan pasukan Muslim, yang ketika salah seorang utusan dari kaum Badui datang dan menancapkan pedangnya di hadapan beliau dan tanpa sengaja melukai kaki pimpinan ini namun beliau diam dan sabar menyimak penyampaian dari utusan ini sampai selesai karena khawatir membuatnya merasa bersalah dan jadi takut?

Bukankah ada kisah tentang seorang pemuda yang kelak menjadi ayah Abu Hanifah yang memakan buah yang tidak diketahui pemiliknya tanpa izin, kemudian ketika meminta izin, si pemilik pohon baru bersedia mengizinkan, memberikan ridhanya apabila ia mau menikahi puterinya yang buta, tuli dan bisu, kemudian pemuda ini menerimanya?

Bukankah kita juga mendengar kisah tentang Ali bin Abi Thalib yang rela menggantikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur di ranjangnya ketika rumah sang Nabi dikepung dan ia harus bertaruh nyawa? Atau kisah tentang kebun kurma dan sumur Utsman bin Affan yang beliau wakafkan? Atau tentang kebun di Khaibar yang diwakafkan Umar bin Khattab? Atau tentang seluruh harta yang dishadaqahkan Abu Bakar ridha dengan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya?

Hingga.. kisah sosok yang bahkan ketika menjelang detik-detik akhir hidupnya, masih memikirkan ummat yang dicintainya? Sosok yang senantiasa kita panjatkan shalawat dan salam atasnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam?

Bukankah..

Bukankah semua ini mengutamakan orang lain di atas kepentingan dirinya?

Apakah sosok-sosok luar biasa ini termasuk people pleaser?

Nyatanya tidak.

Ini adalah apa yang disebut dengan itsar.



Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh.

Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan (Tuasikal, 2018).

Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Quran:

 عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌوَيُؤْثِرُونَ

dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

[QS. Al-Hasyr: 9]

Bukankan ini persis sekali dengan definisi people pleaser?

Jadi people pleaser ini baik atau tidak? Positif atau, kelihatannya saja positif tapi memberikan efek negatif pada diri sendiri?

Allahu A’lam Bisshawab (Allah lebih mengetahui kebenarannya), tapi aku cenderung pada, melihat bahwa meski bentuknya sama, sama-sama mengutamakan orang lain, tapi ada satu perbedaan di sini; orientasi, tujuan, niat, purpose, intention.

Seorang people pleaser berusaha menyenangkan orang lain, dan ya, hanya sampai segitu saja. Adapun tokoh-tokoh hebat yang kita sebutkan di atas, tidak sebatas itu, ada tujuan super tinggi yang ingin dicapai, karena mereka punya tujuan hidup jelas, punya cita-cita tinggi, tidak lain dan tidak bukan adalah, meraih ridha Allah Ta’ala. Sehingga jika boleh aku rangkum dalam satu terma agar dapat mendiferensiasi kedua bentuk tindakan ini, maka orang-orang ini dapat dinyatakan sebagai Allah pleaser.

Sosok yang mereka mengutamakan Allah, berusaha untuk melakukan kebaikan, mendahulukan orang lain, berbagi dengan sesama, bahkan ketika diri sendiri membutuhkan. Rupanya ada yang lebih dari hanya sekedar membutuhkan penerimaan dari orang lain, mencari ridha manusia, bukan, bukan hanya itu. Tapi semata-mata karena Allah. Sehingga inilah yang akan membedakan implikasi perasaan pada pelakunya.

Seorang people pleaser akan cenderung menyenangkan orang lain dengan harapan ia dapat diterima dengan baik oleh orang tersebut, dan jika ternyata yang terjadi tidak demikian, atau terjadi demikian, ia diterima, tapi hanya sesaat, akan ada kecewa dalam dirinya, akan ada rasa sedih karena tidak mendapatkan apa yang ia ekspektasikan. Sehingga akan mungkin sekali, ketika perasaan negatif ini muncul, mengikutsertakan rasa-rasa negatif lainnya, aura yang tidak menyenangkan untuk dirasakan.

Adapun Allah pleaser, sejak awal ia sadar, bahwa ia berbuat baik pada orang lain sejatinya adalah berbuat baik pada diri sendiri, karena selain ia mengharapkan balasan -hanya- dari Allah berupa pahala, syurga dan keridhaan-Nya, namun juga karena ia sadar, tidak ada kebaikan yang sia-sia.

