Latest Posts

 Bismillah.


Berdasarkan teori Madzhab ekonomi mainstream, sumber daya bersifat terbatas namun kebutuhan manusia bersifat tidak terbatas. Hal ini dikarenakan kebutuhan berhubungan erat dengan kepuasaan yang pada dasarnya juga tak terbatas. Kebutuhan manusia berkaitan erat dengan pemenuhan barang dan jasa untuk kepuasan diri. Di sisi lain, peningkatan populasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, peningkatan standar hidup dan perubahan budaya turut menyebabkan kebutuhan manusia menjadi tidak terbatas. Oleh karenanya, perlu ada prioritisasi bagi masing-masing individu dalam memenuhi kebutuhan tersebut.

Pada tahun 1943, seorang tokoh psikologi humanistik, Abraham Maslow memaparkan teori penting berkaitan dengan hierarki kebutuhan manusia di Jurnal Psychological Review. Menurut Maslow, seorang manusia harus memenuhi kebutuhannya yang paling rendah, barulah naik ke jenjang lebih tinggi, dan seterusnya hingga ia bisa mengaktualisasikan diri. Hal ini menunjukkan bahwa masing-masing individu perlu membuhi kebutuhan dari mulai kebutuhan dasar berupa kebutuhan fisiologis, yang mana diantaranya adalah kebutuhan sandang dan pangan, sebelum ia berpindah ke jenjang kebutuhan yang lebih tinggi. Teori tersebut kemudian dikenal dengan istilah lima hirarki kebutuhan manusia.

Teori Kebutuhan Maslow

Dalam sistem ekonomi pasar bebas, teori kebutuhan Maslow ini mendukung adanya kepentingan pribadi yang menjadi motivator falam setiap keputusan ekonomi. Menurut Maslow, kebutuhan fisiologis manusia merupakan kebutuhan yang paling prioritas, diikuti oleh kebutuhan keamanan, cinta, penghargaan (pengakuan), dan terakhir yaitu aktualisasi diri. Maslow kemudian menambahkan kebutuhan untuk mengetahui dan memahami, serta kebutuhan estetika ke dalam daftar.

Logika hierarki kebutuhan Maslow didefinisikan oleh dua prinsip. Pertama, prinsip gratifikasi/aktivasi, di mana kepuasan kebutuhan tingkat rendah lebih didahulukan untuk dipenuhi terlebih dahulu sebelum memenuhi kebutuhan tingkat tinggi berikutnya dalam hierarki. Kedua, prinsip deprivasi/dominasi, di mana kebutuhan yang paling tidak mencukupi adalah kebutuhan yang paling penting. Kedua prinsip tersebut kemudian berlaku untuk produk konsumen. Produk yang lebih banyak diprioritaskan adalah yang lebih menonjol dan terlihat mewah. Sedangkan kebutuhan untuk kelangsungan hidup manusia cenderung lebih diabaikan, sehingga banyak konsumsi di luar kebutuhan dalam rangka mencapai tingkat yang lebih tinggi untuk aktualisasi diri.

Selain itu, salah satu kelemahan dari ekonomi pasar bebas yang menerapkan teori kebutuhan Maslow ini adalah fenomena bahwa beberapa produsen didorong dalam bisnisnya oleh motif keuntungan mereka semata. Meskipun tujuan utama dari bisnis apa pun adalah untuk menghasilkan keuntungan, akan tetapi tujuan seperti itu tidak boleh diprioritaskan dan dikhawatirkan akan perjadi produksi di luar kebutuhan dasar untuk menangkap nafsu dari konsumen yang memiliki pendapatan.

Dalam sistem ekonomi Islam, kebutuhan manusia juga diprioritaskan berdasarkan konsep dari as-Syathibi, yang merumuskan kebutuhan manusia dalam konsep maslahat terdiri dari tiga macam, yaitu dharuriyat (primer), hajiyat (sekunder), dan tahsiniyat (tersier). Maslahat tersebut kemudian dikembangkan oleh al-Ghazali menjadi Maqashid Syariah yaitu lima hal pokok dari kebutuhan manusia, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Kelima macam kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut:

Teori Kebutuhan Al-Ghazali

Al-Ghazali berpendapat bahwa kebutuhan dan keinginan itu berbeda. Menurut Imam al-Ghazali, kebutuhan adalah keinginan manusia untuk mendapatkan sesuatu yang diperlukan dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menjalankan fungsinya yaitu menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dengan beribadah secara maksimal. Karena ibadah kepada Allah adalah wajib, maka berusaha untuk memenuhi kebutuhan agar kewajiban itu terlaksana dengan baik, hukumnya menjadi wajib juga, sebagaimana kaidah yang berlaku.

Menurut Islam, yaitu senantiasa mengaitkannya dengan tujuan utama manusia diciptakan yaitu ibadah. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka Allah menghiasi manusia dengan hawa nafsu (syahwat), dengan adanya hawa nafsu ini maka muncullah keinginan dalam diri manusia. Keinginan inilah yang perlu dikelola agar selalu terjaga dalam maslahah, artinya menghasilkan kebaikan dengan memenuhi kebutuhan yang tidak hanya bisa dirasakan oleh individu saja, namun juga berdampak secara berkelanjutan bagi orang lain dan masyarakat.

Perbedaan dari dua teori kebutuhan ini menunjukkan perbedaan pertimbangan dalam menentukan klasifikasi suatu kebutuhan. Dalam teori Al-Ghazali, kebutuhan relatif lebih objektif karena didasarkan pada pertimbangan yang objektif (kriteria tentang pemenuhan penjagaan Maqashid Syariah) sehingga suatu tindakan ekonomi dapat diputuskan apakah memiliki tingkat kebutuhan tinggi atau rendah. Sementara teori Maslow mendasarkan kebutuhan pada kriteria yang lebih subyektif, karenanya dapat berbeda antara individu satu dengan lainnya.

Selain itu, teori kebutuhan Al-Ghazali relatif relevan dengan proses pemenuhan yang tetap memperhatikan kebaikan dan manfaat berkepanjangan bagi sosial dan ekonomi, adapun teori kebutuhan Maslow tidak memperhatikan secara khusus tentang bagaimana proses pemenuhan tersebut dilakukan apakah memberi kebaikan bagi ekonomi dan sosial karena berfokus pada utilitas individu.

Dari sisi tujuan, jika teori kebutuhan Al-Ghazali dijadikan sebagai standar bagi seluruh pelaku ekonomi (konsumen, produsen, dan distributor), maka semua aktivitas ekonomi masyarakat baik konsumsi, produksi, dan distribusi akan mencapai tujuan yang sama, yaitu kesejahteraan (falah). Hal ini berbeda dengan teori kebutuhan Maslow, dimana untuk memenuhi kebutuhan pribadinya, konsumen mengukurnya dari kepuasan yang diperoleh konsumen dan keuntungan yang maksimal bagi produsen dan distributor, sehingga berbeda tujuan yang akan dicapainya.

Pada akhirnya, pemenuhan kepuasan bagi muslim tidak dapat dipisahkan dari peranan Tauhid. Keimanan sangat mempengaruhi sifat, kuantitas, dan kualitas pemenuhan kebutuhan baik dalam bentuk kepuasan materi maupun spiritual. Konsep kebutuhan Al-Ghazali merupakan teori yang lebih tepat dalam menjadi acuan kebutuhan manusia yang perlu dipenuhi untuk pencapaian keseimbangan antara orientasi dunia dan akhirat.

Allahu A’lam.

Bismillah.




Beberapa tahun lalu, aku pernah menuliskan sebuah tulisan yang membuatku merefleksi apa yang sudah kulakukan, saat itu, aku berada di titik kebingungan, rasanya seperti ingin ke suatu tempat, tapi ketika sudah tiba di sana, aku bingung apa yang sebenarnya aku inginkan, atau, apa yang harus aku lakukan. Namun pada akhirnya aku membuat sebuah kesimpulan yang menyatakan bahwa, mencari dunia tidak ada habisnya, padahal dunia sendiri suatu hari akan habis. Lalu seseorang yang sampai sekarang tidak kuketahui identitas nya mengingatkanku pada satu ayat dalam Al-Qur'an:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”

[QS. Thaha:124]

MasyaAllah Tabarakallah, seolah-olah ayat itu membuatku melihat hidup dari sudut pandang lain, yang lebih positif, insya Allah. Syukran jazakumullahu khayr. Bagi teman-teman yang mau membaca tulisan tersebut, bisa di klik di sini.


Alhamdulillah, pada hari ini, 3 Oktober 2020, seorang adik berdiskusi denganku, membicarakan tentang, apa yang seharusnya menjadi pertimbangan dari setiap keputusan yang kita ambil. Aku berpikir, dan aku pun menyampaikan padanya bahwa dahulu aku berpikir begitu simpel, jadi tolak ukur keputusan yang kubuat banyak didasarkan pada orangtua. Umi Abi. Untukku, apa yang bisa membuat umi abi bahagia, akan kulakukan, misalnya ketika memilih untuk masuk perguruan tinggi yang saat ini sedang aku jalani, bahkan keputusan program studi yang kuambil. Jadi saat itu, yang kutahu hanyalah, pilihan orangtua insya Allah yang terbaik, dan aku harap itu cukup sebagai alasan.


Maka demikianlah aku beberapa tahun selanjutnya. Meski beberapa kali, kadang muncul juga niat-niat lain yang lebih subjektif, misalkan sesederhana, karena aku suka hal tersebut, jadi aku pilih. Dan Alhamdulillah, Allah Maha Baik, Allah memberikan banyak kebaikan dalam hidupku. Ohya, aku percaya bahwa setiap hal yang terjadi, setiap pertemuan, perpisahan, rezeki, ajal semuanya telah ditetapkan Allah dalam lauh Mahfudz, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan Insya Allah.


Kembali ke topik, namun dalam pembicaraan hari ini, secara spontan aku menyampaikan beberapa pesan ke adik yang satu ini. Sosok yang senantiasa semangat dalam berbuat kebaikan namun tawadhu nya luar biasa, Masya Allah. Sebuah pesan yang, ketika aku baca ulang, ini bahkan lebih cocok dikatakan sebagai hal yang dapat kupelajari dari segala sesuatu yang sudah kulalui. Ini mungkin boleh dikatakan sebagai, pesan untuk diriku di masa lalu.


Aku paham bahwa tidak ada yang bisa mengulang waktu. Manusia hanyalah kumpulan hari-hari, yang jika satu hari telah berakhir, maka hilanglah sebagian dari dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh Hasan Al-Bashri. Jadi bukan, ini bukan angan-angan atau berandai-andai. Ini adalah pesan yang Alhamdulilah baru aku sadari sebagai jawaban dari pertanyaan ku di masa lalu, mungkin. Dan, ini juga pesan yang kukhususkan untuk adik-adik ku yang mungkin saat ini sedang berada dalam fase Quarter Life Crisis. Serba bingung dengan banyak hal, mempertanyakan diri sendiri tentang keputusan yang diambil, pun pusing memikirkan masa depan. Aku harap, pesan ini dapat tersampaikan pada hatimu, sehingga kamu tidak perlu mengalami kebingungan seperti yang kualami.


Aku bukan tipe orang yang mudah membuat keputusan, ada begitu banyak pertimbangan yang muncul dalam benakku sebelum aku berani memutuskan sesuatu, hal-hal sekecil, aku tidak akan membuat status di WhatsApp jika masih ada pesan chat yang belum kubalas, karena bagiku itu akan membuat si pengirim pesan merasa sedih, meski entahlah, rasa itu muncul begitu saja, atau memang aku saja yang merasa demikian.. tapi intinya, memutuskan sesuatu merupakan hal yang akan membutuhkan waktu lama. Terlebih lagi kalau berkaitan dengan kepentingan orang banyak, aku lebih suka menyerahkannya kepada mereka yang bijak, jujur saja, aku khawatir sekali salah mengambil keputusan kemudian merugikan sebagian orang.


Sampai akhirnya, aku semakin selektif dalam memilih pertimbangan memutuskan sesuatu. Beberapa pengalaman di organisasi mengajarkan bahwa akan ada keadaan-keadaan dimana aku harus berpikir cepat, dan memutuskan dengan cepat pula. Dan kalau kamu mau tau, tidak ada pertimbangan baku dalam setiap keputusan cepat yang kubuat, selain dari aku memilih mana yang lebih banyak kebaikannya. Kalau jangka waktunya lebih lama, mungkin aku bisa konsultasi dengan orangtua, atau meminta pertimbangan mereka yang jauh lebih paham. Sehingga, keputusan cepat semacam ini menyebabkan aku bisa jadi sosok yang berbeda tergantung dengan perkara yang kuhadapi, dan aku memohon ampunan Allah jika ada dari keputusan itu yang menyebabkan kedzaliman. Jika kamu salah satu dari orang yang pernah kudzalimi, aku minta maaf, benar-benar minta maaf, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak untukmu, memberkahi hidupmu kedepannya insya Allah ..


Oh, kisah ini semakin panjang. Dan aku belum juga sampai pada intinya, terus berkutat di latar belakang permasalahan. tapi begitulah.. itu yang terjadi padaku sebelumnya.

Hari ini, satu kalimat yang kusampaikan pada adik tersebut adalah seperti ini,
"Kini kak aisyah sadar satu hal, yang seharusnya kak aisyah pikirkan, menjadi pertimbangan membuat keputusan, sejak dulu, dalam segala sesuatu, keputusan apapun itu, adalah.. menjadikan Allah sebagai tolak ukur."


Iya. Itul yang kusampaikan dan ituah yang seharusnya aku lakukan, simpelnya dengan menjawab pertanyaan, 'Allah Ridha tidak ya, aku melakukan ini? Apa ya yang kira-kira dapat menghasilkan keridhaan Allah?' dan jawabannya akan menjadi jawaban dari keputusanku.