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

[QS. Ar-Rahman: 60]

Ia yakin, bahwa ada Rabb yang menitipkan dua malaikat menjaga di sisi kanan dan kirinya, sehingga setiap kebaikannya akan terekam sedetail mungkin dalam catatan amalnya, demikian juga berbuat keburukan, sehingga karena yakin Allah Maha Melihat, ia takut berbuat maksiat. Toh, jika kenyataannya ia mendapat balasan yang kurang baik dari orang yang telah ia beri kebaikan, Allah Maha Kuasa memberikan balasan kebaikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Bahkan, sekalipun balasan itu tidak diberikan di dunia, perjalanan masih panjang, kebaikan itu bisa berupa cahaya di alam kubur, pemberat timbangan amal, atau menjadi pembicaraan penghuni langit.



Oleh karena itu, pada akhirnya aku sadar, bahwa kita semua tetap harus menjadi orang baik. Bukan saja agar dunia ini menjadi lebih baik, yang meski dalam artian ini adalah sebuah efek positif tapi hanya sementara, tapi juga karena ini perintah Allah, karena Allah yang meminta kita untuk berbuat baik, untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling berkata-kata yang baik, saling menampakkan keceriaan.

لا تحقِرنَّ من المعروف شيئًا، ولو أن تلقى أخاك بوجه طَلْقٍ

Janganlah meremehkan kebaikan meskipun kecil, meski hanya memasang wajah berseri tatkala bertemu dengan saudaramu.”

[HR Muslim : 2626]

Namun,

Yang perlu diingat adalah, mengutamakan orang lain hanya berlaku dalam perkara yang bukan ibadah. Adapun pada perkara ibadah, kita diperintahkan untuk saling berlomba-lomba (dan masya Allah perlombaan kebaikan ini adil sekali, semua bisa menjadi pemenang, semua bisa mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala orang lain, tidak ada teori pareto optimum). Sehingga jika dalam perkara menghafal Al-Quran, misalkan. Tentunya kita sebagai seorang muslim harus menjadi yang paling pertama, yang paling semangat, untuk belajar dan mengajarkannya juga. Jangan sampai mendahulukan orang lain, ‘kamu silahkan menghafal Al-Quran duluan, aku kapan-kapan saja..’ bukan begitu konsepnya. Sehingga yang berlaku adalah perkara yang bukan ibadah, seperti misalnya dalam masalah harta, tahta dan lain sebagainya.

Jujur saja, aku pribadi yakin sekali, bahwa ketika kita berbuat kebaikan dengan diniatkan ikhlas karena Allah, kemudian kita betul-betul tulus ingin memberikan kebaikan pada orang lain, insya Allah niat itu akan tersampaikan, kebaikan yang datang dari hati, akan sampai ke hati insya Allah.

Kalaupun tidak, dan hipotesaku ternyata salah, atau tidak berlaku ke semua orang, maaf ya, tapi tidak apa-apa, mungkin kita yang harus muhasabah lagi, barangkali kita belum cukup tulus dan ikhlas memberikan kebaikan itu. Karena ketulusan akan nampak dari ciri seperti, dipuji tidak membuatnya tinggi hati dan dicaci tidak membuatnya rendah diri.

Suatu waktu aku pernah membayangkan, setenang apa ya berada dalam lingkungan keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang memiliki hati nan begitu jernih, tidak mengharapkan apapun kecuali kebaikan, Masya Allah Tabarakallah.. Tapi karena aku sadar ini tidak mungkin di dunia, dan hanya mungkin di akhirat nanti Insya Allah (semoga Allah karuniakan kita dibersamakan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para nabi, para sahabat, para syuhada dan orang-orang shalih), maka mari kita mulai dari diri sendiri dulu, kemudan kita tularkan semangat menebar kebaikan ini keluarga terdekat kita, sahabat-sahabat kita, hingga ke semua orang, Insya Allah.

Masya Allah tidak terasa sudah sepanjang ini ya.

Terimakasih untukmu yang sudah membaca sampai sini.

Jadi inti dari tulisan ini adalah, aku ingin membesarkan hati orang-orang yang kusayangi karena Allah, kemudian saudara saudari semuslimku, dan semua teman-teman bahwa kita semua bisa menjadi orang baik, bukan sebagai people pleaser, tapi mari kita ubah menjadi Allah pleaser. Menjadi khalifah di muka bumi, menjadi sosok yang namanya boleh jadi tidak dikenal di dunia, tapi disebut oleh penghuni langit, menjadi manusia seutuhnya yang sesuai dengan fitrah penciptaannya, yakni sebagai hamba yang beribadah pada Allah, mengamalkan tujuan diutusnya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu menyempurnakan akhlak yang baik, sehingga semoga, kita menjadi manusia terbaik versi hadits:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka.