Salah seorang kakak pernah menasihatiku, kalimat ini pernah kutulis juga dalam tulisan yang cukup berkesan untukku di sini dan di sini juga. Yang menjadi pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana kita tau Allah Ridha atau tidaknya? Jawabannya adalah, minta fatwa pada hati kita masing-masing.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.”

[HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292)]


Sang kakak bilang, bahwa kita sudah mumayyiz, kita sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi sebagai manusia yang mampu berpikir, kita bisa melihat, apakah ini baik atau buruk, baik dengan standar perasaan maupun logika. Dan aku pikir itu benar, itulah kenapa kita sudah diberi amanah syariat. Karena kita sudah mumayyiz. Kita pada dasarnya tau apakah yang kita lakukan baik atau tidak, dalam sudut pandang syariat, terutama. Fitrah kita dan hati nurani kita menunjukkan itu. Tentu akan lebih baik lagi jika kita paham ilmunya, belajar agama lebih dalam sehingga kita dapat menerapkan dalil syariat sebagai rujukan dalam kondisi yang kita hadapi.


Jadi, begitulah..

Aku, kamu, kita semua akan menghadapi banyak hal kedepannya. Banyaknya pilihan, arus informasi yang begitu cepat, semua itu akan memaksa kita untuk berpikir lebih, dan seringkali membuat kita bingung juga ya.. memilih satu permen diantara dua akan jauh lebih mudah daripada memiliki satu dari 100 pilihan permen. Namun aku berdoa, semoga, kedepannya, kita dapat lebih bijak dalam mempertimbangkan sebuah keputusan, menjadikan Allah sebagai tolak ukur, memilih yang termudah selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana tauladan kita, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mencontohkan.

Tentu banyak hal besar yang akan kita hadapi, masalah besar, keputusan besar.. sebelum kuliah misalnya, mau di kampus mana? Jurusan apa? Saat kuliah, mau ikut organisasi apa? Mau ambil berapa sks? Perlu kah ikut acara sana sini? Magang dimana? Nanti skripsi membahas apa? Setelah kuliah, baiknya apa yang bisa kulakukan ya? Coba apply kerja dimana? Atau memutuskan menikah dengan siapa? Atau S2 saja dulu? Atau pertanyaan seperti, sebetulnya aku mau menjadi apa? Mau hidup seperti apa?


Masya Allah.. pada akhirnya, sebesar apapun perkara yang kita hadapi, kita harus ingat, Allah jauh lebih besar dari itu semua, Allahu Akbar. Mudah sekali bagi Allah untuk menunjukkan kita, mendatangkan bantuan dari arah yang tidak kita sangka. Apa yang Allah tetapkan bukan untuk kita, sebagaimanapun kita mengejarnya, tidak akan pernah sampai. Dan, apa yang Allah tetapkan untuk kita, pasti akan sampai pada kita, bagaimanapun caranya. Boleh jadi, apa yang menurut kita buruk, itu sebenarnya baik. Sebaliknya, apa yang menurut kita baik, itu sebenarnya buruk. Hanya Allah yang Maha Mengetahui. Karenanya, menjadi urgen sekali untuk kita mendasarkan setiap keputusan kita pada standar keridhaan Nya.


Aku jadi teringat sebuah quotes.



Aku berharap, semoga Allah senantiasa memberikan kita semua Taufiq dan Hidayah Nya. Menjaga dan melindungi kita dimanapun dan kapanpun. Serta menetapkan hati kita untuk selalu istiqomah meniti jalan ini, jalan yang lurus, meski tidak selalu mulus. Jalan orang-orang yang Allah beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, bukan pula jalan mereka yang sesat.


Alhamdulillaahi Alladzi Bini'matihi Tatimmu Shalihat.

Syukran jazakumullahu khayr sudah menyimak catatanku, semoga ada manfaat yang bisa diambil, tulisan ini merupakan pengingat untuk diriku sendiri dan juga pembaca sekalian. Jika ada hal-hal yang keliru atau perlu diklarifikasi, jangan sungkan untuk menyampaikan ya, mari sama-sama kita saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.


Jangan lupa untuk berdoa memohon petunjuk-Nya.. ^^

Bismillah.



Jangan menjadi people pleaser!

Aku membaca tulisan itu di sebuah kiriman media sosial beberapa waktu lalu. Dan saat itu juga, aku antusias, people pleaser? Hmm, terbayang dalam benakku, seseorang yang selalu menyenangkan orang lain. Eh, bukankah aku juga merupakan salah satu dari tipe orang-orang yang ingin selalu berusaha menyampaikan cahaya kebahagiaan dalam hati orang lain? So, am I a people pleaser?

Rupanya benar, people pleaser adalah sebutan bagi mereka yang cenderung melakukan sesuatu untuk menyenangkan orang lain bahkan di atas kepentingannya sendiri dan berusaha untuk tidak membuat oranglain tidak kecewa (Dayana, 2019). Seseorang juga dikatakan sebagai people pleaser ketika kita mengutamakan oranglain dan menomorduakan keinginan kita sendiri atau bahkan sampai mengabaikannya (Cahyanti, 2019).

Akhirnya aku sampai pada kesimpulan, kalau dilihat dari definisi di atas, berarti iya, aku termasuk.

Sebetulnya awalnya aku pikir ini hanyalah tipe manusia, ada yang people-pleaser, ada yang cuek, ada yang humoris, dan lain sebagainya dari karakter. Namun ternyata, faktanya adalah yang satu ini bukan, people-pleaser dapat menjadi sebuah kebiasaan yang negatif dan merugikan diri sendiri, katanya.

Tapi sebentar..

Bukankah ada kisah tentang Abu Thalhah yang menjamu tamunya dengan makanan yang jumlahnya sedikit, dan beliau meminta anak-anaknya tidur tanpa makan malam, sedang beliau sendiri mematikan lampu dan ikut berpura-pura makan dalam suasana yang gelap sehingga tidak nampak bahwa piringnya kosong, sedangkan semua makanan diberikan untuk tamunya?

Bukankah ada kisah pula, tentang seorang pimpinan pasukan Muslim, yang ketika salah seorang utusan dari kaum Badui datang dan menancapkan pedangnya di hadapan beliau dan tanpa sengaja melukai kaki pimpinan ini namun beliau diam dan sabar menyimak penyampaian dari utusan ini sampai selesai karena khawatir membuatnya merasa bersalah dan jadi takut?

Bukankah ada kisah tentang seorang pemuda yang kelak menjadi ayah Abu Hanifah yang memakan buah yang tidak diketahui pemiliknya tanpa izin, kemudian ketika meminta izin, si pemilik pohon baru bersedia mengizinkan, memberikan ridhanya apabila ia mau menikahi puterinya yang buta, tuli dan bisu, kemudian pemuda ini menerimanya?

Bukankah kita juga mendengar kisah tentang Ali bin Abi Thalib yang rela menggantikan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur di ranjangnya ketika rumah sang Nabi dikepung dan ia harus bertaruh nyawa? Atau kisah tentang kebun kurma dan sumur Utsman bin Affan yang beliau wakafkan? Atau tentang kebun di Khaibar yang diwakafkan Umar bin Khattab? Atau tentang seluruh harta yang dishadaqahkan Abu Bakar ridha dengan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya?