 


Bismillah yaa, semoga Allah mudahkan kita selalu untuk berbuat kebaikan, karena tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Sehingga perlu sekali kita senantiasa memohon taufiq dan hidayah-Nya agar selalu istiqomah dalam kebaikan.

Untukmu yang sedang membaca tulisan ini,

Semoga Allah mudahkan semua urusanmu, semoga kamu selalu berada dalam lindungan Allah.

Jangan lupa untuk berdzikir :)

 


Daftar pustaka

Cahyanti, A. D. (2019). 8 Ciri Ini Tunjukkan Seorang People Pleaser, Kamu Merasa? Idntimes.Com.

Dayana, A. S. (2019). Mengenal People-Pleaser dan Cara Mengatasinya. Tirto.Id.

Tuasikal, M. A. (2018). Sudahlah Biarkan Dia Duluan.

https://bimbinganislam.com/penjelasan-dari-wajah-ceria-yang-berpahala/

https://muslim.or.id/3421-keutamaan-tersenyum-di-hadapan-seorang-muslim.html

https://muslimah.or.id/11083-buah-indah-dari-itsar-mendahulukan-kepentingan-orang-lain.html

https://muslimah.or.id/811-itsar.html

https://muslim.or.id/10250-itsar-mendahulukan-saudaranya-dari-diri-sendiri-1.html

https://rumaysho.com/17217-kisah-itsar-para-salaf-sudahlah-biarkan-dia-duluan.html

Bismillah.



Aisyah ucapkan selamat datang, teruntuk..

  • Teman-teman yang tekun mendirikan salat dan berpuasa dengan penuh kepatuhan dan kekhusyuan
  • Teman-teman yang memakai hijab demi kesopanan, kewibawaan dan kesucian diri
  • Teman-teman yang selalu belajar dan menelaah dengan penuh kesadaran dan ketulusan niat
  • Teman-teman yang selalu menepati janji, bisa dipercaya dan jujur
  • Teman-teman yang selalu bersabar, mawas diri dan bertobat dengan penuh penyesalan
  • Teman-teman yang selalu berdzikir, bersyukur dan berdoa
  • Teman-teman yang selalu menjadikan Asiah, Maryam dan Khadijah sebagai teladan
  • Teman-teman yang akan mendidik para calon ksatria dan mencetak orang-orang terhormat
  • Teman-teman yang selalu memelihara nilai-nilai adiluhung dan melestarikan suri tauladan
  • Teman-teman yang selalu takut dan menjauhi apa-apa yang diharamkan Allah


Sifat Dasar Muslimah
     Tahukan Teman-teman? Ada sebuah buku berjudul Everything Men Known About Women yang berarti, Semua yang laki-laki ketahui tentang perempuan. Ditulis oleh Dr. Alan Francis dan Cindy Cashman. Buku setebal 120 halaman itu diterbitkan tahun 1988, menjadi worldwide best seller, dan hingga hari ini masih bisa dibeli melalui Amazon seharga 6,6 dolar. Berarti sudah lebih dari tiga puluh tahun buku tersebut dicetak ulang terus. Dengan semua prestasi di atas, apa isi buku tersebut? Jangan kaget, karena buku ini berisi 120 halaman kosong! Tak ada satu huruf pun, apalagi satu kalimat!
     Apakah kita setuju bahwa perempuan memang sulit dimengerti sehingga laki-laki tidak akan tahu apa-apa tentang perempuan? Kembali kepada kita masing-masing. Namanya juga pendapat, boleh setuju boleh pula tidak. Tetapi jika merujuk kepada Al-Quran, sebenarnya perempuan bukannya sulit dimengerti, melainkan hanya pemalu saja. Dengan sifat malu yang demikian dominan pada diri seorang perempuan, maka wajar saja bila cara kita mengungkapkan sesuatu berbeda dengan laki-laki.
     Sifat malu inilah yang Allah jadikan mahkota bagi seorang Muslimah, inilah sifat dasar kita, yang sepatutnya tetap ada dalam diri kita. Dengan fitrah ini, Allah jadikan indah pribadi seorang muslimah. Dengan fitrah ini, kita akan menjaga diri sebaik-baiknya. Menjaga untuk selalu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Menjaga untuk tetap berperan di masyarakat membangun generasi terbaik dengan tetap memperhatikan batasan syariat dan menggunakan hijab.