Hingga.. kisah sosok yang bahkan ketika menjelang detik-detik akhir hidupnya, masih memikirkan ummat yang dicintainya? Sosok yang senantiasa kita panjatkan shalawat dan salam atasnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam?

Bukankah..

Bukankah semua ini mengutamakan orang lain di atas kepentingan dirinya?

Apakah sosok-sosok luar biasa ini termasuk people pleaser?

Nyatanya tidak.

Ini adalah apa yang disebut dengan itsar.



Itsar adalah mendahulukan orang lain dalam urusan dunia walau kita pun sebenarnya butuh.

Secara bahasa itsar bermakna mendahulukan, mengutamakan. Sedangkan secara istilah, yang dimaksud itsar adalah mendahulukan yang lain dari diri sendiri dalam urusan duniawiyah berharap pahala akhirat. Itsar ini dilakukan atas dasar yakin, kuatnya mahabbah (cinta) dan sabar dalam kesulitan (Tuasikal, 2018).

Hal ini sebagaimana yang Allah sebutkan dalam Al-Quran:

 عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌوَيُؤْثِرُونَ

dan mereka (orang-orang Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).

[QS. Al-Hasyr: 9]

Bukankan ini persis sekali dengan definisi people pleaser?

Jadi people pleaser ini baik atau tidak? Positif atau, kelihatannya saja positif tapi memberikan efek negatif pada diri sendiri?

Allahu A’lam Bisshawab (Allah lebih mengetahui kebenarannya), tapi aku cenderung pada, melihat bahwa meski bentuknya sama, sama-sama mengutamakan orang lain, tapi ada satu perbedaan di sini; orientasi, tujuan, niat, purpose, intention.

Seorang people pleaser berusaha menyenangkan orang lain, dan ya, hanya sampai segitu saja. Adapun tokoh-tokoh hebat yang kita sebutkan di atas, tidak sebatas itu, ada tujuan super tinggi yang ingin dicapai, karena mereka punya tujuan hidup jelas, punya cita-cita tinggi, tidak lain dan tidak bukan adalah, meraih ridha Allah Ta’ala. Sehingga jika boleh aku rangkum dalam satu terma agar dapat mendiferensiasi kedua bentuk tindakan ini, maka orang-orang ini dapat dinyatakan sebagai Allah pleaser.

Sosok yang mereka mengutamakan Allah, berusaha untuk melakukan kebaikan, mendahulukan orang lain, berbagi dengan sesama, bahkan ketika diri sendiri membutuhkan. Rupanya ada yang lebih dari hanya sekedar membutuhkan penerimaan dari orang lain, mencari ridha manusia, bukan, bukan hanya itu. Tapi semata-mata karena Allah. Sehingga inilah yang akan membedakan implikasi perasaan pada pelakunya.

Seorang people pleaser akan cenderung menyenangkan orang lain dengan harapan ia dapat diterima dengan baik oleh orang tersebut, dan jika ternyata yang terjadi tidak demikian, atau terjadi demikian, ia diterima, tapi hanya sesaat, akan ada kecewa dalam dirinya, akan ada rasa sedih karena tidak mendapatkan apa yang ia ekspektasikan. Sehingga akan mungkin sekali, ketika perasaan negatif ini muncul, mengikutsertakan rasa-rasa negatif lainnya, aura yang tidak menyenangkan untuk dirasakan.

Adapun Allah pleaser, sejak awal ia sadar, bahwa ia berbuat baik pada orang lain sejatinya adalah berbuat baik pada diri sendiri, karena selain ia mengharapkan balasan -hanya- dari Allah berupa pahala, syurga dan keridhaan-Nya, namun juga karena ia sadar, tidak ada kebaikan yang sia-sia.

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

[QS. Ar-Rahman: 60]

Ia yakin, bahwa ada Rabb yang menitipkan dua malaikat menjaga di sisi kanan dan kirinya, sehingga setiap kebaikannya akan terekam sedetail mungkin dalam catatan amalnya, demikian juga berbuat keburukan, sehingga karena yakin Allah Maha Melihat, ia takut berbuat maksiat. Toh, jika kenyataannya ia mendapat balasan yang kurang baik dari orang yang telah ia beri kebaikan, Allah Maha Kuasa memberikan balasan kebaikan dari arah yang tidak disangka-sangka. Bahkan, sekalipun balasan itu tidak diberikan di dunia, perjalanan masih panjang, kebaikan itu bisa berupa cahaya di alam kubur, pemberat timbangan amal, atau menjadi pembicaraan penghuni langit.



Oleh karena itu, pada akhirnya aku sadar, bahwa kita semua tetap harus menjadi orang baik. Bukan saja agar dunia ini menjadi lebih baik, yang meski dalam artian ini adalah sebuah efek positif tapi hanya sementara, tapi juga karena ini perintah Allah, karena Allah yang meminta kita untuk berbuat baik, untuk saling menghormati, saling menyayangi, saling berkata-kata yang baik, saling menampakkan keceriaan.

لا تحقِرنَّ من المعروف شيئًا، ولو أن تلقى أخاك بوجه طَلْقٍ

“Janganlah meremehkan kebaikan meskipun kecil, meski hanya memasang wajah berseri tatkala bertemu dengan saudaramu.”

[HR Muslim : 2626]

Namun,

Yang perlu diingat adalah, mengutamakan orang lain hanya berlaku dalam perkara yang bukan ibadah. Adapun pada perkara ibadah, kita diperintahkan untuk saling berlomba-lomba (dan masya Allah perlombaan kebaikan ini adil sekali, semua bisa menjadi pemenang, semua bisa mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala orang lain, tidak ada teori pareto optimum). Sehingga jika dalam perkara menghafal Al-Quran, misalkan. Tentunya kita sebagai seorang muslim harus menjadi yang paling pertama, yang paling semangat, untuk belajar dan mengajarkannya juga. Jangan sampai mendahulukan orang lain, ‘kamu silahkan menghafal Al-Quran duluan, aku kapan-kapan saja..’ bukan begitu konsepnya. Sehingga yang berlaku adalah perkara yang bukan ibadah, seperti misalnya dalam masalah harta, tahta dan lain sebagainya.

Jujur saja, aku pribadi yakin sekali, bahwa ketika kita berbuat kebaikan dengan diniatkan ikhlas karena Allah, kemudian kita betul-betul tulus ingin memberikan kebaikan pada orang lain, insya Allah niat itu akan tersampaikan, kebaikan yang datang dari hati, akan sampai ke hati insya Allah.

Kalaupun tidak, dan hipotesaku ternyata salah, atau tidak berlaku ke semua orang, maaf ya, tapi tidak apa-apa, mungkin kita yang harus muhasabah lagi, barangkali kita belum cukup tulus dan ikhlas memberikan kebaikan itu. Karena ketulusan akan nampak dari ciri seperti, dipuji tidak membuatnya tinggi hati dan dicaci tidak membuatnya rendah diri.

Suatu waktu aku pernah membayangkan, setenang apa ya berada dalam lingkungan keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang memiliki hati nan begitu jernih, tidak mengharapkan apapun kecuali kebaikan, Masya Allah Tabarakallah.. Tapi karena aku sadar ini tidak mungkin di dunia, dan hanya mungkin di akhirat nanti Insya Allah (semoga Allah karuniakan kita dibersamakan dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, para nabi, para sahabat, para syuhada dan orang-orang shalih), maka mari kita mulai dari diri sendiri dulu, kemudan kita tularkan semangat menebar kebaikan ini keluarga terdekat kita, sahabat-sahabat kita, hingga ke semua orang, Insya Allah.

Masya Allah tidak terasa sudah sepanjang ini ya.

Terimakasih untukmu yang sudah membaca sampai sini.

Jadi inti dari tulisan ini adalah, aku ingin membesarkan hati orang-orang yang kusayangi karena Allah, kemudian saudara saudari semuslimku, dan semua teman-teman bahwa kita semua bisa menjadi orang baik, bukan sebagai people pleaser, tapi mari kita ubah menjadi Allah pleaser. Menjadi khalifah di muka bumi, menjadi sosok yang namanya boleh jadi tidak dikenal di dunia, tapi disebut oleh penghuni langit, menjadi manusia seutuhnya yang sesuai dengan fitrah penciptaannya, yakni sebagai hamba yang beribadah pada Allah, mengamalkan tujuan diutusnya nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, yaitu menyempurnakan akhlak yang baik, sehingga semoga, kita menjadi manusia terbaik versi hadits:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka.

 


Bismillah yaa, semoga Allah mudahkan kita selalu untuk berbuat kebaikan, karena tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Sehingga perlu sekali kita senantiasa memohon taufiq dan hidayah-Nya agar selalu istiqomah dalam kebaikan.

Untukmu yang sedang membaca tulisan ini,

Semoga Allah mudahkan semua urusanmu, semoga kamu selalu berada dalam lindungan Allah.

Jangan lupa untuk berdzikir :)

 


Daftar pustaka

Cahyanti, A. D. (2019). 8 Ciri Ini Tunjukkan Seorang People Pleaser, Kamu Merasa? Idntimes.Com.

Dayana, A. S. (2019). Mengenal People-Pleaser dan Cara Mengatasinya. Tirto.Id.

Tuasikal, M. A. (2018). Sudahlah Biarkan Dia Duluan.

https://bimbinganislam.com/penjelasan-dari-wajah-ceria-yang-berpahala/

https://muslim.or.id/3421-keutamaan-tersenyum-di-hadapan-seorang-muslim.html

https://muslimah.or.id/11083-buah-indah-dari-itsar-mendahulukan-kepentingan-orang-lain.html

https://muslimah.or.id/811-itsar.html

https://muslim.or.id/10250-itsar-mendahulukan-saudaranya-dari-diri-sendiri-1.html

https://rumaysho.com/17217-kisah-itsar-para-salaf-sudahlah-biarkan-dia-duluan.html

Bismillah.



COVID-19 kini menjadi pandemi yang menyebar hampir di seluruh belahan dunia, hingga ditulisnya artikel ini (10 Mei 2020/ 17 Ramadhan 1441 H), data statistik World Health Organization menyatakan bahwa kasus positif COVID-19 telah mencapai angka 3,9 juta kasus dan 274 ribu kematian. Istilah COVID-19 sendiri merupakan singkatan dari Corona Virus Desease 2019, dikarenakan virus ini pertama kali teridentifikasi penyebarannya pada akhir tahun 2019 lalu di Wuhan, China.
COVID-19 mengakibatkan banyak dampak yang mengubah segala sesuatu di sekitar kita, membuka sudut pandang baru tentang banyak hal, membuat kita mulai merasa kehilangan hal-hal yang selama ini kita take-for-granted, dari mulai melihat pemandangan di luar rumah, jalan-jalan bersama keluarga, hingga shalat tarawih berjamaah di masjid, sahur on-the-road ataupun buka puasa bersama. Di sisi lain, COVID-19 juga berdampak pada gangguan perekonomian, praktik ihtikar/ penimbunan masker, APD, hand sanitizer mulai banyak terjadi, dan fenomena panic-buying masyarakat menjadikan kita sulit mendapatkan beberapa kebutuhan.
Pandemi ini ini juga memunculkan berbagai kebiasaan baru yang disebut dengan the new normal, sesuatu yang awalnya belum pernah terjadi. Misalnya kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah menyentuh benda-benda di tempat umum, menjaga jarak fisik, work from home, belajar dari rumah, belanja secara daring dan hal lainnya yang terjadi setelah adanya pandemi ini. Lalu bagaimana menyikapi the new normal? Bagaimana kita kita beradaptasi dalam masa pandemi ini? Terutama sekali mengantisipasi dampak negatif pada keluarga kita yang saat ini boleh jadi dalam keadaan panik karena tidak bisa melaksanakan rutinitas hariannya.
Penanganan COVID-19 ada baiknya menggunakan langkah-langkah yang sesuai dengan Maqashid Syariah, karena keseluruhan komponen Maqashid Syariah telah dirancang sebagai tujuan syariat yang berhubungan dengan manusia, empat komponen internal yang terdiri dari agama, akal, jiwa dan keturunan, serta 1 komponen eksternal, yaitu harta. Maqashid Syariah sendiri adalah tujuan-tujuan yang hendak dicapai dari suatu ketetapan hukum dari Allah agar tercapainya kemaslahatan dan kesejahteraan manusia melalui dar-ul mafasid (menolak keburukan) dan jalb mashalih (mendapatkan kebaikan).
Maqashid Syariah bersifat universal, sehingga dapat digunakan untuk menentukan prioritas, yang sekaligus juga menjawab permasalahan kemanusiaan, sosial, kemiskinan bahkan kelaparan. Contoh nyatanya dapat kita lihat pada kisah Khalifah Umar bin Khattab dan seorang ibu yang memasak batu, terdapat prioritas Umar yaitu menjaga jiwa, dalam hal ini bagi ibu tersebut dan anak-anaknya. Pun ketika terjadi thaun (wabah) Amwas dan Aam (tahun) Ramadha, beliau mengimpor dari daerah lain dalam rangka menjaga harta. Demikian juga ketika Khalifah Umar hendak memasuki suatu daerah, namun diberi tahu di sana sedang ada wabah, maka beliau tidak jadi masuk, ini termasuk bentuk menjaga jiwa.

Maqashid Syariah terdiri dari beberapa komponen, salah satu komponen yang sangat penting adalah hifdzu nasl atau menjaga keturunan. Hal ini menunjukkan bahwa di antara tujuan syariat adalah menjaga keturunan dan termasuk juga menjaga keluarga, memastikan umat muslim menghasilkan generasi yang baik untuk menjadi Ummat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan menyebarkan dakwah Islam. Masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau lockdown inilah saat terbaik untuk meningkatkan hubungan dengan keluarga, sakinah mawaddah warahmah-nya selama di rumah. Mengeratkan rasa cinta dengan keluarga, orang tua, pasangan, anak-anak dan sanak saudara.