Peran Muslimah di Masyarakat
     Muslimah dibalik sifatnya yang pemalu, mempunyai peran krusial di dalam masyarakat dan Negara. Kita merupakan tumpuan dasar kemuliaan suatu masyarakat bahkan Negara. Masyarakat atau Negara yang baik dapat terlihat dari baiknya Muslimah di dalam Negara tersebut dan begitupun sebaliknya. Karenanya, jika kita adalah seorang yang ahli dalam ilmu agama, maka wajib bagi kita untuk mendakwahkan apa yang kita ketahui. Begitu pula jika kita merupakan seorang yang ahli dalam bidang tertentu, maka kita bisa mempunyai andil dalam urusan tersebut namun dengan batasan-batasan yang telah disyariatkan.
     Dahulu, Ummul Mukminin Khadijah dikenal sebagai seorang perempuan yang kaya dan berkarir sebagai seorang pedagang besar. Ia bekerja sama dengan laki-laki untuk bagi hasil barang dagangannya. Karena laki-lakilah yang terbiasa bersafar ke Syam untuk berdagang. Sedangkan perempuan-perempuan di masa itu tidak terbiasa keluar-keluar menuju tempat yang jauh. Inilah tradisi Arab kala itu, hal ini juga sesuai dengan sifat menjaga kesucian diri yang beliau miliki.
     Di Indonesia sendiri, gerakan perempuan dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat juga telah banyak diteladankan oleh para pahlawan Nusantara, sebagai contoh dalam perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan bisa dilihat pada sosok Cut Nyak Dien, dan dalam mengisi awal-awal kemerdekaan melalui pendidikan bagi perempuan bisa dilihat pada sosok Nyai Ahmad Dahlan.
     Tujuan dari penciptaan laki-laki dan perempuan sejatinya adalah untuk saling melengkapi, terutama dalam menjalankan perintah Allah. Dan dalam hal beribadah, Allah juga tidak membeda-bedakan antara perempuan dan laki-laki.

Jati Diri Muslimah
     Pernahkah kita bertanya, siapa diri kita sebenarnya? Sebuah nama atau jabatan terlalu sederhana untuk menjawab pertanyaan demikian. Tapi sebelum kita sibuk mencari jawabannya, mari kita coba untuk menyelami pemikiran dan memori yang pernah kita dapatkan, barangkali jawabannya terselip dalam salah satu sambungan neuron otak kita.
     Baik, kita mulai dari pertanyaan dasar. Sebagai manusia, tahukah kamu apa tujuan Sang Pencipta menciptakan kita? Pernahkah kamu membaca surat Ad-Dzariyat ayat 56? Di sana tampak jelas bahwa Allah menciptakan kita hanya dan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Jadi kesimpulannya, segala yang kita lakukan di dunia adalah untuk mengabdikan diri kepada Dzat yang telah memberi kita kehidupan. Ya. Jawaban yang paling tepat adalah ‘أنا عبد الله’ aku adalah hamba Allah, kita adalah makhluk yang jiwa dan takdir kita berada di tangan Allah, penguasa alam semesta.
     Muslimah yang baik adalah muslimah yang lurus aqidahnya, benar ibadahnya, dan luhur akhlaqnya. Ia paham bagaimana cara bergaul dengan Rabbnya dan pintar bermuamalah dengan sesamanya. kasih sayang dan perhatian terhadap keluarganya begitu dalam dan ibadah kepada Rabbnya penuh ketulusan. Tidak sekedar cantik dandanannya, karismatik wibawanya, dan anggun penampilannya. Tetapi juga berkualitas ilmu dan amalnya. Menjadi muslimah bidadari syurga idaman seperti itu, butuh perjuangan yang sungguh-sungguh dan dukungan semua pihak. menjadi muslimah yang baik adalah sebuah cita-cita mulia dan harapan yang luhur sekaligus merupakan sebuah keharusan yang tidak boleh diabaikan oleh setiap muslimah. Karena dengan cara itulah, generasi umat bisa maju dan kaum muslimin mampu bangkit dari keterpurukannya.