Jaga Dirimu dan Keluargamu dari Api Neraka

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda, “Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi). Hadits tersebut menyatakan bahwa kita semua pemimpin, kita bertanggungjawab atas peran yang kita jalani saat ini, maka sudah selayaknya respon terbaik kita menghadapi COVID-19 adalah dengan menunjukkan identitas kita sebagai seorang yang beriman, dan mengajak keluarga kita untuk tetap dalam keadaan beriman.
Maka, mulailah dengan bersyukur. Mungkin akan ada pertanyaa, apa yang bisa kita syukuri dalam keadaan serba sulit ini? Masya Allah, bila kita melihat lagi keadaan sekitar kita, ternyata banyak sekali hal yang bisa kita syukuri. Allah Maha Kuasa masih memberikan kita kehidupan yang baik dan aman, kita memang dalam masa PSBB, namun bukan berarti seperti isolasi seperti keadaan perang, kita masih bisa mendapat air bersih, makanan untuk sahur dan berbuka, shalat dengan nyaman dan masih bisa berkomunikasi serta mengontak orang-orang tersayang seiring dengan perkembangan teknologi saat ini. Maka mulai sekarang, mari ajak keluarga, orang tua dan anak-anak kita untuk bersyukur, katakan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).
Sebagai seorang mukmin, maka mari bertindak sebagaimana seharusnya seorang mukmin, menjadi role model yang menakjubkan urusannya. Kita bisa mencontoh bagaimana Khadijah bintu Khuwailid yang begitu tangguh menjadi tiang penguat keluarga, ia bertindak dengan penuh perencanaan, bahkan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam merasa ketakutan setelah mendapat wahyu pertama, Khadijah tetap tenang dalam situasi tersebut, beliau menyelimuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan. Kita semua adalah role model orang yang beriman, mari kita mencerminkan sikap seorang mukmin yang nantinya dirasakan keluarga, tetangga, masyarakat, sejarah, dan yang terpenting disaksikan oleh Allah Subhanu Wa Ta’ala.
Kita menyatakan bahwa kita beriman pada Allah dalam dua kalimat Syahadat, maka inilah saat terbaik untuk merealisasikan pancaran keimanan kita, manifestasikan dalam tindakan kita hingga orang-orang di sekitar kita merasakannya. Kita yakin Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, Ia yang mengontrol semuanya, sehingga tak ada yang perlu khawatir berlebihan, Allah telah menetapkan kejadian ini di lauh mahfudz, apa yang telah Allah tetapkan untuk kita pasti akan sampai kepada kita.
Kita membaca dalam surat Al-Insyiroh, setiap kesulitan diikuti oleh kemudahan, bahkan untuk satu kesulitan, ada dua kemudahan yang mengikutinya. Apakah kita meyakininya? Ketahuilah bahwa dalam hidup, kita pasti akan selalu diuji, apapun bentuknya, dan yang berhak mendapatkan kabar gembira, kata Allah, adalah mereka yang sabar. Sabar bukan dalam artian berpikir, ok ini akan berlalu, tapi juga sabar dengan tetap kontinyu melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangannya dan tetap beriman, kemudian ber-istirja’ (mengucapkan Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un), mengingatkan diri kita bahwa kita ini milik Allah, kita tidak bisa mengontrol apapun di sekitar kita kecuali dengan daya dan upaya yang berasal dari-Nya. Hidup ini sementara, faktanya adalah kita semua milik Allah, keluarga kita, anak-anak kita, semuanya milik Allah. Kita yakin ada Allah yang mengatur semua ini, dalam sekejap mata, Allah bisa mengubah semuanya, keberadaan COVID-19  ini membutikan bahwa kita adalah makhluk yang lemah, amat sangat butuh pada Allah.

Selalu ada kesempatan dalam setiap keadaan,  di antara kesempatan tersebut adalah kesempatan untuk peduli dengan orang lain, tetangga, masyarakat dan membantu mereka. Selain itu, inilah kesempatan untuk kita fokus pada hal-hal penting di sekitar kita. PSBB yang diberlakukan saat ini mengharuskan kita untuk slow-down, ini adalah kesempatan terbaik untuk bermuhasabah, melihat lebih dalam, apa yang sebetulnya kita cari, apa yang sebenarnya keluarga kita butuhkan. Toh kita bisa tetap mengontak orang-orang tersayang kita, berkumpul dengan keluarga via media daring bahkan yang terjauh. Kita juga mendapat banyak kesempatan bersama keluarga di rumah, komunikasi dengan anak-anak secara offline, membaca buku bersama, mengajarkan banyak hal yang tidak mereka pelajari di sekolah. Karena bagaimanapun, kita sebagai orangtua, atau kakak, tidak selamanya bersama mereka, setidaknya ada bekal yang kita berikan, untuk nantinya mereka menghadapi masa depan, Insya Allah.


Stay At Home

Cari tahu apa yang bisa kita pelajari selama masa pandemi ini. Perbanyak taubat. Sadari bahwa kita adalah makhluk Allah yang selalu berbuat dosa, tanpa henti, namun anehnya kita selalu ingin Allah selalu memberi kita karunia-Nya, dan Allah Maha Baik memberi kita kehidupan yang aman, namun kita menggunakan pemberian Allah tersebut untuk bermaksiat lagi, jadi mulailah meperbaiki diri, perbaiki keluarga dan lingkungan kita. Buat rutinitas yang sehat untuk keluarga, tentukan jadwal harian yang bermanfaat, dan terutama untuk perempuan, para ibu, jadikan ini project keluarga. Adakan pertemuan keluarga, buat rapat bersama, sepakati apa yang akan dilakukan, buat rencana harian, pekanan, bulanan bersama. Project terbaik adalah yang tetap berjalan meski ada hambatan, meski tetap ada perubahan dan adaptasi, untuk menjadi lebih baik.
Adapun laki-laki, para ayah berperan sebagai CEO sebuah keluarga. Ibarat sebuah perusahaan, bahkan lebih perlu untuk diberikan perhatian, adakan rapat bersama, menghadapi tantangan bersama, mengingatkan visi misi bersama, untuk kemudian masing-masing mengerjakan tugas dan kewajibannya dalam rangka mendapatkan ridha Allah dan bisa senantiasa bersama sampai Syurga.
Penting untuk diingat juga, mendengarkan orang lain, orangtua, pasangan, saudara-saudari, terutama anak-anak. Kita harus memotivasi mereka dan membantu mereka melewati ini. Anak-anak kita punya hati, mereka juga merasakan kesedihan ini, emosi kehilangan teman-teman, sekolah, belajar di kelas, segala perubahan ini. Orangtua perlu memberikan kesempatan untuk mereka bercerita, merefleksikan apa yang mereka rasakan, memberikan pemahaman dan dukungan untuk lebih kuat melewati ini. Biarkan mereka mengekspresikan perasaannya, kemudian ajak mereka diskusi bagaimana menghadapi masalah ini, dan sebagai orangtua, kita juga harus tetap tenang, kitalah yang berperan menenangkan mereka, ajak mereka tetap produktif bersama.
Masa di rumah ini, jadikan juga sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri pada Allah. Ajak anak-anak untuk berdoa kepada Allah. Miris sekali mendapati banyak anak-anak kita sekarang yang tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengan Allah, karenanya ajaklah mereka berdoa, mengangkat tangan ke langit, memohon pada-Nya. Kita mungkin sudah banyak mempersiapkan masa depan anak-anak, namun kita tak selalu bersama mereka, Allah-lah yang selalu bersama mereka, ajarkan mereka bagaimana menyebut nama Allah, Asmaul Husna, membaca Al-Quran, mengucapkan doa-doa, memohon pada-Nya, ajarkan mereka agar selalu meminta pertolongan pada Allah, agar selalu mendekat pada Allah, kembali pada Allah, beri pemahaman bahwa kita selalu membutuhkan Allah kapanpun dan dimanapun.
Terkadang ketika menghadapi masalah, kita lebih cenderung fokus pada solusi short-term, namun jangan lupa untuk memastikan keluarga kita, anak-anak kita tetap bahagia, berolahraga, menjaga kesehatan, melihat keindahan di sekitar serta melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama. Jangan sampai kepanikan menjadikan kita lalai dari hal-hal indah yang Allah karuniakan pada kita, jadilah orang yang positif bagi orang-orang di sekitar kita, keluarga kita, anak-anak kita.
Berdasarkan semua bahasan ini, mungkin kita merasa banyak dituntut untuk memperhatikan orang lain, jadi mari luangkan waktu sejenak, kita juga perlu perhatikan diri kita sendiri, self-care, beri waktu untuk menyendiri, refresh diri sendiri, dengan secangkir kopi, membaca sejarah nabi, belajar bahasa, menyimak murattal favorit atau apapun itu. Kita tidak akan bisa menolong orang lain bila kita tidak bisa menolong diri kita sendiri terlebih dahulu, jadi tetaplah menutrisi jiwa. Lakukan hal-hal yang ingin kita lakukan. Semua Alhamdulillah sudah tersedia, sumber-sumber di internet bisa diakses hanya dengan sentuhan jari untuk upaya menjaga kesehatan mental kita, karena bila kesehatan mental ini diabaikan, bisa berakibat pada fisik kita juga.
Terakhir, tetaplah menjaga hubungan baik dengan orangtua, saudara-saudara dan tetangga kita, meski mungkin tidak bisa secara langsung, tetap keep in touch, jangan sampai terlalu sibuk dengan dunia kita sendiri, rumah kita sendiri, mungkin bisa dimulai dengan chat media sosial atau mengirim surat. Posisikan diri kita sebagai seorang mukmin yang bertanggung jawab pada orang-orang di sekitar kita juga, dan pastikan, ‘no one left behind’.
Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi kita, keluarga dan keturunan kita semua dari pandami COVID-19 ini, karena Allah adalah sebaik-baik pelindung.



Wallahu A’lam Bisshawab.
Bogor, 10 Mei 2020 M/ 17 Ramadhan 1441 H


Bismillah.


Kita sebagai seorang Muslim yang beriman kepada para Nabi dan Rasul mengakui dan mempercayai kerasulan Nabi Ibrahim Alayhissalam. Sebetulnya ummat Muslim bukan satu-satunya yang mengakui beliau sebagai nabi, ada ummat lain yang mengaku bagian dari agama Nabi Ibrahim Alayhissalam, namun beberapa dari pengakuan tersebut tidak diiringi dengan aksi dan bukti nyata.

Pada saat itu, ketika Al-Quran diturunkan, dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang dikenal Al-Amin (terpercaya) menyampaikan kepada mereka, mereka menjawab:

‘tidak, terima kasih. Kami sudah memiliki apa yang harus kami ikuti, kami tidak perlu memikirkan wahyu baru ini, kami sudah memiliki wahyu kami sendiri’

Dan Allah telah berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا نُؤْمِنُ بِمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَاءَهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَهُمْ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kepada Al Qur'an yang diturunkan Allah", mereka berkata: "Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami". Dan mereka kafir kepada Al Qur'an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur'an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka.
[QS. Al-Baqarah: 91]

Namun poin pentingnya di sini adalah, sebagian dari ummat terdahulu yang menolak Al-Quran, tidak mempercayai para Nabi, mereka mengatakan bahwa mereka hanya akan mengikuti nenek moyang mereka.

‘Kita mengikut bagaimana leluhur kita, sehingga kita tidak perlu memikirkan apapun, seluruh pemikiran itu sudah dilakukan oleh leluhur kita sejak dahulu, jadi apa pun yang leluhur kita lakukan kita lakukan saja, mengapa harus dipertanyakan lagi? Jika kita mempertanyakan apa yang orang tua kita lakukan, apa yang kakek-nenek kita lakukan, apa yang kakek buyut lakukan, itu tidak sopan. Kita tidak boleh mempertanyakan apa yang mereka sudah budayakan, kita harus mengikutinya apapun itu.’

Namun, begini, jika kita percaya dan beriman pada nabi Ibrahim Alayhissalam, maka kita tidak boleh seperti itu, karena sebegaimana Nabi Ibrahim Alayhissalam yang sepanjang hidupnya begitu kritis mengajukan berbagai pertanyaan, ia tidak pernah berhenti bertanya, baik kepada ayahnya, kepada raja yang berkuasa pada masa itu, hingga kepada masyarakatnya.

Dan Nabi Ibrahim Alayhissalam belum akan menerima jawaban kecuali ada bukti yang jelas dan alasan yang masuk akal, hal ini membuktikan bahwa nabi Ibrahim Alayhissalam adalah pemikir sejati, beliau seorang pemikir, beliau tidak akan pernah menerima nilai, budaya atau apapun itu jika hanya sekedar warisan leluhur tanpa mengetahui esensinya.

Maka, bila kita mengaku mengikuti Nabi Ibrahim Alayhissalam, maka kita seharusnya kita membiasakan diri untuk berpikir, mengajukan pertanyaan, tidak menerima secara instan, terus berekspolasi, tidak mengatakan ‘kami melakukan ini karena orang tua kami melakukannya.’


Segala sesuatu yang kita lakukan, definisi tentang benar dan salah, definisi tentang apa yang harus kita lakukan dan apa yang tidak boleh kita lakukan, apa yang kami terima dan apa yang kita tolak berdasarkan pada firman Allah:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

‘Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan mata terbuka (hujah yang nyata)’
[QS. Yusuf: 108]

Itulah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim Alayhissalam, jangan pernah menerima apa pun dengan mata tertutup, berpikirlah! bertanyalah!