Kesimpulan
  • Jadilah Muslimah yang tumbuh, berkembang, meluas manfaatnya, maslahatnya, bagi dirinya, keluarganya, sesamanya..
  • Sosok yang lebih terkenal di langit daripada di dunia. Dengan munajat malamnya, ia selesaikan semua masalahnya, teraduannya hanya kepada Allah. Sehingga pada siang hari, yang didapati manusia darinya, hanya senyum hangat.
  • Dengan puasanya, ia redam segala hawa nafsunya, sehingga yang didapati manusia darinya hanyalah akhlak: seseorang yang aman, tidak berbahaya dekat dengannya, tidak merugikan sedikitpun, tidak menyakiti baik lisan maupun perbuatan. Ramah, nyaman kalau berada di dekatnya, kita mendapatkan kalimat dan perkataan yang baik.
  • Bahkan menatap wajahnya, kita sudah menemukan teladan shalih. Bahkan melihatnya bergerak, kita mendapatkan inspirasi amal. Itulah Muslimah Bidadari Syurga.
 Semoga Allah mudahkan kita dalam beramal dan berakhlak mulia sehingga bisa bertemu kembali di Syurga Nya kelak..
Wallahu A’lam.

Bismillah.












Wallahu A'lam.
Bismillah.















Wallahu A'lam.

Bismillah.


Bulan Syawal telah tiba, undangan dibagikan dimana-mana, perayaan tersebar di berbagai pelosok negeri. Ya, ini bulan Syawal, ini bulan dimana Sunnah untuk melaksanakan pernikahan. Orang-orang bersuka cita, kecuali sebagian kecil dari para jofisa -jomblo fi sabilillah- katanya. Mereka baper, kemudian merenung, galau tiada tara menunggu sang pangeran, terus-menerus menerima undangan, kapan menyebarnya ya?

Hey, aku jadi bertanya-tanya. Apakah status menikah akan mengubah masa depan? Apakah menjadi seorang istri pasti bahagia? Apakah memiliki pasangan bisa membahagiakan yang digambarkan orang-orang? Akhir-akhir ini menikah muda seolah menjadi trend. Sehingga banyak remaja dan teman-teman kita yang jadi gelisah, menurut mereka belum menikah di usia muda berarti belum keren.

Menikah muda memang sarana yang baik dalam mengikat hubungan dengan lawan jenis, daripada pacaran, kan? Tapi perlu diketahui, menikah adalah obat bagi mereka yang terserang penyakit cinta. Ini berarti, bagi kita yang tidak terinfeksi virus merah jambu ini, tidak harus mengecap obatnya jika memang belum siap.

Menikah memang Sunnah, menggenapkan separuh agama. Tapi sebagai seorang Muslimah penuntut ilmu, jangan lupa bahwa pernikahan telah diatur oleh Allah dalam Lauh Mahfudz-Nya. Soal kapan, dimana, dengan siapa memang tidak ada yang tahu, tapi insya Allah kelak akan indah pada waktunya. Tugas kita sekarang adalah, senantiasa memperbaiki diri, Allah menjanjikan laki-laki baik untuk wanita baik dan laki-laki buruk untuk wanita buruk. Selama masa penantian, mari menyibukkan diri dengan hal-hal bermanfaat, sebelum melaksanakan Sunnah menikah, yuk laksanakan amalan-amalan Sunnah lain yang boleh jadi banyak kita lalaikan.

Allah Maha Menggenggam hati hamba-Nya, mampu membolak-balikkannya seketika. Orang yang mencintai kita atau kita cintai saat ini, yang paling kita harapkan untuk menjadi pasangan halal kita, belum tentu yang terbaik. Allah mampu membalikkan rasa cinta menjadi benci dalam sekejap. Jadi, jaga hati, kehormatan, adab bahkan pandangan dari hal-hal negatif.

Hati-hati, jika ada seseorang yang mudah mengumbar ungkapan cinta dan sayang padamu selagi belum halal, akan mudah pula menyatakan hal yang sama pada oranglain. Jaga dirimu saudariku sayang.. Jangan sampai, masa muda kita sekarang disibukkan dengan gulana berlebihan memikirkan siapa ya jodoh kita? Kapan ketemunya? Dimana? Bagaimana?

Jika telah tiba waktunya, Allah sendiri yang akan menunjukkan jalan baiknya, pertemuan yang menakjubkan, siapa tahu? Mari belajar sungguh-sungguh untuk masa depan yang lebih cerah, berusaha lebih keras untuk hasil yang lebih sukses. Buktikan bahwa kita adalah pribadi yang mampu bertanggungjawab sejak dini, sehingga kelak ketika akan menikah nanti, calon mertua akan tenang mengamanahkan anaknya pada seseorang yang telah terbukti kemapanannya.