Jika kita belum paham tentang suatu perkara dalam agama, tanyakan pada orang yang lebih tahu, ketika mereka memberi jawaban dan kita belum puas dengan jawaban itu, katakanlah ‘Saya tidak puas dengan jawaban tersebut. Saya butuh penjelasan lebih lanjut.’

Kita bukan hanya punya hak untuk bertanya, kita bahkan punya tanggung jawab untuk bertanya. Inilah yang harus kita ajarkan kepada anak-anak kita. Dan sebetulnya, inilah inti tulisan kali ini, bukan tentang Nabi Ibrahim Alayhissalam, ini adalah pembelajaran dari kisah nabi Ibrahim Alayhissalam tadi.

Ketika ketika ummat kita berhenti berpikir, ketika ummat kita meninggalkan kebiasaan berpikir, maka dapat memicu hal yang kita khawatirkan pada ummat. Generasi berikutnya kelak akan menjadi Muslim hanya karena orang tua mereka Muslim. Kemudian satu-satunya alasan seorang anak berpegang pada Islam hanya karena orang tuanya mengharapkan demikian.

Saat ini kita hidup di zaman di mana banyak keluarga yang tinggal terpisah dengan anak-anaknya, anak-anak pergi merantau, menjalani kehidupan mandiri, terutama ketika mereka kuliah ke perguruan tinggi atau mendapatkan pekerjaan, mereka mulai memiliki kehidupan sendiri, dan muncullah fenomena dimana orang tua beragama dengan relijius namun anak-anak mereka tidak demikian.

Mereka mengatakan, ‘ketika dulu saya tinggal bersama orang tua, biasanya saya diajak ke tempat ibadah, ayah saya membawa saya untuk Shalat Jum’at setiap pekan, tetapi sekarang saya tidak tinggal bersama ayah, saya sudah kuliah, saya bebas, maka saya tidak punya alasan lagi untuk pergi lagi, dulu kan alasannya adalah ayah saya.’

Adapun ketika mereka kembali untuk berlibur ke rumah orang tua mereka, barulah mereka kembali ke masjid lagi, dan ketika mereka kembali ke perguruan tinggi, mereka merasa bebas lagi. Begitu siklus ini terus berlanjut.

Hal ini terjadi karena kita tidak mengajari anak-anak kita bagaimana mereka berpikir dan memahami tentang Islam untuk diri mereka sendiri, kenapa mereka menjadi seorang Muslim? Kenapa mereka harus beriman pada Allah? Kenapa mereka harus membaca Al-Quran? Kenapa mereka harus bertanya?

Agama kita bukan agama yang hanya meminta kita untuk menerima segala sesuatu dengan mata tertutup, atau hanya mengikuti apa adanya. Lihatlah bagaimana nabi Ibrahim Alayhissalam tidak hanya bertanya kepada orang-orang, ia bahkan bertanya langsung kepada Allah:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى

‘Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati".’
[QS. Al-Baqarah: 260]

Nabi Ibrahim Alayhissalam bertanya kepada Allah secara langsung, bagaimana Allah menghidupkan yang mati, dan Allah bertanya kepadanya,

قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ

Allah berfirman: "Belum yakinkah kamu?"
[QS. Al-Baqarah: 260]
Kata Allah, ‘bukankah kamu sudah memiliki Iman? Sudah percaya?’

Nabi Ibrahim Alayhissalam pun menjawab,

قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي

Ibrahim menjawab: "Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)"
[QS. Al-Baqarah: 260]


Allah mengajarkan kita melalui contoh Nabi Ibrahim Alayhissalam bahwa kita harus berani bertanya sampai kita yakin seyakin-yakinnya, sampai hati kita tenang dan damai. Kita harus bereksplorasi! Kita harus berpikir! Kita harus menanamkan bagaimana cara berpikir kepada anak-anak kita nantinya!

Sayangnya, pendidikan agama sekarang, bahkan lembaga yang memiliki pendidikan Islam jarang sekali mengajarkan murid-muridnya tentang berpikir, mereka fokus menghafal surat, belajar bagaimana berwudhu, nama-nama bulan hijriyah, dan lain sebagainya. Hasilnya.. sebagian berpikir bila sudah menghafal Quran maka itu saja sudah cukup.

Anak-anak kita hafal Quran, mereka melantunkan Quran tapi tidak diajak berpikir tentang kandungan ayat-ayatnya, jadi bagaimana mungkin mereka membaca ayat:

أَفَلا تَعْقِلُونَ

Maka apakah kamu tidak memahaminya?
[QS. Al-Qasash: 60]

 Anak-anak kita membaca ‘maka tidakkah kamu berpikir’ dan dia tidak diajak berpikir. Ada ironi dalam fenomena ini.

وَمَثَلُ الَّذِينَ كَفَرُوا كَمَثَلِ الَّذِي يَنْعِقُ بِمَا لا يَسْمَعُ إِلا دُعَاءً وَنِدَاءً

Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja.
[QS. Al-Baqarah: 171]

Anak-anak kita melantunkan ayat ini, kita bahagia melihat mereka mengimami shalat dan dia membaca ayat yang mengisahkan contoh dari orang-orang yang ketika mereka mendengar panggilan dari Allah bagaikan mendengar panggilan hewan, dalam artian tidak memberikan dampak apapun.

Anak kita membaca ayat ini dan dia tidak mengerti, ini adalah tragedi yang terjadi pada ummat. Generasi ini harus menghentikan keberlanjutannya, karena Wallahil Adzim, kita tahu apa yang menarik orang-orang kepada ateisme, menjauh dari agama, semisal ucapan,

‘saya benar-benar percaya pada sains, saya tidak percaya pada Tuhan’
‘Dalam sains, kita bisa berpikir rasional. Dalam ilmu pengetahuan, kita bisa berpikir masuk akal’

Mungkin memang ada beberapa agama lain yang tidak menghendaki perngikutnya untuk berpikir, tapi agama kita, Islam berdasar dan berakar pada pemikiran. Pemikiran itu, pertanyaan kritis itu, eksplorasi itu, sejatinya adalah pembelajaran dari Nabi Ibrahim Alayhissalam. Kita sering berbicara tentang perjuangan dakwah Nabi Ibrahim Alayhissalam, tetapi kita jarang berbicara tentang bagaimana proses berpikirnya Nabi Ibrahim Alayhissalam.

Kita butuh orang-orang seperti beliau di masyarakat kita, orang-orang yang berani bertanya, tidak menerima begitu saja apa yang ada di sekitar mereka. Nabi Ibrahim Alayhissalam adalah teladan yang mengajukan pertanyaan. Beliau bahkan tidak mendapatkan dukungan keluarga, tidak ada dukungan dari masyarakat. Beliau adalah pemuda yang berani dan cerdas, Masya Allah. Dan tugas kitalah yang harus kita menghidupkan kebiasaan baik berpikir kritis ini kembali.


فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.

[QS. An-Nahl: 43]



~ Tulisan ini terinspirasi dan ditulis berdasarkan dari salah satu tausiyah Ustadz Nouman Ali Khan, dengan beberapa perubahan.