Terakhir, mohonlah kepada Allah, yang Maha Kuasa agar kita dipertemukan dengan seseorang yang bukan hanya akan mengubah status dari single menjadi menikah, tapi juga mampu membantu kita menjadi lebih shalihah. Menikahlah dengan seseorang yang hanya dengan bersamanya, Surga terasa lebih dekat, insya Allah.

Wallahu A'lam.

Bismillah.


Ini kisah tentang sesosok Muslimah yang tetap tegar untuk istiqomah di tengah lingkungan yang tidak mendukungnya. Ia tetap menjadi pribadi yang baik, menjadi bagian dari teman-temannya namun tetap menjaga batasan, menjadi diri sendiri selama itu sesuai dengan akhlak Al-Quran dan Sunnah.

Pesantren memang tempat yang baik untuk menuntut ilmu, namun bukan berarti semua unsur pendukung (penghuni)nya sama baiknya, meski sejatinya yah, sedang dalam proses memperbaiki diri, mungkin.

Prinsip hidupnya selama di pesantren adalah, datang untuk belajar, menuntut ilmu, jadi tidak punya teman atau bahkan dikucilkan karena dianggap terlalu penurut tidak jadi masalah, karena itu sama sekali tidak merugikannya. Aku suka itu, karena menurutku orang cerdas itu berpendirian, ia bisa memilah mana kritik yang membangun, mana yang menjatuhkan.

Nggak ikut trend, kuper, kudet? None of my business. Masih banyak hal penting yang harus dikerjakan. Belajar, murajaah, membaca buku, menghafal matan, dll.

Lalu apa tidak merasa sepi dan nggak pengen punya pengalaman seru kaya temen-temen? Gimana kalau nanti malah terlupakan?
Well, pertama, nostalgia itu nggak bermanfaat, yang lalu biarlah berlalu, hanya menghabiskan waktu saja. Tidak apa-apa tidak diingat kok, untuk apa? Walaupun aku yakin, setiap individu teman-temannya Insya Allah selalu mengingatnya, sebagai pribadi yang terlalu sempurna untuk dilupakan, pribadi yang meski tidak menyenangkan tapi menenangkan, dan selalu dibutuhkan, selalu berprestasi. Kenangan baik disini baginya adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin, membuat sejarah dengan tinta emas.


Kalau mereka bilang hidup ini Cuma sekali, di pesantren juga sebentar, harus dihabiskan dengan seru-seruan karena kapan lagi bisa bersenang-senang bersama teman-teman? Ia bilang, senang-senang ada waktunya, hidup memang Cuma sekali, karena itu harus kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang produktif, bukan wasting time dengan chit chat unfaedah yang tidak memberi atsar apapun nantinya setelah lulus dari pesantren. 

Bukankah kita tahu,
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
Ilmu tanpa amal (praktek) bagaikan pohon tanpa buah.
Lalu bolehkah kita bertanya, kemana ilmu akhlaknya? ilmu ‘sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk manusia lain’? ilmu tentang urgensi waktu? ilmu tentang masa depan akhirat? Mana realisasi dari apa yang sudah dipelajari? Karena itu, yuk bersama berusaha mengamalkan ilmu yang kita dapatkan dengan memanfaatkan waktu untuk hal-hal produktif.

Tidakkah terbesit sedikit saja keinginan untuk mencoba seperti mereka? Nonton ini-itu, ke bioskop, ke restoran terbaru, mencoba kuliner viral, mendengar musik?
‘Tidak’ ujarnya tegas.
Alhamdullah ia tidak suka dengan semua itu dan memang tidak tertarik sama-sekali untuk mencoba. Kalaupun diajak, ia akan ingat orang tua, ia sadar membawa nama baik orang tua, ia ingin membuat keduanya bangga, ia merasa belum bisa memberi apapun.
Jadi ketika liburanpun, ia prefer bantu dan nemenin umi di rumah.


Hidupmu milikmu, keputusanmu juga tanggung jawabmu. Lakukan apa yang perlu dilakukan, lihat apa yang perlu dilihat, dengar apa yang perlu didengar dan ucapkan apa yang memang perlu diucapkan.

Terinspirasi dari saudari jauhku, adiknya istri paman sepupuku, yang tidak ingin disebut namanya.
Uhibbuki Fillah, Barakallahufiik..